Berita tentang seorang peserta dari kelompok umur 9 - 15 tahun yang telah menembus lantai ke-9 pada ujian hari kedua, menggemparkan Kota Yang In.
Menjadi topik pembicaraan di setiap tempat orang-orang berkumpul, di rumah-rumah makan maupun di berbagai penginapan Kota Yang In, anak misterius ini tetap diperbincangkan.
Di sebuah restoran ternama di kota Yang In, dimana pada lantai 2 restoran itu dipenuhi para tamu, dan di sebuah sudut yang bersebelahan dengan jendela yang menghadap jalan raya, 4 orang terlihat sambil menikmati hidangan yang tersedia diatas meja dengan beberapa guci anggur, mereka terlibat percakapan yang serius, suara mereka tidak terlalu keras malah terdengar setengah berbisik.
“Adik ke-2, bagaimana hasil penyelidikanmu?”, tanya seorang pria yang berjenggot abu-abu, dimana tumbuhnya campuran rambut putih dan hitam sama banyak, dengan rambut di kepalanya berwarna sama, dia berpakaian hitam.
“Kakak tertua, berita yang kudapat berakhir dengan dua titik lokasi,
salah satunya adalah Hutan Kabut Putih”,
jawab seorang yang dipanggil adik ke-2.
“Dan yang lainnya?”, Tanya pria berjenggot abu-abu lagi.
“Ini berbicara tentang markas keluarga Klan Coa”,
yang menjawab adalah seorang pria yang lebih muda dari pria berjenggot abu-abu,
dengan baju berwarna hijau.
“Maksudmu tempat itu berkaitan dengan Kong Beng?”, lanjut pria berjenggot abu-abu.
Terlihat ada lelaki di sebelah pria berjenggot abu-abu itu, dia tidak mengucapkan apa-apa, dia terlihat tenang, dan matanya setengah terpejam, dia mengenakan pakaian sederhana dengan rambut yang terikat dan disanggul ke atas.
“Ya, rupanya Sekte Samudera Naga bergerak dengan cepat,
kegiatan Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga kelihatannya hanya kedok mereka untuk mendapatkan harta itu?”, jawab orang satunya.
“Mengapa kalian harus mewaspadai hanya seorang Kong Beng,
dia hanya Penatua Luar Sekte”,
ujar pria di sebelah orang berjenggot abu-abu itu, yang dari tadi diam saja.
“Tapi paman Lok, sekalipun dia penatua luar,
yang akan kita hadapi adalah Sekte Samudera Naga,
penguasa Benua Chong Yang”, sanggah pria berjenggot abu-abu.
“Tapi Kakak Leng, apa yang diutarakan oleh Tetua Lok ada benarnya,
kita dapat menghilangkan noda kecil ini dan membersihkannya”,
sanggah Min Tek, orang yang seumur dengan pria berjenggot abu-abu berbaju hijau.
Mereka adalah orang-orang dari 2 sekte yang menjadi saingan Sekte Samudera Naga, yakni dari Sekte Angin Guntur dan Sekte Puncak Merah, yang dipanggil sebagai Paman Lok adalah penatua luar dari Sekte Angin Guntur, namanya Ming Lok, dia bersekutu dengan Sekte Puncak Merah yang diwakili oleh pria berjenggot abu-abu, bernama Tie Leng, dan Min Tek adik seperguruan Tie Leng dari Sekte Puncak Merah.
Keduanya adalah Diaken Luar Sekte.
Latar belakang Ming Lok sebenarnya cukup kuat, karena dia masih ada darah bangsawan dari Kerajaan Ming Lan dimana Sekte Angin Guntur berada.
Dan dia membawa keponakannya yaitu Ming Wan.
Bagi Ming Lok kalau hanya menyingkirkan Kong Beng dan kelompoknya adalah pekerjaan mudah , karena Ming Lok pada Tingkat Kultivasi Imajinasi Roh ke-5 Akhir, ditambah Tie Leng dan Min Tek bekerja sama, karena keduanya pada tingkat kultivasi yang sama dengan Kong Beng, Imajinasi Roh ke-5 Awal.
Dan Ming Wan memiliki tingkat kultivasi Imajinasi Roh ke-2 Akhir.
Artinya dengan seorang Ming Wan, dapat menghadapi Cong Min dan Kong Hay.
Sekte Puncak Merah dan Sekte Angin Guntur adalah keberadaan Sekte di Benua Chong Yang, mereka selalu merasa terintimidasi oleh Sekte Samudera Naga.
Karena Sumber Daya dari seluruh kerajaan yang berada di Benua Chong Yang, dikelola dan diatur oleh pemenang kompetisi yang selalu diadakan setiap 5 tahun sekali, dan pemenang sekarang adalah dari Sekte Samudera Naga yang memiliki hak sumber daya itu sebesar 60 persen sementara Sekte Puncak Merah dan Sekte Angin Guntur hanya memperoleh 5 persen saja, selebihnya terbagi antara dua sekte lain yaitu Sekte Gunung Abadi dan Sekte Lembah Api masing-masing sebesar 15 persen.
Sakit hati Ming Lok terhadap Sekte Samudera Naga sangat sulit didamaikan,
walau bagaimana dia adalah keturunan Kerajaan Ming Lan yang terletak di selatan Benua Chong Yang.
Perlu diketahui, ada 4 Kerajaan Besar yang berdiri di Benua Chong Yang yaitu,
Kerajaan Chong Yang itu sendiri yang terletak di sebelah timur Benua Chong Yang,
di selatan ada Kerajaan Ming Lan,
di sebelah Utara berdiri Kerajaan Kao Monarki,
dan di sebelah barat ada Kerajaan Thi Agung.
Maka Benua Chong Yang terkenal oleh benua lainnya disebut, Benua 5 Sekte 4 Kerajaan
Empat kerajaan ini dipaksa mengakui dan takluk kepada 5 sekte yang berdiri di benua Chong Yang, karena kelima sekte tersebut telah ada sebelum munculnya 4 Kerajaan ini.
Sebelum terjadi pembagian yang saat ini berlaku, Benua Chong Yang dalam kondisi kekacauan tanpa akhir dimana masing-masing sekte bertempur memperebutkan segala sumber daya yang ada, di tambah lagi kerajaan-kerajaan yang berdiri seperti jamur yang menggerogoti sumber daya juga.
Akhirnya para Leluhur Sekte Benua Chong Yang berkumpul dan memutuskan untuk mengambil tindakan, bahwa semua ini harus diatur berdasarkan kekuatan. dan kerajaan yang kecil harus dilenyapkan.
Maka yang tersisa adalah 4 kerajaan yang masih berdiri saat ini, karena mereka memiliki sejarah dengan para Leluhur pendiri kelima Sekte.
“Paman Lok, ada perkembangan baru dari hasil Pra Seleksi itu, seorang anak calon murid berhasil menembus pagoda lantai ke-9” ujar Ming Wan kepada Pamannya Ming Lok.
“Ya benar, aku pun mendengar berita itu, anak itu harus ditemukan, kalau anak itu tidak dapat kita rekrut, bunuh dia supaya tidak menjadi duri bagi sekte kita di masa depan”, Ujar Min Tek menambahkan.
“Apakah identitas anak itu sudah diketahui?”, tanya Tie Leng.
“Justru itu, anak tersebut katanya malah kembali ke lantai 4, dan keluar bersama-sama dengan yang lain”, jawab Ming Wan
“Berapa anak yang berhasil keluar dari lantai 4?’, tanya Tie Leng kembali.
“Hanya 15 anak”, yang menjawab adalah Min Tek.
Ming Lok tidak terlalu fokus menyimak tentang anak berbakat yang diceritakan oleh keponakannya, namun dia pun bersuara juga,
”Itu mudah!, selidiki ke-15 anak-anak tersebut,
siapa yang paling tinggi kultivasinya,
kalau perlu jangan terpaku hanya pada satu orang saja,
berikan perhatian yang paling menonjol”. katanya.
“Dan yang lebih penting adalah, awasi pergerakan orang-orang Sekte Samudera Naga, mereka akan bergerak dalam beberapa hari ini” tambah Ming Lok kemudian.
Apa yang dikatakan oleh Ming Lok, sedang direncanakan oleh Kong Beng.
Dalam salah satu gedung di dekat manor klan Coa, berkumpullah Kong Beng, Siu Nie Ay, Cong Min dan Kong Hay.
“Paman Beng, rupanya pihak Sekte Puncak Merah dan Sekte Angin Guntur telah tiba di Kota Yang In, mereka mengutus Ming Lok dan Tie Leng”, Lapor Kong Hay.
“He he he, rupanya si tua Ming Lok dan Tie Leng yang datang.
Kalau begitu setelah besok, dua hari kemudian kita akan kembali ke Sekte Samudera Naga”, kata Kong Beng tersenyum misterius.
“Kakak Beng, apakah kita akan meninggalkan Kota Yang In secepat itu, tanpa menyelidiki dua tempat itu?”, tanya Siu Nie Ay.
“Paman Beng, apakah kita akan pergi begitu saja?”, tanya Cong Min dengan heran.
“Ya Paman, apa maksudnya?’, Kong Hay pun bertanya.
“Tugas ini diserahkan pada adik Nie Ay,
biarkan mereka menduga bahwa kita meninggalkan Kota Yang In,
padahal yang berangkat adalah hanya adik Nie Ay saja,
itupun setelah keluar dari perbatasan kota,
adik Nie Ay harus pandai mengecoh mereka dan bergabung dengan ponakan Hay seperti rencana semula”, kata Kong Beng.
Setelah mendengar perkataan Kong Beng, mereka bertiga memahami apa yang dimaksud, karena Siu Nie Ay adalah salah satu Diaken luar yang ahli dalam penyamaran, yang mereka perlukan adalah kandidat yang dapat menggantikan mereka berempat.
“Sekarang ini, perlu kiranya kita mencari anak yang berhasil menembus Pagoda lantai ke-9”, kata Kong Hay lagi.
“Ya benar, ini penting buat Sekte Samudera Naga, Tingkat Jenius yang hanya muncul ratusan lalu”, tambah Siu Nie Ay.
“Apakah ada anak yang berhasil menembus lantai ke-9?”, tanya Kong Hay.
“Bukan hanya menembus lantai ke-9, bahkan ujian ini dia anggap taman bermain saja”, kembali Siu Nie Ay menambahkan.
“Apa!!!?,
bagaimana mungkin?”,
baik Cong Min maupun Kong Hay terkejut.
“Ya benar, kejeniusan ini di atas rata-rata anak di dalam Sekte Samudera Naga”.
Kata Kong Beng lagi.
“Hanya 15 anak yang diteleportasi dari lantai 4,
kita harus menyelidikinya”,
Tambah Kong Beng lagi
“Apa maksud paman?,
kenapa dengan anak yang keluar dari Lantai 4?”,
tanya Kong Hay tidak mengerti.
“Anak ini dengan cepat melewati setiap lantai,
di lantai ke-4 dan ke-5 dia seperti bermain-main saja bolak balik,
demikian juga ketika dia menembus lantai ke-9,
dia kembali lagi ke lantai ke-4.
seperti menunggu kawan-kawannya,
bukankah itu jenius!?”.
Tambah Siu Nie Ay menjelaskan.
Setelah mendengar hal seperti itu,
Kong Hay dan Cong Min tanpa disadari oleh mereka sendiri,
membuka mulutnya lebar-lebar, dan hampir meneteskan air liur,
mereka sendiri pernah memasuki ujian pagoda itu,
bagi Kong Hay sampai lantai ke-5 dan Cong Min sampai lantai ke-6.
Sementara anak yang dimaksud, memperlakukan semua lantai pada Pagoda Ujian naik turun seperti bermain di kebun buah.
Anak yang diperbincangkan saat ini berada di Manor Kabut Putih,
bersama dengan Han Eng di halaman belakang Manor.
Han Long telah bertemu dengan Kepala Klan Han Wi Teng, setelah diberi ucapan selamat oleh Kepala Klan Han, keduanya langsung meninggalkan Aula Klan dan bergabung dengan para murid junior Klan Han lainnya,
yang seperti biasa mereka menunggu cerita terbaru dari keduanya.
Tidak lama kemudian seperti biasa Han Long akan pamit pada Han Eng, karena hari akan diganti oleh kegelapan malam, Han Eng tahu bahwa menjelang malam Han Long akan langsung istirahat tidur, dan dia tidak mau diganggu oleh hal-hal lainnya.
Pernah ada kecurigaan bahwa kebiasaan Han Long untuk secepatnya istirahat ini terasa aneh bagi anggota maupun Kepala Klan, tapi mereka tidak menemukan kejanggalan apapun karena mereka melihat bahwa Han Long sudah terlelap.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, Han Long dengan ilmu yang dimilikinya serta kecerdikannya telah mempersiapkan segala sesuatu dengan baik,
selain boneka yang menyerupai dirinya telah disiapkan di tempat tidur,
dia pun memberi formasi di dalam ruang tidurnya,
yang diberikan oleh sang ibu sehingga boneka itu tampak nyata seperti dirinya.
Setelah memastikan situasi dan kondisi yang diharapkan, dengan ilmunya dia akan keluar dari komplek Manor Kabut Putih,
pergi menemui ibunya atau ke tempat rahasia dimana dia akan berlatih dengan rajin.
Saat ini Han Long telah mencapai Tingkat Kultivasi Kekuatan Jiwa ke-3 Awal,
dua tahap lagi yang harus dia selesaikan yaitu Kekuatan Jiwa ke-3 menengah atau lanjutan lalu Kekuatan Jiwa ke-3 Akhir,
agar dia dapat mulai masuk berlatih untuk sampai pada tingkat kultivasi Imajinasi Roh, agar 4 Teknik beladiri nya dapat mulai dilatih dengan sempurna,namun dia harus memulai Teknik tentang tubuh, yaitu 9 Tubuh Bintang,
Hal itu wajib dilakukan karena tanpa melatih 9 Tubuh Bintang maka 3 Teknik ilmu bela diri lainnya tidak akan mencapai kesempurnaan,
artinya dia hanya menguasai kulit luar dari teknik-teknik beladiri itu.
Di balik gunung komplek Klan Coa, di sebuah hutan yang pohon-pohonya tumbuh rapat, sesosok wanita muncul, wajahnya cacat bekas luka memanjang di pipinya.
Dengan tenang dia berdiri seperti menunggu seseorang.
Tidak lama kemudian seorang anak berumur 10 tahunan terlihat berlari ke arah wanita itu.
“Ibu aku datang”, kata Han Long.
“Long er duduklah”, ajak Sian Li ibunya,
sambil menunjuk rerumputan yang cukup tebal di depannya.
“Jangan dulu kau bergerak, beberapa orang mendatangi tempat ini,
termasuk ada juga kawanmu itu”, perintah Sian Li.
Beberapa waktu kemudian, muncullah 4 orang pria berjarak 500 langkah orang dewasa jaraknya dari posisi Sian Li dan Han Long.
Mereka adalah Ming Lok dengan kawan-kawannya, kedatangan mereka adalah untuk memeriksa gunung yang diduga akan kemunculan harta langka itu.
Mereka langsung bersembunyi di kerimbunan pepohonan hutan tersebut, karena tidak lama kemudian terlihat seorang gadis muncul, dan yang disebut gadis itu adalah Coa Leng In yang masih berumur 12 tahunan, karena dia Ras Iblis maka seperti layaknya seorang gadis bagi Ras Manusia.
Coa Leng In seperti memeriksa bahwa di belakangnya tidak ada seseorang yang mengikutinya, dia tidak menyadari bahwa sebelum kedatangannya di tempat itu sudah ada Sian Li dan Han Long serta Ming Lok dengan 3 orang lainnya.
Setelah dirasa aman, Coa Leng In bergegas maju ke depan, mengarah sebuah pondok yang dibangun sederhana, tanpa sepengetahuannya, Ming Lok dan kawan-kawan mengikutinya tanpa suara, maklum ilmu yang dimiliki oleh Coa Leng In tingkatnya masih jauh dibawah Ming Lok dan kawan-kawan.
Coa Leng In membuka pintu sederhana pondok itu, sementara Ming Lok dan kawan-kawan menunggu di luar, menanti kemunculan kembali Coa Leng In, mereka berencana untuk menyergap Coa Leng In.
Beberapa jam berlalu, namun Coa Leng In belum kunjung keluar dari pondok itu, akhirnya Ming Wan tidak sabar,
“Paman, kita masuk saja dan menangkapnya, apa artinya gadis kecil itu, kultivasinya hanya Kekuatan Jiwa ke-2”, ujarnya kepada Ming Lok.
Min Tek dan Tie Leng mengangguk setuju atas saran Ming Wan, namun Ming Lok merasa ada sesuatu yang janggal, tapi dia tidak mengerti apa itu.
Dia merasa ada tekanan yang membuat dia menjadi cemas dan khawatir, namun akhirnya dia menyetujui usul Ming Wan dengan isyarat mata dan gerakan kepalanya, mereka bersama-sama menyerbu pintu masuk pondok itu dengan melompat dan memecahkan daun pintu itu seperti merobek kertas.
Setelah mereka masuk, mereka heran tidak menemukan sosok Coa Leng In.
“Hancurkan bangunan ini, dan cari gadis kecil itu”, perintah Ming Lok karena kesal.
Booommmm!!!,........... Boooommmmm!!!
Krrrrraaakkkk,....... Krrrraaaakkkkk!!!!
Grussssaaakkkk!!!!
tidak lama, bangunan itu hancur menjadi serpihan-serpihan kecil,
namun Coa Leng In tidak ditemukan.
Mereka menjadi tambah bingung dan heran,
apakah anak itu di telan bumi, hilang begitu saja????.
Sementara di kejauhan Sian Li dan Hanlong memperhatikan perilaku Ming Lok dan lainnya, Han Long tersenyum karena dia tahu kemana Coa Leng In berada.
Dengan persepsi Han Long, Semak-belukar yang menutupi pintu Goa di belakang pondok itu dapat diketahui, apalagi oleh orang yang kepandaiannya setingkat Sian Li.
Mereka berempat terus mencari, dengan ketelitian mereka akhirnya semak-belukar penutup pintu goa menjadi titik fokus perhatian mereka berempat.
Sementara Coa Leng In yang berada di goa terkejut ketika dia mendengar bunyi pukulan dan reruntuhan bangunan yang menimpa tanah, dia segera beranjak dari kedalaman goa dan mengintip dari sela-sela semak-belukar, dapat dilihat orang-orang yang menghancurkan pondok sederhananya.
Dia melihat bahwa tingkat kultivasi 4 pria di luar goa itu jauh diatasnya, dia pun menjadi cemas dan ketakutan, baginya hanya seorang gadis kecil, bagaimanapun juga, jika dia keluar, dia membayangkan bahwa orang-orang ini memang bermaksud jahat kepada dirinya.
Melihat tatapan mata keempat pria itu mengarah ke semak belukar dimana dia sembunyi, Coa Leng In makin panik, jangankan dirinya, jika seandainya para petinggi klan Coa harus menghadapi keempat pria di hadapannya, maka hanya luka parah atau kematian bagi klannya.
Disaat kecemasan tingkat tinggi melanda dirinya,
Coa Leng In terkejut, karena ada 2 orang yang memunggungi dirinya,
berarti ada 2 orang yang menghadang kedatangan 4 pria itu.
Tidak butuh waktu lama, hanya terdengar bunyi desir angin yang kuat dan tajam,
dan 4 suara erangan terdengar,
Arrrrgh!!!
Lalu sepi, Coa Leng In hanya memperhatikan bahwa 2 sosok yang menghalanginya tiba-tiba hilang, yang tersisa di hadapannya hanya 4 tubuh pria yang terbaring di tumpukan puing-puing kayu, bekas pondoknya yang hancur.
Coa Leng In memberanikan dirinya untuk keluar, hal pertama yang dilakukan setelah dia keluar, adalah memeriksa bila kedua orang misterius itu masih ada disekitarnya, sambil berjalan ke arah 4 tubuh yang tergeletak tidak beraturan.
Dia memeriksa kondisi tubuh-tubuh itu, semuanya sudah tidak bernafas, dengan wajah yang menyiratkan rasa ngeri yang sangat menakutkan dari wajah keempatnya.
Coa Leng In tidak mengerti bagaimana keempat orang itu mati, dengan tingkat kultivasinya dia belum memahami oleh ilmu apa orang-orang ini mati.
Coa Leng In segera menghilangkan mayat 4 orang itu dengan cara membakarnya dengan puing-puing pondoknya yang sudah hancur. Setelah memastikan semuanya terbakar dengan bersih, dia bergegas meninggalkan tempat itu, dan melarikan diri menuju klannya, dia hanya punya harapan bahwa 2 orang yang membunuh 4 pria itu, hanya mempunyai dendam pribadi jadi tidak ada urusannya dengan dia.
Sian Li dan Han Long memperhatikan apa yang dilakukan oleh Coa Leng In, memang oleh Sian Li sudah merencanakan bahwa 4 pria itu harus dibunuh dan dibiarkan begitu saja , agar Coa Leng In menduga bahwa dirinya Han Long dengan 4 pria itu punya dendam pribadi, dan Coa Leng In merasa bahwa keberadaan dirinya di balik semak-belukar yang merupakan pintu goa tidak diketahui olehnya dan Hanlong.
Posisi Sian Li dan Hanlong sengaja memunggungi Coa Leng In, ditambah lagi pakaian Han Long telah dirubah dengan pakaian lain yang belum dikenal oleh Coa Leng In.
Kalau seandainya Ming Lok dan kawan-kawan tahu siapa sosok yang membunuh dirinya dan kawan-kawannya hanya dengan hanya satu gerakan, mungkin dia akan cepat-cepat melarikan diri, jangankan dirinya yang mencapai kultivasi Tingkat Imajinasi Roh, bahkan jika ketua Sekte Angin Guntur maupun ketua Sekte Puncak Merah berhadapan dengan Sian Li, mereka masih akan pucat ketakutan.