Benua Merah sudah pulih seperti yang dicita-citakan oleh Leluhur Kui Lok Mo, kini di Benua Merah muncullah orang-orang atau warga asli penghuni Benua Merah yang selama ribuan tahun diam di dalam goa-goa di dalam tanah.
Di bawah kepemimpinan Coa Leng In yang mendapat julukan Ratu Benua Merah, pembangunan pemukiman digerakan dan dilakukan, dibantu oleh para rekan-rekannya yang berasal dari Benua Thian Agung, pembangunan ini dapat dilaksanakan karena ada bantuan material dari Benua Thian Agung, kedua Benua yang dulu berseteru selama ribuan tahun kini menjadi sekutu terkuat.
Yang tidak mereka ketahui sebenarnya ada dua Han Long yang terbang berkelebatan ke ujung-ujung benua untuk memperbaiki kondisi udara di wilayah Benua Merah.
Kini langit Benua Merah kembali normal, kondisi yang dirindukan selama ribuan tahun.
Rombongan dari Benua Barbar Kuno dilepaskan dan mereka kembali ke Benua asal mereka melalui portal formasi Teleportasi antar Benua yang sudah diperbaiki.
Meng Li, Cui Man Ek dan putra mereka memilih untuk ikut rombongan Barbar Kuno, sedangkan Mo Eng dan putranya Mo Cun Ek atau Han Cun Ek, memilih untuk pergi ke tujuan lain, mereka berdua ingin kembali ke Benua Chong Yang.
Di sebuah ruangan pada sebuah bangunan setengah jadi, ada Han Long, Han Eng dan Coa Leng In, ketiganya bercakap-cakap dan beberapa pasang mengelilingi di sekitar ruangan yang akan dijadikan sebagai Aula Pertemuan Pemimpin Benua kelak.
Yap Kun Tek sejak kejadian yang menimpa Phang Cui Lin ditangkap, selalu mendampingi wanita itu, dan Phang Cui Lin tidak menolak atau menyetujui perhatian ekstra dari Yap Kun Tek.
”Leluhur, tragedi dan bahaya telah lewat, sampai kapan leluhur terus menjaga nyonya Phang?”, pertanyaan tiba-tiba dari Yap Ing menggema di ruangan itu, dan ini menarik perhatian dari semua yang hadir.
Yap Kun Tek terperangah, dia tidak menduga mendapat pertanyaan dari keturunannya di depan orang banyak.
”Mmm…, aku hanya menjaga sampai dia pulih seperti sedia kala”, jawab Yap Kun Tek, ada getar kikuk dari ucapannya.
Dan ada rona merah sedikit dari wajah Phang Cui Lin, dimana wajah dan tubuhnya sebenarnya telah pulih sedia kala karena dibantu juga oleh Han Eng.
An Wu Hong tersenyum melihat kegugupan tokoh yang sudah hidup ratusan tahun itu,
”Leluhur Yap, sebagai lelaki sebaiknya terbuka dan jujur, karena aku pun sebenarnya meminta persetujuanmu, agar aku dapat meminang keturunanmu, Yap Ing”, kata An Wu Hong dengan langkah mantap, membungkuk pada Yap Kun Tek.
Melihat keberanian An Wu Hong kini semua mata menatap Yap Kun Tek,
”Aku tidak berhak memutuskan, tanya saja pada Yap Ing apakah dia bersedia menerima pinanganmu?”, jawab Yap Kun Tek.
Yap Ing yang dibalas oleh leluhurnya menjadi gelagapan, dia tertunduk seketika, dia sudah menduga perasaan pemuda An Wu Hong ini dari semula, sejak kebersamaan mereka di Benua Chong Yang dulu, dan pemuda ini dengan berani melamar dirinya secara terbuka di depan sekian banyak orang, hati lembut Yap Ing sedikit tersentak oleh cara An Wu Hong, namun cara ini membelai hatinya dengan lembut, seorang pria yang sangat terbuka dan gagah mau menerima dirinya yang sudah bukan wanita perawan lagi, bahkan seorang janda dari ras rendahan dari Benua dan kota terkecil.
”Nona Yap Ing, aku An Wu Hong melamarmu, dan kesempatan ini aku gunakan untuk membuktikan keseriusanku untuk hidup bersamamu selamanya”, kata An Wu Hong sambil berjalan menghadap Yap Ing dan membungkuk sedikit badannya sebagai ciri khas seorang bangsawan.
Dengan tersenyum malu, Yap Ing hanya mengerlingkan matanya pada wajah An Wu Hong dan disertai dengan anggukan kepalanya berulang kali tanda persetujuan, melihat hal ini An Wu Hong memegang tangan Yap Ing dan langsung memeluknya yang disambut oleh tepuk tangan dari Han Long dan diikuti oleh semuanya.
An Ling tampil ke muka,
”Selamat kakakku, untuk memeriahkan acara yang tidak terduga ini, biarkan aku meramaikan acara dengan bertukar ilmu, bagaimana saudara Han Wo, aku penasaran akan kekuatanmu”, tantang An Ling pada Han Wo di seberangnya yang saat itu sedang berbincang dengan Han Eng.
”Oh, baiklah”, kata Han Wo sambil melompat menghadapi An Ling.
”Kekuatan kultivasi ku jauh di bawahmu, kita hanya menggunakan teknik beladiri saja”, kata An Ling dengan serius dan mata menatap tajam pada Han Wo, dan Han Wo hanya mengangguk.
Maka keduanya sudah bergerak berlompatan, sekalipun tanpa energi kekuatan kultivasi namun deru angin dan energi yang dikeluarkan dari masing-masing teknik beladiri keduanya, mengeluarkan suara yang berdesingan bagai peluru yang keluar dari senjata api.
Butuh dua jam lebih, bagi Han Wo untuk terlihat berada di atas angin, dan tidak lama kemudian An Ling telah tertotok di daerah vitalnya sehingga dia tidak dapat bergerak lagi.
An Wu Hong melompat ke tengah arena bukan untuk melawan Han Wo, tapi dia menghampiri adiknya dan berucap,
”Selamat Adik Ling, akhirnya kekuatiranku sirna juga”, katanya dengan tersenyum lebar pada Han Wo dan An Ling, dimana An Ling tidak mengucapkan sepatah katapun tapi wajahnya memerah tanda malu luar biasa.
Sebaliknya Han Wo terperangah heran, dia bingung apa maksud An Wu Hong.
”Kakak Han Wo, aku sebagai Putri Klan Han menyetujuimu untuk melamar putri Duan Ling dari kerajaan Chong Yang, dan sebagai pewaris Leluhur Thian Han Ong aku melamar Putri Duan Ling atau An Ling untuk Kakakku Han Wo, bagaimana jawaban Putri?”, kata Han Eng dengan anggun dan berwibawa pada dua kakak beradik kerajaan Chong Yang tersebut.
Han Wo tidak menyangka bahwa perdebatan ini adalah bentuk pengujian An Ling pada dirinya, dia dulu pernah mendengar gara-gara hal ini yang menjadi penyebab terjadinya perang di Benua Chong Yang, proses pencarian pendamping bagi Putri Duan Ling saat itu.
An Wu Hong melirik adiknya, dan tersenyum,
”Aku menerimanya dengan satu syarat yaitu, aku harus menikah terlebih dahulu dengan kekasihku Yap Ing, agar aku memiliki status sebagai orang tua dari adikku”, jawab An Wu Hong.
”Apakah kakak Han Wo keberatan dengan syarat tersebut?” tanya Han Eng.
”Tit… tidaak, aku sangat setuju, tapi apakah nona An ling mau menerimaku?”, jawab Han Wo, mukanya sudah merah seperti kepiting rebus, dia tidak percaya bahwa seorang putri kerajaan yang cantik mau menerima dirinya.
”Dia mau jawab apa, cepat bebaskan dirinya, dan tanya sendiri hi hi hi…”, kata Coa Leng In mengingatkan Han Wo.
Dengan terburu-buru Han Wo mengurut beberapa titik di tubuh An Ling yang lembut, tangannya gemetar, dia malah meraba-raba punggung An Ling dan dari keningnya keluar keringat.
An Ling setelah terbebas menghadap Han Wo, yang ditatap malah semakin menundukkan wajahnya,
”Aku bersedia”, jawaban An Ling seketika, seperti bendungan yang bobol dalam hati Han Wo, tanpa disadari tangan Han Wo menangkap tangan mungil dan halus An Ling, dia merapatkan tangan tersebut pada dadanya yang tebal dan kekar.
Setelah itu berbagai seruan ucapan selamat, muncul bersahutan pada pasangan Han Wo dan An Ling serta An Wu Hong dengan Yap Ing.
Suasana langsung meriah, atas perintah Coa Leng In, para bawahannya yang baru diangkat, mengeluarkan anggur khas Benua Merah yang terbuat dari Buah Obsidian Merah sebagai perayaan dari perjodohan yang tidak sengaja terjadi.
Setelah beberapa lama perayaan itu berlangsung, pada kesempatan lain Han Long dan Han Eng keluar dari ruangan itu, dan itu tidak terlepas dari perhatian Coa Leng In, tapi dia tidak mengikuti kedua pemuda pemudi tersebut, dia hanya dapat merasakan rasa sesak di hatinya,
”Kakak Long, kapan kau akan mengatakan pada kakak Leng In”, tanya Han Eng pada Han Long.
Saat itu keduanya sedang berada di bagian luar sebuah menara yang baru dibangun.
Han Long hanya tersenyum,
”Kakak Long, ini dunia kultivasi, aku lebih suka jika engkau mengambil kami berdua sekaligus atau tidak sama sekali”, kata Han Eng lagi dengan sinar mata tajam.
”Apakah pendapatmu sama dengan saudari Leng In?”, kata Han Long menatap lurus Han Eng.
”Sebagai sesama wanita aku tahu perasaannya, dan aku tidak ingin menyakitinya, kami tumbuh bersama, dan mencintai pria yang sama”, kata Han Eng lagi.
”Adik Eng, mungkin itu anggapanmu, ingat sekarang saudari Leng In adalah Ratu Benua Merah, dia memiliki tanggung jawab besar, kita akan bertanya padanya setelah urusan pembangunan Benua ini selesai” kata Han Long.
”Pembangunan ini membutuhkan banyak faktor, material, dana dan sumber daya lainnya, apa salahnya kita bertanya sekarang, agar masing-masing dari diri kita memiliki pendirian dan posisi hati yang sebenarnya”, kata Han Eng lagi.
Akhirnya Han Long tidak mau membantah ucapan kekasihnya, dia bersama Han Eng memasuki kembali ruangan tempat perayaan tadi, tapi rupanya semua sudah kembali ke ruangan masing-masing, akhirnya Han Long bersama Han Eng menuju ke ruangan tempat pribadi Coa Leng In, setelah sampai Han Long mengetuk pintu ruang pribadi Coa Leng In, tidak menunggu lama Coa Leng In sendiri yang membuka pintu tersebut, setelah dipersilahkan masuk, Han Eng berucap,
”Saudari Leng In, aku langsung saja, aku ingin meminta pendapatmu, bagaimana jika aku menikah dengan kakak Han Long?”, kata Han Eng, ucapan ini tidak terduga oleh Han Long sekalipun.
Duar…!!!
Bagai petir di tengah hari, itulah yang dirasakan oleh Coa Leng In mendengarkan ucapan sahabatnya Han Eng.
”Apakah aku boleh berpendapat, kita sama-sama kenal sejak kita masih kecil, tentu saja aku menyetujui kehendakmu saudari Eng, namun semua tergantung saudara Long”, kata Coa Leng In tersenyum pahit sambil menahan gemuruh di hatinya, dia berusaha keras menutupi perasaan sebenarnya.
Han Long hanya menatap mata Coa Leng In seperti mencari kepastian di mata yang dihiasi oleh bentuk alis tipis namun tebal dengan bulu mata lentik yang panjang melengkung.
Coa Leng In balas menatap pada Han Long, pemuda yang dikenalnya dari kecil, pemuda yang tampan tanpa jejak kesombongan, pemuda yang menyimpan kekuatan dahsyat dibalik tubuhnya yang kokoh perkasa namun disembunyikan dalam balutan kain yang sederhana.
”Apakah kau benar-benar setuju aku menikahi Han Eng?, lalu bagaimana dengan dirimu?”, tanya Han Long.
Dengan berani Coa Leng In mengeraskan hatinya,
”Ada apa dengan diriku?, mengapa aku dihubungkan dengan pernikahan kalian berdua? Aku hanya mengenal kalian sebatas sahabat, lagi pula aku memiliki tanggung jawab di tempat ini, kalian dapat melaksanakan pernikahan kalian mungkin tanpa kehadiranku karena aku tidak dapat meninggalkan Benua ini”, jawab Coa Leng In, sekalipun dia berusaha tegar, namun oleh Han Eng dan Han Long, terlihat ada genangan air mata di mata cantik Coa Leng In.
”Kakak Leng In, aku mengajukan syarat pada kakak Han Long dalam pernikahan ini, dan syarat itu tergantung dirimu”, kata Han Eng sambil menghampiri Coa Leng In dan menggenggam tangan Coa Leng In yang terasa dingin membeku.
”Apa maksudmu?
Syarat apa yang kamu ajukan?
Mengapa aku dilibatkan?”,
tanya Coa Leng In semakin bingung dan gugup.
Han Long maju, dia menghampiri dua gadis cantik yang saat itu berpegangan tangan, katanya,
”Aku tidak bisa menikah dengan adik Eng tanpa menikahimu juga, dan aku harus pergi dari kalian berdua selamanya jika aku tidak melamar dirimu dan adik Eng secara bersamaan, maka sekarang ini, aku Han Long seorang pria yang tidak memiliki harta dunia, yang kumiliki adalah diriku sendiri untuk membahagiakan dan mencintai kalian berdua selamanya, dengan ini mengajukan lamaran sekaligus pada Nona Coa Leng In dan Nona Han Eng, apakah pendapat kalian berdua?”, kata Han Long sambil tubuhnya bersujud pada dua wanita cantik itu.
Coa Leng In terkejut, dia tidak tahu harus menjawab apa, gadis yang selalu tegas dalam hidup sehari-hari namun kini kebingungan.
”Kakak Leng In, jika kau setuju maka aku pun setuju, jika kau tidak setuju maka akupun akan menolak lamarannya”, kata Han Eng.
Tanpa dapat ditahan lagi, Coa Leng In memeluk tubuh Han Eng dan menangis dalam pelukan Han Eng, Han Eng balas memeluk tubuh Coa Leng In, dia memberi tanda pada Han Long agar datang, dengan serta merta tubuh tinggi Han Long dengan tangan terentang panjang, memeluk kedua gadis itu, dan keduanya membalas memeluk tubuh pemuda perkasa itu, masing-masing di kiri dan kanan, kedua tangan Han Long yang kokoh memeluk pinggang ramping dua gadis cantik yang kecantikannya dapat merobohkan sebuah benua.
Sebulan kemudian, di Benua Thian Agung, dua pernikahan terjadi secara berurutan, pasangan An Wu Hong dan istrinya Yap Ing, selang seminggu kemudian pernikahan Han Wo dengan An Ling, semua pernikahan itu terjadi di benua Thian Agung, dimana Duan Wi Hong sebagai wali dari An Wu Hong dan An Ling, sedangkan Yap Kun Tek sebagai wali dari Yap Ing dan Thian Kong Jie berkenan menjadi wali bagi Han Wo.
Pernikahan itu telah berlalu sebulan lalu, di sebuah ruangan rahasia tempat penguasa Benua, Thian Sian Li saat ini sedang bersama putranya, Han Long.
”Long er, apakah ini kamu?”, kata Thian Sian Li.
Han Long terkejut mendengar teguran ibunya,
”Ibu, aku sadar tidak ada yang dapat kusembunyikan dari ibu, namun ini semua kulakukan bagi semua orang”, kata jiwa kedagingan Han Long.
”Long er, sekalipun kau hanya jiwa, namun jiwamu sudah memiliki kedagingan yang sempurna bahkan memiliki kekuatan Kaisar Suci Puncak, sejak ribuan tahun hanya dirimu yang dapat ‘memecah diri’ seperti ini, apakah diri sejatimu bersama dengan Penguasa Benua Ketiga?” kata Thian Sian Li, dia mengenal betul akan putranya.
”Dugaan ibu benar, diri sejatiku hanya dapat bersanding dengan Penguasa Benua Ketiga, Bu Ling Moy, kekuatanku terus berkembang, dari istriku aku memiliki putra yang kini berusia sepuluh tahunan bernama Wi Liong, dia menggunakan klan Bu dari ibunya, karena Bu Ling Moy istriku, ingin mengembangkan klannya sendiri, namun anak itu lebih suka memakai nama Wi Liong saja”, kata Han Long.
”Lalu apakah sekarang dengan jiwamu, kamu bermaksud menikahi Han Eng dan Coa Leng In?”, tanya Thian Sian Li lagi.
”Benar Ibu, tingkatku yang sekarang dapat memecah diri, sebetulnya tidak ada perbedaan antara jiwa dan diri sejatiku, hanya satu hal ibu, diriku yang berada di hadapanmu dapat bersanding dengan mereka berdua, namun diri sejatiku tidak dapat bersanding dengan Han Eng dan Coa Leng In, karena diri sejatiku memiliki tingkat energi dari tiga jenis energi kultivasi, hanya kekuatan Penguasa Benua Ketiga yang dapat mengimbanginya karena hasil akumulasi ribuan tahun miliknya, malah kami dapat saling melengkapi kekurangan kami”, terang Han Long pada ibunya.
Thian Sian Li cukup terkejut mendengar keterangan dari putranya ini, ternyata konstitusi tubuh putranya berkembang demikian dahsyat, untungnya ada Penguasa Ketiga yang mau mengimbangi Putranya, dia bersyukur bahwa ada cucu dari Han Long dan yang menurut Han Long memiliki keunikannya sendiri, Thian Sian Li penasaran ingin melihat sang cucu tersebut.
“Long er, tapi sebaiknya kau harus memikirkan masa depan dua calon istrimu, mereka harus mengetahui jati diri aslimu, demi keadilan dan tidak menimbulkan masalah di masa depan”, kata Thian Sian Li.
“Ibu, itu pun yang jadi pikiranku saat ini, jati diriku yang bersama dengan Bu Ling Moy saat ini ada disekitar Benua Thian Agung, namun bagaimana caranya bagiku menjelaskan pada mereka berdua, karena jati diriku saat ini memiliki kultivasi di atas Kaisar Dewa”, kata Han Long sambil menundukan kepalanya.
“Ibu memiliki cara, serahkan pada ibu”, kata Thian Sian Li, senyum seorang ibu yang sangat memperhatikan perkembangan putra tunggalnya berkembang, dia mengerti bahwa Han Long putranya memiliki persoalan sendiri, sekalipun dia memiliki kekuatan yang tanpa batas, namun penyelesaian ini tidak berhubungan dengan kekuatan tubuh seorang kultivator, tapi ini masalah hati manusia.
Seminggu setelah percakapan Han Long dengan ibunya, ada kesibukan baru di Benua Thian Agung dikalangan para Elit Petinggi anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, sebuah ruangan aula yang sangat luas telah menerima kedatangan para anggota Dewan, diantaranya kedatangan Thian Kong Jie yang sekarang selalu bersama dengan Sie In Hong, lalu muncul Bu Mei Ling dengan Han Chen Yang yang telah pulih sepenuhnya, berikutnya ada ketua Sekte Guntur Duan Wi Hong, Kepala Sekte Phoenix Agung Bu Tek Ong dan Wan Kok Han dan selanjutnya adalah kedatangan pasangan Sie In Lei dan Han Wi Ong orang tua dari Han Chen Yang, atau Kakek dan nenek Han Long.
Thian Sian Li duduk di kepala meja, dia didampingi oleh putranya Han Long.
“Baiklah semua telah hadir, aku mengundang para anggota Dewan Keadilan Tertinggi dan ditambah dengan mertua dan suamiku, sebetulnya pertemuan ini membicarakan tentang hal yang amat penting selain itu ternyata bahwa diantara kita sekarang adalah keluarga yang saling terkait”, kata Thian Sian Li.
Diseberangnya terlihat Sie In Lei dan Han Wi Ong menatap dengan mata berkaca-kaca pada Han Long, baru kali ini dia melihat sang cucu yang menjadi topik di seluruh benua karena kekuatan yang dimilikinya, bahkan yang baru saja terjadi di Benua Merah yang dengan kekuatan sang cucu benua Merah telah pulih menjadi Benua yang dapat ditinggali sebagai sebuah tempat yang sangat nyaman bagi para kultivator.
Han Long berdiri dari tempatnya, dia menghampiri Sie In Lei dan Han Wi Ong,
“Kakek dan nenek, terimalah hormatku, cucu yang lama tidak pernah kau jumpai”, kata Han Long.
Sie In Lei langsung berdiri dan menghampiri pemuda itu, dengan tergesa-gesa dirinya melayang melewati meja yang menghalangi antara dia dan Han Long,
“Aku yang salah, aku seorang nenek yang abai terhadap perkembangan cucuku ini, maafkan kami para orang tua yang tidak ada waktu menengok kalian ibu dan anak ketika kalian membutuhkan perlindungan kami”, kata Sie In Lei sambil memeluk tubuh tinggi Han Long, demikian juga Han Wi Ong yang melihat bahwa cucunya telah tumbuh menjadi pemuda perkasa yang sangat tampan, namun masih mau menghormati dan menganggap dirinya sebagai seorang kakek.
Melihat bahwa Han Wi Ong dan Sie In Lei memeluk tubuh Han Long, Sie In Hong pun terbang melayang bersama Thian Kong Jie menghampiri mereka,
“Aku nenek buyutmu yang merasa bersalah, ketika kalian berdua terpaksa harus meninggalkan benua ini dan terlunta-lunta di luar sana, aku tidak pada tempatnya, maafkan aku nak”, kata Sie In Hong.
Han Chen Yang hanya dapat menundukkan kepala di kursinya di dampingi oleh Bu Mei Ling, dia sebagai orangtua sejati dari Han Long merasa tidak berdaya melindungi putranya sendiri,
“Aku yang paling tidak berdaya saat itu, maafkan aku Han Long”, kata Han Chen Yang datang menghampiri putranya Han Long dengan berjalan biasa, ada raut penyesalan.
Namun Han Long yang menghampiri ayahnya, dia berlutut di kaki Han Chen Yang,
“Ayah dan bibi Bu Mei Ling terimalah hormat dari putramu”, kata Han Long.
Thian Sian Li cukup tergerak dengan perlakuan dari keluarga Han pada putranya,
“Tidak ada yang bersalah, semua karena situasi yang tidak dapat kita hindari, saat itu aku hanya berbicara dengan leluhur Thian Kong Jie, bahwa di rahimku telah tersimpan Energi Biru milik leluhur Thian Han Ong, jadi sejak bayi aku terpaksa menyetujui cara leluhur Thian Kong Jie untuk mengunci tubuh bayi putraku agar tidak bisa berkultivasi dan harus keluar dari benua ini”, jelas Thian Sian Li sambil menyeka matanya agar tidak keluar air mata.
“Ayah, Ibu aku Han Chen Tiong datang”, sebuah seruan muncul dari luar ruangan diikuti kemudian sepasang anak muda muncul.
Bu Mei Ling dan Han Chen Yang terkejut melihat pasangan ini, Bu Tek Ong, Wan Kok Han dan Duan Wi Hong pun terkejut melihat Han Chen Tiong, anak muda ini telah tumbuh dewasa, mereka yang hadir terkejut melihat bahwa tingkat kultivasi milik Han Chen Tiong tidak dapat mereka ketahui, dan wanita yang dibawa masuk oleh anak muda ini adalah An In Mey, namun perut An In Mey seperti hamil tua.
Bu Mei Ling langsung memburu putranya,
“Tiong er, benarkah ini kamu, anakku…, putraku…”, katanya memeluk tubuh sang Putra.
“Tiong er, kau sudah setinggi ini, dimanakah dirimu selama ini, dan ini muridku, An In Mey”, kata Han Chen Yang.
Han Chen Tiong lalu menceritakan apa yang dialaminya selama ini di Lembah Tengkorak bersama dengan An In Mey, hanya ada yang ditutupi ketika ayahnya malah menyerang mereka berdua, dia juga mengungkapkan perasaannya bahwa dirinya telah memilih pujaan hatinya yakni kakak seniornya An In Mey untuk hidup bersama-sama.
Semua orang yang mendengar penuturan itu, hanya bisa takjub dan heran akan keberuntungan yang tidak disengaja ditemukan oleh Han Chen Tiong dan An In Mey, malah keduanya memutuskan akan membangun tempat Lembah Tengkorak menjadi tempat tinggal mereka, karena gas beracun di tempat itu sudah dikendalikan oleh mereka berdua karena Han Chen Tiong yang memiliki kualitas untuk membuat tempat itu menjadi tempat istimewa bagi mereka berdua dan keluarga kecil mereka tanpa menimbulkan dampak apapun.
Pertemuan ini diluar dugaan semua orang, Han Long menghampiri Han Chen Tiong dan menyapa,
“Adik Tiong, selamat kau telah mencapai tingkat Kaisar Suci Awal dan saudari In Mey selamat bertemu kembali”, kata Han Long tersenyum.
“Aku sebagai adik patut menghormati kakak”, kata Han Chen Tiong sambil membawa An In Mey untuk menundukkan kepala sebagai tanda menghormati yang lebih tua, An In Mey hanya mengerling ke arah Han Long, dia sudah menduga bahwa pemuda di depannya, selalu rendah hati tapi memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari mereka berdua.
Mendengar ucapan Han Long, bahwa tingkat kultivasi Han Chen Tiong sudah di tingkat Kaisar Suci, para petinggi Anggota Dewan hanya bisa meleletkan lidah, mereka kini merasa minder bahwa pertumbuhan kekuatan yang dimiliki generasi muda, jauh melampaui mereka, sementara mereka rata-rata masih berkutat di tingkat Raja Dewa ke-8, apakah mereka masih pantas sebagai anggota Dewan Keadilan Tertinggi, terutama perasaan ini melanda Bu Tek Ong, Duan Wi Hong, Wan Kok Han dan Thian Kong Jie.
Reuni keluarga Han terjadi diluar dugaan, seisi ruangan langsung berubah menjadi kegembiraan yang tidak terkira, benar apa yang diucapkan sebelumnya oleh Thian Sian Li sebagai Kepala Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, mereka semua adalah keluarga besar, terlepas dari marga yang mereka sandang ternyata semuanya saling terkait, baik Duan Wi Hong sebagai Kepala Sekte Guntur, terkait sebagai guru dari An In Mey yang ternyata telah menjadi pasangan kultivasi bagi Han Chen Tiong, sedangkan Bu Tek Ong dan Wan Kok Han terkait oleh Bu Mei Ling yang merupakan orang tua sejati dari Han Chen Tiong.
Akhirnya reuni ini untuk sementara menjadi acara utama di gedung aula pertemuan Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, mereka semua sepakat untuk merayakan pertemuan keluarga besar ini, dan memerintahkan perayaan kecil dalam ruangan tersebut.