Sian Li dan Han Long belum beranjak dari tempat itu, mereka sengaja menyembunyikan dirinya sambil menunggu Coa Leng In meninggalkan tempat itu.
Setelah Coa Leng In pergi, Sian Li dan Han Long muncul kembali di depan goa yang tersembunyi oleh semak belukar, dengan santainya Sian Li menyibakkan semak-belukar itu lalu masuk dengan mengajak Han Long anaknya.
Han Long hanya mengikuti ibunya tanpa pertanyaan, dia dengan tenang melangkahkan kakinya, mengikuti sang ibu.
Setelah menyelusuri lorong goa itu, sampailah mereka di sebuah ruangan yang cukup luas, dimana terletak sebuah altar di tengah-tengah ruangan.
Setelah sampai di pinggir altar, Sian Li tidak terus melangkah menginjak altar tersebut, Sian Li menatap lempengan altar itu, lalu terlihat pupil kedua matanya berubah warna menjadi putih bercahaya, diikuti dengan nafas yang keluar dari mulutnya, dengan menghentak, ada sinar yang memancar dari kedua mata Sian Li, kedua mata Sian Li seperti memindai lempengan altar itu
Tidak lama kemudian SianLi langsung mengambil posisi duduk di tanah pinggir altar, dengan jari-jari tangannya yang lembut, dia seperti mencongkel pinggiran altar yang tebal dan menjungkitnya dengan menggunakan jari-jari tangannya.
Altar itu terangkat ke atas, kalau dilihat tidak mungkin seorang wanita yang lembut dapat mengangkat lempengan batu sebesar dan seluas itu hanya menggunakan jari-jari tangan, yang seharusnya membutuhkan 30 orang laki-laki dewasa yang bertenaga kuat untuk sekedar mengangkat lempengan batu altar dengan ketebalan sekitar dua jengkal jari orang dewasa.
“Long er, gali tanah di tengah-tengah itu.” kata Sian Li, setelah memindahkan altar itu di pinggir ruangan.
Han Long langsung bergerak, dia memadatkan energi pada kedua tangannya, terlihat tangannya berubah warna menjadi merah membara, dengan kedua tangannya dia menancapkan kuku-kuku di kedua tangannya menggali tanah yang keras dan sudah membatu.
Bagi Han Long pekerjaan itu sangat mudah dikerjakan, kedua tangannya sama kerasnya dengan baja murni. Latihan dasar yang diajarkan oleh Sian Li kepada Han Long adalah istimewa, bagi seorang anak berumur 10 tahunan yang mencapai tingkat seperti itu yang dapat mengolah bagian tubuhnya seperti Baja adalah tingkat ketinggian ilmu beladiri yang mustahil bila diterapkan pada seorang anak biasa.
Namun Han Long adalah anak yang istimewa, konstitusi tubuh yang dimilikinya hanya Sian Li yang tahu, sekalipun demikian bagi Han Long tidak memandang sesuatu yang istimewa apa yang ada pada dirinya..
Dia selalu berpikir bahwa tubuh yang dimilikinya adalah hal-hal biasa saja walau dia juga sempat melihat bahwa anak-anak yang lain terlalu lemah dibanding dirinya.
Setelah mencapai kedalaman sekitar tiga langkah kaki orang dewasa, tangan Han Long menyentuh sebuah benda yang sangat keras, dengan semangat dia terus menggali, dan akhirnya di kedua tangannya tersembul sebuah kotak yang terbuat dari batu yang hitam kusam warnanya, dia mengangkatnya dan membawa ke hadapan ibunya.
Kotak itu hitam legam dan kusam, tidak memancarkan apa-apa, yang istimewa adalah benda itu sangat dingin dan ada semacam lubang seperti sebuah lubang kunci untuk membukanya.
Sian Li menatap tajam kotak itu, tanpa menyentuhnya Sian Li lalu tersenyum.
“Gunakan ini untuk membukanya!”, katanya.
Sian Li mengeluarkan sebuah pisau kecil, panjangnya seukuran telapak tangannya dengan ujung bergerigi. Pisau itu muncul entah dari mana, yang terlihat oleh Han Long benda itu muncul seperti sulap, yang muncul di telapak tangan ibunya.
Ketika ujung pisau itu dimasukan ke dalam lubang seperti lubang untuk anak kunci, terdengar,
“Klik…”
Di dalam kotak itu terpancar warna merah bersinar, tergeletak sebuah barang berbentuk jantung dengan besar tengkorak orang dewasa, berwarna merah darah, jantung itu seperti berdenyut-denyut hidup.
“Hm ternyata jantung naga itu sesuai dengan prediksiku, orang tua itu menyembunyikan di bawah altar ini”, kata Sian Li bergumam kepada dirinya sendiri.
“Long er, gunakan air dari telaga itu, rendam jantung ini, setelah larut, minum dan telan semua cairan dalam wadah itu!” Perintah Sian Li kepada Han Long.
Han Long langsung melangkah menghampiri sebuah telaga yang berada di goa itu dan membawa kotak batu untuk menampung air telaga.
Ketika air telaga itu tertumpah ke dalam kotak tersebut, terdengar bunyi desisan suara seperti bara api yang terkena air dingin, ada uap tipis berwarna merah keemasan mengepul dari jantung itu.
Han Long langsung meletakan kotak batu itu, karena ketika kotak itu terkena air telaga yang dingin berubah menjadi panas menyengat, dan air itu bergolak mendidih, seperti air yang dimasak dengan api.
Jantung itu berubah bentuk, ada retakan-retakan di sekelilingnya, sekitar dua jam berikutnya, jantung itu terpecah-pecah seperti larut oleh air, dan air yang tadinya bening berubah warna menjadi merah dengan guratan-guratan berwarna emas.
Dua jam kemudian jantung itu telah lenyap yang ada hanya cairan kental berwarna merah keemasan yang terdapat dalam kotak batu itu. Dan hawa pada kotak tersebut menjadi dingin kembali.
“Segera kau minum cairan itu!, gunakan posisi kultivasi dari gerakan 9 Tubuh Bintang” perintah Sian LI.
“Baik Bu,” kata Han Long menuruti perintah ibunya.
Dia langsung meneguk cairan dalam kotak batu itu, menelannya, dengan bunyi desis,
terasa ketika cairan itu memasuki tubuhnya, ada suara bergemuruh yang Han Long dengar dari tubuhnya, dengan cepat cairan itu beredar ke seluruh pembuluh darahnya,
ketika dirasakan bahwa tubuhnya seperti akan meledak bergemuruh di pusat dantiannya semakin tidak terkendali,
Han Long lalu bergerak dan mengambil posisi gerakan latihan 9 Tubuh Bintang.
Dengan posisi Lotus menghadap Langit, dimana posisi tubuh duduk bersila, posisi telapak tangan terangkat ke arah atas, seperti menyangga langit, Han Long menggunakan teknik pernafasan 9 Tubuh Bintang yang sudah dikuasainya secara teori, dia lalu berusaha mengendalikan saluran-saluran di pembuluh darahnya, dengan menahan rasa sakit yang melanda setiap inci tubuhnya.
“Aaaaargh!!!!”
Terdengar teriakan berulang kali yang keluar dari mulutnya, Han Long terus menerus mengatur nafasnya, dan menggerakkan tangannya dengan cara berputar-putar seperti mengaduk langit, terkadang kedua telapak tangannya mengepal meninju udara atau dengan tangan terbuka seperti mengibaskan angin.
Dan lama kelamaan udara di sekitar ruangan goa itu berubah menjadi panas ketika tangan Han Long mengibas atau berubah dingin seperti es ketika tangannya meninju,
hal itu berlangsung beberapa jam penderitaan yang diterima tubuh Han Long.
Ketika waktu menjelang dini hari, penderitaan Han Long berhenti, dia telah mengkonsolidasikan kondisi tubuhnya, setelah reda dari rasa sakit yang hebat pada tubuhnya, dia membuka matanya maka dia dapat merasakan suasana di sekitar goa itu.
Bahkan dia dapat melihat sekelompok iringan semut yang jauh, dan persepsinya dapat menjangkau berkilo-kilo meter jauhnya dengan segala bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh beberapa binatang serta gerakan udara di sekitarnya.
Tiba-tiba Sian Li bergerak menerkam ke arah Han Long, dengan jurus yang cukup mematikan karena ada deru angin yang berasa tajam dan panas, dengan mudah gerakan itu dapat dilihat oleh Han Long, yang sebelumnya terjangan dari ibunya tidak dapat terlihat namun kini dia dapat melihat dengan jelas, dengan mengibaskan tangannya disertai dengan posisi kaki melompat ke samping, terkaman itu dengan mudah dihindari,
bahkan gerakan tangan Han Long menimbulkan angin panas juga.
“Boomm!!”
Pertemuan angin keduanya menimbulkan ledakan yang cukup kuat,
mengguncang dinding goa.
Sian Li tersenyum melihat kemajuan yang diperoleh oleh Han Long.
Gerakan yang dibuat oleh Han Long terasa ringan tapi bertenaga untuk anak berusia 10 tahun.
Tubuh Han Long terasa ringan dan setiap gerakan yang ditimbulkannya merubah suhu udara di sekitarnya dengan cepat.
“Long er, yang baru kau konsumsi itu adalah ‘Buah Darah Naga’ untuk membangunkan konstitusi tubuh ‘9 Tubuh Bintang’,
sebelumnya buah ini adalah milik klan kita yang telah dicuri oleh seorang tokoh yang melarikan dari klan kita, rupanya dia belum memakainya karena ketika dia melarikan diri,
dia terluka parah dan dia belum tahu sepenuhnya cara menggunakan ‘Buah Darah Naga’ itu”, kata Sian Li menjelaskan.
“Dengan Teknik 9 Tubuh Bintang, kamu dapat melatih ‘Tinju Langit dan Badai Mengamuk” untuk melengkapi daya serang yang memiliki 9 Tubuh Bintang, walaupun teknik 9 Tubuh bintang mu baru memasuki tahap awal dari Tingkat pertama 9 tubuh bintang.” Lanjutnya.
“Berlatihlah!, ingat jangan kau katakan kepada siapapun tentang teknik beladirimu,
dan sudah saatnya aku, ibumu akan meninggalkan engkau, karena ada sesuatu yang harus kukerjakan, dengan terbangunnya konstitusi tubuh ‘9 Tubuh Bintang’, aku tidak perlu mengkhawatirkan dirimu, mungkin kita akan bertemu di ibukota Chong Yang”,
kata Sian Li menambahkan penjelasannya kepada Han Long.
Setelah Sian Li mengatakan beberapa nasihat kepada Han Long, selanjutnya dengan kekuatannya, Han Long mengangkat lempengan altar yang begitu berat, dikembalikan seperti semula, dan tempat itu dibersihkan supaya tidak meninggalkan jejak kedatangannya.
Saat matahari menunjukkan dirinya di hari itu,
terlihat ada dua bayangan tubuh yang keluar dari balik gunung pemukiman Klan Coa,
yang melesat dengan cepat menuju pusat kota Yang In.
Kedua sosok ini adalah Sian Li dan Han Long, kalau ada orang memperhatikan kedua sosok itu, mereka berpisah di mulut gerbang kota Yang In, Han Long dengan menyembunyikan wajahnya terus masuk kedalam kota, dan Sian Li lalu pergi meninggalkan kota Yang In menuju sebelah barat dari kota Yang In.
“Saudari Eng, dimana si bodoh itu?” Tanya Coa Leng In pada Han Eng.
“Justru itu, ku pikir dia sudah ada disini meninggalkanku dari manor Kabut Putih”,
jawab Han Eng dengan muka cemberut.
keduanya berada di alun-alun kota Yang In dimana akan dilaksanakan ujian yang terakhir untuk Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Seperti diketahui ketiganya dinyatakan lolos setelah ujian kedua yaitu 9 lantai Pagoda Teleportasi, bersama dengan 50 anak yang berusia 9 - 15 tahun.
Tidak jauh dari berdirinya Coa Leng In dan Han Eng, terlihat sekumpulan anak-anak Ras Iblis dari klan Coa, Klan Meng dan Klan Cui.
Sementara Klan Tang membentuk kelompok tersendiri dengan seorang anak yang terlihat sebagai fokus kelompok itu yaitu Tang Yan sebagai pemimpin kelompok tersebut.
Tang Yan berdiri dengan tubuh yang mendongkak angkuh terlihat menunjukkan dirinya terhadap kelompok Ras Iblis, dia adalah Ras Campuran yang selama ini sering kali menerima tekanan pelecehan dari anak-anak Ras Iblis, baik yang berada di Klannya sendiri apalagi pada kelompok klan Ras Iblis murni.
Dengan prestasinya kemarin dimana dia berhasil sampai ke lantai 4 Pagoda Teleportasi, dibandingkan dengan pencapaian anak-anak lain yang hanya sampai di lantai 3,
namun dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Coa Kun.
Terjadi perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Coa Kun dan kawan-kawannya, setelah tahu bahwa sekelas Han Eng dapat mencapai prestasi ke lantai 5 Pagoda Teleportasi, sama seperti dirinya. Tadinya dia anggap bahwa Ras Manusia itu lebih lemah dan tidak berdaya di hadapan Ras Iblis, terhadap Coa Leng In, ada rasa hormat bagi Coa Kun karena ternyata Coa Leng In telah mencapai lantai ke-7 sendirian, yang bagi para junior Kota Yang In adalah prestasi luar biasa.
Sayangnya kenapa Coa Leng In malah berdekatan dengan Ras Manusia apalagi dia berkelompok dengan salah satu anak lelaki yang terlihat lebih lemah dibandingkan dengan Han Eng dan Coa Leng In sendiri, yang dimaksud adalah Han Long.
Bagi Coa Kun kelemahan Han Long adalah cacat pada kelompok adik tirinya Coa Leng In yang tidak dapat ditolerir, dengan tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Coa Leng In semestinya bergabung dengan kelompoknya namun ditolak oleh Coa Leng In sendiri.
Demikian juga, ada tatapan ketakutan dari Meng Li, Cui Man Ek dan Cui Hok serta yang lainnya yang merupakan junior Ras Iblis terhadap Coa Leng In dan Han Eng.
“Selamat pagi senior Eng dan saudari Leng In!” terdengar seruan suara bocah lelaki dari arah jalan masuk sebelah barat alun-alun kota.
Terlihat Han Long dengan wajah bodohnya, berlari-lari menuju posisi berdiri Han Eng dan Coa Leng In.
“Dari mana kamu Han Long?”, kata Han Eng kemudian.
“Oh, tadi aku ke belakang bagian kebun Manor dulu melihat seekor burung kecil yang menarik dan berusaha untuk menangkapnya, tapi burung itu dapat menghindari sergapan ku, malah aku sempat terjatuh sehingga pakaianku kotor, jadi sebelum aku kemari, harus berganti pakaian dulu”, kata Han Long beralasan tentang kedatangannya.
“Tapi aku sudah berteriak memanggil namamu, dan kurasa teriakkanku pasti terdengar sampai ke bagian belakang kebun Manor”, kata Han Eng dengar tatapan menyelidik.
“Aku mendengar teriakanmu, tapi aku malu menghampirimu karena pakaianku kotor, dan pasti senior Eng akan menertawakanku” Kata Han Long dengan wajah tersipu.
Kelompok Ras Iblis melihat dengan jijik terhadap Han Long, bagi mereka Han Long dalam melewati ujian pada Pagoda 9 lantai dan berhasil ke lantai 4 adalah karena pertolongan kedua anak perempuan itu.
Apalagi bagi Coa Kun, karena salah satu penolong Han Long adalah Coa Leng In adiknya, ada rasa cemburu dan iri hati, kenapa Coa Leng In tidak bersama dirinya dalam bertarung dengan sekelompok binatang buas dalam setiap lantai, mungkin dia dapat menembus minimal lantai 6 jika seandainya Coa Leng In bersamanya, bahkan menembus lantai ke-7.
Percakapan mereka tidak berlangsung lama karena terdengar suara dari penatua Kong Beng, yang memerintahkan setiap kelompok peserta ujian ketiga untuk bersiap.
Seperti biasa sebanyak 50 orang anak usia 9 - 15 tahun, berkumpul menjadi satu kelompok dan kelompok lainnya yaitu kelompok pemuda yang tersisa sekitar 30 orang saja untuk mengikuti ujian terakhir dari Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Ujian kali Ini adalah setiap peserta akan memasuki sebuah ruangan, dan nanti dihadapan mereka akan ditampilkan beberapa lukisan dan mereka berusaha menemukan beberapa objek yang sudah tercantum pada daftar pertanyaan yang sudah mereka pegang.
Minimal mereka harus menemukan 20 objek dari 30 Objek yang terdapat pada lukisan yang ditampilkan.
Ujian ini terlihat mudah tetapi sebenarnya ini adalah berbicara fokus, persepsi dan bakat kultivasi seseorang, karena lukisan yang ditampilkan bukan sembarang gambar, namun ada unsur magis dan antara gambar lukisan berikutnya mengandung tekanan yang semakin kuat.
Dengan demikian akan diketahui tingkat bakat dan tingkat kultivasi seseorang untuk mencapai ketinggian kultivasi yang akan dicapainya.
Sementara pada kelompok umur 16 - 20 tahun ujiannya berbeda, dimana masing-masing peserta akan saling berhadapan untuk bertarung, dan masing-masing mereka harus menghadapi 15 pertarungan di antara mereka, dengan demikian seseorang yang dapat memenangkan minimal 12 pertandingan akan dianggap lulus.
Kelompok junior 9 -15 tahun memasuki sebuah ruangan dimana masing-masing dari mereka tiba di ruangan secara terpisah-pisah dan dihadapan mereka muncul sebuah lukisan pegunungan dengan ada bangunan yang terletak ditengah lukisan besar itu.
Apa yang kemudian terjadi adalah adanya tekanan yang melanda mereka masing masing sehingga terasa pernafasan mereka terganggu dan tatapan mereka lama-kelamaan berubah menjadi buram, semakin lama mereka menatap untuk mencari objek yang sudah ditentukan, perasaan tercekik semakin kuat, maka jika objek belum ditemukan secara sempurna dari jumlah yang dikehendaki, tekanan itu semakin mencekam bahkan dapat menimbulkan kematian dengan pernafasan yang terhenti.
Semua anak langsung mengerahkan energi kultivasi yang sudah dilatih dan dikuasai oleh masing-masing anak.
Coa Leng In, Han Eng., Coa Kun dan Han Long dengan mudah melewati gambar pertama, karena mereka sudah menemukan setiap objek yang diwajibkan, hal berbeda melanda Tang Yan, Cui Man Ek, dan Meng Li, mereka sedikit terganggu baru melihat lukisan pertama. Apalagi bagi Cui Hok dan anak -anak lainnya yang baru berkultivasi Tingkat Kekuatan Tubuh ke-7, mereka hampir kehabisan nafas dalam menemukan objek yang dimaksud namun mereka berhasil juga setelah beberapa lama.
Sebanyak 20 anak keluar dari tempat ujian, ada diantara mereka yang berdarah di wajahnya, mereka gagal pada lukisan pertama.
Memasuki lukisan kedua, tekanan semakin kuat dibandingkan dengan lukisan pertama.
Ada sebanyak 10 orang anak berturut-turut, yang gagal menemukan semua objek yang sudah ditentukan, wajah mereka terlihat pucat tidak berdarah.
Semua itu berlangsung beberapa waktu, dan Cui Hok pun muncul dengan beberapa anak dari klan Han, klan Tang, Klan Cui, Klan Coa, dan Klan Meng, mereka adalah sisa yang ambil bagian dari ujian ketiga ini. Terlihat bahwa beberapa anak yang tidak sadarkan diri ditolong oleh beberapa rekannya.
“Cui Hok, sebenarnya apa yang terdapat di dalam ruang ujian itu?”, Tanya Kepala Klan Cui Tong.
“Maaf Kepala Klan aku gagal, lukisan yang kulihat seperti gambar-gambar iblis, aku hanya dapat menemukan 12 objek saja, mungkin Kakak Man Ek dapat menyelesaikan dan menemukan 20 objek”, kata Cui Hok dengan wajah pucat dan lesu.
“Apakah demikian berat ujian ini?, ada apa dengan lukisan itu???”, ucap Cui Tong bergumam seperti kepada dirinya sendiri.
“Apa kau pikir ujian dari Sekolah Beladiri Samudera Naga adalah ujian biasa-biasa saja!”, kata Siu Nie Ay, Diaken Luar Sekte Samudera Naga.
“Maaf Tetua Siu Nie Ay, bukan itu maksudku” jawab Cui Tong Ketakutan.
Walau bagaimana Tingkat Kultivasi Siu Nie Ay di atas kultivasi para kepala Klan di Kota Yang In.
“Kami hanya mencari yang paling berbakat, dan belum tentu anak-anak dari kota Yang In ini dapat diterima di Sekolah Beladiri Samudera Naga, ini hanya ujian Pra Seleksi dan belum merupakan ujian sesungguhnya dari Sekolah Beladiri Samudera Naga. Mereka yang berhasil lolos akan mengikuti ujian yang sesungguhnya dan berhadapan dengan anak-anak jenius dari wilayah lain”, kata Siu Nie lebih menjelaskan.
“Kami mengerti Tetua” Jawab Coa King Hun, sebagai pemimpin kota Yang In.
Beberapa waktu kemudian muncullah, Tang Yan, diikuti oleh Cui Man Ek dan Meng Li. walau wajah mereka terlihat pucat namun ada senyum diwajah mereka, sambil berjalan menghampiri Tetua Siu Nie Ay dan menyerahkan lembaran ujian mereka, yaitu hasil penemuan objek yang berhasil ditemukan.
Wajah Siu Nie Ay tidak menunjukan reaksi apapun, namun sekilas ada kilatan mata yang merendahkan. Meng Li berhasil menemukan 23 objek, Cui Man Ek menemukan 24 Objek dan Tang Yan berhasil menemukan 22 Objek, tidak berselang lama muncul Han Long, wajahnya menampakan pucat berlebih dan mata membelalak.
Dia menyerahkan lembaran Ujian itu dan ada tanda 20 objek pada lembaran tersebut.
Seringai Siu Nie makin nampak, merendahkan kualitas Han Long.
Beberapa jam kemudian Han Eng dan Coa Leng In keluar dan senyum berkembang pada wajah Han Eng, bersama Coa Leng In menyerahkan lembar ujian Itu kepada Siu Nie Ay.
Ada perubahan wajah pada Siu Nie Ay menatap lembaran ujian Han Eng dan Coa Leng In, pada keduanya menandai lembar yang bertanda 30 titik, dengan demikian baik Han Eng maupun Coa Leng In berhasil sempurna menemukan 30 Objek yang tersembunyi di masing-masing lukisan.
Dan Muncullah Coa Kun dengan wajah cerah berlari mendapati Siu Nie Ay.
Lembar Coa Kun penuh dengan coretan yang menandakan bahwa dia menduga setiap objek, namun setelah di lihat oleh Siu Nie Ay terdapat 28 titik objek yang benar.
Sebenarnya tugas Siu Nie Ay adalah mendeteksi dan mencari anak jenius yang berhasil melompat-lompat sampai ke lantai 9 ujian Pagoda Teleportasi kemarin, dari peserta ujian ketiga ini, dia malah makin bingung, karena anak yang sudah dia deteksi sebelumnya tidak menunjukkan keistimewaannya malah hampir gagal dalam menemukan syarat objek sebanyak 20 itu, dia mencurigai 3 orang anak yaitu, Meng Li, Cui Man Ek dan Cui Hok, bahkan Cui Hok malah gagal.
Sekiranya kecurigaan itu akhirnya pada Meng Li dan Cui Man Ek, kenapa mereka tampak biasa saja, malah bersusah payah dalam ujian ini, karena bobot ujian ini walau bobotnya lebih berat namun sekelas anak yang sudah melewati lantai ke-9 Pagoda Teleportasi seharusnya menemukan 30 objek dalam beberapa lukisan adalah lebih mudah.
Bagi Han Long untuk mengatasi ujian hari ini sebenarnya dapat dilalui tidak membutuhkan waktu lama, dia sudah menemukan 30 objek itu hanya dalam setengah dupa terbakar, dengan persepsi dan pandangannya dalam menilai sesuatu sudah pada tingkatan luar biasa, belum lagi setelah tubuhnya berasimilasi dengan ‘Buah Darah Naga’.
Namun Han Long tetap patuh dan taat pada nasehat ibunya untuk menyembunyikan kekuatannya.
Dengan asimilasi ‘Buah Darah Naga’ tingkat kultivasinya seperti akan menerobos seperti menembus kertas tipis pada Kultivasi ‘Imajinasi Roh’.
“Kalian 7 orang anak, Coa Leng In, Coa Kun, Han Eng, Ciu Man Ek, Meng Li, Tang Yan dan Han Long dalam enam bulan ke depan persiapkan diri kalian untuk bersiap berangkat ke ibukota Chong Yang untuk mengikuti ujian sebenarnya Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga, Ingat kalian pada saat itu masing-masing harus mencapai tingkat kultivasi Kekuatan Jiwa ke-1, karena calon murid wilayah lain, yang berhasil masuk minimal adalah Kekuatan Jiwa tahap ke-1. Tingkatkan kultivasi kalian jika ingin menjadi murid Sekolah Beladiri Samudera Naga”. kata Siu Nie Ay memberikan pengumuman.
Banyak telinga yang mendengar pengumuman itu, bermacam-macam reaksi timbul, tapi yang lebih disorot adalah disebutnya nama Han Long, karena Han Long tidak memiliki tingkat kultivasi apapun, bagaimana dia akan mengejar kultivasi sampai tingkat Kekuatan Jiwa Tahap Pertama.
Terutama Ciu Hok dan anak-anak Ras Iblis lainnya yang cemburu mendengar itu, mereka saja sudah mencapai minimal Kekuatan Tubuh ke-7, bagaimana mungkin dalam waktu 6 bulan harus menembus Kekuatan Jiwa ke-1.
“Hei bocah Ras Manusia, apakah kau yakin dapat mengejar kultivasi yang disyaratkan oleh Sekolah Beladiri Samudera Naga itu?”, tanya Ciu Hok dengan nyinyir dan senyum mengejek pada Han Long.
“Oh, aku akan meminta senior Eng nanti membantuku berlatih”’ jawab Han Long dengan polos.
“Apakah kau akan berlindung di balik anak perempuan klan Han mu?”, Tanya yang lainnya.
“Apa maksud kalian?” yang menghadapi malah Coa Leng In, melihat hal ini, anak-anak lain yang sudah menyiapkan kata-kata olokan langsung mengkerut dan terdiam.
“Ha ha ha…, Leng in er, ayah merasa bahagia,
klan kami berhasil mengantarkan 2 orang anggota”,
suara tawa yang menggelegar terdengar, Coa King Hun tersenyum bahagia,
kedua anak kandungnya berhasil mengangkat nama klannya.
“Ayah, kapan ayah akan berkunjung ke tempat ibu?”, Coa Leng In malah memberikan pertanyaan pada Coa King Hun.
“Ayah akan datang, tapi bukan sekarang, ayah akan menyiapkan waktunya”, jawab Coa King Hun dengan senyum menggantung.
“Kalau begitu terserah ayah, saudari Han Eng dan Han Long aku pulang duluan”, kata Coa Leng In berikutnya setelah memberikan reaksi pada ayahnya, lalu dia pergi.
Hasil Pra Seleksi Sekolah Beladiri Samudera Naga telah ditentukan, sebanyak 7 orang anak usia 9 -15 tahun dan hanya 6 orang kelompok pemuda pemudi kelompok 16-20 tahun, dinyatakan berhak mengikuti ujian sebenarnya di Ibukota Chong Yang,
Klan Han berhasil membawa 2 orang anak yaitu Han Eng dan Han Long serta 2 orang pemuda kelompok 16 - 20 tahun. ini adalah prestasi Klan Han yang merupakan Ras Manusia, dimana hal ini merupakan tamparan di wajah Ras Iblis dimana Klan Coa hanya mengantarkan Coa Kun dan Coa Leng In tanpa menyertakan kelompok pemuda 16 - 20 tahun, sementara klan Meng, Klan Ciu dan Klan Tang, masing-masing hanya meloloskan 1 orang kandidat di kelompok umur 9 -15 tahun dan 16- 20 tahun.
Dengan hasil ini maka Klan Han secara umum berhasil mengubah prediksi atau anggapan bahwa Ras Manusia itu lemah.