Nenek Sian dan Aliong membawa Cun Ek ke pasar, kini mereka bertiga terlihat dalam aktivitas berjualan hasil tani dari Nenek Sian.
Cun Ek terlihat gembira dan senang karena aktivitas ini adalah hal baru, selama ini yang diketahuinya hanya kultivasi untuk menjadi kuat, bersama dengan keluarga angkatnya, dia merasakan kehidupan manusia yang sebenarnya.
Nenek Sian dan Aliong pun bersikap biasa-biasa saja pada Cun Ek, padahal tindakan penyelamatan yang dilakukan Cun Ek pada nenek Sian sebelumnya menjadi perhatian bagi para kultivator sekitarnya, bagi mereka keluarga petani yang tidak mengerti apa itu kultivasi, yang mereka pahami adalah bekerja mengeluarkan keringat dari tubuh mereka dan menghasilkan uang agar hidup mereka dapat bertahan di dunia ini.
”Liong, apakah kehidupanmu selalu seperti ini?”, tanya Cun Ek pada Aliong.
”Ya, memang apalagi yang harus kami lakukan? Aku dan nenek harus bertahan dan mengolah tanah milik kami untuk menghasilkan sejumlah uang agar kami dapat makan”, kata Aliong dengan mata polosnya.
”Cucu-cucuku, ayo kita pergi ke kedai makan, barang dagangan kita sudah habis, apakah kalian tidak lapar?”, tanya nenek Sian kepada dua bocah lelaki yang mendampinginya.
”Aku sangat lapar nek, entah dengan Cun Ek?”, kata Aliong wajahnya pucat menahan lapar.
”Oh, aku juga lapar”, kata Cun Ek, karena baru sekarang dia ingin merasakan apa itu lapar akan makanan jasmani, dari kecil hanya air susu dari ibunya yang pernah masuk kedalam tubuhnya selebihnya adalah tumbuh-tumbuhan dan buah-buah roh yang ditujukan untuk penguatan tubuh kedagingannya serta peningkatan energi Kultivasi, selebihnya adalah latihan kultivasi dan berlatih teknik beladiri, sehingga dia tidak pernah merasakan apa itu lapar.
Dari Aliong, dia tahu beberapa jenis masakan yang menimbulkan air liur Aliong berdecak dengan gaya yang menggoda saat dia bercerita tentang kelezatan setiap masakan, dan Cun Ek pun tergoda akan rasa itu.
Ketiganya membereskan perlengkapan yang mereka bawa, setelah itu ketiganya pergi mencari kedai makanan terbaik di daerah itu.
Rumah Makan Selera Raja terdiri dari dua lantai saja, dan seperti biasa lantai dua hanya diperuntukkan oleh mereka yang memiliki status bangsawan.
Nenek Sian memilih sebuah meja di sebuah sudut pada lantai satu Rumah Makan Selera Raja, dengan semangat Aliong menyebutkan beberapa masakan favorit kesukaannya sedangkan Cun Ek dan nenek Sian menyerahkan semuanya pada Aliong.
Setelah menunggu beberapa saat, meja mereka dipenuhi oleh beberapa aneka masakan yang sangat menggoda selera bagi lidah Aliong, tanpa basa-basi Aliong hanya mengajak Cun Ek dan Nenek Sian sekedarnya, dia langsung mengambil makanan dan mencicipi seluruh masakan yang sudah terhidang.
Cun Ek melihat selera Aliong saudaranya, dia dengan tenang mengambil salah satu makanan,
”Hmmm…, mmmm…, lezat…, nikmat…, benar apa yang katakan Aliong, ini memang nikmaaattt…” katanya sambil memejamkan matanya, Cun Ek bereaksi dengan takjub, dan Nenek Sian melihat Cun Ek dengan senyum tipis.
Ketiganya makan dengan lahap tanpa memperdulikan sekitarnya, dan saat itu semua meja telah terisi penuh oleh para tamu dan pelanggan yang memang sudah waktunya untuk isi perut.
Bagi Cun Ek, yang selama hidupnya berkultivasi, menikmati makanan jasmani ini membuka wawasan baru, makanan yang dia rasakan tidak membangun kekuatan kultivasinya namun dengan makanan ini dia mengenal sebuah rasa yang pernah hilang dari hidupnya, yaitu selera.
Apa yang diperjuangkan oleh seorang kultivator sepanjang hidupnya adalah memupuk energi kekuatan, saat kekuatan sudah dimiliki, apalagi yang harus dilakukan?...., berdiam diri dan menunggu?..., lalu apa gunanya kekuatan itu?..., Untuk menindas yang lebih lemah dari dirinya, lalu setelah itu, apakah kekuatan yang dimiliki dapat memperoleh kesempurnaan hidup?
Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran bocah sebelas tahunan, Cun Ek.
Dari kecil dia hanya mengenal Mo Eng ibunya yang dulu selalu mengajarkan tentang pentingnya menjadi kuat dan selalu berkultivasi untuk selalu menjadi kuat, namun sekarang bocah Cun Ek mengenal dua orang yang sekarang menjadi keluarganya, dimana mereka tidak mengerti tentang kultivasi.
Hidup Aliong dan neneknya sangat sederhana, bekerja, makan, minum, menyapa sesama lalu beristirahat, mereka tidak peduli dengan kesempurnaan hidup melalui kultivasi.
Melalui Aliong, Cun Ek mendengar bahwa mereka pernah tidak makan dalam satu hari karena tidak ada hasil tani atau kebun mereka, yang dapat dijual dan tanah yang mereka miliki mengalami gagal panen, namun Aliong dan Nenek Sian tidak mengeluh akan hal tersebut, malah Nenek Sian pernah mengatakan bahwa dia merasakan kenikmatan tersendiri saat tubuhnya merasa lapar namun tidak ada makanan yang memasuki tubuhnya, apalagi rasa lapar itu dapat ditahan selama satu hari, jadi ketika ada makanan kecil yang dapat dimakan, betapa nikmatnya rasa yang berputar di mulutnya, dan terasa sangat nikmat perasaan itu.
Kalau sudah demikian, apa arti kesempurnaan hidup melalui kultivasi jika rasa nikmat dan perasaan luar biasa akan makanan tidak dia rasakan, Cun Ek dengan segera berebut makanan dengan Aliong yang kini menjadi saudaranya, keduanya seperti berlomba jangan sampai setiap masakan tidak mereka rasakan.
Melihat tingkah kedua cucunya, Nenek Sian hanya tersenyum lebar dan memperlihatkan giginya yang sudah tidak lengkap.
Apa yang dilakukan oleh Nenek dan dua cucunya menarik perhatian sebuah keluarga bangsawan di lantai dua.
Seorang pria tiga puluh tahunan dan seorang wanita yang memeluk seorang anak perempuan berumur delapan sembilan tahunan berada di lantai dua rumah makan tersebut, dan barisan pengawal menjaga pasangan suami istri bangsawan ini.
”Dinda Mei, aku melihat seorang anak yang memiliki keistimewaan di bawah sana, dia terlihat canggung menikmati setiap masakan, aku menduga anak itu adalah seorang kultivator tingkat tinggi”, kata Pria itu pada istrinya.
Sang wanita melirik pada meja yang ditempati oleh Nenek Sian dan dua cucunya,
”Kanda Jie memang tidak salah, anak itu adalah kultivator tingkat tinggi, kita harus waspada jangan sampai menyinggungnya”, kata istrinya, wanita ini berusaha melihat tingkat yang dimiliki oleh Cun Ek, namun tingkat Cun Ek tidak dapat dilihat melalui persepsi jiwanya.
”Ibu apa yang istimewa pada diri mereka?, mereka hanya anak lelaki biasa yang sedang kelaparan, lihat mereka berdua tidak sopan, sambil makan tapi mulut mereka tertawa-tawa, dan banyak sisa makanan yang berhamburan dari mulut keduanya, aku akan menegur mereka”, kata putri mereka yang melepaskan pelukannya dari tangan ibunya lalu bergerak menuruni tangga rumah makan itu dan sudah sampai pada meja Nenek Sian.
Pasangan suami istri bangsawan ini hanya melongo, mereka tidak menyangka bahwa putri mereka bereaksi demikian cepat, rupanya tingkah Aliong dan Cun Ek selama ini diperhatikan oleh anak perempuan mereka, dan ini sangat menjengkelkan hatinya, karena selera makannya jadi terganggu.
”Hey, apakah cara kalian makan seburuk ini?, selera makanku terganggu karena kalian makan dengan berisik”, kata anak perempuan itu begitu sampai di meja Aliong dan Cun Ek.
Aliong dan Cun Ek terkejut melihat anak perempuan yang menegur mereka berdua, keduanya saling melirik dengan sisa makanan masih di mulut mereka.
”Kehenehapha dihiya bihicahara sehefeherti ihituhu?, halihong apahkhaah khahau menguhundahangnya?
(Kenapa dia berbicara seperti itu?, Aliong apakah kau mengundangnya?)”,
kata Cun Ek, yang dibalas oleh gelengan kepala Aliong sambil mengerutkan keningnya, karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Cun Ek.
”Apa yang kau bicarakan, telan dulu sisa makananmu”, kata anak perempuan tersebut, wajahnya telah memerah menahan geram, melihat wajah Cun Ek dan mendengar ucapan kacau seperti itu.
Dengan cepat pasangan suami istri itu menyusul putri mereka, dengan hati-hati dia berucap,
”Nyonya, maafkan kelancangan putri kami”, kata pria itu setelah sampai di meja Nenek Sian, tubuhnya membungkuk pada nenek Sian, dia seorang bangsawan tapi dia tahu bagaimana harus bertindak di tempat keramaian.
”Ayah, apa yang ayah lakukan, mengapa harus menghormati mereka rakyat jelata seperti itu?”, kata anak perempuan tersebut.
”Sie er, diamlah!, hormati yang lebih senior”, kata istri pria itu yang dengan cepat mendampingi suaminya dan ikut membungkuk hormat pada Nenek Sian.
Nenek Sian dengan canggung dan takut langsung berlutut, dia terkejut menerima perlakuan istimewa dari pasangan bangsawan di tempat itu, dia tidak mengerti, matanya menatap dengan polos dan berkata,
”Tuan dan Nyonya, maafkan cucu-cucuku, kami yang salah karena mengganggu selera nona muda, kalian berdua berdiri dan bersujud pada tuan dan nyonya muda ini, sampaikan permintaan maaf kalian pada nona muda dan tuan sekarang”, kata nenek Sian pada Aliong dan Cun Ek, yang segera direspon oleh keduanya, mereka keluar dari tempat duduknya lalu bersujud memberi hormat pada keluarga bangsawan tersebut.
”Maafkan kami, karena kami tidak tahu sopan santun dalam menikmati makanan, kami memang tidak tahu”, kata keduanya.
Anak perempuan itu tersenyum puas, dia berdiri dengan anggun, tapi kedua orang tuanya tersenyum kecut dan wajahnya cemas.
Serombongan orang memasuki Rumah Makan itu, mereka rupanya satu kelompok,
”Paman Wang, Bibi Zhang dan adik Lin Sie, rupanya kalian disini, ada salam dari ayahanda raja dan ibu”, kata seorang anak remaja lelaki di dalam kelompok yang baru datang itu.
”keponakan Pangeran Chen Souw, apa kabar?” kata istri bangsawan tersebut dengan wajah ramah, karena dia mengenal anak remaja ini yang merupakan seorang pangeran dari kerajaan Dunia Biru di Benua Eng Hian.
Seorang remaja lelaki belasan tahun mendatangi pasangan suami istri bangsawan itu, dia melirik pada Nenek Sian, ada keagungan yang dipertahankan oleh anak remaja lelaki ini, wajahnya tampan dengan bentuk alisnya seperti golok lebar dan sorot mata yang bersinar tajam, di bibirnya ada seringai merendahkan orang lain, karena dia adalah calon Pangeran Mahkota dari Kerajaan Dunia Biru.
”Kalian berani bertingkah di depan keluarga pamanku, apakah kalian tidak tahu status paman dan bibiku?”, kata Pangeran Chen Souw menatap Cun Ek dan Aliong.
”Maaf pangeran kami yang rendah tidak tahu”, jawab nenek Sian semakin menundukkan wajahnya, tapi berbeda dengan mata dari Cun Ek, matanya berkilat dengan dingin, hawa membunuh pada tatapannya tertuju pada remaja lelaki di depannya, dan tatapan itu tertangkap oleh sang paman dan bibi yang dengan cermat mengawasi anak lelaki yang tadi sangat canggung menikmati makanannya.
”Keponakan Pangeran, sudah saja, memang putri kami yang salah”, kata sang paman, dia segera membaca situasi dengan cepat, ini Benua Chong Yang dan disini Kotaraja Chong Yang, banyak kekuatan yang tidak terduga bersembunyi disini.
”Paman dan bibi tidak perlu khawatir, aku adalah murid dari Sekte Samudra Naga, ayah dan Ibu memiliki kedekatan dengan petinggi Sekte, bahkan adikku sudah menjadi murid pribadi Leluhur Yap Kun Tek dan Leluhur Phang Cui Lin, dimana Leluhur Phang adalah salah satu Tetua tertinggi Sekte Samudera Naga, jadi tempat ini adalah rumahku yang kedua”, kata Pangeran Chen Souw dengan bangga.
Mendengar status yang dimiliki oleh sang Pangeran tersebut, Wang Lin Sie, anak perempuan yang tadi menegur Cun Ek terbelalak,
”Kakak Pangeran, keberuntungan apa yang kalian raih, terlebih saudari Chen Mey Wa menjadi murid pribadi leluhur Yap dan Leluhur Phang, seandainya saja aku memiliki hubungan dengan kultivator setingkat mereka, betapa senangnya diriku”, katanya.
”Adik Lin Sie, aku dapat membawamu langsung ke tempat para petinggi sekte Samudera Naga”, kata Pangeran Souw sambil mengangkat dadanya, ada kebanggaan pada dirinya, bahwa di tempat ini, dia memiliki pengaruh besar.
Mendengar ucapan pangeran remaja ini, Wang Lin Sie menatap pada ayah ibunya, seperti mohon izin, sedangkan Aliong dan Cun Ek, memainkan mata mereka berdua seperti tidak peduli apa yang menjadi topik di depan mereka, terutama Cun Ek, dia melihat ke arah meja makannya, masih ada sisa makanan yang berserakan diatas meja itu, keduanya tidak sabar, maka Cun Ek segera berdiri dari sujudnya dan kembali ke kursinya semula, dia tidak sabar dan jenuh karena dirinya sudah diabaikan, dengan tenang dia mengambil sisa makanan di piring nya dan memakannya, demikian juga Aliong mengikuti Cun Ek, dengan santai kembali ke tempat duduknya dan menghabiskan sisa makanan di meja itu.
Melihat reaksi dua bocah lelaki itu, seluruh pengawal yang dibawa oleh Pangeran Chen Souw dan pasangan suami istri bangsawan tersebut bertindak, dengan sigap mereka akan menarik dua bocah lelaki itu untuk tetap bersujud namun gerakan mereka semua terdiam kaku seketika dengan wajah memerah seperti akan meledak.
Hal ini tidak terlepas dari pengawasan pasangan pria dan wanita bangsawan tersebut, dia terkejut bahwa seluruh pengawalnya dan pengawal keponakannya seperti terkunci kekuatan kultivasinya, dia pun segera mengerahkan kekuatan energi kultivasinya sendiri, barulah dia menyadari adanya kekuatan energi yang sangat kuat menekan di ruangan itu.
Nenek Sian dengan tergopoh-gopoh ketakutan menghampiri pasangan suami istri bangsawan itu,
”Maaf tuan dan nyonya kami mau pamit, kedua cucuku sudah kenyang”, katanya sambil memberi tanda melalui matanya agar cucu-cucunya pergi beranjak, dia hanya berpikir jangan sampai muncul masalah lebih besar berurusan dengan keluarga bangsawan,apalagi dia melihat seorang anak remaja lain yang terlihat seperti bangsawan tinggi
”Tahan!!, tidak semudah itu”, kata Pangeran Chen Souw, matanya mendelik, dia belum tahu bahwa para pengawalnya sudah dikunci oleh Cun Ek, sekali Cun Ek menghendaki pembunuhan maka para pengawal yang dibawahnya akan mati seketika.
”Keponakan Pangeran sudahlah, Lin Sie!, minta maaf pada mereka cepat!”, kata pria bangsawan tersebut pada putrinya, wajah nya pucat dan cemas.
Wang Lin Sie tidak mengerti kenapa ayahnya berubah marah pada dirinya, namun dia melihat wajah ayahnya sangat cemas dan pucat demikian juga wajah ibunya, dari sorot mata ibunya dan gerakan kepala ibunya yang mengangguk-anggukan kepala pada dirinya, anak perempuan itu mengerti situasi, anak perempuan ini memiliki kecerdasan, dia segera bersujud pada nenek Sian dan cucu-cucunya, serta berulang kali mengeluarkan kata ‘maaf’.
”Eh apa yang kau lakukan?” kata Aliong dengan terkejut.
Cun Ek menepuk punggung Aliong dan berkata,
”Sekarang mereka tahu, mana anak kucing, mana harimau”, katanya sambil memegang tangan Nenek Sian di tangan kiri dan Aliong di tangan kanan dan beranjak pergi, namun sambil melangkah keluar dia berucap,
”Paman dan bibi, selamat tinggal”, kata Cun Ek dengan santai.
Mereka bertiga menghampiri pemilik Rumah Makan itu untuk menanyakan harga yang harus mereka bayar, dan Nenek Sian mengambil sekantong uang koin siap membayar, namun pemilik rumah makan itu dengan ketakutan menolak pembayaran tersebut, namun Nenek Sian meninggalkan beberapa koin emas.
Pasangan suami istri bangsawan ini adalah Wang Jie dan Zhang Mei dari Benua Khui Ning, bersama dengan orang tua pangeran Chen Souw yaitu Chen Ciao Pit dan Kam Lin pernah berpetualang dan mengenal Han Long, Han Eng dan Phang Cui Lin di Benua Eng Hian.
Wang Jie menikah dengan Zhang Mei dan memiliki seorang putri yang tadi berurusan dengan Cun Ek, keduanya pada tingkat Manusia Suci ke-4 dan ke-3, Wang Jie selalu waspada demikian juga dengan istrinya Zhang Mei, dia sudah menduga bahwa salah satu bocah yang tadi ditegur oleh putri Mereka memiliki tingkat kultivasi tingkat tinggi dan terbukti dugaannya benar.
Setelah Nenek Sian dan cucu-cucunya pergi, para pengawal di sekeliling mereka dapat menarik nafas panjang dan lega, Wang Jie menoleh pada putrinya dan berkata,
”Lin Sie putriku, sebaiknya kau lebih berhati-hati, Kotaraja Chong Yang bukan taman bermainmu, sekalipun kami pernah bergaul dengan Paman Han Long, tapi orang setingkat dia jauh dari imajinasi kita, dibandingkan keselamatan nyawa kita yang harus kita jaga setiap saat, dan Keponakan Pangeran kami akan kembali ke penginapan kami, berhati-hatilah, statusmu hebat tapi kekuatan milikmu tidak sebanding dengan statusmu”, kata Wang Jie memperingati Chen Souw yang berwajah muram, dia merasakan kekuatan dahsyat yang mengunci dirinya tadi.
Wang Lin Sie menghampiri ibunya, baru sekarang dia diceramahi oleh ayahnya di hadapan banyak orang, dia menyadari bahwa dirinya berlaku ceroboh, tadinya dia berpikir ini hal sepele, tapi melihat reaksi ayahnya dan para pengawalnya, dia hanya dapat menundukkan kepala, dia hampir saja membawa masalah besar pada keluarganya.
Pasangan bangsawan itu segera membereskan pembayaran makanan mereka, bersama pengawalnya mereka segera meninggalkan Rumah Makan Selera Raja dengan cepat
Berbeda dengan Wang Lin Sie, Pangeran Chen Souw terlihat tidak puas, paman yang dikenalnya dengan baik meninggalkan dirinya begitu saja bahkan berani menasehati di depan pasukan yang dibawanya, dia merasa dilecehkan oleh dua orang anak lelaki lusuh kelas rakyat jelata, hatinya penuh dengan kejengkelan.
Dimana dia harus mencari dua bocah lusuh itu?, dia ingin membalas perlakuan Cun Ek padanya, tapi siapa dua bocah dan nenek itu?
”Pengawal! cari tahu siapa mereka, kerahkan semua orang, aku akan kembali, kalian harus memberikan laporan lengkap tentang mereka dalam satu hari”, kata Pangean Chen Souw, wajahnya memerah menahan amarah, dia lalu meninggalkan Rumah Makan itu untuk segera kembali menemui adik perempuannya, dia akan memanfaatkan pengaruh dari Leluhur Yap dan Leluhur Phang untuk memberi pelajaran pada bocah-bocah yang telah menghina dirinya.