Di dalam area Sekte Samudera Naga, pada aula pertemuan para petinggi sekte, Phang Cui Lin datang menemui saudara-saudara perguruannya.
Terlihat para petinggi Sekte berjajar dengan rapi menyambut Phang Cui Lin yang didampingi oleh Yap Kun Tek dan murid tunggal mereka Chen Mey Wa, seorang gadis kecil sembilan tahunan.
Bagi para petinggi Sekte, tingkat kultivasi Phang Cui Lin adalah angan-angan saja, mereka semua hanya tingkat Manusia Suci, bahkan Ketua Sekte Samudera Naga hanya pada tingkat Manusia Suci ke-2 Lanjutan dan lainnya bervariasi yaitu masih di tingkat Insan Raja ke-9 Puncak hingga tingkat Manusia Suci ke-1 Puncak.
Berjajar dengan rapi, Hwa Kong, Phang Kok, Bing Siauw, Bong Kwi, Kim San Kui dan Wong Kay serta jajaran tetua lainnya dengan khidmat menyambut kedatangan Phang Cui Lin dan Yap Kun Tek yang menggandeng tangan Chen Mey Wa dengan membungkukan badan tanda hormat.
Suatu kehormatan besar bagi Sekte Samudera Naga memiliki hubungan baik dengan kultivator setingkat Raja Dewa bukan hanya satu bahkan hari ini ada dua orang yaitu Phang Cui Lin dan Yap Kun Tek, bahkan bagi mereka melangkah ke tingkat Manusia Dewa hanya wilayah imajinasi pikiran mereka saja.
”Apa yang terjadi pada kalian saudara-saudaraku? Penyambutan kalian terlalu berlebihan, kalian adalah keluargaku”, kata Phang Cui Lin sambil wajahnya menatap pada barisan saudara-saudara perguruannya.
”Tuan Yap dan Tuan Phang, suatu kehormatan bagi kami anda berdua mau berkunjung ke Sekte kami yang kecil”, kata Hwa Kong mewakili yang lain.
”Kakak Kong, kakak Kok dan engkau saudari Bing Siauw, yang kalian buat terasa aneh, aku tetap Phang Cui Lin yang dulu, suamiku pun heran dengan perlakuan kalian pada kami”, kata Phang Cui Lin lagi.
”Kami tidak berani lancang pada Leluhur Yap dan dirimu, tingkat yang kau miliki adalah tingkat yang pantas kami perlakukan seperti ini, mohon maafkan jika penyambutan kami kurang berkenan leluhur, silahkan memasuki aula dan memimpin kami semuanya”, kata Hwa Kong lagi, kepalanya tetap menunduk.
Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin hanya saling menatap, Yap Kun Tek lalu memberi tanda pada istrinya untuk segera masuk ke ruang aula pertemuan dengan segera.
Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin duduk di kepala meja, dan tidak lama kemudian ruangan itu sudah dipenuhi oleh jajaran elit Sekte Samudera Naga dan para pengurus Sekolah Beladiri Samudera Naga yang masih dipimpin oleh Hwa San.
Hwa Kong berdiri dari kursinya dan berkata,
”Karena semua telah hadir, mari kita mulai pertemuan ini, perlu kiranya kita mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, masih ingat kita akan peristiwa beberapa tahun lalu, untungnya kita masih melangkah pada jalur yang benar, sekalipun saat itu kita melewati satu bagian kecil yaitu menyingkirkan seorang kandidat potensial yang sekarang malah menjadi penasehat Raja Chong Yang yaitu tuan Han Wo”, kata Hwa Kong menatap pada Hwa San yang masih dipercaya sebagai Kepala Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Hwa San hanya bisa menunduk, dia tahu bahwa yang direkrut akhirnya malah menjadi masalah yang kurang mengenakkan yaitu mengambil Han Ek pengkhianat, namun masalah itu sudah berlalu.
”Tetua Hwa Kong, kupikir itu bukan masalah besar, tidak ada yang sempurna, demikian juga kita akan selalu mendapatkan ketidaksempurnaan, namun yang paling penting adalah melakukan yang terbaik agar kita selalu berjalan pada koridor yang benar, sekte kita selalu dilindungi oleh para Leluhur, dan melalui seleksi penerimaan murid Sekolah Beladiri Samudera Naga, sekte kita memiliki hubungan yang dekat dengan salah satu Penguasa Benua Merah, apakah kalian tahu apa tingkat yang dimiliki bekas salah satu murid yang bernama Han Eng sekarang?, jangankan diriku dan suamiku bahkan tuanku Sian Li sudah bukan tandingannya”, kata Phang Cui Lin menatap seluruh orang yang hadir.
Mendengar ada nama Han Eng, semua orang seperti diingatkan akan sesuatu yang mengangkat dada mereka dengan bangga, mereka tahu bahwa dia adalah murid pribadi Tetua Phang Cui Lin sewaktu masih sebagai tetua sekte Samudera Naga, dan kini nama Han Eng bergema di seluruh dunia bersama dengan nama Han Long dan Coa Leng In.
Ketiga nama itu sekarang telah menjadi Legenda, usia mereka masih sangat muda namun tingkat kultivasi mereka bertiga sudah berada di antara para Penguasa Benua Thian Agung bahkan melebihinya, apalagi orang yang bernama Han Long itu.
Yap Kun Tek hanya terdiam, dia ingat akan keturunannya Coa Leng In, salah satu Penguasa Benua Merah, ada senyum ceria di sudut mulutnya, walau bagaimana dia adalah guru dari keturunannya itu.
Phang Cui Lin melanjutkan lagi,
”Perlu ditekankan lagi, bahwa penerimaan calon siswa Sekolah beladiri kita harus ditujukan pada kualitas mental seorang calon murid bukan hanya berdasarkan pada kekuatan kultivasi dan bakat saja, agar kita mendapatkan generasi mendatang lebih baik lagi” tambahnya.
Semua orang menganggukan kepala, pilihan Phang Cui Lin untuk merekrut Han Eng dulu adalah sebuah petunjuk kejelian mata dan insting yang dimiliki oleh Tetua Phang Cui Lin.
Pertemuan itu membahas teknis pelaksanaan penerimaan murid Sekolah Beladiri Samudera Naga, dan beberapa usulan ditampung serta akan diolah oleh jajaran elit Sekte termasuk Kepala Sekolah Hwa San, setelah diputuskan membentuk panitia, Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin pamit, mereka bertiga ditempatkan di gedung besar dan megah dengan beberapa pelayan yang akan melayani mereka termasuk kebutuhan Chen Mey Wa.
Beberapa hari kemudian Yap Kun Tek menerima kunjungan dari Yap Ing dan suaminya An Wu Hong, mereka berdua datang dengan membawa seorang anak lelaki berusia tiga tahunan dalam dekapan Yap Ing.
”Kakek bagaimana keadaanmu? Aku membawa anak lelakiku. Aku dan suamiku belum memberi nama, kami ingin leluhur yang menamakannya”, kata Yap Ing dengan senyum gembira melihat bahwa leluhurnya Yap Kun Tek terlihat segar dan lebih muda, juga dia melihat Phang Cui Lin yang semakin cantik.
”Ha ha ha…, aku gembira kau membawa anakmu padaku dan diberi kepercayaan untuk memberinya nama, istriku Phang Cui Lin bagaimana pendapatmu?”, kata Yap Kun Tek sambil menoleh pada istrinya Phang Cui Lin.
Phang Cui Lin menyambut Yap Ing dengan memeluknya, dua wanita ini telah berpetualang bersama dan mereka sudah saling mengenal sifat dan karakter masing-masing dimana Yap Ing dikenal seorang wanita cantik yang lembut dan anggun, sedangkan Phang Cui Lin terkenal sedikit dingin dan fokus pada tujuan.
”Saudari Ing, aku sedikit iri kau memiliki putra, kau harus tinggal bersama kami untuk waktu yang lama biar aku dan suamiku dapat memiliki waktu untuk memilih nama yang tepat, dan juga kau lihat aku sudah memiliki murid, Mey Wa kemarilah, sapa bibi Ing dan suaminya paman Wu Hong”, kata Phang Cui Lin pada muridnya Chen Mey Wa.
Mendengar Phang Cui Lin menyebut dirinya paman dan bibi pada muridnya, An Wu Hong dan Yap Ing saling melirik, apa yang diusulkan oleh Phang Cui Lin adalah terbaik, karena kalau dirunut dari senioritas penyebutan diantara mereka para kultivator akan lebih kacau balau.
Chen Mey Wa memberi hormat pada An Wu Hong dan Yap Ing dengan takzim,
”Paman dan bibi terimalah hormat keponakan Chen Mey Wa”, katanya.
”Kami berdua menerima hormatmu, keponakan yang baik, ini adalah adikmu”, kata Yap Ing sambil membawa anak dalam pelukannya pada Chen Mey Wa.
Chen Mey Wa dengan gembira melihat anak lelaki yang lucu dengan badan gemuk dan wajah kemerahan, dia menghampiri putra Yap Ing dan mengelus pipi anak lelaki itu dengan gemas.
Dan pertemuan keluarga itu berlangsung dengan akrab dan mesra, ada seorang anggota sekte memasuki tempat Yap Kun Tek, anggota itu mengabarkan akan kedatangan saudara lelaki dari putri Chen Mey Wa yang meminta audiensi pada Leluhur Yap Kun Tek, dan Yap Kun Tek menyetujuinya untuk membawa kakak Chen Mey Wa menghadapnya.
Pangeran Chen Souw dengan gembira memasuki gedung tempat tinggal Yap Kun Tek, dengan kemudahan izin yang diberikan pada dirinya maka maksudnya untuk memberi pelajaran pada dua bocah lusuh itu dapat terlaksana.
”Hormat pada Tetua Yap dan Tetua Phang”, katanya dengan hormat.
”Hm, Pangeran kami terima kedatanganmu, hal apa yang ingin kau bicarakan?”, tanya Yap Kun Tek.
”Maafkan kelancanganku, karena pada siapa lagi aku mengadu dan meminta bantuan, kecuali pada Leluhur terhormat, beberapa hari yang lalu aku menghadapi kultivator yang tingkatnya jauh melebihi diriku, aku berbeda pendapat dengan seorang anak tapi rupanya dia didampingi seorang kultivator tingkat tinggi dan melumpuhkan para pengawalku, aku meminta bantuan Leluhur untuk keadilan bagi diriku”, kata Chen Souw, dia hanya memutar sedikit otaknya dengan menduga bahwa ada kekuatan dibalik dua bocah lelaki yang dihadapinya.
Yap Kun Tek mengerutkan keningnya dalam-dalam, dia tidak suka perangai pangeran ini, seenaknya meminta bantuan padanya hanya untuk menyelesaikan masalah pribadi, Pangeran kecil ini sudah pintar berpolitik, namun Yap Kun Tek tetap diam dia melirik istrinya dan terlihat Phang Cui Lin sudah merah dan menahan amarah, dia tahu bahwa istrinya paling tidak suka dimanfaatkan.
”Chen Souw, artinya kedatanganmu adalah meminta bantuan kami untuk menyelesaikan persoalanmu, apakah itu maumu?”, kata Yap Kun Tek tetap tenang, sedangkan Phang Cui Lin sudah bergetar menahan amarah, kalau tidak melihat perkenalannya dengan ibu pangeran ini, mungkin anak ini sudah menjadi debu.
Dengan percaya diri, Chen Souw bangun dari sujudnya dan berkata,
”Leluhur yang baik, semua ada imbalannya, aku akan melaporkan pada ayahanda raja akan bantuanmu padaku, dan ayahku akan memenuhi segala keinginanmu”, katanya dengan tenang dan berwibawa.
Chen Mey Wa yang mulai mengenal sifat kedua gurunya, menjadi pucat, kebiasaan kakaknya yang selalu memerintah orang lain demi kepentingannya, rupanya terbawa hingga ke benua ini, dia menatap sang kakak dengan khawatir.
”Baiklah kalau begitu, kirim utusan ke kerajaan Dunia Biru bawa suratku, kalau raja itu tidak mau datang untuk putranya, maka kerajaan itu akan jadi sejarah, dan kamu Chen Souw, ini adalah pelajaran yang amat penting tentang menjadi seorang kultivator, penjaga! kurung anak ini di kamar tamu, jangan seorang pun menemuinya, dan jangan ada makanan dan minuman apapun, sampai aku perintahkan untuk untuk melepaskannya”, kata Yap Kun Tek tegas, segera saja beberapa anggota sekte menangkap Chen Souw dan melumpuhkannya, sedangkan Chen Souw sendiri terkejut melihat apa yang terjadi pada dirinya, dia tidak menyangka akan diperlakukan sedemikian rupa.
Chen Souw berteriak memanggil nama adiknya,
”Adik Mey Wa, katakan pada gurumu, apa maksudnya?, kalau aku salah, aku minta maaf”, ujarnya.
Namun Chen Mey Wa tidak bergerak, tatapan Phang Cui Lin bersinar tajam pada dirinya, terlihat kalau dia bergerak, gurunya pasti akan bertindak.
Phang Cui Lin langsung normal kembali wajahnya, dia melirik pada Chen Mey Wa,
”Kau mengerti, mengapa gurumu bersikap begitu pada kakakmu?”, tanya Phang Cui Lin
”Aku mengerti, kakak menunjukkan kelemahan yang paling memalukan bagi seorang yang hidup untuk berkultivasi memupuk kekuatan”, kata Chen Mey Wa.
”Bagus, setidaknya kau memiliki kekuatan dalam menjawab pertanyaanku, tapi yang lebih penting adalah cacat mental dalam jiwa kakakmu, orang seperti itu akan menjadi aib keluarga maupun klan, karena kami pernah berhadapan dengan cacat seperti itu, tapi kakakmu adalah yang terparah, pengecut, jiwa yang kerdil adalah pantangan terbesar seorang kultivator”, kata Phang Cui Lin yang dianggukkan oleh Yap Kun Tek dengan senyum.
”Aku sengaja bertindak tegas pada kakakmu, agar dia ingat bahwa sifatnya adalah kelemahan terbesar dalam dirinya mungkin belum terlambat untuk memperbaikinya”, kata Yap Kun Tek.
Waktu berlalu dengan cepat, seminggu kemudian Raja Chen ke-2 dan Permaisuri Kam Lin melalui saluran teleportasi antar benua telah tiba di Kerajaan Chong Yang, mereka berdua pergi tanpa pengawal kerajaan langsung ke Sekte Samudera Naga meminta audiensi pada Leluhur Yap Kun Tek.
Berita kedatangan Raja Chen ke-2 telah diterima oleh Yap Kun Tek dan istrinya Phang Cui Lin, sedangkan Chen Mey Wa memasuki kultivasi atas perintah gurunya.
Raja Chen ke-2 tertunduk lesu setelah mendengar apa yang sudah terjadi, kelakuan putranya sangat memalukan, dia sebagai orang tuanya tertimpa aib karena terlalu memanjakannya, apalagi Permaisuri Kam Lin, dengan berurai air mata, permaisuri Kam memohon pengampunan bagi putranya pada Leluhur Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin.
”Sudahlah, aku hanya melakukan yang terbaik bagi putramu agar tidak terlanjur memiliki sifat seperti itu, bawalah putramu, dia tidak dapat diterima di Sekolah Beladiri Samudera Naga, karena itu adalah hal yang sangat penting di sekolah ini”, kata Phang Cui Lin mewakili suaminya.
Dan berikutnya, Chen Souw hadir di ruangan itu, dia masih bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, dia melihat ibu dan ayahnya bersujud dengan sangat rendah sekali pada Leluhur Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin, pikiran remajanya tersulut dengan emosi, dia menjadi marah.
Raja Chen ke-2 menatap putranya dengan tajam, melihat tatapan ayahnya, Chen Souw yang bersiap untuk meluapkan amarahnya langsung terdiam.
Baik Raja Chen ke-2 maupun Permaisuri Kam Lin langsung mengucapkan terima kasih dan membawa putra mereka untuk segera kembali ke kerajaan Dunia Biru.
Sesampainya di Kerajaan Dunia Biru, Raja menyerahkan Pangeran Chen Souw ke Permaisuri Kam Lin, dia langsung ke ruang kerjanya, sedangkan Permaisuri Kam Lin membawa Pangeran Chen Souw ke istananya.
”Putraku, apakah kau tahu mengapa kami menjemputmu?, kau sudah tidak dapat menjadi siswa di Sekolah Beladiri Samudera Naga lagi, statusmu sudah dicabut”, kata Permaisuri Kam Lin dengan tenang.
”Ibu kenapa begitu?, apa kesalahanku?”, tanya Chen Souw.
”Apakah selama engkau dikurung di ruang tamu itu sampai sekarang kau belum menyadari kesalahanmu?”, tanya Permaisuri Kam Lin, dia ingin memberi kesempatan pada putranya berbicara, tapi Chen Souw terdiam.
”Putraku, yang kau lakukan adalah aib bagi seluruh kerajaan Dunia Biru, kau anggap apa Leluhur Yap Kun Tek dan Leluhur Phang Cui Lin?, dengan seenaknya kau meminta bantuan mereka untuk menyelesaikan urusan pribadimu, hanya untuk memuaskan ke-aku-an dirimu yang tidak begitu penting bagi kultivator tingkat mereka, pada tingkat mereka, kalau mereka tidak suka pada kerajaan kita, maka kerajaan Dunia Biru ini tinggal debu dan tanah saja hanya dengan melambaikan tangan mereka saja”, Permaisuri Kam Lin lagi.
Chen Souw terkejut mendengar uraian ibunya, dia tidak menyangka bahwa kekuatan seorang Leluhur Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin sekuat dan sehebat itu, dia bergidik sendiri, dia telah melakukan kebodohan yang fatal dan bersikap arogan, malah dengan tololnya dia menawarkan imbalan kepada dua kultivator di tingkat seperti itu, kini mengerti bahwa dia hampir menghancurkan kerajaan ayahnya, untungnya Leluhur Yap Kun Tek masih melihat hubungan dengan ibunya.
”Ibu aku tahu kesalahanku, ampuni kebodohan anakmu, bisakah aku mendapat kesempatan kembali untuk menjadi siswa di Sekolah Beladiri Samudera Naga kembali?”, kata Chen Souw memohon pada ibunya.
Permaisuri Kam Lin menatap wajah putranya dengan lembut, dia menggelengkan kepalanya,
”Putraku, kejadian yang kau alami adalah saatnya kau belajar untuk menjadi kuat, seorang kultivator setelah mengeluarkan pendapatnya sangat sulit untuk berubah, karena ini adalah jalan yang sudah terbiasa diambil oleh seorang kultivator, banyak cara berkultivasi dan disesuaikan dengan masing-masing konstitusi tubuh setiap orang yang berbeda-beda, sekali memilih, maka jalan itu akan terus ditelusuri sepanjang hidupnya, apa yang kau lakukan adalah bukti kelemahan terbesar bagi seorang calon kultivator, kau adalah putraku, aku yakin mungkin ini adalah pelajaran pertama bagimu sehingga kau mengenal akan dirimu sendiri, seorang kultivator tidak mudah menyerah apalagi menjadi pengecut, apakah kau bersedia merubah dan memperbaiki kondisi jiwamu?, kalau kau menyatakan dengan kuat dan yakin, bahwa kau akan berubah, kau tidak memerlukan Sekolah Beladiri Samudera Naga, tapi kau akan bangkit dengan sendirinya, dan aku ibumu akan mendukungmu”, kata Permaisuri Kam Lin pada putranya Chen Souw dengan tatapan mata tajam menyelidik isi hati putranya.
Chen Souw balas menatap pada ibunya, dia semakin yakin bahwa kesalahan terbesarnya adalah menjadi pengecut dengan mengandalkan kekuatan Leluhur Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin untuk menyelesaikan persoalan pribadinya yang remeh, kini dia tahu hal terbesar untuk menjadi kuat yaitu mengandalkan dirinya sendiri, dia seorang Pangeran Kerajaan Dunia Biru disini, tapi di luar wilayah kerajaan ini, dia bukan siapa-siapa, untuk mendapatkan kehormatan dirinya kembali dia harus menjadi kuat, terutama kekuatan yang dimiliki oleh mental dan jiwanya, itulah dasar dan pondasi yang kokoh untuk berkultivasi.
Senyum cerah menghiasi bibirnya, sebuah tekad terbentuk pada diri Pangeran Chen Souw,
”Ibu, katakan pada ayah, aku minta maaf karena telah melibatkan urusanku dengan kepentingan kerajaan, sekalipun aku tidak layak diterima di sekolah Beladiri Samudera Naga, namun aku yakin bukan tempat itu saja aku akan menjadi kuat, aku akan mulai berkultivasi dari Istana kerajaanku sendiri”, kata Pangeran Chen Souw dengan wajah penuh semangat, Permaisuri Kam Lin mengangguk puas akan ucapan putranya, dia akan ikut memberikan bantuan dan dorongan yang terbaik bagi perkembangan kultivasi yang dimiliki putranya yang saat ini masih dalam tingkat Imajinasi Roh ke-3 Awal.