Han Long menatap orang-orang dari Benua Barbar Kuno yang tadi mengelilingi Coa Leng In yang kini kejang-kejang karena tubuh dan energi kultivasi miliki mereka, terkunci termasuk Zhao Kwan.
Sedangkan Coa Leng In menatap Han Long dengan wajah terkejut, pemuda yang membekas di hatinya, pemuda yang diharapkan, sekarang ada dihadapannya.
Namun reaksinya berubah cepat, dengan memanfaatkan situasi dia bergerak cepat,
Heeaaa…!!!
Blugh, blugh, blugh…
Beberapa tubuh dari pengepungnya berguguran dengan nyawa sudah meninggalkan raga, namun aksi itu hanya menjatuhkan enam orang karena selanjutnya tubuh Coa Leng In dipeluk oleh Han Long di pinggangnya yang ramping.
Coa Leng In terkejut melihat perbuatan Han Long,
”Saudara Long, mengapa kau menghentikan aku?”, kata Coa Leng In dengan wajah semburat merah menahan malu.
”Leng In, sudah cukup, musuhmu Coa Kun, biarkan kau menghadapi saudaramu itu, aku akan menahan orang-orang Benua Barbar Kuno dan ini pertarungan pribadimu”, kata Han Long dengan nada lembut.
Coa Leng In mengerti, ”Coa Kun majulah, aku menuntut balas atas kematian ayah”, kata nya.
Coa Kun melihat sekelilingnya, dia melihat para pembantunya tidak berani melangkah maju lagi, orang-orang dari Benua Barbar Kuno sudah dikunci kekuatannya oleh seorang pemuda yang dulu dianggap remeh, namun sekarang memiliki kekuatan diatas imajinasinya.
Coa Kun melangkah maju,
”Apakah kau tidak akan ikut campur dengan urusan keluargaku?”, tanya Coa Kun menatap Han Long.
”Aku tidak mencampuri urusan keluargamu, tapi jika ada yang bergerak membantumu, aku pun akan bertindak”, jawab Han Long.
”Baiklah itu jawabanmu, ha ha ha…, aku telah siap saudariku Leng In, aku menantangmu!!!”, seru Coa Kun.
Doummm…!!!
Seketika tubuh Coa Kun berubah warna menjadi Hitam Legam, Teknik Beladiri Tapak Iblis Gerhana dikerahkan langsung pada puncaknya, Tingkat kultivasi Kaisar Suci Awal meledak dari dalam tubuh Coa Kun, ini mengejutkan Coa Leng In, dia tidak menyangka kalau tingkat kultivasi milik Coa Kun telah sampai di tingkat ini, namun semua sudah terlanjur, dia akan habis-habisan.
Douuummm…!!!
Ledakan energi kultivasi Energi Membelah Bintang Coa Leng In pun meledak, Raja Dewa ke-9 Puncak,
Seketika energi Teknik Beladiri Badai dan Guntur Mencabik Semesta berputar di sekitar tubuh Coa Leng In,
Duaaarr…!!!
Gesekan dua energi yang keluar dari tubuh adik kakak itu, menimbulkan ledakan besar yang memekakan telinga, kedua tubuh itu melesat tinggi di udara, yang dibatasi oleh langit-langit goa yang amat luas.
Dua tubuh berkelebatan seperti pancaran kilat yang beterbangan di langit-langit goa.
”Kun er, anakku Coa Kun, dimana dia?”, suara seorang wanita bergema.
Mo Eng muncul bersama dengan Han Ek dan Mo Cun Ek, dan dibelakang mereka bertiga juga muncul pasukan besar Tentara Merah yang langsung mengepung Han Long yang hanya seorang diri, namun Han Long tidak peduli.
”Han Long?, apakah kau adik Han Long?”, tanya Han Ek.
”Ah, engkau rupanya kakak Han Ek, aku tidak menyangka kau sekarang bersama dengan barisan Benua Merah, apakah kau benar-benar membunuh ayah dari saudari Han Eng, Tetua Han Wi Teng?”, tanya Han Long dengan tenang, tanpa rasa takut.
”Kau anak kemarin sore berani bertanya pada seorang raja Benua Merah?, hanya kematian bagianmu anak kecil”, hardik Mo Eng melihat suaminya Han Ek terkesiap dengan pertanyaan Han Long.
”Apakah kau berani?, wanita sepertimu akulah lawanmu”, kata suara yang kemudian muncul Han Eng disisi Han Long.
”Aku yang akan menghadapinya, karena aku punya perhitungan dengan wanita seperti dia”, jawab seorang wanita lain yang kemudian berturut-turut muncul orang-orang dari Benua Thian Agung ada sekitar puluhan orang, di hadapan barisan yang dibawa oleh Mo Eng.
Mo Eng melihat barisan yang sekarang berkumpul mengelilingi Han Long, dia terkejut melihat bekas madunya mengeluarkan kata-kata seperti menantangnya, namun dia yakin akan kekuatannya sekarang, sekalipun dia tidak tahu apa tingkat yang dimiliki oleh Yap Ing.
”Ternyata kau Yap Ing, apa yang kau andalkan untuk menghadapiku, lihat sekelilingmu, pasukanku lebih banyak, dan pertarungan ini akan segera menghancurkan tempat terkutuk ini, dan kita akan mati bersama-sama”, kata Mo Eng.
Benar apa yang diucapkan oleh Mo Eng, jika atap langit goa ini pecah akibat pertempuran massal, karena tingkat energi yang akan dikerahkan oleh para kultivator Raja Dewa akan meledakkannya, maka semua orang akan menghirup gas beracun yang terdapat pada permukaan tanah Benua Merah.
”Kalau begitu semua orang jangan bergerak, saudariku Coa Kun sedang menyelesaikan urusan keluarganya”, kata Kui Lok dengan cerdik membaca situasi.
”Bukan hanya saudaraku Leng In yang memiliki dendam, aku Han Eng adalah utusan resmi Benua Thian Agung untuk melenyapkan kalian para pengkhianat Benua Thian Agung, Kui Lok dan Hao Sin Tek”, kata Han Eng.
Yangbaegwra ditanggapi ileh Hao Sin Tek,
”Apalah nona berani menghadapi kami berdua, karena kami berdua yang melakukannya”, kata Hao Sin Tek, yang sitangkap oleh Kui Lok dan memahaminya, dia berharap nona muda ini menjawab sesuai harapan mereka.
Han Long memahami maksud Hao Sin Tek, tapi dia hanya menunggu jawaban Han Eng,
”Kalian pikir aku takut menghadapi kalian berdua, majulah bersama-sama”, jawab Han Eng dengan berani.
Inilah jaqaban yang diharapkan oleh Hao Sin Tek dan Kui Lok, mereka ngeri kalau Han Long ikut campur untuk melindungi gadis itu.
”Ingat itu kata-katamu, yang lain tidak boleh ikut campur termasuk pemuda itu, Han Long atau aku akan memerintahkan pasukanku memecahkan atap langit di atas goa ini”, kata Kui Lok dengan menyeringai pada Kui Lok sebagai tanda untuk maju bersama.
Han Eng tahu maksud ucapan ini, karena mereka berdua pernah melihat kekuatan Han Long yang sesungguhnya, berbeda dengan Mo Eng dan yang lainnya, mereka cukup heran dengan ketakutan para Putra Merah ke-1 dan ke-3 ini yang demikian jerih terhadap kekuatan seorang pemuda di depannya, malah Mo Eng sempat mencibir mendengar kepengecutan Kui Lok dan Hao Sin Tek, keduanya adalah kultivator Raja Dewa ke-7 Puncak menantang seorang gadis muda.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya langsung mengerahkan energi kultivasi masing-masing,
Doummm…!!!
Doummm…!!!
Han Eng menatap tajam pada dua orang lawannya, dari segi usia keduanya sejajar dengan leluhur Thian Kong Jie, tapi soal pencapaian tingkat kultivasi dan kekuatan teknik Beladiri, jauh dibawahnya apalagi setelah dia menerima petunjuk dari Han Long dan telah menyempurnakannya, Han Eng melirik Han Long dan tersenyum.
Heiyaaaaa….!!!
Doummm…..!!!
Tingkat Kaisar Suci Awal meletus dari tubuh Han Eng, dan itu mengejutkan semua yang hadir, tidak peduli pihak lawan bahkan Yap Kun Tek yang merasa telah memasuki Raja Dewa Ke-4 terkejut dengan pencapaian yang diraih oleh gadis Han Eng ini.
Apalagi Kui Lok dan Hao Sin Tek, mereka berdua seperti menendang plat logam, keduanya saling melirik seperti melakukan kontak jiwa.
Senyum menghias di kubu Han Long kecemasan mereka lenyap, yang pucat dan cemas adalah kubu Mo Eng, terlebih Han Ek, dia tidak mengira adik kecil yang dulu dikawalnya telah tumbuh berkali-kali lipat melampauinya.
”Mo Eng sekarang urusanmu dan aku harus dituntaskan sekarang juga, anak melawan anak, dan kau berhadapan denganku”, kata Yap Ing maju menghadang pada Mo Eng.
Mo Eng melihat Yap Ing, dia menduga-duga, jangan-jangan keluatan Yap Ing di atasnya juga, ada kecemasan dan kegelisahan, menggantikan sifat arogan yang ditunjukkan sebelumnya karena melihat banyaknya orang yang dibawanya untuk mengelilingi kelompok lawannya, namun ternyata kekuatan pribadi seorang kultivator sangat menentukan kemenangan daripada jumlah orang, dia melihat bahwa orang-orang dari Benua Barbar Kuno tidak mau ikut campur lagi, mereka seperti terdiam tanpa bergerak, Mo Eng tidak tahu bahwa mereka semua sudah terkunci oleh Han Long, dan menanti hukuman yang bisa saja dijatuhkan pada diri mereka melalui eksekusi pikiran Han Long pada diri mereka.
”Majulah, kau pikir aku takut!” teriak Mo Eng pada bekas madunya.
Han Ek melihat istrinya akan bertarung, dia menghalangi jalan Mo Eng,
”Aku yang akan mewakilimu”, katanya, tindakan itu mencerminkan kepedulian Han Ek pada Mo Eng, karena ada anak mereka yang sekarang melihat pertarungan ini
Namun An Wu Hong melangkah maju, ”Bagianmu adalah menghadapiku”, kata An Wu Hong.
”Saudara Wu Hong, dia pengkhianat klan Han, biar aku yang mewakilinya, senior Ek, tak kusangka engkau tersesat sejauh ini, dulu kepala klan Han Wi Teng sangat mempercayaimu, bahkan akupun tidak mendapatkan kepercayaan sebesar itu dari beliau, namun kau tega membunuhnya, aku menuntut keadilan klan Han dari Benua Chong Yang”, kata Han Wo melangkah maju.
Han Ek Melihat bahwa sekarang ada orang yang dia kenal, terjadi perubahan wajah pada Han Ek, rasa sesal dan cemas beraduk menjadi satu, namun dalam sekejap perubahan itu menghilang dia membulatkan tekad untuk menyelesaikan semuanya sekarang di depan lawannya yang dulu sia kenal sebagai juniornya.
Kini masing-masing orang yang berseteru menghadapi lawannya, Han Long hanya melihat saja tanpa reaksi karena dia bersiap mencegah hal terburuk yang akan menimpa kawan-kawannya dengan terlebih dahulu mengunci orang-orang dari Benua Barbar Kuno.
Sedangkan Meng Li dan Cui Man Ek hanya bisa waspada, mereka pun tidak menyangka bahwa orang-orang yang dulu mereka kenal sejak kecil kini tumbuh menjadi kekuatan raksasa, apalagi terhadap pemuda yang dulu mereka tahu adalah anak tolol dan bodoh itu, ternyata kini menjadi tokoh yang sangat ditakuti oleh orang-orang setingkat Kui Lok dan Hao Sin Tek.
Tingkat apa yang dimiliki oleh Han Long?.
Sekarang ada pertarungan tambahan, Yap Kun Tek, An Ling, dan An Wu Hong mewaspadai bila terjadi hal buruk yang menimpa orang yang mereka perhatikan.
Mata An Wu Hong tidak terlepas dari gerakan Yap Ing, demikian juga mata An Ling tidak melewatkan dari tubuh Han Wo, kini An Ling terkejut karena Han Wo menunjukkan kekuatan sejatinya yang ternyata telah mencapai Tingkat Raja Dewa ke-4 Lanjutan, dibandingkan dirinya hanya Tingkat Manusia Dewa ke-9 Puncak.
Yap Kun Tek selalu mewaspadai keturunannya bertarung, dia hanya berjaga dan melindungi Phang Cui Lin, sejak ditolong oleh Han Eng, Phang Cui Lin berkultivasi di bawah perlindungan Yap Kun Tek, dan Yap Kun Tek melakukan ini semata-mata karena dia merasa bertanggung jawab terhadap Phang Cui Lin menderita seperti sekarang ini.
Phang Cui Lin tidak memperhatikan jalannya setiap pertempuran dia percaya dengan adanya Han Long di kubu mereka, segalanya dapat diselesaikan, apalagi dia tahu kekuatan pemuda itu sebelumnya dan karena kepercayaan mutlak pada ibu Han Long seorang tokoh sakti yang menjadi tuannya, dan dia pun sibuk mengoperasikan teknik kultivasinya agar segera memulihkan kekuatannya seperti semula, ditambah lagi dengan energi yang tadi diberikan oleh Han Eng sedikit membantu dalam pengoperasian teknik kultivasi miliknya.
Phang Cui Lin tahu bahwa Yap Kun Tek tidak beranjak dari dirinya, berjaga melindungi dirinya, tindakan Yap Kun Tek menenangkan dirinya, lelaki tingkat Raja Dewa ini bersedia melindungi saat dia membutuhkannya, hal ini memberi kesan mendalam pada dirinya yang selalu dingin terhadap lawan jenis.
Pertarungan berlangsung dengan ledakan-ledakan energi yang terjadi, Coa Leng In sekalipun lebih rendah satu Tingkat dari Coa Kun namun Teknik Beladiri miliknya lebih kuat dan lebih murni peninggalan tokoh sekelas Kui Lok Mo penguasa Sejati Benua Merah, dari yang dimiliki oleh Coa Kun, dan juga tingkat kultivasi Coa Kun didapatkan dengan kekuatan kultivasi ganda dimana kekuatan itu bercampur dari darah seseorang yang sebetulnya kurang murni dan kuat.
Dapat terlihat bahwa nafas dari Coa Kun secara pasti mulai tidak beraturan apalagi teknik yang dimilikinya mengandung racun yang sangat kuat itu artinya nafas yang dimilikinya harus lebih kuat dari teknik tersebut, namun karena dia konsentrasi pada peningkatan Kultivasi maka nafas yang seharusnya menjadi kekuatan Teknik Iblis Gerhana menjadi terganggu, kalau lawan yang dihadapi nya lebih rendah kulrivasinya mungkin kemenangan Coa Kun dapat dipastikan tapi Coa Leng Ini memiliki kekuatan murni hasil Asimilasi dengan energi Merah miliki Kui Lok Mo seorang Kultivator tingkat Kaisar Dewa.
Lambat namun pasti, Coa Leng In mulai diatas angin, yang lebih parah adalah nasib Kui Lok dan Hao Sin Tek, keduanya beranggapan bahwa Han Eng lebih lemah dari Coa Leng In, namun kenyataannya mereka sekarang menjadi bulan-bulanan Han Eng, gerakan kui Lok Dan Hao Sin Tek terbatas, mereka berdua kalah segala-galanya, baik tingkat kultivasi maupun Teknik Beladiri, kini mereka menyesal memilih lawan.
Pertandingan yang seimbang adalah pertarungan Mo Eng dan Yap Ing, kedua wanita cantik ini bertarung seperti bahwa ini adalah kekuatan mereka yang terakhir.
Putra Mo Eng dan Han Ek hanya bisa terbelalak, Mo Cun Ek tidak mengerti mengapa kedua orang tuanya bertempur dengan orang-orang yang justru lebih kuat dan rata-rata masih muda, kecerdasan tidak bisa menjawab, yang dia tahu bahwa di Benua ini, yang suka mengejeknya hanya Cui Kun anak Paman Cui Man Ek dan Bibi Meng Li, namun kedua paman dan bibi itu selalu hormat pada ibunya, bukan kepada ayahnya.
Berbeda dengan kepolosan Mo Cun Ek, Cui Kun sudah menangis berlindung di pelukan ibunya Meng Li, dia sudah ketakutan dengan orang-orang yang menjadi lawan, di atas sana dia melihat pamannya yang paling memperhatikan dirinya, Yang Mulia Coa Kun telah menerima beberapa pukulan dari sinar merah yang dikeluarkan oleh wanita lawannya, selama ini dia mendapatkan perlakuan istimewa dari Coa Kun, apapun yang diinginkan akan dipenuhi asal dia bilang pada sang paman, dia selalu menganggap bahwa kasih sayang sang paman pada dirinya melebihi ayah Cui Man Ek.
Duaarrrr…, des… dug…!!!
Dua tubuh jatuh sekaligus, tubuh itu milik Kui Lok dan Hao Sin Tek, keduanya sudah bersimbah darah, pakaian mereka sudah robek-robek di beberapa bagian, dan terlihat bahwa keduanya bernafas satu-satu.
Han Eng mendarat pada tubuh keduanya lalu,
Sret…, sret…!
Ah…, ahh…
Kui Lok dan Hao Sin Tek hanya bersuara singkat ketika pedang tipis Han Eng bergerak ke arah leher mereka.
Melihat kematian tragis keduanya membuat gerakan Mo Eng menjadi kacau, hal ini dimanfaatkan oleh Yap Ing,
Bug…bug… desss…!!!
Mo Eng terpelanting jatuh kebelakang saat Yap Ing mendaratkan kepalannya pada perut, dada dan lehernya yang putih dan jenjang.
Uhugh…!!!
Dari mulut Mo Eng mengalir darah,
”Ibuuuu….!!!”, teriak Mo Cun Ek.
Mo Cun Ek memburu tubuh ibunya, dia memeluk tubuh sang ibu dan wajahnya menghadap pada Yap Ing dengan berani.
Yap Ing hanya diam terpaku, dia melihat bocah lelaki yang dari tadi menempel pada Mo Eng sekarang dengan berani menghadapinya, ada sedikit kekaguman pada diri bocah kecil ini.
Melihat Mo Eng telah jatuh, rupanya mempengaruhi Han Ek, yang memang sudah payah sejak awal menghadapi Han Wo bekas adik juniornya ini, dan tidak lama berselang tubuh Han Ek menerima pukulan yang sangat kuat dari Han Wo, yang menghancurkan isi perutnya, dia pun melayang jatuh ke tanah,
Mo Cun Ek melihat ayahnya telah kalah, dia berlari menghampiri ayahnya,
Ayaaahhhh….!!!
Teriakan ini menggugah Han Wo dan Yap Ing agar tidak memburu lawan-lawannya, keduanya tertegun, melihat seorang anak lelaki kecil yang memanggil Han Ek sebagai Ayah dan kepada Mo Eng sebagai Ibu.
Tangan Han Ek menggapai ke arah Mo Cun Ek, dan dia berusaha berbicara pada anaknya,
”Nak, jangan kau membalas apa yang menimpa ayah, ini kesalahanku”, katanya, dia melihat ke Han Wo, lalu berusaha berkata,
”kesalahanku adalah tekadku tidak sekuat dirimu saudara Han Wo, dan aku telah menebus dengan nyawaku, kuminta kau melepaskan anakku dia Han Cun Ek”, kata Han Ek dalam nafas terakhirnya.
Ayaaaahhhhh…!!!
Jerit Mo Cun Ek, Mo Eng hanya melihat dari jarak sekitar sepuluh meteran, suaminya telah mati dia tidak dapat berbuat apapun, kini akibat ambisinya, kebahagiaan bersama laki-laki yang sangat dicintainya telah berakhir, dan putra yang disayanginya sekarang terancam nyawanya.
Dan belum habis rasa sedihnya,
Aaarrrghhh…!!!
Uhugh…!!!!
Brugh!!!
Tubuh Coa Kun terbaring dari udara dengan bantingan yang sangat keras.
Disusul kemudian dengan mendaratnya kaki Coa Leng In di depan tubuh Coa Kun.
Coa Kun menatap adik tirinya dengan kebencian yang sangat besar, dia selalu tidak mengerti mengapa adik perempuannya ini selalu mengalahkan dirinya, bahkan sampai dia sudah mencapai ketinggian kultivasi sekarang ini.
”Leng In kau bunuhlah aku, aku tidak akan pernah mengakui kekalahanku darimu, ha ha ha…, aku Coa Kun Penguasa Benua Merah, aku pula yang akan menghancurkan musuh-musuh Benua Merah dengan mati bersama-sama, ha ha ha….!” kata Coa Kun disertai dengan ledakan dahsyat tubuhnya,
Boooouuummmm…..!!!
Duuuuuaaaarrrrr…..!!!
Tingkat kultivasi Kaisar Suci memiliki kekuatan penghancur melebihi kekuatan penghancur sebuah benua, dan ledakan itu menggelegar di ruang bawah tanah yang sangat luas.
Kelompok yang tadinya siap bertarung tercerai berai ke segala arah, Han Long dengan cepat menarik Han Eng dan Coa Leng In dan lainnya dengan menghisaonua melalui enwegi tarik dalam dirinya, lalu dia menggerakkan kedua tangannya ke udara dan
Douussshh…!!!
Maka muncullah kubah energi merah, biru dan putih dari tubuhnya, melindungi kelompok Han Eng dan lain-lainnya.
Hal ini dapat dilakukan Han Long karena dia sudah mencurigai dari awal akan tindakan dari Coa Kun, bukan hanya Coa Kun namun lawan Han Eng sebelumnya sudah merencanakan hal tersebut saat Han Eng mengerahkan tingkat kultivasi Kaisar Suci nya, dan kedua lawan tersebut, baik Kui Lok maupun Hao Sin Tek tidak dapat berbuat jauh karena Han Eng langsung menghabisinya.
rupanya inilah tekad terakhir yang sudah direncanakan oleh orang seambisi Coa Kun, dia harus mati dengan semua musuh-musuhnya sekalipun dia harus membawa ibu dan para kerabatnya, di hatinya hanya ada ambisi dan kebencian semata.
Han Eng berteriak,
”Kakak Han Long!!!”.
Booouuummm…!!!
Teriakan itu ditelan oleh suara ledakan maha dahsyat dari tubuh Coa Kun berikutnya yang memilih meledakkan dirinya bersama seluruh penghuni Benua Merah yang hidup di bawah tanah.
Langit-langit goa tidak kuat menahan ledakan dahsyat tersebut dan,
Kraaakkk…!!!
Kraaakkk…!!!
Kraaakkk…!!!
Terjadi retakan lapisan tanah pada langit goa raksasa itu.
Justru inilah yang paling diwaspadai oleh setiap orang yang tadinya hendak bertarung, itulah sebabnya semua orang menahan diri, dan Han Long sengaja mengunci kekuatan orang-orang dari Benua Barbar Kuno, supaya jangan sampai terjadi pertarungan massal, karena akan mencelakai semua orang, ruangan goa ini tidak dapat menampung ledakan energi yang dilakukan lebih dari puluhan orang yang memiliki kekuatan rata-rata di atas tingkat kultivasi Manusia Dewa.
Bebatuan yang menempel pada langit-langit goa berjatuhan, semua orang menjadi panik,
”Semuanya ke tempat formasi teleportasi, segera!!”, teriak An Wu Hong pada rombongannya.
”Kakak percuma saja, lorong ke tempat itu. sudah hancur…”, jawab An Ling, matanya mengarah pada lorong-lorong goa di tempat itu.
Kepanikan semua orang semakin meningkat, kubu pihak Mo Eng yang tidak memiliki perlindungan dari Han Long sudah menjerit putus asa, terutama Cui Kun yang memiliki mental anak manja, dia sudah menangis hingga menjerit-jerit di bawah pelukan Meng Li, sedangkan Mo Cun Ek tetap memeluk tubuh ibunya disamping mayat Han Ek, dihatinya muncul sebuah tekad, percuma saja melarikan diri dari tempat seperti ini, karena akhirnya akan mati juga.
Dan kekhawatiran semua orang terjadi juga, langit atap goa raksasa hancur, dan ada asap berwarna merah pekat mengalir masuk, dan retakan pada langit goa itu semakin lebar, akhirnya,
Kraaakkk ….!!!
Boummm…!!!
Seluruh Langit goa Raksasa hancur berjatuhan menimpa lantai dasar goa, dan jutaan orang sibuk menghindari dari timpahan bebatuan, pasir dan tanah yang meluncur dari atas.
Heiyyyaaaa….!!!
Doouuummm…!!!
Seketika teriakan Han Long membahana dari dalam goa raksasa dan dari tubuh Han Long berpijar warna merah terang, dan sinar itu seperti berpendar meluas keseluruh ruangan raksasa.
Di sisi lain yang muncul dari angkasa Benua Merah ada sinar lain yang sumbernya dari luar, dan mengaliri permukaan tanah Benua Merah, cahaya ini berbentuk asap atau gas berwarna Putih dan Biru, cahaya ini menyebar di peemukaan Benua Merah hingga menerobos gelapnya ruangan goa raksasa, dan terus masuk.
Cahaya dari permukaan tanah itu seperti asap yang mengaliri setiap lorong, anehnya gas beracun merah pekat itu seperti menghindari energi putih dan biru, dan saat cahaya merah terang miliki Han Long menyatu dengan gas atau asap merah pekat beracun, disini terlihat oleh mata telanjang, gas merah itu mau bersatu dengan asap atau gas bercahaya biru dan putih, keempat gas atau asap itu saat tercampur, saling meniadakan.
Kini di angkasa permukaan tanah Benua Merah, tanpa diketahui oleh penghuni Benua, melayang sepasang pria dan wanita, sosok pria tampan yang mengeluarkan asap bercahaya biru dan wanita yang sangat cantik yang mengeluarkan asap bercahaya putih, mereka adalah diri sejati Han Long bersama Bu Ling Moy, Penguasa Benua Ketiga.
Melalui Kontak Jiwa dari jiwa Han Long yang berada di dalam goa pemukiman warga Benua Merah, atau Goa Raksasa Istana Merah, Han Long dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi, dia meminta pertolongan Bu Ling Moy istrinya agar mau membantu memberikan Energi ‘Kabut Putih’ untuk menstabilkan kondisi udara Benua Merah, sekalipun dalam diri sejati Han Long memiliki energi Kabut Putih juga, namun sebaiknya energi itu langsung dari sumber pemiliknya, Penguasa Benua Ketiga.
Untuk kesekian kalinya, tindakan Han Long membuat semua orang yang hadir hanya bisa terbelalak, mereka audah siap menanti maut, namum rupanya dengan adanya pemuda diswkitar meeeka, sang Maut enggan mencabut nyawa mereka.
Han Eng,Coa Leng In sangat percaya akan kekuatan pemuda di samping mereka, apalagi Phang Cui Lin, yang selalu menganggap bahwa Han Long adalah Tuan Muda dari putra tuannya Thian Sian Li yang sangat sakti dan kuat, namun sepeeti Yap Kun Tek, Yap Ing, Han Wo, An Ling dan An Wu Hong serta pasukan dari Benua Thian Agung, kekuatan ini adalah kekuatan yang sangat jauh diluar imajinasi mereka.
Pada kubu Mo Eng, ada Meng Li dan Cui Man Ek serta rombongan para ahli dari Benua Barbar Kuno, mereka semua hanya bisa tunduk dan menyerah, terbukti ketika mereka akan mengeroyok Coa Leng In, mereka semua dibuat tidak berdaya.
Hanya satu anak yang menatap dengan ekspresi berbinar, dia adalah Mo Cun Ek, entah apa yang dipikirkannya namun dari sorot matanya tidak ada jejak ketakutan sama sekali.
Ketika semua orang yang berasal Benua Merah menghirup udara di benua itu tanpa sakit di dada, entah siap yang memimpin, semua langsung menjatuhkan diri bersujud pada kelompok Han Long,
Yang Maha Mulia, pimpin kami!!!
Tuanku yang Agung jadilah pemimpin kami!!!
Bawalah kami pada Kejayaan!!!
Berbagai seruan dan ucapan ini diteriakan dari berbagai sudut benua dengan menggunakan segala atribut kekuatan yang mereka miliki, hanya satu kesimpulan, bahwa mereka hanya akan menurut dan tunduk pada seorang pemuda yang diapit oleh dua wanita cantik yakni Han Long.
”Diamlah, kalian semua akan menerima pengaturan dari utusan Benua Thian Agung, aku Han Long adalah orang dari Benua Thian Agung, bukan kehendakku untuk mengambil hak orang lain, dan penguasa sebelumnya yakni mendiang Leluhur Kui Lok Mo telah mewariskan Benua ini pada salah seorang muridnya”, kata Han Long.
Mendengar sebutan tentang pewaris dari Leluhur Kui Lok Mo, hampir semua orang memgerutkan kening, karena Coa Kun telah mati bahkan kematiannya ingin memusnahkan seluruh warga Benua Merah, pewaris mana lagi?.
Han Long tersenyum, dan mendekati Coa Leng In, dan gadis itu sangat gugup saat Han Long menyentuh pundaknya, tubuhnya sedikit bergetar, Han Eng yang ada disisinya langsung memeluk tubuh Coa Leng In dan berbisik sesuatu, semburat merah muncul dipipi cantik Coa Leng In, semua itu tidak terlepas dari tatapan mata curiga ibunya, Yap Ing.
”Warga Benua Merah, aku kemari adalah karena permintaan pewaris Leluhur Kui Lok Mo untuk mengembalikan udara permukaan Benua Merah agar menjadi sehat dan kita semua dapat hidup dan berkultivasi seperti warga lainnya di permukaan dunia ini dan aku menghendaki pewaris Leluhur Kui Lok Mo menjadi Penguasa Benua ini”, kata Han Long lagi.
Melihat gerakan Han Long semua mata mengarah pada Coa Leng In, dan mata Han Long memberi tanda pada wanita Cantik ini.
Coa Leng In melangkah maju, tangannya melakukan gerakan Teknik Beladiri Badai dan Guntur Mencabik Semesta, maka sinar merah langsung menembak ke angkasa, ciri khas Teknik tertinggi yang dimiliki oleh mendiang Leluhur Kui Lok Mo, dan gerakan ini membuktikan sebagai Penguasa selanjutnya Benua Merah yang baru.