Dua hari telah berlalu dari kejadian memalukan yang menimpa anak-anak petinggi Klan Cui dan Klan Meng, yang diakibatkan oleh Han Eng dan Han Long.
Sebuah kereta yang ditarik oleh 4 ekor binatang seperti kuda, namun ukurannya sangat besar dengan 2 tanduk yang muncul di kepalanya bersusun seperti cula pada binatang badak, dikenal dengan sebutan Kuda Kilin Angin, ini termasuk binatang iblis yang sudah ditaklukan dan dipelihara sebagai hewan yang khusus menjadi tunggangan atau digunakan menarik kereta-kereta para bangsawan di ibukota Chong Yang, memasuki gerbang Kota Yang In dari Gerbang sebelah Barat.
Ada sebaris kalimat yang menempel dengan huruf emas bertuliskan “Sekte Samudera Naga”. Ini adalah kereta yang berasal dari ibukota Chong Yang.
Melihat kereta besar ini, warga kota Yang In banyak yang terperangah menatap kemewahan kereta itu, terlihat ada 8 orang berpakaian seragam dengan baju zirah yang mentereng, 8 orang ini bertindak sebagai pengawal kereta tersebut, mereka menunggangi kuda kilin angin, binatang yang sama sebagai penarik kereta tersebut. pemandangan ini semakin menarik minat banyak orang, mereka dibuat penasaran dan berbondong-bondong ingin melihat.
Saking banyaknya warga Kota yang menonton, akhirnya malah menghalangi laju kereta itu.
“Minggir!!!”
“Menyingkir dari jalan kami!!”.
Terdengar suara bagaikan guntur yang menggelegar, memerintahkan warga agar menyisi untuk memberikan jalan pada rombongan kereta tersebut.
Warga Kota Yang In terkejut mendengar suara ini, banyak kaki warga yang gemetaran, bahkan ada yang memuntahkan sedikit darah dari mulutnya, karena kekuatan suara ini sangat dahsyat.
Pengirim suara ini adalah seseorang yang berada di barisan depan kereta itu, rupanya dia bertindak sebagai kepala pengawal yang mengawal kereta tersebut.
Dengan baju zirah yang lengkap, bahkan kepalanya memakai sejenis pelindung yang berkilau dengan rumbai di puncaknya, menambah kesan wibawa seorang tentara yang berpangkat tinggi, padahal ini hanyalah seorang dengan level kepala regu penjaga perbatasan ibukota Chong Yang. Namun di depan warga kota Yang In, sudah dianggap sebagai jenderal besar.
Cheng Kun berusia 30 - 40 tahunan, dia adalah kepala pengawal yang bertanggung jawab untuk menyertai perjalanan para tetua dari Sekte Samudera Naga.
Bagi Sekte Samudera Naga untuk memerintahkan seorang kapten penjaga ibukota adalah pekerjaan mudah, karena hampir rata-rata yang bekerja sebagai tentara di Kerajaan Chong Yang adalah lulusan dari Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Dan bagi Cheng Kun adalah sebuah kehormatan untuk mengawal para tetua ini.
Tingkat kultivasi Cheng Kun sudah berada pada tingkatan Imajinasi Roh ke-2 Akhir. Jadi kalau Cheng Kun berada di kota Yang In, dia dapat menduduki jabatan sebagai Kepala Klan yang akan dihormati oleh keluarga lainnya.
Seperti diketahui kekuatan paling tinggi di Kota Yang In dipegang oleh Kepala Klan Coa, itupun baru pada tingkat Imajinasi Roh ke-1 Akhir, masih harus melewati Imajinasi Roh ke-2 Awal dan Tingkat Imajinasi Roh ke-2 Menengah, barulah sampai Tingkat Imajinasi Roh ke-2 Akhir.
Dan untuk masing-masing tahapan itu memerlukan waktu yang lama, dan asupan suplemen dalam bentuk-bentuk pil penguat atau peningkat kultivasi.
Kondisi yang jauh berbeda bagi seorang kultivator, antara yang berada di Kota Yang In dibandingkan yang berada di Ibukota Kerajaan Chong Yang.
Setelah penduduk kota Yang In menyingkir dari jalanan yang mengarah ke pusat kota, rombongan kereta itu pun melanjutkan perjalanannya.
Di depan markas keluarga Klan Coa yang digunakan sebagai pusat pemerintahan Kota Yang In, berjejer barisan para Patriak atau Kepala Klan sebanyak 5 Orang yaitu, ditengah-tengah adalah Coa King Hun, di samping kirinya adalah Meng Ki dan Cui Tong, di sebelah kanan Coa King Hun adalah Tang Hun Beng dan Han Wi Teng, lalu dibelakang para Kepala Klan, dengan berdiri berkelompok, adalah para tetua atau penatua masing-masing Klan. Kecuali para Penatua atau Tetua Klan Han yang berdiri berkelompok paling belakang.
Perlu juga diketahui bahwa di Kota Yang In, Jabatan Struktural di masing-masing Klan hampir sama dan sederhana, setelah Jabatan Kepala Klan dibawahnya adalah para Penatua atau Tetua, lalu berikutnya adalah Anggota Elit Klan, anggota Senior Klan, anggota Junior dan terakhir adalah para pelayan.
“Rombongan Para Tetua Sekolah Beladiri Samudera Naga telah tiba!!!”
Teriakan ini terdengar sampai ke dalam Aula Klan Coa. Yang diserukan oleh Salah satu anggota Elit Klan Coa.
Para Kepala Klan bergegas mempersiapkan diri sambil masing-masing Kepala Klan melirik ke masing-masing kelompok keluarganya untuk memberi tanda kesiapan mereka.
Hal ini perlu untuk diantisipasi oleh masing masing Klan Keluarga, agar dapat dipandang baik oleh para tamu terhormat ini, karena mereka adalah orang-orang dari ibukota.
Tidak Lama setelah itu, terlihat sebuah kereta besar yang ditarik oleh 4 ekor Kuda Kilin Angin yang sangat besar, diiringi oleh 8 orang pengawal.
Setelah tiba di halaman Manor Klan Coa, Cheng Kun melompat turun dari tunggangannya.
Dengan langkah kaki yang mantap dan kokoh, Cheng Kun menghampiri posisi para Kepala Klan.
“Siapa pemimpin Kota Yang In?” kata Cheng Kun
“Hamba Coa King Hun merasa terhormat atas kunjungan anda, dan saya bertindak sebagai pemimpin kota”, Coa King hun menjawab dengan rendah hati, bahkan badannya sedikit membungkuk terhadap Cheng Kun.
Coa King Hun harus melakukan ini, dia tidak dapat menduga tingkat kultivasi Cheng kun, dipastikan berada di atasnya.
“ Hmm, para Tetua masih di dalam Keretanya”, kata Cheng Kun lagi.
“Siap, kami akan menyambutnya bersama kepala klan lainnya”, ujar Coa King Hun kembali, lalu dengan sedikit membungkukkan punggungnya, mereka berjalan menghampiri kereta yang berisi para tetua Sekte Samudera Naga.
Saat pintu kereta dibuka oleh salah satu pengawal, nampak oleh para Kepala Klan beberapa orang turun, ada 3 lelaki, dimana 2 diantaranya terlihat masih muda dengan 1 orang berusia sekitar 50 tahunan, lalu menyusul seorang wanita berusia 40 tahunan.
Pria dan wanita setengah baya ini berpenampilan sederhana, berbeda dengan dua orang pria muda yang lainnya, pakaian mereka terlihat mewah dan bergaya bangsawan.
“Salam para Tetua”, para Kepala Klan memberi salam serempak,
“ Hmmm,” Jawaban pendek ini di keluarkan oleh pria yang lebih tua, dengan sedikit kepala mengangguk.
“Siapakah nama-nama yang terhormat ini?” tanya Coa King Hun.
Yang bereaksi adalah salah satu anak termuda.
“Orang tua ini bernama Kong Beng, aku Kong Hay dan itu adalah Cong Min dan wanita itu bernama Sui Nie Ay”, jawab Kong Hay menjelaskan dengan tangannya bergerak ke masing-masing orang ketika dia menyebutkan satu per satu nama orang yang bersangkutan.
“Silahkan para tamu terhormat memasuki ruangan yang sudah dipersiapkan”, kata Coa King Hun mempersilahkan rombongan untuk masuk ke dalam gedung Manor..
Dari percakapan mereka, maka diketahui bahwa Kong Beng adalah pemimpin rombongan, dia menjabat sebagai salah satu penatua luar di Sekte Samudera Naga, pemilik Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Sui Nie menjabat sebagai Diaken luar, dan Kong Hay yang berusia 17 tahunan adalah ‘murid dalam’ bersama dengan Cong Min seniornya, yang berusia 20 tahunan.
Kultivasi Kong Beng pada Tingkat Imajinasi Roh ke-5 Awal, sementara rekannya Siu Nie Ay pada tingkat Imajinasi Roh ke-3 Akhir.
Kong Hay dengan Cong Min masing-masing adalah murid dalam dari Sekte Samudera Naga pada Tahap Imajinasi Roh ke-2 Awal dan Imajinasi Roh ke-2 Menengah.
“Tahap-tahap yang harus dilewati oleh calon Murid Junior Sekolah Beladiri Samudera Naga ada 3 Langkah yang menyangkut bakat, kemampuan dan wawasan.” jawab Penatua Kong Beng, ketika salah satu Kepala Klan bertanya tentang soal ujian yang akan diselenggarakan Pra Seleksi Sekolah Samudera Naga.
Kong Beng enggan menjelaskan lebih jauh tentang detail teknis ujian itu, dia dan lainnya, hanya mengatakan nama jenis ujian yang akan diikuti oleh peserta calon murid Kota Yang In.
Secara menyeluruh, Jenis ujian ini akan terbagi dalam 2 kelompok umur, yang pertama adalah kelompok Umur 9-15 tahun dan kedua adalah 15-20 tahunan.
Akhirnya hari yang ditunggu oleh warga Kota Yang In, khususnya para calon murid Sekolah Beladiri Samudera Naga akhirnya tiba.
Terlihat ratusan wajah-wajah muda berkumpul di tengah alun-alun kota Yang In, di tengah alun-alun kota terdapat area lapangan, dimana area tersebut dibagi dengan 9 bagian dengan masing-masing bagian berdiri sebuah bangunan yang cukup tinggi dan besar.
Gooonggg!!!!!!
Gooooooonnnnggg!!!!!
Goooooooonnnnngggggg!!!!!!
Berikutnya terdengar seseorang berkata:
“Bagi mereka yang berumur 9 -15 tahun, berkumpul di gerbang utara, silahkan untuk mendaftar, dan mereka yang berumur 16-20 tahun berkumpul di Gerbang sebelah Barat untuk mencatat identitas kalian masing-masing!!!”
Suara ini bergema ke seluruh kota Yang In, jelas yang berkata adalah Penatua Kong Beng.
terjadilah aliran manusia yang terpisah, ada yang berjalan namun kebanyakan mereka berlarian ingin menjadi yang terdahulu, ke arah utara dan Barat dari alun-alun kota.
“Han Long!, Ikuti aku”, suara Han Eng berteriak keras pada seorang anak lelaki, tidak jauh dari Han Eng ada sepasang mata cantik lainnya yang mengikuti pergerakan Han Eng, Mata itu milik Coa Leng In.
Coa Leng In tidak bermaksud mendaftar, dia ingin melihat proses ujian itu, dan tidak sengaja dia berpapasan dengan Han Eng dan Han Long.
Terlihat tangan Han Long dipegang , diseret dan ditarik-tarik oleh tangan Han Eng, Coa Leng In melihat perbuatan itu, dia mengerutkan keningnya, karena dia berpikir, bagaimana mungkin ada seorang anak tanpa kultivasi mau ikut mendaftar kegiatan seperti ini.
“Hey!, apa yang kau lakukan dengan menyeret anak itu?”.
Protes Coa Leng In kepada Han Eng, dengan nada ketus.
“Eh, apa urusanmu?” balas Han Eng dengan sama ketusnya dengan Coa Leng In.
“Apakah kau anak perempuan bodoh?,
lepaskan tangan anak tanpa kultivasi itu,
bagaimana dia akan lulus dalam ujian ini?”.
Timpal Coa Leng In kembali.
“Terus.., Apa yang akan kau lakukan, dia pelayanku,
kalau aku ikut mendaftar maka dia juga akan mendaftar!”.
Jawab Han Eng kembali.
Coa Leng In terdiam, dia tidak menyangka bahwa anak bodoh ini adalah pelayan anak perempuan itu..
Sementara Han Long yang dibicarakan terlihat senyam-senyum dengan wajah polos melirik ke arah dua anak perempuan bergantian, postur tubuh Coa Leng In setinggi dirinya, dan Han Eng lebih pendek hanya seukuran dada Han Long maupun Coa Leng In.
“ Kakak, terima kasih atas perhatianmu”, kata Han Long pada Coa Leng In.
Coa Leng In merasa kesal, karena tadinya dia ingin membantu seseorang, tapi yang dibantunya ternyata hanya seorang anak bodoh.
Dengan wajah cemberut Han Eng memegang tangan Han Long dan menariknya kembali dengan hentakan kejengkelan, namun saat itu Han Long baru saja berbicara dengan Coa Leng In, karena hentakan itu, membuat Han Long terkejut dan tubuhnya sedikit oleng, dengan reflek Coa Leng In menarik ke arah berlawanan bermaksud agar Han Long tidak terjerembab, namun yang terjadi adalah, Han Long menarik Coa Leng In ke arah tubuhnya maka terjadilah tabrakan domino.
Ketiganya berjatuhan, namun dengan cerdik tanpa sepengetahuan kedua anak perempuan itu, Han Long sengaja berada di posisi paling bawah.
Kejadian itu menarik dan menjadi tontonan anak-anak lainnya, bahkan ada sebagian yang menjadi petugas pendaftaran melihat kejadian tersebut.
“Adddaaaaoowwww!’,
Teriakan Han Long membuat anak-anak lainnya tertawa terpingkal-pingkal, Han Eng dan Coa Leng In merasa malu, mereka yang memiliki kekuatan kultivasi, seharusnya dapat menghindari jatuh bersamaan seperti itu, walau mereka jatuh dengan menghimpit pada tubuh Han Long.
Lebih malu lagi, ternyata karena gerakan reflek tangan Han Long memeluk keduanya, dalam pelukan Han Long, dimana Han Eng di kiri dan Coa Leng In di sebelah kanan.
Semburat rona merah mengalir ke wajah masing-masing, mereka tadinya akan marah pada Han Long, tapi peristiwa itu diperbuat oleh mereka berdua, dan mereka tahu bahwa Han Long tidak memiliki kultivasi.
Jika mereka tahu bahwa ini semua adalah akal-akalan Han Long, mungkin mereka akan mengeroyoknya, namun jika Han Long menunjukan kekuatannya, apa yang bisa mereka lakukan.
Han Long sengaja melakukannya agar mereka berdua tidak terus bertengkar mulut.
“Senior Eng, Kakak cantik, apa yang kalian lakukan?, lihat tubuhku jadi sakit,”
Han Long memecahkan kekakuan diantara mereka dengan sengaja meminta keduanya bertanggung jawab.
Keduanya hanya melirik jengah, tidak tahu apa yang harus diucapkan, mereka berdua menjadi serba salah menghadapi anak bertampang bodoh ini.
“Ah sudahlah, lupakan saja, kalian tidak perlu bertanggung jawab,
lagipula lukaku hanya ringan saja”,
kata Han Long kemudian, membuat keduanya menarik nafas lega.
“Kakak cantik, apakah kamu mendaftar juga?, siapa namamu?”, tanya Han Long kembali.
“Aku mendaftar juga, dan namaku Leng In” jawab Coa Leng In merubah pendirian sebelumnya, dia sengaja tidak menyebutkan nama keluarganya.
Dia tahu kalau Han Eng tidak menyukai Klan Coa.
“Kalau begitu, mengapa kita tidak bersama-sama mendaftar?” ajak Han Long tanpa meminta persetujuan Han Eng.
Namun Han Eng pun sebenarnya setuju saja, karena dia melihat kepedulian Coa Leng In pada Han Long, jadi dia melihat ada sisi kebaikan dari Coa Leng In.
Akhirnya mereka sepakat menjadi sebuah kelompok.
Setelah ketiganya mendaftar mereka menunggu satu per satu untuk dipanggil oleh petugas seleksi.
Ada sekitar 300 orang lebih yang mengikuti Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga, itu pun dalam kategori umur 9 - 15 tahun, dan kategori 16 - 20 tahun sekitar 200 orang lebih.
Ujian pertama bagi kelompok umur 9-15 tahun dibagi dalam 3 bagian dimana semuanya menyangkut Bakat, Kemampuan dan Wawasan.
Yang pertama adalah seluruh anggota memasuki sebuah bangunan yang ternyata di dalamnya penuh dengan dinding labirin yang dipenuhi oleh gambar-gambar aneh.
Beberapa gambar menyeramkan untuk menimbulkan ketakutan,
lalu berubah untuk menampilkan tragedi yang memancing emosi kesedihan,
tidak lama berubah menjadi gambar yang cerah dan menenangkan namun menimbulkan tekanan pada jiwa seseorang, bahkan beberapa gambar sulit untuk dipahami.
Jika setiap peserta dapat menemukan jalan keluar dari ruang labirin tersebut kurang dari sebatang dupa terbakar, maka dinyatakan lulus.
Ketika nama Han Eng, Leng In dan Han Long disebut oleh seorang petugas, mereka beriringan masuk ke dalam sebuah ruangan, ternyata mereka memasuki labirin yang secara otomatis memisahkan mereka bertiga.
Ketika Han Long menyadari bahwa dirinya terpisah dari Han Eng dan Coa Leng In, dia tersenyum melihat ruang labirin ini, dengan jentikan jarinya dia sudah dapat melihat jalan keluar dari ruangan ini.
Namun dia tidak langsung berjalan keluar, dia lalu duduk dan memejamkan matanya serta mengatur nafasnya dengan santai, setelah dirasakan bahwa sebatang dupa akan habis terbakar, baru dirinya melangkah keluar.
“Han Long, kamu berhasil keluar juga !”, seru Han Eng.
“Saudara Han Long, bagaimana kondisimu?”, timpal Coa Leng In.
“Di dalam aku merasa pusing dan juga ketakutan”.
Dengan memasang muka kelelahan dan kecemasan,
Han Long menjawab pertanyaan Coa Leng In.
“Aku tidak menyangka, kami bertiga dapat melewati ujian yang membingungkan ini”.
Kata Han Eng selanjutnya, dibalas oleh keduanya dengan anggukan kepala.
Lalu Coa Leng In memisahkan dirinya dan bergegas kembali ke klannya, dan Han Eng serta Han Long pun kembali ke Manor Kabut Putih.
Dari hasil ujian hari ini, ternyata untuk kelompok umur 9 - 15 tahun, Klan Han berhasil meloloskan anggotanya sebanyak 40 orang, dibandingkan dengan klan ternama lainnya, yang hanya rata-rata 20 orang, sisanya dari anak-anak tanpa klan.
Demikian juga dengan kelompok umur 16-20 tahun, Klan Han menuai hasil yang cukup menggembirakan, dari 35 orang yang mengikuti, 30 orang diantaranya lolos pada tahap berikutnya.
Dari ujian ruang labirin ini, secara keseluruhan hanya 150 orang yang dinyatakan lulus untuk kelompok umur 9 - 15 tahun dan hanya 120 orang untuk kelompok umur 16-20 tahun.
Ujian kedua diadakan keesokan harinya.
Peserta yang dinyatakan lulus, diberikan waktu istirahat, karena bagi yang lainnya, ujian tadi banyak mengguncang jiwa peserta bahkan ada yang keluar dinyatakan lulus namun kondisi psikisnya terganggu.
Diperlukan persiapan yang matang untuk menghadapi ujian kedua, karena katanya lebih sulit dari ujian hari ini.
Kepala klan Han berdiri menyambut di gerbang manor Kabut Putih, dengan senyum sumringah dia menatap anggota klan yang kembali dari ujian Pra Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Dengan hasil hari ini, dia merasa bahwa kerja keras berbulan-bulan terasa tidak sia-sia.
Wajah yang berbeda ditampilkan oleh Kepala klan lainnya, dari puluhan anggota yang mengikuti ujian hari pertama ini, hanya 10 sampai 15 persen saja yang dinyatakan lulus itupun dengan beberapa anggotanya yang menderita gangguan jiwa, yang tidak mungkin dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam yang tersisa.
Coa Kun dengan bangga melaporkan hasilnya kepada sang ayah, Coa King Hun bahwa dirinya dapat melewati ujian hari ini dengan baik bahkan hanya memerlukan waktu sekitar tiga per empat batang dupa yang terbakar.
Ketika Coa Leng In sampai ke ruangannya, sang ibu, Yap Ing sudah berada di kamar itu,
“In er, apakah kau merubah pendirianmu?” kata Yang In,
“Sebenarnya aku hanya iseng saja ibu, namun aku tetap pada pendirianku”, jawabnya.
“Apakah ayahmu tahu tentang hasil hari ini?” Tanya Yap Ing kemudian.
“Aku sudah melaporkan hasil ini ke ayah, namun ayah tidak tahu bahwa aku akan tetap di Kota Yang In, sekalipun aku lulus ketiga tahap ujian itu”, katanya lagi.
Seperti diketahui, Coa Leng In akan selalu berlatih di Goa belakang gunung dari pemukiman Klan Coa.
Hasil yang sama diperoleh oleh Meng Li, Cui Hok dan Cui Man Ek, bahwa mereka dapat lulus pada hari ini.
Walaupun bagi Cui Hok hampir dinyatakan tidak lulus karena menghabiskan waktu sebatang dupa yang terbakar menyentuh sedikit kayu di pangkalnya, namun setelah melakukan pembicaraan dengan petugas yang bersangkutan dan janji akan memberikan kompensasi tertentu, dia dinyatakan lulus.
Berita tentang hasil ujian hari pertama, beredar dengan cepat dan jadi topik pembicaraan di komunitas-komunitas warga kota Yang In, beberapa warga ada yang antusias, ada yang pesimis bahkan ada yang meluapkan ketidakpuasan dirinya dengan segala macam ekspresi, namun tidak ada satupun yang melakukan tindakan dengan perkelahian atau pertarungan, karena mereka tahu bahwa akan merugikan diri mereka sendiri bila petugas penjaga kota menangkap mereka.
Keberhasilan Klan Han mengantarkan anak muridnya yang lulus hampir mencapai 80 persen, menjadi topik pembicaraan di pusat-pusat berkumpulnya warga Kota Yang In.
Dan ini membuat kepala Klan lainnya menjadi kecewa, bercampur marah.
Namun apa mau dikata, bahwa Ras Manusia yang selama ini dianggap lemah ternyata kenyataannya sungguh berbeda.