Keesokan harinya, pertemuan keluarga Han masih berlangsung, namun agenda sesungguhnya mulai di utarakan oleh Thian Sian Li,
“Saudara-saudara anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung dan keluarga besar Klan Han, aku sengaja mengadakan pertemuan ini dengan maksud satu hal, putraku Han Long telah membuat keputusan akan menikah, bukan berarti aku menggunakan jabatanku karena sebagai ibu dari putraku untuk membicarakan hal remeh ini di aula pertemuan Anggota Dewan, namun ini semua berhubungan dengan kita semua yang hadir”, kata Thian Sian Li.
Penjelasan ini menarik perhatian semua orang terutama para anggota Dewan, mereka sebenarnya cukup heran bahwa pernikahan putra Kepala Anggota Dewan bukankah ini hanya menyangkut dua keluarga yang bersangkutan, mengapa mereka harus dilibatkan, mereka hanya menebak bahwa persoalan pernikahan Han Long sebagai Tokoh Muda Benua, bahkan Dunia Sembilan Benua ini tidak sesederhana kelihatannya.
“Siapakah gadis beruntung yang akan dijadikan pasangan bagi cucuku ini?”, tanya Sie In Lei.
“Benar aku menjadi penasaran dengan calon kakak iparku?”, kata Han Chen Tiong menatap kakaknya Han Long, Han Long hanya tersenyum dia telah menyerahkan segala sesuatu pada ibunya.
“Kakak Long, apakah kau bermaksud dengan saudari Han Eng, dimana dia?”, kata An In Mey, dimana ucapan ini menarik minat yang lain.
Thian Sian Li tersenyum kecil,
“Aku mengundang dua orang gadis, silahkan kalian masuk”, kata Thian Sian Li.
Dan Tidak lama kemudian muncul Han Eng dan Coa Leng In, kedua gadis ini memakai gaun istimewa khas para bangsawan tinggi Benua Thian Agung, karena keduanya mewakili supremasi tertinggi di Dunia Sembilan Benua, dimana status Han Eng adalah pewaris mendiang Leluhur Thian Han Ong pemilik Benua Thian Agung, dan Coa Leng In yang sekarang dikenal sebagai Ratu Benua Merah adalah pewaris Leluhur Kui Lok Mo pemilik Benua Merah.
Kedatangan dua orang gadis tersebut cukup mengejutkan bagi para elit tertinggi Benua Thian Agung, mereka tidak menyangka bahwa pemuda ini dapat memiliki dua orang calon pasangan sekaligus dari para gadis yang memiliki status tertinggi di Benua yang menjadi supremasi Dunia Sembilan Benua.
“Putraku beruntung dapat diterima oleh para putri yang sangat cantik dan memiliki status tertinggi di dunia kita ini, mereka sepakat bahwa putraku harus menikahi keduanya secara bersamaan dan cinta diantara mereka bertiga, kita orang tua hanya dapat memakluminya, aku sebagai ibunya tidak pernah mencampuri urusan putraku apalagi sengaja menjodohkan putraku dengan mencari pasangan lain, tetapi inilah yang terjadi”, kata Thian Sian Li sambil menarik nafas panjang.
“Namun ada satu hal yang harus diutarakan mengenai putraku, terutama pada kalian berdua Han Eng dan Coa Leng In, sebelum kalian mengambil keputusan untuk terikat seumur hidup kalian bersama putraku, ada sesuatu yang tidak kalian ketahui tentang diri sejati putraku yang sesungguhnya”, kata Thian Sian Li dia sengaja berhenti menunggu reaksi dari Han Eng dan Coa Leng In.
Benar saja ada reaksi dari Han Eng dan Coa Leng In, keduanya mengerutkan kening, pada wajah cantik kedua gadis itu menatap pada Han Long yang saat itu tetap tersenyum menatap dua gadis pujaan hatinya dengan tenang.
“Ibu Kepala, apakah ada sesuatu yang belum aku ketahui, kami tumbuh bersama dari kami masih anak-anak di Benua Chong Yang”, kata Han Eng.
“Aku selalu bersama dengan mereka berdua walaupun ada saatnya kami terpisah tapi saudara Han Long tidak berubah”, Tambah Coa Leng In.
“Inilah saatnya aku utarakan tentang diri putraku sebenarnya, namun undanglah dulu leluhur dan ibumu Coa Leng In”, kata Thian Sian Li meminta Coa Leng In mengundang keluarganya.
Maka masuklah ke ruangan itu Yap Kun Tek yang di dampingi oleh Phang Cui Lin yang masuk dengan malu-malu karena kini di bertemu dengan tuannya, Thian Sian Li yang tersenyum pada dirinya sambil menganggukan kepala.
Lalu kemudian An Wu Hong dan Yap Ing, yang masuk dengan segera menghampiri putrinya di ruangan itu, Yap Ing terlihat sangat cantik ada perubahan nyata setelah berpasangan dengan suami yang sangat dicintai dan menghargainya.
“Adik In Mey, ternyata kau disini, apakah benar kau telah bersuami dengan Chen Tiong, aku turut gembira”, kata An Wu Hong menghampiri adik perempuannya.
“Aku akan melanjutkan, mengapa kita semua perlu hadir hanya untuk persoalan seperti ini”, kata Thian Sian Li kembali, setelah di ruangan itu telah berkumpul semua orang yang saling terkait karena menjadi sebuah keluarga besar.
“Han Long Putraku, tolong maju”, kata Thian Sian Li kemudian.
“Aku Han Long di depan semua orang yang hadir dengan ini mengajukan lamaran pada kekasihku Han Eng dan Coa Leng In, aku bukan pemuda yang sempurna, aku memiliki kelemahan dari kekuatan yang kumiliki”, kata Han Long sambil menghampiri Han Eng dan Coa Leng In di tengah ruangan.
Kedua gadis itu sebelumnya telah mendengar kata-kata seperti itu berulang kali dari Han Long, tapi mereka belum mengerti akan arti sesungguhnya yang dimaksud kelemahan Pemuda idaman hati mereka ini.
“Ini saatnya kalian berdua mengetahui diriku…., masuklah kalian berdua”, kata Han Long menatap ke atas langit-langit ruangan.
Tiba-tiba udara di ruangan itu berubah, dua sosok transenden hadir secara mengejutkan dan kedua sosok melayang di atas ruangan aula yang memang dibangun tinggi, dan sosok-sosok tubuh ini telah dikenal oleh semua orang yang hadir, Penguasa Benua Ketiga Bu Ling Moy dan Pemuda Han Long namun keduanya seperti makhluk yang sangat suci dan jauh dari tingkat kultivasi yang dimiliki masing-masing orang yang hadir.
Guru…!!!
Seruan ini disuarakan oleh Bu Tek Ong, Wan Kok Han dan Bu Mei Ling.
Bibi guru…!!!
Han Eng dan Coa Leng In serentak bersujud, kedua gadis ini tahu bahwa Penguasa Benua Ketiga adalah adik seperguruan dari guru yang mewariskan kekuatan pada mereka.
Sementara yang lain hanya bisa terbelalak, karena dua tubuh suci ini sangat bersinar dan terang, serta mereka sudah tidak tahu kultivasi apa yang dimiliki oleh keduanya.
“Ibu dan ayah mertua, terimalah hormatku”, kata Bu Ling Moy yang terbang menghampiri pada Thian Sian Li dan Han Chen Yang, dan ucapan wanita ini sekaligus mengejutkan semua yang hadir terlebih Han Eng dan Coa Leng In, secara bersamaan mereka menatap Han Long yang saat ini masih bersama dengan mereka, lalu siapa Han Long di atas sana?
Thian Sian Li yang telah mengetahui kondisi sebenarnya menyambut kedatangan Bu Ling Moy dengan wajah cerah dan senyum terkembang, berbeda dengan Han Chen Yang bagaimana dia harus bersikap karena dia menikahi murid wanita ini, dia kebingungan.
Bukan hanya Han Chen Yang yang menjadi kebingungan bahkan para Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua hanya bisa menatap bengong.
“Han Eng dan Coa Leng In, inilah sebenarnya yang menjadi persoalan utama tentang jati diri sesungguhnya dari putraku Han Long, dia sudah memiliki Bu Ling Moy sebagai istrinya, bahkan mereka telah memiliki putra Lelaki, masuklah cucuku “, kata Thian Sian Li.
Belum habis rasa terkejut semua orang, masuklah seorang bocah lelaki sembilan tahunan yang sangat tampan yang didampingi oleh seorang wanita 30 tahunan, Han Wi Liong dan Giok Eng, pelayan Bu Ling Moy, memasuki ruangan aula itu.
“Adik Giok Eng”, sapaan yang diucapkan oleh Bu Tek Ong, Wan Kok Han dan Bu Mei Ling serentak melihat adik seperguruan mereka mendampingi seorang bocah lelaki yang sangat tampan berjalan mendatangi pertemuan itu.
“Kakek, Nenek dan para Leluhur terimalah hormat dari cucumu Han Wi Liong”, kata anak itu.
Han Eng dan Coa Leng In terbelalak, melihat Han Wi Liong, mengingatkan mereka pada Han Long dulu, hanya tatapan mata anak ini tajam dan senyum di wajahnya sangat bersahaja.
Han Eng dan Coa Leng In maju menghadap Thian Sian Li, sambil memegang tangan Han Long yang bersama mereka,
“Bibi kalau begitu siapa penipu ini?”, keduanya berseru secara bersamaan.
Thian Sian Li tersenyum,
“Dia adalah putra sejatiku Han Long”, jawab Thian Sian Li.
Jiwa kedagingan Han Long yang ditarik tangannya oleh Han Eng dan Coa Leng In, menatap pada Han Long yang lain, yang bersama dengan Bu Ling Moy, dia ingin berucap, namun sebelumnya,
“Ayah, dua bibi ini sangat cantik, aku menyukai mereka berdua untuk menjadi ibuku juga”, kata Han Wi Liong sambil tangannya menggapai pada Jiwa Kedagingan Han Long dan memeluk pinggang Han Long.
Bu Ling Moy menatap putranya,
“Jadi kamu setuju jika ayahmu memiliki keduanya?”, kata Bu Ling Moy dengan lembut pada putranya.
“Aku sangat setuju, tapi aku tidak tahu apakah dua bibi setuju?”, kata Han Wi Liong menatap pada Han Eng dan Coa Leng In.
Situasi ini semakin memusingkan semuanya, Han Long yang bersama dengan Han Eng dan Coa Leng In diakui oleh Thian Sian Li sebagai putranya, sementara Thian Kong Jie hanya tahu bahwa putra Thian Sian Li hanya satu putra yaitu hanya Han Long namun kini kenapa ada dua Han Long.
Thian Sian Li menatap ke sekeliling yang hadir,
“Keduanya adalah Han Long Putraku, mereka berdua berasal dari satu Han Long.
Suatu peristiwa terjadi menimpa putraku Han Long, karena mengingat akan konstitusi tubuhnya, Leluhur Thian Kong Jie, masih ingatkah kau akan bayi Han Long, dimana kau lah yang mengunci tubuhnya agar dia tidak dapat berkultivasi dan mencegah tubuh kedagingannya yang lemah agar tidak meledak di Benua Thian Agung ini?, dan akupun harus keluar dari benua ini serta membawa putraku dan menetap di Benua Chong Yang yang memiliki energikultivasi yang sangat tipis.
Namun di benua yang tipis energi kultivasi itu, Han Long masih dapat menyerap energi dan dia dengan sendirinya meningkatkan kultivasi tubuhnya, aku berusaha mencegah tapi sia-sia, dengan petunjuk dari buku kuno aku berusaha menemukan obat-obatan agar tubuh kedagingannya menjadi kuat, setelah itu berhasil didapat dia bentrok dengan leluhur Thian Han Ong di Benua Eng Hian, disanalah kami mendapat perlindungan dari Penguasa Benua Ketiga, melalui dirinya, Hanlong memperkuat tubuh kedagingan serta jiwanya dan malah berasimilasi dengan energi milik Penguasa Benua Ketiga, Energi Kabut Putih.
Selanjutnya kita semua yang hadir tahu bahwa Han Long dapat menandingi dua Leluhur beberapa tahun lalu di Benua Thian Agung akibat agresi yang dilakukan oleh leluhur Kui Lok Mo penguasa Benua Merah, dan kami berdua akhirnya memiliki keberuntungan dengan penyembuhan ajaib, dan sekarang kekuatan sejati putraku jauh di luar imajinasi bahkan oleh diriku, dan yang dapat mengimbanginya hanya Penguasa Benua Ketiga, karena akumulasi kekuatan ribuan Tahun miliknya.
Atas kemurahan hati Penguasa Benua Ketiga, Han LOng meminta izin untuk selalu mendampingi dua wanita yang selama ini menghuni hatinya, yaitu Han Eng dan Coa Leng In, namun jati diri Han Long terlalu kuat bagi kedua wanita itu, sehingga demi keadilan pada diri Han Long, Penguasa Benua Ketiga mengizinkan Han Long untuk memecah jiwanya dan jadilah Han Long yang selalu mendampingi Han Eng dan Coa Leng In tanpa menimbulkan bahaya bagi kedua gadis itu.
Ini semua adalah rahasia dari putraku Han Lo9ng, aku buka rahasia sebesar ini karena kita semua adalah keluarga yang saling terkait, dan rahasia ini kuharap hanya beredar dikalangan kita saja karena, patut kalian semua ketahui, diri sejati Han Long yang bersama Bu Ling Moy memiliki tanggung jawab yang harus dipikulnya yaitu menjaga Dunia Sembilan Benua ini dari bahaya Dimensi Dunia lain.” Kata Thian Sian Li menjelaskan sebisa mungkin.
Han Eng dan Coa Leng In sambil mendengarkan keterangan dari Thian Sian Li dengan sesekali menatap Han Long yang mereka apit, dalam hati mereka berkecamuk jutaan pikiran karena kini mereka berdualah yang akan menjalani sisa hidup mereka dengan diri Han Long yang hanya setengah bagian bukan keseluruhan.
Han Eng melangkah maju dan melepaskan pegangannya pada tangan Han Long,
“Bibi Thian Sian Li, aku memaklumi dan mengetahui kebenarannya sekarang, dalam dunia kultivasi, bagi seorang pria yang memiliki kekuatan seperti kakak Han Long, adalah wajar memiliki pendamping wanita lebih dari satu, dan sekarang aku memiliki keputusanku sendiri”, kata Han Eng sejenak terdiam, dia menundukkan kepalanya lalu melirik pada Coa Leng In, dan kemudian,
“Aku akan mendampingi kekasihku apapun resikonya, aku tetap bersedia menjadi pasangan hidup kakak Han Long selamanya”, kata Han Eng dengan mantap dan kembali ke Han Long di sisinya serta menggenggam kuat tangan kuat Han Long dengan erat.
Coa Leng In tanpa melepaskan pegangannya pada tangan Han Long yang Kiri, dia hanya menganggukan kepala seraya tersenyum pada Han Eng,
“Aku menyetujui pendapat saudariku Han Eng, dan kami bertiga tidak mau dipisahkan” katanya.
Mendengar suara dua wanita di sisi kiri dan kanan Han Long, yang bereaksi duluan juatru seorang anak, Han Wi Liong,
“Bibi berdua, jangan khawatir aku akan mengawasi kelakuan ayah, jika dia mengganggu wanita lain selain ibuku dan dua bibi cantik’, katanya dengan berjalan dan menghampiri Han Eng serta Coa Leng In dengan membungkukkan badannya memberi hormat sebagai tanda janji.
Mendengar ocehan anak kecil tampan itu semua orang tersenyum, akhirnya semua misteri terungkap dan Han Long yang memiliki wajah bersinar bersama Bu Ling Moy menghampiri dua wanita Han Eng dan Coa Leng In, tangan Bu Ling Moy terbuka dan memeluk dua gadis yang akan menjadi madunya. mereka bertiga pun berpelukan dengan akrab dan mesra sementara dua Han Long saling bertatapan dan tidak lama kemudian dua Han Long itu bersatu.
Kini Han Long telah kembali menjadi diri sejati penuhnya, dia menekan kultivasinya maka jadilah dia seorang kultivator tingkat Kaisar Dewa yang dapat mendekati semua orang, Han Chen Yang bersama Bu Mei Ling dan Han Chen Tiong bersama An In Mey memeluk Han Long, dan memberikan ucapan selamat karena anak dan kakak mereka akan menikahi dua wanita sekaligus.
Han Long memeluk para wanitanya dengan putranya Han Wi Liong, kelimanya kini berwajah ceria, Thian Sian Li menarik nafas lega, dia melihat kegembiraan tergambar pada wajah putranya, dia menghampiri putra dan cucunya, Thian Sian Li lalu memeluk tubuh Han Wi Liong,
“Kau cucuku, aku nenek sejatimu, seringlah berkunjung ke tempat nenek nanti”, kata Thian Sian Li pada Han Wi Liong, ada genangan air mata di wajah perkasa wanita cantik itu, dia teringat akan perjuangannya bersama putra tersayang ini, berpindah-pindah dari benua ke benua lain sambil mengkhawatirkan tubuh putranya Han Long, yang selalu berpijar akan meledak.
“Nenek, maukah kau mendampingiku, aku akan meminta pada ayah dan ibu untuk berpetualang bersama nenek menjelajahi benua-benua lain, aku mendengar cerita dari ayah bahwa petualangan itu sangat seru”, tanya han Wi Liong.
Thian Sian Li senang mendengar cucunya mengatakan hal ini, wanita lima puluh tahunan yang memiliki paras cantik bagai dewi khayangan ini sangat gembira bahwa hidupnya akan lebih berwarna didampingi oleh cucunya sehingga hidupnya tidak sepi,
“Nenek dengan senang hati akan selalu bersamamu, nenek juga senang berpetualang, nenek akan menyerahkan jabatan nenek pada leluhur Thian, lalu kita akan berpetualang”, jawab Thia Sian Li sambil mencium pipi gemuk Han Wi Liong.
“Tapi ini rahasia kita berdua saja nenek, aku tidak mau orang-orang ini mengetahui kondisi kita yang akan berpetualang, rasanya tidak bebas”, kata Han Wi Liong, Thian Sian Li tersenyum lebar sehingga menambahkan kecantikannya dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Baiklah semua orang telah mengetahui kebenaran sejati dari cucuku, dan kita semua harus bersumpah bahwa jati diri Han Long keturunanku tidak boleh disebarluaskan, karena menyangkut keselamatan Benua yang kita cintai dan keamanan Dunia Sembilan Benua ini, maka aku akan menyiapkan upacara ‘Sumpah’ di tempat ini untuk mengikat kita semua, apakah semua orang yang hadir setuju?”, kata Thian Kong Jie.
Ucapan ini segera mendapatkan persetujuan dari semua orang, maka disiapkanlah upacara sumpah tersebut, dengan menghadap langit semua orang mengucapkan janji dan sumpah yang intinya bahwa keberadaan jati diri Han Long sebagai pelindung Dunia Sembilan Benua tidak disebarluaskan, publik hanya tahu bahwa Han Long memiliki dua orang istri yakni Han Eng dan Coa Leng In.
Selanjutnya adalah menentukan waktu penyelenggaraan pernikahan Han Long bersama dua calon istrinya untuk diketahui oleh dunia luar, setelah ditentukan akan berlangsung tiga bulan kemudian, Han Long memecah dirinya kembali, bersama Bu Ling Moy dia akan kembali ke angkasa di atas Dunia Sembilan Benua, sedangkan Giok Eng pelayan Bu Ling Moy masih akan di Benua Thian Agung untuk tinggal sementara di Sekte Phoenix Agung bersama kakak-kakak seperguruannya dan Han Wi Liong akan menyertai Thian Sian Li di menara Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung.
Thian Kong Jie melirik pada Sie In Hong,
“Adik Hong, generasi muda menemukan kebahagiaan mereka semua, akhirnya aku juga ingin mengungkapkan maksud hatiku, maukah kau menemaniku dan kita bisa hidup bersama?”, kata Thian Kong Jie pada Sie In Hong.
Tapi rupanya ucapan Thian Kong Jie, terdengar oleh pasangan Sie In Lei dan Han Wi Ong yang kebenaran ada di dekat wanita cantik itu,
“Ibu sebaiknya lamaran leluhur Thian Kong Jie tidak ibu sia-siakan, terimalah ibu, ibu masih sangat cantik, dan leluhur Thian Kong Jie masih kuat dan tampan, dan aku dengan senang hati meninggalkan ibu untuk hidup bersama dengan pria sekuat dirinya”, kata Sie In Lei dengan tatapan menggoda ibunya, Sie In Hong tertunduk malu, wajahnya memerah seperti gadis belia yang baru dilamar, dan dia hanya mengangguk setuju.
Akhirnya pertemuan itu pun berakhir, Han Long dan dua calon istrinya merencanakan akan tinggal di Benua Merah mendampingi Coa Leng In setelah upacara pernikahan mereka di Benua Thian Agung.
Yap Kun Tek meminta kesediaan Phang Cui Lin untuk mendampingi dirinya menjadi Penguasa Benua Khui Ning, yang segera disetujui oleh Phang Cui Lin setelah menerima restu dari Thian Sian Li
Thian Sian Li pun mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Kepala Anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua, dia akan tinggal di Danau Merah Misterius di Benua Chong Yang, dia merelakan suaminya untuk selalu mendampingi Bu Mei Ling dan menetap di Benua Thian Agung dan dijadikan anggota Dewan Keadilan Tertinggi bersama dengan Han Chen Tiong yang didampingi oleh An In Mey.
Semua orang menemukan kebahagiannya, semua orang merencanakan hidup di masa depan, demikian juga penulis berharap semua orang yang membaca cerita ini menemukan kebahagiaan di masa depan, tapi penulis berharap, pembaca tidak menyerah pada proses meraih kebahagiaan itu, sekalipun penulis sering menyerah dan jenuh dalam meraih kebahagiaan tersebut, bahkan penulis masih bingung apa definisi ‘kebahagiaan’ itu sendiri?
Nantikan kisah selanjutnya dari serial Punch to the Heaven, dengan judul berbeda,
dalam kisah selanjutnya akan terkuak tentang beberapa nasib tokoh-tokoh cerita lain yang belum diungkap dalam serial ini, seperti para penghuni Benua Eng Hian dan Benua Khui Ning, dan apa bahaya yang ditimbulkan oleh Dimensi Dunia Lain?
Dan dari manakah asal dari leluhur Han Cui Eng?
Serta penulis akan mengungkapkan apa yang terjadi selanjutnya atas diri Mo Eng serta putranya Mo Cun Ek, atau Meng Li dan Cui Man Ek dan putra mereka, Kam Lin dan para pemuda dari Benua Khui Ning.
Akhir kata Penulis akan menyusun The Humble Warrior: War of Dimensions lanjutan dari Punch to the Heaven.