Kong Beng adalah Penatua Luar Sekte Samudera Naga.
Bersama dengan Siu Nie Ay, dia juga membawa keponakannya Kong Hay dan kakak seperguruan Kong Hay, Cong Min, untuk mendatangi Kota Yang In, dalam menjaring talenta muda di wilayah Kota Yang In dan sekitarnya.
Sebenarnya potensi generasi muda Kota Yang In tidak terlalu signifikan dalam memenuhi Sumber Daya Manusia yang dibutuhkan Sekte Samudera Naga, semua ini adalah semata-mata disebabkan oleh beredarnya kabar, bahwa di belahan benua bagian timur Benua Chong Yang, akan muncul fenomena tentang kemunculan harta karun langka.
Dan berita itu hanya beredar dikalangan para petinggi sekte-sekte benua Chong Yang.
Maka dari itu, para pengurus tertinggi Sekte Samudera Naga, Sekte Gunung Abadi, Sekte Lembah Api, Sekte Puncak Merah dan Sekte Angin Guntur, telah mengutus para penatua tingkat rendah untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut.
Khusus Sekte Samudera Naga mengutus Penatua Kong Beng dan Diaken Siu Nie Ay, untuk menyelidikinya, maka ditentukanlah Kota Yang In sebagai tujuan mereka.
Dengan kecerdasannya, Penatua Kong Beng dapat menilai, kalau dia sengaja datang tanpa dasar dan alasan, maka akan menimbulkan kecurigaan para sekte-sekte saingan lainnya.
Maka dari itu, dia dan Siu Nie Ay membuat sebuah acara di kota Yang In yaitu kegiatan perekrutan calon murid bagi sekolah yang didirikan oleh Sekte Samudera Naga.
Dengan dasar kegiatan Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga, dia dapat bergerak secara leluasa, yaitu melepaskan Kong Hay dan Cong Min untuk menyelidiki wilayah Kota Yang In dan sekitarnya.
Jadi, kegiatan Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga hanyalah kedok untuk menutupi tujuan sebenarnya dari Sekte Samudera Naga.
Dalam beberapa hari, Kong Hay dan Cong Min telah mengumpulkan informasi tentang ciri khas geografis Kota Yang In dan hal-hal lain yang berkaitan dengan fenomena kemunculan harta langka itu.
Jadi Kong Hay dan Cong Min tidak terlibat dalam teknis perekrutan calon siswa ini, mereka fokus menjelajahi wilayah Kota Yang In dan sekitarnya.
Kecurigaan mereka jadi mengerucut pada dua titik tempat yang diduga menjadi fokus kemunculan harta yang dimaksud.
Tempat itu adalah Pegunungan yang melingkari Pemukiman Klan Coa dan wilayah Hutan Kabut Putih.
Dalam bentuk apa harta itu akan muncul, mereka belum tahu, tetapi sesuai ramalan yang sudah diprediksi oleh para petinggi Sekte, bahwa harta tersebut dapat membuat seseorang dapat menembus tingkat kultivasi pada ketinggian yang hanya dicapai pada tingkat kultivasi pada zaman kuno.
Di sebuah bangunan yang cukup luas, terletak di area sekitar manor Klan Coa,
Kong Beng duduk bersama dengan tiga orang lainnya, terlihat Kong Hay dan Cong Min berhadapan dengan Kong Beng dan Siu Nie Ay.
“Paman Beng, di balik gunung manor ini, setelah kita jelajahi dan sesuai dengan ciri-ciri yang sudah disebutkan oleh ketua sekte, terlihat fenomena itu”, kata Kong Hay.
“Tapi kita juga tidak dapat melepaskan wilayah sekitar Hutan Kabut Putih, karena ciri-ciri yang sama muncul juga di wilayah itu”, kata Cong Min menimpali.
“Bagaimana memutuskan hal ini kakak Beng?” Kata Siu Nie Ay
Terlihat kening Kong Beng mengerut berpikir keras, baginya urusan ini menyangkut kepentingan Sekte Samudera Naga, jika dia salah melangkah maka resiko kemarahan ketua Sekte akan ditimpakan kepadanya.
“Baiklah, aku dan Cong Min akan bergerak ke Hutan Kabut Putih, sementara adik Nie Ay bersama ponakan Hay akan tetap disini di klan Coa, sambil mengawasi perkembangan selanjutnya” Kata Kong Beng.
Mendengar itu, Siu Nie Ay bereaksi,
“Kakak Beng sebaiknya pergerakan kakak dengan ponakan Cong Min untuk sementara ditunda dulu, kita selesaikan Pra Seleksi ini, dengan demikian kita tidak akan meninggalkan kecurigaan sekte lain” kata Siu Nie Ay.
“Ya paman, karena disekitar Kota Yang In sudah berkeliaran mata-mata Sekte besar lainnya”, kata Kong Hay menambahkan.
“Baiklah, diputuskan begitu, maka pergerakan kita akan kita lakukan setelah kegiatan Pra Seleksi ini, namun dua ponakan lanjutkan dan tetap fokus menyelidiki dua tempat itu dan usahakan menghindari pengawasan mata-mata sekte besar lain”. Kata Kong Beng menyimpulkan pertemuan mereka.
Keesokan harinya Kong Beng dan Siu Nie Ay, menghampiri Cheng Kun dan pasukannya, Cheng Kun sengaja dilibatkan oleh mereka dalam kegiatan Pra Seleksi ini bersama pengawal lainnya.
Kong Beng tidak memberitahukan kepada Cheng Kun, apalagi pasukannya tentang niat sebenarnya dengan adanya kegiatan Pra Seleksi ini.
Pasukan mereka sudah berbaris rapi, bersiap menerima instruksi dan perintah dari Kong Beng.
“Hari ini adalah ujian kedua untuk calon murid junior Sekte Samudera Naga, masing-masing akan bertanggung jawab di tiap-tiap pos ujian yang sudah ditentukan, kalian harus memberikan kinerja yang baik demi nama Sekte Samudera Naga” demikian arahan yang disuarakan oleh Kong Beng.
Siap!
Serempak mereka menjawab, walau bagaimana Sekte Samudera Naga adalah akar mereka, jadi melakukan pekerjaan atas nama Sekte Samudera Naga adalah ibadah bagi mereka dibandingkan dengan kepatuhan mereka terhadap Kerajaan Chong Yang yang justru memberi mereka gaji.
Dan mereka pun bubar menuju pos-pos yang sudah ditentukan.
Menuju alun-alun kota Yang In, mereka sudah melihat para peserta ujian yang dinyatakan lolos kemarin sudah berkumpul di tengah-tengah lapangan.
Jumlah peserta sudah berkurang setengahnya dari jumlah kemarin, namun di tribun penonton jumlahnya bertambah lima puluh persen, karena peserta yang gagal, tidak melepaskan kesempatan ini untuk menyaksikan peristiwa bersejarah Kota Yang In.
Han Long dan Han Eng setelah melakukan verifikasi kehadiran mereka, mereka di sudut lapangan menunggu kedatangan sahabat mereka Coa Leng In yang belum muncul, keduanya sering menengok ke arah gerbang alun-alun kota, berharap dapat menemukan wajah atau sosok Coa Leng In.
“Kenapa dia belum datang?, apakah terjadi sesuatu pada dirinya?”, ucap Han Eng yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
“Senior Eng tenanglah, dia pasti datang” kata Han Long.
“Apakah kamu yakin?, acaranya sudah mau dimulai, lihat para petugas sudah berdiri di posnya masing-masing”, balas Han Eng.
“Hanya sesaat lagi juga dia akan muncul dari gerbang timur”, ucap Han Long.
Belum kering ludah ucapan Han Long, dan saat Han Eng melihat gerbang timur, dia melihat sosok Coa Leng In muncul.
“Apakah kamu peramal!?” kata Han Eng dengan mata sedikit melotot tidak percaya, karena ucapan Han Long ternyata benar.
Sebenarnya Han Long bukan asal menebak tetapi karena daya jangkau jiwanya lebih luas, ditambah lagi akan pemahaman dirinya tentang kultivasi sudah mencapai ketinggian di atas anak-anak normal.
Sambil cengengesan, Han Long hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan bangga.
“Kalian menungguku?, aku minta maaf, tadi aku harus kembali lagi setelah mencapai gerbang timur sebelumnya, karena ada sesuatu yang aku lupa”, kata Coa Leng In meminta pengertian pada keduanya setelah dia melihat Han Eng dan Han Long.
“Saudari Leng In, kenapa kau muncul dari gerbang Timur?, padahal kemarin ketika kita berpisah kamu pergi lewat gerbang barat, apakah rumahmu di sebelah barat atau sebelah timur?”, kata Han Eng berusaha memastikan posisi rumah Coa Leng In.
“Ooh, anu…., rumahku di sebelah barat, karena aku tadi mengerjakan sesuatu makanya ketika kembali aku sedikit memutar jalan, dan yang terdekat untuk mengejar ujian hari ini adalah gerbang timur”, kata Coa Leng In menjelaskan, walau awalnya dia agak gugup, dia tidak menyangka kalau Han Eng memperhatikan detail seperti itu.
Gerbang Timur adalah gerbang yang sering digunakan oleh anggota klan Coa, karena letak alun-alun ini berdekatan dengan markas klan Coa.
Coa Leng In tidak berharap bahwa dia bermarga Coa dihadapan Han Eng, karena Han Eng memiliki dendam dengan Coa Kun karena peristiwa 6 bulan lalu.
Keterlambatan Coa Leng In sebenarnya adalah karena ketika dia melihat tempat latihannya di balik gunung pemukiman klan Coa, dia menyadari ada seseorang yang sepertinya memeriksa tempat itu, untungnya setelah dia masuk goa rahasianya, orang itu belum menemukan goa miliknya.
Dia perlu memberikan penyamaran yang solid dan lebih baik agar goa itu tidak dapat ditemukan oleh orang lain.
“Hari ini adalah ujian kedua bagi peserta yang dinyatakan telah lulus kemarin, peserta kelompok umur 9 - 15 tahun berkumpul pada area sebelah utara dan kelompok umur 16 - 20 tahun, berkumpul di area selatan”, demikian pengumuman yang diteriakkan oleh Kong Beng.
Maka para peserta berjalan ke arah yang berbeda sesuai dengan kelompok umur yang sudah dibagi menjadi dua kelompok umur.
Sebanyak 150 anak berumur 9 - 15 tahun berkumpul di area Selatan, termasuk Han Eng, Han Long dan Coa Leng In di dalamnya.
Dihadapan mereka terdapat area yang berbeda, sebuah tenda yang besar dengan diameter sekitar 20 meteran dengan tinggi mencapai 10 meteran, ada kesan magis yang melingkupi bangunan tenda itu, bentuknya seperti semacam Pagoda yang diselubungi oleh kain berwarna ungu dari atas sampai menyentuh tanah di bawahnya, terlihat sebuah pintu setinggi 3 meteran.
“Baiklah karena kalian telah dinyatakan lulus ujian pertama, maka kalian berhak masing-masing mendapatkan lempeng batu giok ini”. kata seorang wanita yang ternyata adalah Siu Nie Ay, dan empat petugas lainnya membagikan sebuah benda pipih dari bahan dasar batu giok.
Para petugas ini adalah sebagian dari para pengawal yang mendamping Kong Beng.
“Barang yang kalian pegang harus dijaga jangan sampai hilang!, kalian akan memasuki pagoda di depan kalian, bangunan ini terdapat 9 lantai, yang berhasil mencapai minimal lantai 3 akan dinyatakan lulus, jika kalian merasa tidak mampu melewati setiap lantai maka kalian cukup mematahkan giok di tangan kalian, maka kalian akan di teleportasi keluar” demikian lanjut Siu Nie Ay menerangkan.
Setelah mendapatkan detail cara menjalankan ujian itu, para peserta bersiap diri, mereka dengan semangat yang tinggi berharap dapat mencapai lantai 9 karena beredar kabar dari para petugas belum ada yang berhasil mencapai lantai 9 selama ratusan tahun.
Goooooong!!!!
Gema suara sebuah Gong bergema, tanda para peserta memasuki ujian kedua, saat mereka memasuki bangunan itu, ternyata di dalamnya secara ajaib adalah sebuah area lapangan yang sangat luas yang ditumbuhi rumput yang hijau, dengan pepohonan yang tinggi menjulang sekitar 40 - 80 meteran, para peserta merasa takjub, termasuk Han Eng, Coa Leng In dan Han Long.
Namun rasa takjub itu harus segera berakhir karena jauh di hadapan mereka dengan cepat menghampiri para peserta.
Ribuan binatang buas menghampiri mereka dengan kecepatan yang sangat cepat.
Gerrrr!
Haaaauuuuummmmm!!!!
Rrrrroooooaaarrrrrrrrrrrrr!!!!!!
Berbagai jenis binatang itu menampilkan wajah yang beringas, dengan menunjukkan taring mereka yang tajam, yang mengerikan adalah ukuran tubuh mereka bermacam-macam, yang terkecil seukuran Kuda Kilin Angin, dan yang terbesar berkali-kali lipat besarnya.
Han Eng dan Coa Leng In langsung memutar energi tubuh mereka.
Bom!
Letusan itu menandakan kondisi mereka yang siap bertarung, Han Eng dengan jurus andalannya Tangan Samudera dan Pesona Dewa Surgawi yang sudah disempurnakan menurut petunjuk dari Han Long, hingga tubuhnya seperti berpijar menandakan bahwa kultivasi Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak meletus.
Coa Leng In pun meletus dengan jurus Guntur Pelangi nya disiapkan untuk menghadapi gerombolan binatang buas ini, tingkat kultivasi yang ditunjukkannya menyamai dengan Han Eng, Tingkat Kekuatan Tubuh ke-9 Puncak.
Hiyaa!!!...Hah !!!...
Bang!!!!.....Bukk!!!.......Desss!!!
Berbeda dengan Han Long, dia langsung menyingkir jauh dan berlari, anehnya tidak ada yang memperhatikan bahwa tidak ada binatang buas seekorpun yang mengejarnya.
Pertempuran pun terjadi dengan hiruk-pikuk, terlihat Han Eng dan Coa Leng In bahu-membahu saling melindungi, mereka tidak memperhatikan Han Long karena mereka pikir Han Long sudah melarikan diri untuk berlindung.
Bunyi letusan setiap teknik beladiri terdengar memekakkan telinga, setiap anak akan mengerahkan keahliannya yang terbaik.
Tidak lama kemudian terdengar jeritan-jeritan dari para peserta ini, ada kemarahan yang menggelegar tapi lebih banyak yang menjerit karena terluka.
Heyyyyyaaaaa!!!....., Aduh!!.....Waaawww…! Aaaaa…..!! Ah!!!!...
Baru pada lantai satu saja ujian yang dihadapi oleh anak-anak terlihat sangat berat, karena tingkat tempur yang dimiliki para binatang buas ini dapat mengalahkan kultivator tingkat Kekuatan Tubuh ke-7 Puncak.
Coa Kun tidak bersama dengan dengan kelompok Han Eng dan Coa Leng In, terutama Coa Leng In yang menghindari kelompok klan Coa.
Coa Kun memimpin barisannya yakni klan Coa dalam menghadapi gerombolan binatang buas ini, dengan gagah dia memberikan komando kepada yang lain dengan sesekali dia melepaskan jurus Guntur Pelangi yang sudah disempurnakan olehnya.
Kelihaian Coa Kun memang membuktikan sebagai genius klan Coa yang berada di atas generasi junior klan lainnya di Kota Yang In. Apalagi dengan jurus andalan Klannya yakni, Guntur Pelangi yang sudah mencapai tingkat sempurna.
Namun jika dia mengetahui bahwa adik tiri perempuannya malah dapat meningkatkan kualitas jurus Guntur Pelangi dari Kategori Bumi ke Kategori Surga dengan kelas Sempurna, dia mungkin akan membenturkan kepalanya dengan mulut memuntahkan darah.
Seperti diketahui bahwa masing-masing Teknik Beladiri terbagi 5 jenis kategori,
yaitu Kategori Dasar, lalu Kategori Bumi, Kategori Surga, selanjutnya adalah Kategori Dewa dan yang kualitasnya diluar akal dan sangat sulit dilatih atau ditemukan adalah Kategori Mustahil, dimana masing-masing kategori ini dibagi kembali dalam 3 kelas yaitu kelas Pokok, Lanjutan dan terakhir adalah Kelas Sempurna.
Dalam barisan Coa Kun, ternyata ada klan yang bergabung dari klan lain, terlihat rombongan Coa Kun ada sekitar 50 orang yang bergabung, anak-anak ini dari klan Meng dan Klan Cui, mereka berlindung pada Coa Kun terutama Meng Li yang merasa lebih lemah dibandingkan dengan barisan klan Coa.
Terlihat Cui Man Ek berdampingan dengan Ciu Hok bekerja sama dalam pertarungan itu. Cui Man Ek sempat melirik ke depan ternyata ada sosok yang dikenalnya, sosok-sosok itu bergerak maju dengan cepat, Han Eng dan Coa Leng In bergerak dengan mantap dan melepaskan pukulannya terlihat santai dan keduanya bergerak saling melindungi.
Cui Man Ek memberi isyarat pada sepupunya Ciu Hok untuk mengejar sosok-sosok yang ada di depan mereka, Cui Hok sedikit terkejut melihat Han Eng dan Coa Leng In melepaskan pukulan yang terlihat santai, sementara mereka terlihat payah dalam menghadapi gerombolan binatang buas ini.
Rasa rendah diri Cui Hok muncul, dia tidak menyangka bahwa kecepatan kultivasi Han Eng telah berada di atasnya, demikian juga dengan Cui Man Ek dia terperangah melihat kelihaian yang ditunjukkan oleh Han Eng, apalagi melihat Coa Leng In.
Kalau dia tahu sebelumnya tentang kelihaian Han Eng rasanya dia ingin membenturkan kepalanya ke batu yang keras, betapa bodohnya dia memprovokasi seseorang dengan tingkat kultivasi diatas dirinya.
Tidak lama kemudian Han Eng dan Coa Leng In telah menerobos ke lantai dua, mereka sebelumnya telah mencari seluruh area lantai pertama berharap dapat menemukan Han Long. namun aura Han Long tidak ditemukan, mereka berpikir bahwa Han Long telah mematahkan lempeng Gioknya.
Sementara anak yang Han Eng cari, ternyata dengan santai berjalan-jalan di lantai 3, Han Long dikerumuni oleh macam-macam binatang buas yang sebenarnya dapat menandingi seorang manusia dengan tingkat kultivasi kekuatan Tubuh ke-9.
Anehnya para binatang buas ini tidak terlihat buas di hadapan Han Long, mereka malah terlihat jinak, bahkan beberapa diantaranya membelai dengan kepalanya dengan cara menggesek-gesekan kepalanya minta dibelai bagai seekor kucing.
Han Long dengan mudah melewati setiap lantai hingga lantai yang ke-3, karena dia tahu setelah memasuki pada lantai pertama, bahwa setiap peserta sebenarnya telah diteleportasi ke bidang Hutan Kabut Putih, dan secara nyata dia mengenal dan mengetahui secara detail dari area masing-masing Hutan Kabut Putih. jadi setiap bagian lantai pada pagoda ini merupakan pecahan area yang dibagi menurut bagian populasi dari Hutan Kabut Putih di setiap lantainya, jadi kalau dia berjalan sampai ke lantai 9 itu sama dengan dia telah sampai ke bagian Inti Hutan Kabut Putih, dimana di tengah-tengah nya ada sebuah danau dengan air berwarna ungu kemerahan, dan dia dengan ibunya menamai danau itu Danau Merah Misterius.
Han Long hanya ingin sampai di lantai 4 saja, karena baginya ujian ini hanya formalitas memasuki Sekolah Samudera Naga, dia tidak perlu menembus sampai lantai berikutnya karena yang dia tahu bahwa sebelum dia menyempurnakan 4 jurus yang menjadi tuntutan ibunya, dan menggabungkannya. lantai ke-5 dan seterusnya adalah sia-sia.
Namun dari pada jenuh, dia mengambil keputusan berjalan sampai ke inti Hutan Kabut Putih hanya untuk sekedar melepas rindu pada tempat yang sudah dikenalnya selama 5 tahun.
Dia menduga bahwa suplemen yang dibutuhkan untuk menyempurnakan ilmu beladiri nya ada di Sekte Samudera Naga.
Karena atas saran Sian Li, ibunya, jadi dengan menjadi calon siswa Sekolah Beladiri Samudera Naga dia memiliki kesempatan untuk menyelidiki ramuan-ramuan yang dimaksud.
Sementara di luar area ujian, apa yang terjadi di dalam pagoda 9 lantai dapat diawasi di luar arena, oleh karena Kong Beng dengan artefak yang dimilikinya semacam cermin raksasa bertindak selaku monitor pengawasan, hanya disini yang terlihat adalah titik-titik yang berpijar, menandakan jumlah peserta yang masih bertahan, ketika dia dan Siu Nie Ay melihat ada satu titik yang berpijar melangkah dan masuk ke lantai 4, dia terkejut, dia tidak menyangka bahwa dalam waktu singkat ada seorang peserta yang sudah melewati lantai 3.
Dia berpikir bahwa ini dengan melihat kecepatannya, anak ini adalah seorang anak jenius yang harus dan wajib direkrut.
Titik itu berbeda dengan titik-titik yang lain yang melangkah menuju ke lantai berikutnya, titik ini bertahan sekian waktu dan melangkah ke lantai 3 kembali. dan diam beberapa lama kemudian titik ini telah melewati lantai 4 kembali dan menuju lantai 5.
Dengan heran Kong Beng dan Siu Nie Ay memperhatikan titik ini, berikutnya titik ini sudah melewati lantai 6 dan melaju ke lantai 7, 8 dan 9. anehnya titik ini kembali lagi ke lantai 8 dan tak lama kemudian titik ini bergerak kembali ke lantai 7 lalu lantai 6 terus turun dan akhirnya diam di lantai 4.
Baru sekarang Kong Beng melihat fenomena aneh selama dia menjabat sebagai penatua luar Sekte Samudera Naga selama bertahun-tahun, ada seorang anak kelompok usia 9 - 15 tahun yang dapat sampai ke lantai 9, namun dia tidak tinggal di lantai 9 malah kembali ke lantai 4. artinya ujian ini hanya taman bermain baginya.
Han Eng dan Coa Leng In baru masuk ke lantai 3, ketika Han Long sudah berjalan-jalan sampai ke lantai 9 dan kembali lagi ke lantai 4 bolak-balik.
Han Eng dan Coa Leng In dengan kekuatan mereka sedikit demi sedikit berjuang mengatasi serangan binatang buas yang semakin meningkat kekuatannya di setiap lantai.
Dengan bantuan Coa Leng In, Han Eng mencapai Lantai 5, karena binatang yang dihadapinya semakin kuat, Han Eng memutuskan untuk memecahkan lempeng gioknya.
Sementara Coa Leng In dapat menembus ke lantai 7, ketika dia ingin menembus lantai ke-8, di depannya telah menghadang barisan puluhan ribu binatang buas yang masing-masing binatang itu sebanding dengan kekuatan manusia kultivasi kekuatan Jiwa ke-3.
Coa Kun Mencapai Lantai ke-5, maka dia dan Han Eng yang mencapai Lantai ke-5.
Ketika Ciu Man Ek dan Meng li dan beberapa anak lainnya secara bersamaan memecahkan lempeng giok masing-masing di lantai 4, maka dengan cerdik Han Long pun memecahkan lempeng gioknya.
Kemunculan para peserta di alun-alun kota Yang In dipisahkan menurut daya tembus peserta di tiap lantai, maka yang lebih cepat muncul di alun-alun kota adalah peserta yang gugur, mereka yang tidak mencapai lantai 3.
Ciu Hok dan lainnya sebanyak 35 orang peserta di teleportasi dari lantai ke-3 dimana Klan Han berhasil lulus di lantai 3 ini sebanyak 10 anggota, Han Long, Ciu Man Ek dan Meng Li dengan tambahan 15 orang peserta lainnya di teleportasi bersamaan, berikutnya Han Eng dan Coa Kun, dan Terakhir adalah Coa Leng In.
Han Eng melirik Coa Kun dan menatap dengan tajam ketika dia menyadari bahwa dia satu platform dengan Coa Kun ketika diteleportasi, dia tidak menyangka bahwa musuhnya menjadi satu lantai dengannya, demikian juga dengan Coa Kun yang melihat Han Eng, dia merasa pernah bertemu dengan anak perempun ini, tapi dia lupa lagi.
“Ternyata kamu, tunggu saja!”, kata Han Eng.
“Apa maksudmu?” kata Coa Kun mengerutkan keningnya berusaha mengingat.
Han Eng hanya mendengus dengan mata tajam meninggalkan Coa Kun.
Percakapan itu dilihat oleh semua orang, apalagi Mengli dan Ciu Man Ek yang tahu dan mengenal Han Eng, seperti halnya Ciu Man Ek, Meng Li tidak menyangka bahwa tingkat kekuatan Han Eng sebanding dengan putra jenius klan Coa, Coa Kun.
Yang tidak diduga oleh yang lainnya adalah Coa Leng In, karena dia muncul sendirian dan yang terakhir di teleportasi. artinya orang menduga bahwa dia berakhir di atas lantai 5 yang mengungguli Coa Kun yang selama ini dikenal Jenius satu-satunya klan Coa.
“Adik Leng In, lantai berapa yang telah kamu capai?”. ujar Coa Kun.
Mendengar itu Han Eng terkejut, ternyata Coa Kun mengenal Leng In, dan menyebutnya adik.
“Hanya lantai ke-7”, jawab Coa Leng In, tanpa ekspresi sambil berjalan menghampiri Han Eng.
“Apa !!!”, Reaksi semua orang yang hadir.
Keterangan yang diberikan oleh Coa Leng In terdengar oleh semua yang hadir dan semua peserta, berita ini sangat mengejutkan terutama oleh Coa Kun yang tergagap dengan ekspresi berubah-ubah frustasi, keterangan Coa Leng In sangat memukul harga dirinya, dia selama ini merasa tidak terkalahkan, ternyata omong kosong.
“Ya, aku bermarga Coa, namaku Coa Leng In, dan Coa Kun adalah kakak tiriku”, kata Coa Leng In kepada Han Eng sebelum Han Eng bertanya.
Reaksi Han Eng hanya terdiam, dia bingung bagaimana bersikap, sahabatnya ternyata adalah adik dari musuhnya yang sudah lama dia targetkan untuk dihadapi dalam duel yang akan dia luncurkan setelah Pra Seleksi ini.
“Aku tahu ini mengejutkan bagimu, bila kau mau menantangnya dan membalaskan dendammu silahkan saja, aku tidak peduli, yang kupedulikan persahabatan kita” tambah Coa Leng In lagi.
Han Eng lama terdiam, tidak lama kemudian Han Long menghampiri mereka berdua.
“Senior Eng, kakak Leng In, kalian berdua hebat”, sambil mengacungkan kedua jempolnya di hadapan mereka berdua.
“Han Long kau sampai lantai berapa?” serentak mereka berdua bertanya.
Hal ini menimbulkan reaksi di antara kedua anak perempuan ini, ada perasaan yang terasa aneh, mereka merasa adanya ikatan emosi yang sama yang saling berhubungan.
Akhirnya Han Eng memberikan senyum manis dan menatap Coa Leng In, menandakan bahwa dia telah mengambil sikap berbeda antara Coa Leng In dan Coa Kun.
“Oh, hanya sampai lantai 4, aku berusaha menghindari gerombolan binatang buas itu dengan berlari sekencangnya, tadinya aku tidak tahu aku sudah berada dimana, sampai aku kelelahan dan akhirnya bersembunyi, dan ternyata aku diteleportasi dari lantai 4” kata Han Long menjelaskan.
Coa Leng In dan Han Eng menatap tidak percaya, karena mereka sebelum meninggalkan lantai satu tidak merasa atau melihat sosok Han Long, artinya bagaimana mungkin untuk mencapai lantai 4 Han Long hanya dengan berlari, sementara mereka setiap memasuki lantai demi lantai selalu di hadang oleh binatang buas yang jumlah nya ratusan bahkan ribuan dengan kekuatan binatang buas itu semakin meningkat di setiap lantainya.
“Kami Ucapkan ‘Selamat”, kepada mereka yang mencapai lantai ke-3 ke atas, besok akan dimulai kembali ujian terakhir, ingat ini hanya ujian Pra Seleksi, artinya kalian belum benar-benar menjadi bagian dari Sekolah Beladiri Samudera Naga, sekalipun diantara kalian ada yang sudah mencapai lantai ke-9, namun ini hanya bagian dari ujian yang sesungguhnya yang diselenggarakan di Sekte Samudera Naga di ibukota “. kata Siu Nie Ay dan Kong Beng.
Kembali publik terkejut bahwa ada seorang peserta yang sudah menembus lantai ke-9,
TAPI SIAPA DIA ???????,
Artinya dari kelompok umur 9 - 15 tahun, seorang remaja dapat menembus lantai yang belum terpecahkan selama ratusan tahun, berita itu mengguncang Kota Yang In. Semua peserta yang dinyatakan lulus saling melihat satu dengan lainnya, namun banyak tatapan mengarah kepada Coa Leng In,
Sementara Han Long, pemain aslinya ikut-ikutan planga-plongo seperti anak bego, sambil menggaruk kepalanya tidak gatal.
Sebanyak 60-an peserta dari kelompok umur 9 - 15 tahun yang berhasil lulus, dan kembali Klan Han berhasil meloloskan sebanyak 15 orang termasuk Han Eng dan Han Long, dan klan Coa sebanyak 10 orang termasuk Coa Kun dan Coa Leng In, selebihnya terbagi oleh klan ternama Kota Yang In dan klan lain.
Yang menyedihkan adalah Klan Meng dan Klan Ciu, masing-masing hanya meloloskan 5 orang peserta termasuk Meng Li. Ciu Man Ek dan Ciu Hok, dan Klan Tang malah berhasil mengirim 8 orang di bawah pimpinan Tang Yan sebagai putra Penatua ke-2 klan Tang, karena putra Tang Hun Beng sebagai Kepala Klan Tang, yaitu Tang Kok kurang berbakat dalam kultivasi beladiri, dia lebih tertarik pada bidang alkimia.
Selebihnya adalah anak-anak-tanpa perlindungan klan besar Kota Yang In.