Di salah satu jajaran komplek Istana Inti Es, terdapat sebuah bangunan yang kecil namun terlihat istimewa karena bangunan ini adalah salah satu bangunan terlengkap, penghuni bangunan ini hanya terdiri dari tiga orang saja yaitu Han Wi Liong dan dua pelayannya yang sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-8 Puncak bernama Giok Eng dan Cang Min.
“Bibi, aku datang”, Han Wi Liong saat memasuki istananya, maka muncullah dua pelayan dari Han Wi Liong, pasangan pria dan wanita ini terlihat berumur sekitar empat puluhan padahal usia mereka sudah mencapai ratusan tahun, baik Cang Min maupun Giok Eng adalah para pelayan yang direkrut langsung oleh Bu Ling Moy untuk menjadi murid langsung, selain tiga murid tertua yang ditempatkan di luar Benua Ketiga.
“Ha ha ha…, Pangeran kecil, apakah kau menerima Teknik dari ayahmu?”, kata Cang Min dengan tersenyum lebar menghampiri Wi Liong.
“Teknik apa maksud paman?, aku sudah mempelajarinya, dan satu hal paman, jangan memanggilku dengan sebutan pangeran, aku tidak suka mendengarnya, panggil saja Liong”, kata Wi Liong dengan mata polosnya menatap Cang Min.
“Apakah Pangeran tidak menghendaki kemuliaan sebagai keturunan langsung dari Maha Ratu Penguasa Benua Ketiga?”, tanya Giok Eng tersenyum menggoda, dia mengenal betul sosok bocah lelaki ini dari sejak bayi merah, sudah beberapa tahun ini, Wi Liong tidak suka dipanggil pangeran walaupun gelar ini menempel dengan sendirinya karena dia adalah putra satu-satunya dari Penguasa Benua Ketiga, bahkan Penguasa Dunia Sembilan Benua ini, bersama dengan suaminya siapa lagi yang akan menjadi saingan pasangan kultivasi seperti mereka berdua ini.
“Bibi, paman, jangan dibahas lagi, aku bosan mendengar sebutan itu, aku ingin dianggap sebagai manusia biasa saja, karena dengan gelar yang disematkan dibelakang namaku, seluruh penduduk benua ini bertindak tidak wajar dihadapanku, belum apa-apa mereka sudah menunduk seperti aku ini seekor binatang buas yang akan menerkam diri mereka, belum lagi mereka berbicara sangat hati-hati kepadaku, padahal aku tidak mau diperlakukan seperti itu, dan sekarang paman dan bibi malah menambahkan pada hal-hal yang justru tidak aku sukai, suatu hari aku akan meminta ijin orang tuaku untuk berpetualang sendirian atau aku akan pergi mengunjungi nenek Thian Sian Li”, kata Han Wi Liong sambil wajahnya menatap tidak puas pada para pengasuhnya.
Kalau sudah demikian maka Cang Min dan Giok Eng hanya dapat menghela nafas panjang, mereka memahami karakter asli bocah lelaki ini yang memang berbeda sejak lahir, dalam usia tiga tahun Han Wi Liong sudah mencapai Tingkat Manusia Dewa dengan sendirinya, juga Teknik Beladiri yang ada pada dirinya dimana tidak seorangpun yang mengajarkannya tapi dia dapat dijadikan latih tanding dengan mereka berdua dan dengan tepat dia akan mengkritik setiap teknik yang mereka latih berdua dan menunjukkan kelemahan dari Teknik Beladiri yang mereka miliki, dengan catatan mereka tidak menggunakan energi kultivasi yang mereka miliki ketika menghadapi bocah ini.
Percakapan diantara ketiga orang ini sebenarnya terpantau oleh Han Long dan Bu Ling Moy, mereka mendengar apa yang diucapkan oleh putra mereka,
“Istriku, aku punya pikiran agar anak kita sebaiknya bersama ibu di Danau Merah Misterius, karena hanya beliau yang dapat memahami konstitusi setiap tubuh kultivator, ibuku memiliki keistimewaannya sendiri, dan itu pernah kualami, karena perjuangan ibu Thian Sian Li aku dapat bertahan hingga saat ini”, kata Han Long pada Bu Ling Moy.
Bu Ling Moy menatap suaminya, ada rasa cemas tergambar di wajah cantiknya,
“Jika putra kita pergi dari Istana ini, betapa sepinya tempat ini, keceriaan istana ini akan hilang”, kata Bu Ling Moy sedikit memprotes pendapat suaminya.
“Ha ha ha…, istriku apakah kau lupa tingkat kultivasi apa yang kita miliki?, kita berdua dapat pergi kemanapun yang kita suka, jika kita merindukan putra kita, kita dapat mengunjunginya secara langsung dan tidak ada seorangpun yang mampu mencegah kita”, kata Han Long tertawa terbahak-bahak menertawakan pendapat istrinya.
Mendengar ucapan suaminya, Bu Ling Moy baru sadar bahwa dia bukan sekedar seorang ibu, tapi seorang kultivator tingkat tinggi yang dapat dengan mudah menemukan putranya dimanapun sang putra itu berada selama masih berada di Dunia Sembilan Benua, dengan persepsi jiwa yang dimiliki oleh mereka berdua.
“Oh ya, dan juga ibu mertua Thian Sian Li mendapatkan kawan untuk menemaninya dalam kesehariannya, juga putra kita tidak merasa tertekan dengan melihat kehadiran orang tuanya setiap saat, dan biarkan dia merasa bebas berbuat tapi kita tetap dapat mengawasinya”, kata Bu Ling Moy yang akhirnya tersenyum.
“Aku juga penasaran bakat apa yang dimiliki oleh putraku sehingga dia tanpa berlatih sebuah teknik beladiri kategori yang sangat sederhana tapi dia dengan mudah menemukan kelemahan setiap teknik beladiri yang ada, aku mendengar bahwa para pelayan kita tidak ada satupun yang pernah mengalahkan teknik yang dimiliki oleh putra kita, dengan catatan mereka tidak menggunakan energi kultivasi mereka”, kata Han Long lagi.
“Kalau begitu, besok kita minta pendapat anak kita, maukah dia menemani neneknya di Danau Merah Misterius?”, kata Bu Ling Moy pada suaminya.
Dengan persetujuan dari istrinya, Bu Ling Moy, maka Han Long pun mengajak istrinya memasuki ruang kultivasi yang mereka miliki, dan pada keesokan harinya, Han Wi Liong dipanggil menghadap pada orang tuanya,
“Long er. ibu dan ayah memanggilmu dengan sebuah maksud, apakah kau tidak merasa betah tinggal di Istana Inti Es ini?”, kata Bu Ling Moy membuka percakapan.
“Apa maksud ibu, aku merasa suka di Istana ini, walaupun aku memang dilanda kebosanan juga, karena ketika aku keluar dari istana ini, mereka memperlakukan aku seperti bukan terhadap manusia”, kata Han Wi Liong terus terang pada ibunya.
“Apa maksudmu?”, tanya Han Long, sekalipun dia sudah tahu jawaban dari putranya itu,
“Ah ayah, jangan dibahas lagi, aku tahu ayah sudah mendengar jawabanku kemarin ketika aku berbicara pada bibi Giok Eng dan paman Cang Min”, jawaban ini sangat mengejutkan Han Long dan Bu Ling Moy, ternyata putra mereka memiliki tingkat persepsi jiwa yang jauh di atas yang mereka bayangkan, sejak kapan anaknya dapat memantau persepsi jiwa yang dapat mendeteksi tingkat kultivasi seperti mereka berdua, Puncak Kultivatior Dunia.
”Nak, apakah kau dapat memantau persepsi jiwa dari seorang kultivator yang berusaha memindai?”, tanya Bu Ling Moy.
Han Wi Liong menganggukkan kepalanya, matanya menatap dengan polos pada kedua orang tuanya.
”Sekalipun orang itu adalah kultivator yang lebih tinggi tingkatnya darimu?”, tanya Han Long seperti tidak yakin.
”Ayah apakah tingkat kultivasi seseorang menentukan kekuatan energi seorang kultivator?, jika demikian mengapa aku melihat bahwa terhadap bibi Giok Eng dan ayah, tidak melihat keistimewaan itu, aku dengan mudah melihat bahwa jika aku memberi petunjuk pada bibi Giok Eng tentang teknik Beladiri miliknya, maka aku dapat menjamin bahwa ayah dapat dikalahkan oleh bibi Giok Eng”, jawab Han Wi Liong dengan polos.
”Apakah maksudmu bahwa kamu dapat mengalahkan ayahmu dengan menggunakan bibi Giok Eng sebagai lawan terlepas dari tingkat kultivasinya?”, kejar Bu Ling Moy semakin penasaran.
”Tidak juga demikian ibu, asal ayah mau menurunkan energi kultivasi miliknya dan melawan bibi Giok sedikit lebih tinggi darinya, maka aku jamin ayah akan dikalahkan oleh bibi Giok”, jelas Han Wi Liong.
”Hmmm…, aku penasaran, nak beri petunjuk pada ibumu tentang teknik yang kemarin, dan biarkan ibumu melawanku, bagaimana?”, tantang Han Long sambil tersenyum dan bermain mata dengan istrinya Bu Ling Moy.
”Baiklah, aku akan memberi petunjuk pada ibu, bagaimana mengalahkan ayah, aku perlu dua jam agar ibu melatih teknik baru itu”, kata Han Wi Liong menatap kedua orang tuanya dengan serius.
”Baiklah aku akan langsung ke telaga Batu Inti Es, aku akan menunggu disana”, kata Han Long.
Kini Han Wi Liong mendekati telinga ibunya, dia berbisik dan di bantu dengan persepsi jiwanya, dia melakukan kontak jiwa pada ibunya dan memberi petunjuk lisan pada ibunya, dengan cepat Bu Ling Moy menangkap informasi tentang Teknik Beladiri dari putranya, raut wajah Bu Ling Moy seringkali tercengang dan matanya melotot mendengar informasi dari anaknya cara untuk mengalahkan suaminya sendiri, lalu berganti dengan senyum cerah dan lebar dengan memperlihatkan sederet gigi putih kecil-kecil yang menambah kecantikan wanita transenden itu.
Dua jam berlalu, Bu Ling Moy dan Han Wi Liong menyusul ke arah telaga Inti Es, dimana Han Long sedang menunggunya.
Terlihat Han Long, berdiri dengan tenang, Bu Ling Moy menghampiri Han Long dengan cara melompati telaga dan mendarat di sebuah batu yang cukup lebar dimana Han Long sudah menunggunya.
”Sayang kau akan terkejut nanti, aku akan mengalahkanmu”, kata Bu Ling Moy pada Han Long.
”Ha ha ha…, berbicara itu mudah, tapi melaksanakan itu yang susah, bersiaplah!”, kata Han Long pada istrinya.
Tidak butuh persiapan lama bagi keduanya sehingga meletuslah energi kekuatan dari teknik yang dimiliki oleh mereka berdua, keduanya sepakat tidak menggunakan energi kultivasi, karena akan mengakibatkan kerusakan yang parah bagi tempat mereka sendiri.
Dua bayangan tubuh melesat bersamaan, keduanya adalah puncak Kultivator dunia, dan Han Long adalah yang tertinggi dibandingkan dengan Bu Ling Moy istrinya, namun setelah Bu Ling Moy menggerakkan kedua tangan dan kakinya dengan gerakan aneh dan selalu mengarah pada titik Lemah pada tubuh Han Long, terlihatlah kini, bahwa kelebihan yang sebelumnya dimiliki Han Long tidak berarti, malah terlihatlah bahwa Han Long bergerak mundur menghindari terjangan yang dilakukan oleh Bu Ling Moy yang memiliki gerakan aneh dan tidak terduga dan selalu bergerak pada titik lemah pada tubuh Han Long.
”Cukup !…,aku menyerah”, kata Han Long pada istrinya, terlihat wajah Han Long yang selama ini selalu terlihat tenang, kini pucat seperti menderita tekanan yang menghimpit dadanya.
Bu Ling Moy melompat mundur, senyum lebar menghiasi wajah cantiknya,
”Kenapa suamiku?, kau selalu pantang menyerah, apakah aku terlalu kuat?”, kata Bu Ling Moy sambil berlenggang genit, menghampiri suaminya dengan senyum menggoda, ada butiran keringat yang nampak di kening halusnya.
Sedangkan Han Wi Liong terlihat acuh saja dan tidak memperhatikan perdebatan di antara kedua orang tuanya, dia seperti sudah menduga bahwa ayahnya akan kewalahan menghadapi teknik yang ditunjukkan oleh ibunya.
”Sudahlah istriku aku kalah”, kata Han Long lagi sambil merangkul pinggang Bu Ling Moy yang ramping, dan mengecup kening istrinya yang berkeringat.
”Jadi ayah bagaimana?”, tanya Han Wi Liong.
Kedua orang tuanya lalu melompat meninggalkan altar Batu Giok Inti Es, mereka berdua sepakat memeluk putra mereka, Han Long langsung melemparkan tubuh kecil Han Wi Liong ke udara,
”Ha ha ha…, aku senang memiliki dirimu sebagai putraku ha ha ha…!!!” kata Han Long yang terus menerus melemparkan tubuh Han Wi Liong ke udara, sedangkan Han Wi Liong dengan lincah mengembangkan kedua tangannya seperti bermain ayunan di udara dan ikut tertawa, sedangkan Bu Ling Moy tersenyum sangat lebar melihat suami dan putranya bercanda seperti itu.
Saat ketiganya memasuki ruang dalam Istana Inti Es, tempat kediaman Bu Ling Moy dan Han Long,
”Apakah kau setuju untuk mengunjungi nenekmu di Benua Chong Yang?”, tanya Han Long pada putranya Han Wi Liong.
Dengan mata berbinar Han Wi Liong, menganggukan kepalanya berulang kali,
”Aku rindu nenek cantik, aku rindu nenek Thian, kapan aku pergi ayah, ibu?”, tanya Han Wi Liong dengan nada cepat.
”Sabar…, anakku kau harus mempersiapkan segalanya, nenekmu harus dibawakan hadiah, masa kau datang dengan tangan kosong?”, kata Bu Ling Moy.
”Ayah, ibu, bolehkah aku membuat permintaan sekali ini saja?”, tanya Han Wi Liong dengan hati-hati.
”Apa permintaanmu?, sebutkan saja!” kata Han Long pada putranya.
”Saat aku bersama nenek, aku ingin mengalami petualangan seperti yang ayah ceritakan padaku, aku dapat bergerak dengan leluasa tanpa ayah dan ibu atau anggota Istana Inti Es mengikuti atau mengawasi ku selalu, dan satu hal lagi, aku tidak mau diketahui jati diriku, aku ingin mengalami hidup sebagai manusia biasa bukan sebagai seorang kultivator”, kata Han Wi Liong.
Han Long dan Bu Ling Moy mengerutkan kening kembali, mereka paham apa yang dimaksud putra mereka, karena itu yang sering diungkapkan oleh putra mereka, sejak berusia enam tahunan, bahwa putra mereka tidak suka akan kekuatan kultivasi, apa arti kuat kalau tidak pernah merasakan penderitaan dan kesulitan dalam hidup? Sebuah pertanyaan yang sepantasnya dilontarkan oleh seorang yang mengarahkan dirinya pada sekte agama tertentu, bukan seorang anak berusia enam tahunan.
”Selama itu tidak mengancam jiwamu, kamu bebas berbuat, sebagai orang tua, kami ingin yang terbaik bagi pertumbuhan dirimu, apa yang kau anggap baik silahkan kau buat, tapi ingat jangan pernah menyakiti seseorang yang jauh lebih lemah darimu, kecuali orang tersebut terlalu jahat untuk mencelakai hidupmu atau hidup orang lain, apalagi orang terdekatmu”, jawab Han Long menyetujui permintaan putranya, Han Wi Liong tersenyum dan memeluk tubuh orang tuanya dengan gembira dan penuh semangat.
Setelah semua persiapan selesai, beberapa hari kemudian ada tiga sinar yang keluar dari Istana Inti Es, ketiga cahaya ini melesat menembus angkasa lalu menghilang.
Danau Merah Misterius adalah sebuah tempat yang tidak sembarangan orang boleh datang, konon di tempat ini selain dijaga oleh ribuan binatang buas dan mistik, ada seorang tokoh yang menjaga tempat tersebut.
Sosok ini adalah seorang wanita yang sangat cantik, orang luar yang pernah melihat sosok ini seringkali sudah ketakutan karena wajah wanita ini bagaikan sosok yang kabur dan dapat muncul dimanapun dalam sekejap, maka orang-orang yang pernah berhadapan dengan sosok ini mengatakan bahwa dia adalah Dewi Danau Merah.
Setiap orang yang pernah melihat sosok ini akan dibuat lumpuh seketika, seluruh badan mereka atau seseorang tidak dapat bergerak dan mereka akan sembuh jika mereka dapat keluar dari Hutan Kabut Putih.
Tiga buah sinar mendarat di pinggir danau, tiga sosok tubuh muncul, mereka adalah Han Long bersama istri dan putranya Han Wi Liong.
”Ibu aku berkunjung”, kata Han Long.
”Nenek cantik, aku A Liong”, kata Han Wi Liong dengan wajah gembira, dia sudah merindukan nenek dari ayahnya ini.
”Putraku, menantu dan cucuku, masuk saja, aku ada di dasar danau”, kata sebuah suara merdu, yang bersuara dari arah segala tempat.
Han Long tahu tempat kediaman ibunya itu, dia memberi isyarat pada anak dan istrinya, lalu tiga sosok itu menghilang dari pinggir danau.
Thian Sian Li berada di tengah-tengah ruang independen di dasar Danau Merah Misterius, sebuah Ruangan yang sangat luas terdiri dari beberapa bagian, dan Thian Sian Li berada pada bagian ruang tanpa Gravitasi, tubuhnya melayang seperti tanpa beban, gaun merah yang dikenakannya berkibar dengan lembut, ada mahkota kecil yang menghiasi rambutnya yang hitam legam, kini usia Thian Sian Li sudah 50 tahunan, namun usia itu tidak mempengaruhi penampilannya, dia bagai seorang gadis 20 tahunan yang cantik.
Tingkat kultivasi miliknya adalah Kaisar Suci Sempurna.
”Nenek aku merindukanmu!”, kata Han Wi Liong setelah berada di ruang independen dasar Danau Merah Misterius, sebuah ruang yang ditemukan oleh Han Long dan Thian Sian Li ketika mereka berdua menyempurnakan Inti Energi Merah Murni peninggalan Leluhur Han Cui Eng.
Pada ruangan inti atau yang terletak ditengah-tengah ruangan adalah ruang tanpa gravitasi, namun bila ditelusuri seluruh ruangan di tempat itu, maka di bagian pinggir ruangan tersebut justru memiliki gaya gravitasi dua kali dari dunia luar bahkan di bagian sudut tertentu dekat sumber air jernih, ada sebuah ruangan khusus, karena di ruangan ini mencapai tiga kali lipat gaya gravitasi dari dunia luar, dan tempat itu pernah dijadikan tempat latihan oleh Han Long ketika dia menyempurnakan Teknik Beladiri Langkah Ajaib Melingkar Nirwana.
Seluruh ruangan independen yang ajaib ini sekarang dihuni oleh Thian Sian Li, dan ruangan ini dipenuhi formasi pembatas yang dibuat oleh Thian Sian Li dan Han Long menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi, dimana formasi ini hanya Thian Sian Li serta Han Long yang tahu cara mengoperasikannya.
”Cucuku, apakah kau menepati janjimu?”, tanya Thian Sian Li.
”Benar nenek, sebenarnya aku sudah memohon berulang kali, tapi baru sekarang ayah dan ibu mengizinkannya”, jawab Han Wi Liong dengan mata polos menatap pada neneknya.
”Hi hi hi…, akhirnya nenek dapat teman”, kata Thian Sian Li.
”Ibu mertua, kami suami istri ingin menitipkan putra kami, kuharap ibu tidak keberatan”, kata Bu Ling Moy.
”Keberatan apa? Kalian sungguh lucu, berbasa-basi padaku, justru aku berharap cucuku selalu bersamaku”, jawab Thian Sian Li sambil melayang turun menghampiri cucunya dan memeluk tubuh Han Wi Liong dengan erat dan penuh kasih sayang, sedangkan Han Long dan Bu Ling Moy hanya bisa tersenyum masam, terutama Han Long yang menyadari bahwa ibunya sangat kesepian di tempat seperti ini setelah menolak bersatu dengan ayahnya, Han Chen Yang.