Seorang bocah sebelas tahunan berjalan menyusuri sebuah jalan raya di Kotaraja Chong Yang, pakaian yang dikenakannya sangat sederhana berwarna abu-abu yang sedikit lusuh, wajah anak ini sebenarnya cukup bersih dan tampan namun ada cacat di sekitar lehernya seperti sebuah tato sisik ular, dia adalah Han Cun Ek, namun sekarang dia menyebut dirinya Cun Ek.
Cun Ek berjalan sendiri tanpa disertai oleh ibunya, dia berani melakukan tindakan tersebut selain tingkat kultivasi yang dimilikinya pada tingkat Manusia Dewa ke-4 yang jarang dimiliki oleh anak-anak sesuainya, bahkan di Benua Chong Yang para petinggi Sekte Samudera Naga hanya memiliki kultivasi Manusia Suci yang jauh di bawah Cun Ek, dia juga memiliki kepercayaan diri karena rasa penasaran seorang anak untuk berpetualang.
Melihat seorang anak sederhana yang berjalan seorang diri, sebetulnya biasa saja di Kotaraja Chong Yang ini, namun cacat pada lehernya menarik perhatian sekelompok anak-anak yang berpakaian lebih baik, sepintas mereka semua adalah anak-anak bangsawan.
”Hei lihat anak itu! Apakah dia juga ingin ikut seleksi penerimaan murid Sekolah Beladiri Samudera Naga?” kata salah satu anak dalam kelompok tersebut.
”Sepertinya dia memiliki kemampuan, hati-hati mendekati anak seperti itu, dilihat dari tampilannya dia seperti dari Ras Iblis, hanya saja telinganya tidak meruncing ke atas seperti saudara Meng atau saudara Cui, tapi ada yang aneh pada lehernya”, kata yang lain.
Mereka adalah sekelompok anak remaja dari kota Yang In, seperti biasa mereka adalah sekelompok anak remaja yang sudah melalui Pra Seleksi di Kota Yang In.
”Dari kota mana dia berasal?, kalau tidak melalui ujian Pra seleksi, apakah dia diizinkan mengikuti ajang di Sekolah ini?”, kata yang lainnya.
”Kakak Han Sie, apakah kau mengenal anak itu?” tanya yang lain pada seorang anak gadis dua belas tahunan, yang terlihat lebih tenang.
”Apa maksudmu Cui Meng?, apakah semua orang harus aku kenal?, ini kotaraja, sekalipun klan ku banyak dikenal orang bukan berarti aku harus mengenal mereka?”, kata Han Sie yang merupakan keturunan Klan Han dari Kota Yang In.
”Jangan marah kakak cantik, aku hanya sekedar bertanya, karena sekarang klan Han adalah klan terkemuka bukan hanya di kota Yang In, bahkan hampir seluruh benua tahu bahwa klan keluargamu menghasilkan kultivator tingkat tinggi yang menguasai dunia ini, kami yang satu kota denganmu ikut bangga”, kata Cui Meng berusaha meredakan emosi gadis remaja itu.
”Untung kau berkata demikian, memang klan Han sekarang tidak bisa dianggap sepele lagi, apalagi bagi kalian ras iblis”, kata Han Sie.
”Saudari Han Sie jangan lupa, Ras Iblis juga ada yang menjadi pasangan dari klan Han mu, klan Coa buktinya”, kata salah satu anak dalam kelompok itu yang merupakan anak tertua berusia lima belas tahunan.
”Saudara Tang Lie, aku mengakui bahwa seorang wanita yang sangat mulia lahir dari klan keluarga Coa, tapi dari klan tersebut muncul juga kultivator yang sangat memalukan bahkan ibu dan putranya bukan?”, kata Han Sie.
”Apakah begitu? Jangan kau lupa salah satu anggota klan Han yang kau banggakan, bernama Han Ek malah membunuh Kepala Klan Han mu sendiri” jawab anak remaja yang bernama Tang Lie.
”Tapi itu dilakukan atas ancaman dari wanita iblis klan Coa, yang bernama Mo Eng!”, jawab Han Sie tidak mau kalah.
Percakapan itu didengar oleh Cun Ek, dia sudah tahu peristiwa itu dari ibunya, itu pula yang mengakibatkan dia dan ibunya merasa malu kembali ke klan Coa di kota Yang In, bahkan klan ibunya sendiri yang merupakan bangsawan menengah di Kotaraja Chong Yang menolak mengakui diri dan ibunya sebagai keturunan klan Mo, selain takut pembalasan dari klan Han dan banyak klan keluarga lainnya, tapi Benua Thian Agung akan dengan mudah menyapu Klan Mo di kotaraja ini.
Kalau dipikirkan kembali, ibunya adalah satu-satunya kultivator tertinggi di klan Mo maupun klan Coa dengan Tingkat Raja Dewa ke-3 Puncak, bahkan dapat dianggap sebagai Penguasa Benua Chong Yang ini, namun Benua Chong Yang sekarang berbeda dengan kondisi dahulu, banyak kultivator Raja Dewa yang akan melindungi Benua kecil ini.
Bahkan salah satu petinggi klan Han yang dijadikan penasehat Raja Duan, Raja kerajaan Chong Yang, yang bernama Han Wo adalah ipar Raja dan memiliki kedudukan sebagai Penasehat Tertinggi Raja, yang memiliki tingkat Raja Dewa ke-4 Lanjutan.
Cun Ek menarik nafas panjang, itu adalah masa lalu, dia ada di dunia ini bukan karena keinginannya, tapi dia harus hidup menjalaninya, kalau dia harus bertanggung jawab atas masalah masa lalu, apa hubungannya dengan hidup yang harus dia jalani?, nasehat dari ibunya selalu terngiang di kepalanya, dia tidak perlu memikirkan apa yang sudah terjadi, karena mereka yang melakukannya telah tiada, dia dan ibunya saat ini harus hidup sulit dan melupakan apa yang sudah terjadi.
Cun Ek berjalan menjauhi kelompok anak yang masih berdebat dalam percakapan mereka.
Ada pasangan wanita setengah tua dan seorang anak berusia sebelas tahunan yang memperhatikan percakapan kelompok anak-anak Kota Yang In ini, mereka pun berpenampilan sederhana, bahkan seperti seorang nenek petani dan cucunya, karena di punggung mereka ada barang-barang hasil pertanian yang hendak mereka jual di pasar.
Nenek Sian berkata,
”Aliong cucuku, ayo kita ke pasar!” kata nenek Sian pada Aliong.
”Baik nek, aku bawa sekalian punya nenek”, kata Aliong.
”Cucu yang baik, nenek memang sudah lelah”, kata nenek Sian.
Mereka Pun berlalu dari tempat itu, namun tiba-tiba dari arah berlawanan muncul rombongan pasukan yang mengawal sebuah kereta besar, dimana pasukan tersebut masing-masing mengendarai kuda kilin angin yang cukup besar dimana ukuran hewan itu tiga kali lebih besar dari kuda normal, berlari dengan cepat ke arah nenek Sian dan Aliong.
”Awas, minggir…!!!”, teriak prajurit pengawal tersebut.
Betapa terkejutnya Aliong melihat neneknya akan dilanggar oleh salah seekor hewan besar tunggangan salah satu prajurit pengawal tersebut, dia hanya bisa membelalakan matanya,
”Awaaaass nenek!!!”, teriak Aliong pada neneknya.
Bugh….
Dess!!!
Bukan nenek Sian yang terpental tapi prajurit pengawal yang terhempas dari atas tunggangannya, sedangkan hewan itu terdiam dan hanya mengangkat dua kaki depannya sebagai respon terkejut, dan di depannya Cun Ek dengan tenang memegang kendali kekang hewan tersebut.
Seorang bocah sebelas tahunan berhasil menghentikan laju seekor hewan raksasa dibandingkan tubuh bocah lelaki itu, menarik perhatian orang-orang disekitarnya terutama pada pasukan yang menyertai kereta besar tersebut, serentak mereka menghentikan laju rombongan itu.
”Bocah sungguh keberanian yang bodoh, apakah nyawamu ada banyak?”, kata salah satu anggota pasukan itu yang merupakan kepala pengawal.
”Maaf, aku hanya menyelamatkan seorang wanita tua dari cedera yang bisa merenggut nyawa”, kata Cun Ek dengan membungkukkan badannya tanda hormat.
”Kawan, aku mengucapkan terima kasih”, kata Aliong sambil dia menghampiri neneknya dan membungkuk terima kasih pada Cun Ek.
Kepala pengawal ini turun dari tunggangannya dan berjalan menuju Cun Ek, dia bermaksud menghardik Cun Ek, karena akibat perbuatannya, salah satu anggotanya terjatuh dan sedikit luka dengan bergesernya sendi pergelangan tangannya.
”Lancang, kau bocah kecil menghalangi tugas pengawal kerajaan Buana Nirwana, kau harus menerima hukuman! Pasukan tangkap bocah itu!” kata kepala pengawal itu sambil memerintahkan anggota lainnya untuk menangkap Cun Ek.
Tapi Cun Ek dengan tetap memegang kendali pada kuda kilin angin, matanya menatap dengan tajam pada Kepala Prajurit tersebut,
”Maaf pengawal, bukankah kalian yang salah?, ini jalan raya yang padat dengan orang berjalan dan kalian dengan seenaknya memacu tunggangan kalian dengan kecepatan seperti itu, apa artinya malah kalian hendak menangkapku?”, kata Cun Ek dengan nada masih tenang tapi wajah tidak senang.
”Hey, kau mau melakukan perlawanan terhadap kami, seorang bocah kecil berani kepada kami…”, kata-kata pengawal ini tidak berlanjut karena dari dalam kereta terdengar suara orang tua yang menghentikannya,
”Pengawal hentikan!, berikan kompensasi pada wanita itu, kita yang ceroboh, sampaikan permintaan maaf kita”, kata suara seorang pria yang penuh wibawa.
Pengawal ini hanya menganga pada mulutnya,
”Baik Yang Mulia”, katanya sambil dia merogoh pada kantong langitnya dan memberikan sekantong koin pada nenek Sian, tidak lupa pengawal itu menundukkan kepala dan mengucapkan kata ‘maaf’, dan rombongan itu pun melanjutkan perjalanannya, namun sekarang dengan perlahan.
Peristiwa itu berlalu dengan cepat, nenek Sian menghampiri Cun Ek,
”Nak, maukah kau ikut dengan kami nanti kita makan bersama dengan kami, dan uang ini sebaiknya kita bagi dua karena uang ini terlalu banyak bagi kami, dan nenek pikir kau pun membutuhkannya”, kata nenek Sian.
”Terima kasih nek, aku akan ikut makan karena perutku lapar juga, tapi uang itu sebaiknya nenek simpan, aku tidak memerlukannya”, kata Cun Ek.
Aliong yang memperhatikan Cun Ek berkata pada neneknya,
”Nek, mungkin dia menghendaki seluruh koin itu, berikan saja, kita sudah memiliki bahan jualan kita, nanti kita juga dapat uang, selain itu dia yang berjasa menyelamatkan nenek”, katanya.
Nenek Sian pun dengan tersenyum menyetujui usulan cucunya, dia mengembalikan seluruh koin yang tadi hendak dibagi dua, dan selanjutnya dia menyerahkan seluruh koin pada Cun Ek.
Namun dengan tegas Cun Ek menolak pemberian itu, dia melirik pada Aliong dan tersenyum,
”Bagaimana dengan ini, aku hanya seorang diri tanpa kerabat dan keluarga, biarkan nenekmu juga menjadi nenekku, dan kita menjadi saudara, dengan demikian uang ini terserah nenek untuk digunakan, dan kuyakin pasti akan memenuhi keperluan kita semua, dan dengan senang hati aku akan menjadi cucu yang baik bagi nenek”, kata Cun Ek tersenyum dan terlihat di matanya ada harapan bahwa usul ini diterima oleh Aliong dan Nenek Sian.
Aliong tersenyum lebar dan tertawa,
”Nenek Sian, dia ingin menjadi cucumu, bagaimana menurut nenek, kalau aku senang saja karena ada saudara yang dapat berbagi beban dengan kesulitan kita”, katanya.
Nenek Sian hanya menganggukan kepala mendengar cucunya setuju,
”Jadi sekarang aku memiliki dua cucu lelaki sekaligus, he he he…, ayo kalian angkat sumpah”, katanya.
Mereka bertiga berlalu dari tempat tersebut untuk melakukan ritual pengangkatan sumpah.
Apa yang diperlihatkan di permukaan pada Cun Ek, Aliong dan Nenek Sian, tidak terlepas dari beberapa pasang mata dari beberapa orang termasuk pengawasan kelompok anak remaja dari kota Yang In, karena dengan mata mereka melihat kekuatan yang ditunjukkan oleh Cun Ek adalah kekuatan di atas mereka yang hanya memiliki tingkat kultivasi rata-rata Imajinasi Roh, ini pula yang diamati oleh seorang pria yang masih dalam kereta pengawalan yang mencegah pengawalnya menimbulkan masalah lain, dia sudah terkejut melihat seorang bocah lelaki yang dapat menghentikan laju seekor Kuda Kilin Angin dengan gerakan sederhana seperti yang dilakukan Cun Ek.
Pria dalam kereta itu adalah Bangsawan Kerajaan Buana Nirwana dari Benua Eng Hian, dia memiliki tingkat Manusia Suci ke-8 Puncak dan merupakan seorang Jenderal Besar di Kerajaannya, jika dia harus menghentikan laju hewan tadi, setidaknya dia akan terseret beberapa puluh meter, tapi yang dilakukan oleh Cun Ek yang tidak bergerak sedikitpun, menandakan kekuatan luar biasa pada anak itu, inilah yang menyebabkan dia menghentikan ucapan pengawalnya karena ditakutkan akan menimbulkan masalah lebih besar, minimal ada kekuatan lebih hebat dibelakang anak sebelas tahunan tersebut.
Pria setengah baya yang berada dalam kereta itu, memerintahkan para pengawalnya melanjutkan perjalanan, tempat yang dituju adalah sebuah komplek perumahan di sebuah sudut daerah Kotaraja yang bertuliskan Manor Buana Nirwana.
Setelah rombongan itu tiba, dari dalam kereta keluar seorang pria gagah yang masih tegap, dia memberi tanda pada ajudannya,
”Kumpulkan semua orang dan para pengawal pasukan, aku mau bicara pada mereka semua”, katanya
”Siap laksanakan Perwira Chin Chung!”, kata ajudan tersebut.
Maka diteriakan sebuah perintah ke seluruh penghuni Manor, baik anggota pasukan, para pelayan serta kaum bangsawan dari kerajaan Buana Nirwana, mereka berbaris dengan rapi dan tertib.
Di sebelah Perwira Chin Chung ada seorang gadis dua belas tahunan yang cantik dia disebut nona muda Chin Hong , putri perwira tersebut.
”Aku mengumpulkan kalian semua para penghuni Manor Kerajaan kita, dengan maksud, bahwa jangan ada diantara kita berbuat konyol di Kotaraja Chong Yang ini.
Perwira Tek dan para prajurit yang mengawalku tadi, semua maju dua langkah!!!”, kata Perwira Chin Chung, matanya menatap tajam pada barisan pengawal yang tadi mengawal keretanya memasuki Kotaraja Chong Yang.
Barisan pengawal ini berjalan dua langkah dengan tertib, raut wajah mereka merah dan menyadari bahwa mereka sudah melakukan tindakan yang salah,
”Apakah kalian tahu kesalahan kalian?”, tanya perwira Chin Chung, yang direspon dengan diam dari para pengawalnya.
”Baik aku mengerti, aku baru tiba dari ibukota kerajaan Buana Nirwana, kedatanganku hanya ingin agar putriku dapat lolos diterima sebagai salah satu siswa di Sekolah Beladiri Samudera Naga, artinya kalian yang sudah bertahun-tahun berada di Kotaraja ini, mengenal segala hal tentang Kerajaan ini”, kata Chin Chung, dia melihat bahwa semua orang di hadapannya menganggukkan kepala.
”Tapi rupanya pengetahuan kalian tidak kalian gunakan, kalian malah terlihat tolol dan bodoh dengan mengandalkan kekuatan yang kalian miliki di Benua ini yang justru di dunia ini, terkenal banyak naga tersembunyi dan harimau berjongkok yang melindungi Benua kecil ini, terutama Kerajaan Chong Yang dimana Manor kita berdiri”, kata Chin Chung dengan kening berkerut dan menatap tajam para pengawalnya tadi.
”Ayah jangan marah, mereka merasa bangga menjadi anggota pasukan kerajaan kita, tadi mereka terlalu semangat menyambut dan menjemput kedatangan ayah”, suara gadis remaja yang jernih, mengingatkan pada Chin Chung, suara itu milik Chin Hong putrinya.
”Baiklah, kalian semua ingat, anak kecil itu bukan lawan kalian dan aku pun bukan lawannya, dan sebagai pengingat kalian semua, kalian berdiri disini sampai aku menghentikannya, dan untuk yang lain, ingat kecerobohan hanya menghasilkan kehancuran kita sendiri, mungkin Kerajaan kita juga akan hancur”, kata Chin Chung.
Apa yang dikatakan oleh Perwira Chin Chung adalah sebuah peringatan bagi warga Kerajaan Buana Nirwana, apalagi keterangannya mengatakan bahwa anak kecil yang menghadang laju rombongan mereka bukan lawan perwira Chin Chung yang tingkat kultivasinya pada tingkat Manusia Suci ke-8 Puncak, sedangkan mereka hanya pada tingkat Insan Raja ke-2 hingga ke-5, jika demikian tingkat apa yang dimiliki anak sekecil itu?
Chin Hong mengikuti ayahnya yang memasuki ruang dalam Manor, dia tidak ikut menjemput kedatangan ayahnya, dia ingin tahu apa yang terjadi di perjalanan ayahnya tadi,
”Ayah apa yang terjadi?”, tanyanya.
”Putriku, ingatlah untuk berlaku cerdik di kota ini, aku berusaha mengontak kenalanku di Sekte Samudera Naga, agar kau bergabung di sekolah terbaik ini”, kata Chin Chung pada putrinya.
”Apakah tadi ayah menemui kejadian yang istimewa?”, tanya Chin Hong lagi.
”Seorang anak lelaki seusiamu, dengan tenang dapat menahan laju dari seekor kuda kilin angin, salah satu tunggangan pasukan ku tanpa tubuhnya terbanting, bagaimana menurutmu?, aku pun akan terhempas keluar, tapi anak itu malah mengendalikan hewan tersebut dan pengawalku yang terlempar keluar, tingkat kultivasi apa menurutmu?”, kata Chin Chung lagi sambil menatap lembut putrinya, berusaha memberi pengertian, bahwa kekuatan anak lelaki ini luar biasa.
Chin Hong membelalakan matanya, kalau bukan ayahnya yang mengatakan langsung pada dirinya, mungkin ini berita bohong belaka.
Selanjutnya, Chin Chung mengajak putrinya memasuki ruangan lebih dalam Manor tersebut, dengan nasehat agar dirinya harus tekun berkultivasi, agar layak diterima di sekolah Beladiri Samudera Naga dengan pantas sekalipun lewat salah satu kenalannya yang merupakan seorang Penatua Luar di Sekte Samudera Naga.