Benua Chong Yang adalah benua yang sangat kecil dibandingkan dengan delapan benua lainnya di Dunia Sembilan Benua, namun kini benua itu menjadi perhatian seluruh dunia karena dari benua kecil ini telah lahir tiga orang kultivator yang mencengangkan dunia beladiri, karena ketiganya mencapai tingkat kultivasi tertinggi dunia ini.
Di sebuah dusun terpencil sebelah utara Kota Yang In ada sebuah dusun yang bernama Dusun Angin Hutan atau Lin Feng Cun, yang dihuni oleh beberapa kepala keluarga yang jumlahnya puluhan, ada sepasang Ibu dan anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun, dan ibu ini berusia sekitar 30 tahunan, namun usia sebenarnya dari wanita ini susah ditebak karena dia terlihat sederhana dengan pakaian yang sering digunakan oleh para penduduk rata-rata, dengan bahan kain yang kasar.
Ibu ini dikenal dengan sebutan Bibi Eng oleh penduduk setempat, orangnya pendiam dan sering menghindari pertemuan warga penduduk, dia lebih sering mengurung di rumahnya yang dibangun secara sederhana, maka penduduk setempat lebih mengenal anak lelaki ini yang dikenal bernama Cun Ek.
Ada yang spesial pada tubuh anak ini, dimana sebagian kulit lehernya tidak halus seperti kebanyakan anak-anak ras manusia lainnya, ada semacam sisik seperti ular di sekitar lehernya berwarna kemerahan, sekalipun wajah anak ini terlihat tampan namun karena kulit lehernya bersisik maka ketampanannya tertutup oleh cacat yang sedikit itu.
Anak ini sering menjadi bulan-bulan anak-anak sebayanya, namun disikapi oleh Cun Ek dengan tenang tanpa harus merasa terprovokasi.
Kalau penduduk setempat ini mengetahui jati diri asli dari pasangan ibu dan putranya, mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk sekedar mengganggu pasangan ibu dan putranya ini, karena mereka adalah Mo Eng dan Han Cun Ek, dimana Mo Eng sendiri sudah mencapai tingkat kultivasi Raja Dewa ke-3 Puncak, sedangkan Han Cun Ek sendiri adalah seorang anak yang memiliki tingkat kultivasi Manusia Dewa ke-4 Puncak.
Mo Eng sekarang memiliki sifat yang berbeda dari yang dulu dia miliki, penampilannya lebih lembut, dia sudah menyadari bahwa ambisinya akan kekuatan, berakhir dengan omong kosong, suami yang benar-benar dia cintai akhirnya mati dengan sia-sia, sedangkan putra sebelumnya yang diyakini memiliki tingkat kultivasi tertinggi juga berakhir dengan kematian, tragisnya, sang putra tewas oleh adik tirinya sendiri yang sangat membencinya karena dendam akibat membunuh ayah kandung mereka karena desakan situasi dan kondisi.
Mo Eng tidak dapat menyalahkan siapapun, benar apa yang dikatakan oleh mendiang suaminya yang kedua, untuk tidak melakukan pembalasan, dan putranya yang sekarang, Cun Ek, lebih condong pada sifat klan keluarga Han, yang lebih tenang dalam menilai suatu keadaan atau peristiwa.
“Putraku, bagaimana situasi diluar, apakah kau merasa terganggu?”, tanya Mo Eng pada putranya.
“Ibu, tidak ada yang khusus terjadi padaku, mereka hanya manusia biasa, dan sebagian ras iblis yang suka mengejekku, mereka hanya anak-anak yang kurang pengetahuan, jika aku harus meladeni mereka maka aku merendahkan diriku sendiri”, jawab Cun Ek.
“Nak, dalam hidup ini sudah ibu rasakan apa arti kemewahan dan kekuasaan, namun semuanya adalah omong kosong belaka, sudah beruntung kita berdua masih diberi kesempatan dalam menikmati kehidupan sederhana ini, sehingga kita kembali belajar apa arti hidup kita, satu hal yang harus kau ingat bahwa kekuatan yang kita miliki tidak akan pernah menjamin kesempurnaan dalam hidup ini”, kata Mo Eng.
Cun Ek mengerutkan keningnya, karena apa yang dibicarakan oleh ibunya terlalu berat untuk dipahami,
“Ibu aku malah pusing mendengar ucapan ibu, aku malah semakin tidak mengerti”, kata Cun Ek menatap pada wajah cantik ibunya.
“Memang aku hanya asal bicara, maafkan ibu nak, namun ada saatnya kau akan mengerti, sekarang yang harus kau jalani adalah bertindak wajar jangan kau tunjukkan kekuatan kultivasi mu, itu akan memancing keberadaan yang lebih kuat dari kita berdua, ingat apa kata mendiang ayahmu, belajar dalam hidup ini tidak akan pernah berakhir”, kata Mo Eng.
Sesaat keduanya terdiam, baik Mo Eng maupun Cun Ek bergelut dengan pikirannya sendiri, terutama Mo Eng yang selama ini banyak merenung akan segala kejadian yang pernah dialami, kini dia hanya berdua saja dengan putranya dari mendiang Han Ek, dan sang putra ini pun tidak dapat menggunakan nama klan Han karena perbuatan dirinya diwaktu yang lalu sehingga menyebabkan dirinya dikucilkan, juga dia tidak bisa berterus terang menggunakan klan Mo, karena setelah peristiwa beberapa tahun lalu, klan keluarga Mo di kota raja Chong Yang dengan resmi mencoret namanya.
“Putraku, kudengar bahwa Sekte Samudera Naga akan menerima siswa di Sekolah Beladiri Samudera Naga, baik bagimu untuk mengikuti ajang seperti itu, agar dirimu tidak terkurung di tempat seperti ini dan membatasi pencapaianmu, jangan kau gunakan marga Mo atau marga Han, kamu harus berusaha mencapai cita-citamu melalui usaha sendiri”, kata Mo Eng kembali.
“Sebenarnya aku sudah mendengar berita itu, namun aku ragu untuk mengikutinya, bagaimana dengan ibu?”, tanya balik Cun Ek.
“Ibu akan pergi meninggalkan dusun ini, ibu ingin merantau dan menambah pengetahuan ibu tentang berbagai tempat di seluruh Dunia Sembilan Benua ini, itu bukan berarti ibu mengabaikan mu namun ibu bermaksud kau tumbuh dengan kehendakmu sendiri, nanti pada suatu saat kita akan saling bertemu kembali’, kata Mo Eng.
Bagi seorang kultivator setingkat Mo Eng yang sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-3 Puncak adalah wajar meninggalkan seorang anak sepuluh tahunan yang memiliki tingkat kultivasi Manusia Suci ke-5 di benua ini untuk menentukan langkahnya sendiri, dimana rata-rata pada tingkat ini, dimiliki oleh para tetua klan bergengsi.
Jika dia harus selalu mendampingi putranya justru akan memancing kultivator lain yang lebih kuat dari mereka dan akhirnya nyawa mereka berdua terancam.
“Baik ibu aku mengerti akan maksud ibu, apakah tidak sebaiknya kita menentukan bahwa dalam sepuluh tahun kita akan bertemu kembali di tempat ini’, tanggap Cun Ek memberi usul pada ibunya.
“Sepertinya itu hal yang baik, dalam sepuluh tahun ke depan ita akan berkumpul di dusun ini kembali, namun acara perekrutan siwa Sekte Samudera Naga akan berlangsung sekitar tahun depan, sebaiknya kau persiapkan segala sesuatunya, ingat jangan kau tunjukkan kekuatan kultivasi aslimu, kalau berjodoh kau akan mendapat Teknik beladiri tingkat tinggi, karena kalau dalam hal peningkatan kekuatan kultivasi, ibu tidak perlu mengkhawatirkan dirimu, karena dalam darahmu mengalir darah klan Han yang memiliki kekhususan dalam peningkatan kekuatan Kultivasi”, kata Mo Eng memberi pesan pada putranya dengan menekankan akan pentingnya sebagai keturunan asli klan Han, yang hanya sedikit orang tahu.
Apa yang dipesankan oleh Mo Eng pada putranya adalah benar, Han Ek walau bagaimana adalah keturunan Klan Han yang memiliki sejarah unik berkaitan dengan konstitusi darah klan Han Yang diturunkan melalui leluhur klan Han yang bernama Han Cui Eng, dimana keistimewaan darah yang dimilikinya adalah dapat menyerap energi dunia sehingga meningkatkan kekuatan kultivasi yang dimilikinya.
Dulu hal ini menimpa Han Long dengan keistimewaan miliknya, namun Han Long sempat mengeluh bahwa ini adalah kutukan yang harus dihadapinya sehingga dia harus keluar dari Benua dimana dia dilahirkan, karena bukan hanya darahnya yang unik namun konstitusi tubuhnya memang memiliki keistimewaan yang melebihi tingkat para leluhurnya sendiri.
Ada sebuah benua di dunia Sembilan Benua yang tidak bisa sembarang orang dapat masuk, Benua ini terkenal dengan nama sederhana, Benua Ketiga.
Namun kesederhanaan nama benua ini berbanding terbalik dengan pengaruh yang dimilikinya, karena penghuni benua ini memiliki rata-rata tingkat kultivasi yang sangat mencengangkan, tingkat kultivasi Raja Dewa di benua lain dapat dihitung dengan jari, tetapi di Benua ini yang terdiri dari 42 provinsi, hampir sebagian besar memiliki tingkat kultivasi Raja Dewa, belum lagi berbicara di pusat pemerintahan Benua yang dikenal dengan nama Istana Inti Es, dimana pelayan terendah yang menjadi pekerja di istana ini serendah-rendahnya adalah Raja Dewa ke-3 Awal.
Penduduk Benua Ketiga hanya tahu bahwa Maha Ratu Bu Ling Moy adalah penguasa Benua Ketiga yang memiliki tingkat kultivasi Kaisar Dewa Sempurna yang Lengkap dimana tingkat ini saja sudah jauh dari kebanyakan orang-orang yang menjadi warga Benua Ketiga.
Dulu leluhur Kui Lok Mo dan Leluhur Thian Han Ong sudah menguasai Dunia Sembilan Benua ini dengan tingkat kultivasi Kaisar Dewa Sempurna, namun yang dimiliki oleh Bu Ling Moy adalah Tingkat Kaisar Dewa Sempurna yang Lengkap, artinya tingkat yang jauh lebih tinggi lagi, belum lagi pasangan kultivasi Penguasa Benua Ketiga yang sangat misterius dan jarang tampil di muka umum, para penduduk ini hanya tahu bahwa ada seorang anak lelaki sepuluh tahunan yang bernama Wi Liong atau dipanggil Liong saja, sebagai Pangeran Istana Inti Es yang merupakan anak kandung dari Maha Ratu Bu Ling Moy dan pasangannya yang misterius itu.
Di dalam Istana Inti Es, pada sebuah taman, dimana di tengah taman itu ada telaga, dan ditengah-tengah telaga itu terhampar sebuah batu giok berwarna putih bersih berdiri tiga sosok tubuh, dimana salah satu sosok itu milik seorang anak lelaki sepuluh tahunan,
“Liong, ayah memberikan Teknik beladiri Kategori Mustahil kelas sempurna ini dengan satu tujuan agar tingkat kultivasimu dapat diperkuat”, kata pria muda yang tinggi dan tampan. Dia adalah diri sejati Han Long bersama istrinya Bu Ling Moy yang sangat cantik, bagai peri kayangan.
“Liong er, ibu pun bermaksud memberimu teknik terkuat yang ibu miliki, dari ayahmu sendiri teknik itu sudah sangat kuat, namun mengapa engkau terlihat tidak semangat mempelajarinya”, kata Bu Ling Moy menatap wajah anaknya.
“Ibu, ayah, apakah dengan menjadi kuat adalah tujuan hidup kita di dunia ini?, ayah katakan bahwa teknik yang diberikan padaku adalah Teknik Beladiri Kategori Mustahil kelas Sempurna, menurut ayah dan ibu apakah masih bisa dikatakan mustahil dan sempurna sebuah teknik beladiri jika tidak ditemukan kelemahannya?, tapi aku melihat bahwa teknik yang ayah berikan masih banyak kelemahannya”, kata Han Wi Liong pada ayah dan ibunya dengan menatap polos pada kedua orang tuanya.
Baik Han Long maupun Bu Ling Moy terkejut mendengar perkataan yang dikatakan oleh putra mereka, Teknik yang diberikan Han Long pada Wi Liong putranya adalah Teknik miliknya yang merupakan gabungan empat Teknik Kategori Dewa kelas Sempurna yaitu Teknik Sembilan Tubuh Bintang sebagai dasar kekuatan, lalu ada Teknik Jiwa yang disebut sebagai Teknik Jiwa Terpecah Melumat Angkasa, Teknik Langkah Ajaib Melingkar Nirwana yang memiliki kecepatan sebagai dasar gerakan, lalu dilengkapi daya serang yang sangat tinggi dari Teknik Tinju Langit dan Badai Mengamuk.
Dengan menggabungkan ke empat teknik tersebut lahirlah sebuah Teknik Beladiri yang masuk dalam Kategori Mustahil kelas Sempurna, Bahkan Han Long mengalahkan Bu Ling Moy yang dulu masih memiliki tingkat kultivasi di atasnya sampai menyerah, sekarang di hadapan putra mereka yang baru berumur sepuluh tahun, dapat menilai teknik miliknya masih memiliki kelemahan, ada apa dengan anak mereka?
“Liong er, apakah kau maksudkan bahwa teknik ayah dapat kau tunjukkan kelemahannya?”, tanya Han Long pada putranya.
“Benar ayah, akan kutunjukkan kelemahan itu, ayah akan melakukan gerakan teknik itu namun ayah jangan gunakan kekuatan kultivasi, maka aku akan dengan mudah mengalahkan ayah”, kata Wi Liong dengan serius dan dia pun langsung berdiri berhadapan dengan ayahnya.
Bu Ling Moy menyingkir dari tempat itu, dirinya melayang tinggi di udara dan menatap tajam kearah putra dan suaminya, Han Long pun bersiap, dia tidak mengerahkan kekuatan kultivasinya, dia bersiap dan menyerang putranya sendiri dengan kecepatan luar biasa serta gerakan aneh dan mustahil ditunjukkan di depan putra mereka.
Wi Liong menatap pada gerakan ayahnya, dia pun merasakan deru angin yang menerpa tubuh kecilnya, namun anehnya, tubuh Wi Liong dapat memutar sedemikian rupa, saat tangan Han Long terangkat sedikit hendak menjangkau tubuh putranya, Wi Liong berteriak,
“Ayah, pertahanan di rusuk kanan ayah terbuka, Hyaaattttt….!!!”, teriak Wi Liong dan
Dug…!!!
Tangan kecil Wi Liong mengenai rusuk kanan Han Long, gerakan Wi Liong sangat sederhana namun langsung kena pada sasarannya secara reflek, tanpa gerakan yang istimewa atau meliuk-liuk, dan tenaga yang dikeluarkan oleh Wi Liong terasa lembut di badan Han Long, namun itu sudah cukup memberikan gambaran tentang kelemahan gerakan Han Long pada putranya.
Han Long sangat terkejut dengan apa yang dilihat dan dirasakannya, gerakan ini adalah pembukaan jurus yang sempat membuat Bu Ling Moy kewalahan, namun rasa terkejut itu segera berubah, karena Han Long ingin menguji sejauh mana putranya mengenal jurus yang dimilikinya ini, yang sebetulnya tadi hendak diajarkan pada putranya.
Han Long merubah gerakannya, kini dia bergerak lebih cepat dari sebelumnya dan tenaganya juga ditambah, maka berkelebatanlah tubuh Han Long mengelilingi tubuh kecil Wi Liong, namun dengan sigap tubuh kecil Wi Liong seperti terhempas mengikuti deru angin yang melanda dirinya akibat gempuran yang dilakukan ayahnya, terlihat disini gerakan Wi Liong selalu terhindar dari benturan yang dikerahkan akibat energi dari Teknik Beladiri Han Long.
Berulang kali terdengar suara lembut, beberapa pukulan kecil dari tangan Wi Liong yang mengenai anggota tubuh Han Long, yang semuanya mengarah pada sisi kosong yang tidak terlindungi dari dampak sebuah gerakan tangan dan kaki Han Long sendiri dalam pengerahan gerakan Teknik yang dimilikinya.
“Ayah cukup!!!, aku kelelahan, nafasku habis”, teriak Wi Liong pada Han Long.
Han Long menghentikan gerakannya, keningnya berkerut semakin dalam dan matanya menatap wajah anaknya dengan pandangan takjub.
“Nak, apakah sebelumnya pernah kau melihat Teknik ini dalam hidupmu?”, tanya Han Long pada Wi Liong dengan wajah penasaran.
“Ayah aku baru mendengar teknikmu ketika engkau menerangkan secara teori dan semua itu tergambar dengan jelas dalam benakku, bahkan aku menemukan kelemahan setiap teknik yang kau buat”, jawab Wi Liong dengan nafas terengah-engah dan mata polos pada ayahnya.
Bu Ling Moy yang mendengar percakapan suami dan putranya, melayang turun menghampiri keduanya,
“Apa yang dimaksud oleh putra kita, suamiku?”, tanya Bu Ling Moy, dikeningnya yang mulus putih nampak sedikit berkerut, dia tadi melihat penampilan putranya yang melawan suaminya dengan sangat cepat tapi putranya dapat menghindari seluruh serangan yang ditujukan pada tubuh Wi Liong, namun putranya dapat menghindari dengan cara aneh seperti sehelai bulu yang melayang-layang di hembus angin, bahkan tangan kecil putranya dapat menyentuh tubuh suaminya, sekalipun gerakan itu pelan saja tapi itu sudah membuktikan bahwa gerakan apapun dari suaminya tidak dapat melukai tubuh putranya, hanya karena tingkat kultivasi putranya jauh dibawah kekuatan suaminya maka pukulan dari putranya tidak berarti apa-apa.
“Ibu, aku tadi hampir celaka oleh ayah, gerakan ayah terlalu kuat, padahal tadi perjanjiannya ayah jangan mengeluarkan energi kultivasinya, untung saja aku berteriak pada ayah untuk menghentikannya”, Protes Wi Liong mengadu pada ibunya, dan berlari pada pelukan tubuh ibunya, Han Long hanya dapat tersenyum kecut dan matanya berkedip-kedip pada Bu Ling Moy yang menangkap sinyal itu dengan senyum tipis.
“Nak, ayahmu hanya menguji saja, namun engkau menunjukkan keistimewaanmu yang sangat luar biasa bagi kami berdua, apakah kau ingin agar ibumu menghukum ayahmu?”, tanya balik Bu Ling Moy dengan sinar mata menunjukkan kelembutan seorang ibu, Wi Liong hanya menyeringai lucu dan matanya berputar mendelik pada ayahnya.
“Hi hi hi…, ayah, apa jadinya jika aku menuntutmu untuk dihukum oleh ibu?, tapi aku sayang ayah juga, sekarang aku akan kembali ke tempatku menemui bibi Giok Eng”, kata Wi Liong, sambil tubuhnya melepaskan diri dari rangkulan tangan ibunya dan beranjak pergi dengan melompati telaga dan segera dirinya menghilang dari tempat itu.
Han Long dan Bu Ling Moy menatap kepergian putra mereka, keduanya terheran-heran,
“Aku tidak menyangka persepsi jiwa putraku jauh melampauiku, padahal dia baru pada tingkat Manusia Dewa ke-3 Awal, apa jadinya jika dia mencapai tingkat kultivasi seperti kita?”, kata Han Long pada Bu Ling Moy yang juga sedang menatap pada dirinya.
“Sebaiknya kita memberikan teknik terkuat yang kita miliki, tapi apakah itu masih berguna?, karena aku pernah mendengar bahwa putra kita sangat tidak peduli dengan kekuatan apalagi kalau sudah berbicara tentang teknik Kultivasi, dan terbukti bahwa Teknik Beladiri milikmu, dengan mudah dapat diketahui kelemahannya, anak apa yang kumiliki ini?”, kata Bu Ling Moy pada Diri Sejati Han Long, suaminya.