Nenek Sian membawa Cun Ek ke tempatnya yang ternyata tempat itu di luar benteng kerajaan Chong Yang, terletak di sebelah selatan dimana ada sebuah dusun kecil yang dihuni oleh beberapa keluarga, tidak mencapai ratusan kepala keluarga hanya beberapa puluh saja, dan jarak antara penghuni satu dengan lainnya sekitar puluhan meter.
Baik Aliong dan Cun Ek berjalan dengan gembira, apalagi sekarang mereka memiliki cukup banyak koin emas hasil pemberian dari seorang pejabat dari kerajaan Buana Nirwana yang memberikan kompensasi atas kejadian yang hampir merenggut nyawa Nenek Sian.
Setelah melewati beberapa rumah sampailah mereka bertiga di sebuah pondok yang sangat sederhana, dipagari sekeliling halaman rumah tersebut menggunakan bilah-bilah bambu yang cukup rapat, dan ada semacam gapura sebagai jalan masuk ke halaman rumah mereka, serta ada dua bangunan di tempat itu, satu bangunan rupanya dijadikan semacam dapur dan ruang makan serta tempat penyimpanan barang-barang hasil pertanian mereka dan sebuah kolam kecil yang merupakan tempat pemeliharaan ikan-ikan serta beberapa ekor unggas seperti kebanyakan rumah penduduk dusun setempat.
”Nek, aku dan Cun Ek akan membereskan barang-barang bawaan kami, nenek jangan masak untuk makanan kita, biarkan nenek istirahat saja, aku akan meminta tolong pada bibi Sin masak untuk kita bertiga”, kata Aliong pada neneknya.
Nenek Sian hanya melempar senyum pada cucunya, dia tahu, Aliong tidak suka kalau dia terlibat untuk memasak, karena hasil masakannya sangat tidak enak, selalu saja ada kekurangannya, entah kurang garam atau malah keasinan, dan lebih parah lagi, kadang terlalu matang hingga gosong hingga terasa pahit di lidah, pokoknya kalau Nenek Sian memasak maka hasil yang diperoleh adalah makanan terburuk yang pernah ada.
Cun Ek dan Aliong segera membereskan segala sesuatu di bangunan yang merupakan bagian dapur merangkap gudang di tempat itu, dengan kekuatan yang dimiliki Cun Ek , Aliong memanfaatkan kelebihan saudara angkatnya ini, semua peralatan dan perkakas yang terlalu berat dapat dipindahkan seenaknya.
”Liong, apakah kau tidak pernah berkultivasi?” Kata Cun Ek pada Aliong sambil memindahkan sebuah batu sebesar perut kerbau dengan tangan kanannya, yang biasanya batu itu digunakan sebagai tempat duduk saat Aliong membersihkan bahan makanan atau sedang bersantai.
”Apa itu kultivasi?, dan buat apa?” Kata Aliong sambil menatap Cun Ek dengan polos.
Cun Ek tercengang mendengar pertanyaan balik dari saudara angkatnya,
”Aku sendiri tidak tahu apa itu kultivasi, tapi yang kutahu aku menjadi kuat karena sering berkultivasi, lihat aku dapat mengangkat batu ini sesuai kehendak hatiku dan memindahkannya”, kata Cun Ek sambil memindahkan batu sebesar perut kerbau itu dari tempat semula ke tempat yang lain.
Mata Aliong tercengang dengan pertunjukan kekuatan yang ditunjukkan oleh saudara angkatnya, namun kemudian dia tersenyum,
”Kalau manfaatnya hanya untuk itu, buat apa aku harus berkultivasi, aku juga dapat memindahkan batu tersebut ke tempat semula dengan sedikit tenaga”, kata Aliong, dia lalu mengambil besi panjang sebagai pengungkit dan sebuah batu kecil sebagai pengganjal, lalu dia menghampiri batu itu dan menjungkitnya, batu itu pun menggelinding kembali ke tempat semula walaupun posisi batu itu berubah tidak terlalu pas tapi batu itu dianggap telah ke tempat semula, gantian Cun Ek yang tercengang melihat akal yang ditunjukkan oleh Aliong.
”Baik, tapi bagaimana jika engkau menghadapi binatang buas, kekuatan dirimu tidak akan menandingi hewan tersebut dengan mudah kau akan terbunuh, minimal kau akan terluka dan cedera”, kata Cun Ek kembali.
Aliong kembali tersenyum,
”Saudaraku, kalau aku tahu didepanku adalah binatang buas yang menghadangku, betapa bodohnya diriku, buat apa aku harus menghampirinya, kalau bisa menghindar sebaiknya menghindar saja, tapi kalau tidak bisa, apa boleh buat, hadapi saja mungkin sudah takdirku aku menjadi mangsa hewan tersebut karena hewan itu pun memerlukan makanan, lebih baik bagiku kalau aku hanya berharap akan dagingnya saja, cukup aku beli di pasar.
Kalau aku tahu ada sesuatu yang kuat mengancam hidupku, hindari saja, lagi pula aku ini hanya petani, pekerjaanku menanam sayuran, pelihara ikan dan unggas untuk dinikmati dagingnya”, kata Aliong dengan polos.
Cun Ek hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, pikiran saudara angkatnya ini terlalu sederhana, dia merasa suka dengan pribadi saudara angkatnya ini, juga dengan Nenek Sian, baru sekali ini dia merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya, dulu yang dia tahu hanyalah ibunya, namun ibunya mendorong terus dirinya untuk selalu berkultivasi, kegiatan yang sangat pahit dan menyakitkan sehingga dia melupakan arti sejati tentang kehidupan.
Pembicaraan dua bocah lelaki ini terdengar juga oleh Nenek Sian yang saat ini berada di dalam ruangannya, dia telah berubah menjadi wanita yang sangat cantik berpakaian merah.
Dia adalah Thian Sian Li atau disebut juga Dewi Danau Merah, dengan tingkat kultivasinya, mudah saja dia merubah penampilannya dalam sekejap.
Thian Sian Li tersenyum mendengar percakapan dua bocah lelaki tersebut, dia tahu mengapa Aliong atau Han Wi Liong memiliki pendirian seperti itu.
Perlu diketahui sebelumnya, Thian Sian Li pernah menentang pendirian cucunya, namun akhirnya dia menyetujui pendapat cucunya yang masih anak-anak ini, dan kejadian itu baru beberapa bulan sebelumnya.
Di ruang independen saat Han Long dan istrinya mengantarkan Han Wi Liong pada dirinya, Thian Sian Li mendengar langsung dari mulut bocah tersebut untuk keluar dari dasar Danau Merah Misterius untuk berpetualang sebagai manusia biasa.
Thian Sian Li menyatakan ketidaksetujuannya, karena dengan demikian banyak bahaya yang akan mengintai diri mereka, namun dengan tegas Han Wi Liong memaksakan kehendaknya, dengan cerdik, baik Han Long, Bu Ling Moy dan Thian Sian Li membuat syarat dan aturan yang tidak mungkin dipenuhi oleh bocah sepuluh atau sebelas tahunan itu.
Selama sebulan, secara bergantian Han Long, Bu Ling Moy dan Thian Sian Li akan mempertontonkan sebuah Teknik Beladiri yang terunggul yang dimiliki oleh masing-masing dari mereka, Han Wi Liong harus berusaha memecahkan kelemahan teknik beladiri tersebut dan mengalahkan mereka semua jika itu berhasil maka mereka akan memberikan izin pada bocah itu untuk berpetualang sebagai manusia biasa.
Setelah menyaksikan teknik yang dipraktekan oleh orang tua dan neneknya, Han Wi Liong meminta tiga bulan berikutnya untuk memecahkan tiga teknik tersebut, dia memilih sudut ruang yang memiliki gaya gravitasi tiga kali lipat, untuk berlatih dan berkultivasi.
Dalam waktu tiga bulan, Han Wi Liong melakukan kultivasi tertutup di ruang yang memiliki tiga kali lipat gaya tarik gravitasi, sementara orang tua dan neneknya berada di luar ruangan itu, mereka bercakap-cakap tentang berita disekitar Dunia Sembilan Benua atau bertukar pikiran tentang Teknik yang dimiliki oleh masing-masing diri mereka untuk dapat diwariskan pada Han Wi Liong nantinya.
Thian Sian Li yang lebih banyak menerima manfaat peningkatan kultivasi, karena energi berlebih yang dimiliki oleh Han Long dengan mudah dapat diserap oleh Thian Sian Li, seperti saat mereka berdua menemukan tempat tersebut, demikian juga dengan Bu Ling Moy, karena tempat itu sangat cocok juga untuk berkultivasi sekalipun energi miliknya berbeda yaitu energi Kabut Putih, namun bimbingan suaminya sangat membantu, sehingga dia dapat peningkatan yang lebih baik dalam pemanfaatan energi untuk kepentingan kultivasi dirinya.
Tiga bulan kultivasi Han Wi Liong pun berlalu, bocah lelaki itu keluar dari ruangannya, kini penampilan Han Wi Liong tidak banyak berubah, wajahnya yang tampan menyerupai bentuk wajah ibunya, putih kemerahan dengan sorot mata lebih tajam dari sebelumnya, tinggi badannya berubah beberapa centimeter lebih tinggi.
”Liong er, apakah kau menerima manfaatnya?”, tanya Bu Ling Moy.
”Ah ibu, manfaat apa maksud ibu?”, jawab Han Wi Liong.
”Apakah ada peningkatan dalam energi kultivasimu?”, tanya Han Long.
”Ayah, sudah kukatakan sebelumnya, bahwa aku berkultivasi tentang teknik beladiri, bukan energi kultivasi, bukankah itu syarat untukku?”, kata Han Wi Liong dengan mata polos menatap ayahnya.
”Baiklah kalau itu maumu, siapa dulu yang akan kau hadapi?”, tanya Han Long, dia tahu putranya memiliki waktu sedikit kalau untuk meningkatkan energi kultivasi, dia sendiri tidak tahu, apa tingkat kultivasi milik putranya, terakhir saat meninggalkan Benua Ketiga, putranya sudah berada pada Manusia Dewa ke-5, namun itu pun tidak jelas karena keengganan Han Wi Liong mengeluarkan energi kultivasinya secara penuh.
Bakat putranya melebihi dirinya dalam penyerapan energi kultivasi, sejak bayi, Han Wi Liong secara otomatis memiliki peningkatan kultivasi tanpa dia dibantu atau melakukan kultivasi secara khusus, bahkan kecepatan kultivasi milik putranya sangat mencengangkan, lompatan peningkatan itu seperti orang yang berlari pada sebuah tangga yang mengarah ke awan, yang lain melangkah selangkah demi selangkah dengan usaha yang sangat keras dan sakit, sedangkan putranya berlari di anak tangga tersebut tanpa dia sadari sendiri.
Thian Sian Li hanya memperhatikan obrolan putra dan cucunya, keningnya sedikit berkerut mendengar ucapan Han Wi Liong, dia teringat saat Han Long putranya pernah bertanya, ‘untuk apa menjadi kuat?’
”Ayah boleh lebih dulu mengujiku”, kata Han Wi Liong, dia pergi ke sebuah ruang yang memiliki gaya gravitasi yang normal, dan menunggu disana, sedangkan ayah, ibu dan neneknya saling melirik satu dengan lainnya, masing-masing tersenyum geli melihat tingkah bocah sepotong keturunannya ini.
”Sebaiknya aku dulu”, kata Thian Sian Li, sambil mendahului putra dan menantunya.
”Cucuku mari kita mulai”, kata Thian Sian Li.
”Nenek ingat, hanya Teknik Beladiri tanpa kekuatan energi Kultivasi”, kata Han Wi Liong mengingatkan kembali.
Thian Sian Li mengangguk, dia lalu membuat gerakan pancingan, tapi Han Wi Liong tidak bergerak, matanya yang jernih menatap neneknya dengan polos seperti menunggu serangan, Thian Sian Li pun tidak membuang waktu maka menderulah angin dahsyat dari tangannya,
Wuuussshhhh….!!!
Heeeaaa….!!!
Keduanya lalu terlibat dalam perdebatan, kalau melihat dari tinggi badan, tubuh Thian Sian Li hanya lebih tinggi beberapa centimeter saja dari cucunya, dan berkelebatan dua bayangan tubuh dalam arena itu, masing-masing mengeluarkan deru angin yang sangat keras, seorang bocah sebelas tahunan bertarung dengan sosok senior yang pernah menguasai sebuah benua, jika orang luar tahu apa yang dilakukan oleh bocah Han Wi Liong yang berani menerima syarat gila yang diberikan orang tuanya, mungkin mereka akan berteriak bahwa ketidak adilan sedang terjadi, atau ada penindasan yang terjadi yang dilakukan oleh yang kuat terhadap yang lemah, tapi Han Wi Liong bersikap wajar saja, dalam pikirannya, bahwa setiap keinginan ada syarat atau cara untuk memperolehnya dan ini hukum alam.
Dalam beberapa jam berlalu, tiba-tiba gerakan Thian Sian Li terhenti, dan sosok tubuh keluar dari arena, sosok itu milik Han Wi Liong.
”Nenek maaf, nenek kalah”, kata Han Wi Liong.
Dan tidak lama kemudian Thian Sian Li mengerahkan energi kultivasinya untuk memecah totokan yang dilakukan oleh cucunya pada salah satu pembuluh darah vitalnya, dan tubuhnya dapat bergerak lagi.
Ada rasa tidak percaya, bahwa dirinya dikalahkan seorang bocah, sekalipun tanpa energi kultivasi, hanya menggunakan tenaga yang dihasilkan dari Teknik Beladiri saja, dan yang lebih heran adalah dia dikalahkan oleh tekniknya sendiri yang dia anggap sudah mendarah daging.
”Ibu, tidak perlu ibu memasang wajah seperti itu, kami berdua sebagai orang tuanya pernah mengalami hal yang jauh dari apa yang ibu rasakan dan lihat”, kata Han Long dengan tertawa kecil.
”Liong er, supaya menyingkat waktu, bagaimana jika kami bersama-sama berusaha menangkapmu, dan kau berhak menyerang kami bertiga, kami tidak akan mengerahkan energi kultivasi, kalaupun ada, energi itu hanya berkisar pada tahap yang tidak melebihi tingkat kultivasimu, bagaimana?”, kata Bu Ling Moy, semua ini sudah direncanakan bersama suaminya, untuk mengetahui, sejauh apa persepsi jiwa putranya dalam mendalami tiga teknik beladiri tertinggi yang diterima putra mereka, dan juga akan memaksa putra mereka menunjukan tingkat kultivasi terakhirnya, itu semua untuk keselamatan putra tersayang mereka ketika sudah diluar pengawasan mereka.
Tanpa berpikir panjang Han Wi Liong menyatakan setuju, karena dia pun ingin menguji beberapa teori di dalam kepalanya saat dia di ruang yang memiliki gaya gravitasi tiga kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan ruang arena ini.
Thian Sian Li terperangah, cucunya dengan berani menghadapi pengeroyokan tiga kultivator tertinggi di Dunia Sembilan Benua ini, apa yang terjadi pada otak cucunya ini sedangkan Han Long putranya, malah tersenyum gembira, Han Long mengedipkan mata pada dirinya.
”Ayah, ibu dan nenek, marilah! Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat dunia luar”, kata Han Wi Liong.
Maka tiga kultivator itu pun mengelilingi bocah sebelas tahunan, Han Long ingin melihat kekuatan asli putranya demikian juga dengan Bu Ling Moy, ketiganya mulai bergerak dengan kecepatan luar biasa, sekarang tiga tokoh tingkat tinggi itu tahu, bahwa gerakan tipu dalam sebuah gerakan pada teknik beladiri di hadapan Han Wi Liong tidak akan banyak berguna.
Udara pada ruangan gravitasi normal itu berubah seketika, sekalipun hanya energi Teknik Beladiri namun yang mempraktekkan teknik itu adalah para Kultivator tertinggi Penguasa Dunia Sembilan Benua, badan kecil Han Wi Liong terkurung oleh tekanan dahsyat dari energi yang ditimbulkan oleh teknik Beladiri tingkat Mustahil kelas Sempurna.
Namun Han Wi Liong dengan tenang menghadapi setiap serangan, matanya bersinar bagai bintang, berkilat menembus setiap kepulan energi yang memenuhi ruang arena akibat pengerahan energi kultivasi yang dikeluarkan oleh para pengeroyoknya.
Baik Han Long dan Bu Ling Moy, sepakat mengeluarkan energi kultivasi mereka pada tingkat Manusia Dewa, mereka ingin menguji kekuatan energi kultivasi putra mereka, dan hal itu diikuti oleh Thian Sian Li, dia akhirnya mengerti akan maksud putranya untuk menguji cucu tersayangnya.
Han Wi Liong mengerutkan keningnya sambil bergerak lincah menghindari tangkapan dan serbuan orang tua dan neneknya, dan kemudian dia tersenyum tipis, gerakannya berubah seketika, sebuah teori gerakan teknik beladiri terbayang dalam ingatannya, dengan mengatur nafas dan mengerahkan energi kultivasi milikinya,
Doummm…!!!
Ledakan dahsyat meletus dari dalam tubuhnya, gerakan tangan dan kakinya sedemikian aneh, terlihat akan mencakar pada tubuh neneknya namun berubah menjadi telunjuk yang mencuat di sekitar tulang rusuk pada tubuh ibunya, dan perubahan gerakan ini berlangsung secara tidak terduga.
Sudah seharian mereka bertiga mengeroyok Han Wi Liong, namun sampai saat ini, jangankan menyentuh kulit anak itu, ujung pakaiannya saja tidak dapat disentuh, setiap gerakan yang dilakukan oleh Han Wi Liong terlihat jelas merupakan gerakan tangan dan kaki yang sangat mirip dengan teknik yang dimiliki oleh para pengeroyoknya.
Han Long dan istri serta ibunya menambahkan energi kultivasi mereka, tapi sesuatu berubah dengan cepat tidak terduga, pertama adalah Bu Ling Moy yang tersentak kemudian Thian Sian Li dan terakhir adalah Han Long sendiri yang merasakan ada yang menyentuh tengkuknya, terasa menyengat dan mengunci peredaran darahnya, ketiga orang itu terdiam sesaat sebelum terbebas melalui pengerahan energi kultivasi milik masing-masing, dan tubuh bocah Han Wi Liong meloncat keluar dari kurungan tiga orang tersebut.
”Aku menang, aku menang… hi hi hi…, ayah ibu harus menepati janji karena aku menang”, teriak Han Wi Liong berjingkrak-jingkrak kegirangan dan tertawa dengan gembira, baginya ini bukan hal luar biasa, ini hanya sekedar untuk memenuhi syarat bahwa dia layak mendapatkan haknya untuk berpetualang sesuai keinginannya, dia merasa bahwa orang tuanya sengaja mengalah.
Ketiga orang yang menjadi lawannya hanya terdiam sesaat, mereka takjub akan teknik yang dilakukan putra mereka sebagai tanda bahwa gerakan putranya telah mengungguli mereka semua, kemudian ketiganya tersenyum lebar dan entah siapa yang mulai, ketiganya tertawa terbahak-bahak secara bersamaan.
”Ha ha ha…, ibu apa kubilang?, cucumu telah membuktikan dirinya”, kata Han Long.
”Nenek, aku sayang nenek cantik, mulai besok kita berdua akan menjelajahi dunia ini berdua, ingat menjadi manusia normal bukan kultivator, aku ingin berperan sebagai petani, apapun yang terjadi, selama tidak mengancam jiwa, tidak ada pengerahan kekuatan kultivasi”, kata Han Wi Liong pada neneknya.
Maksud Han Wi Liong jelas, dia tidak mau kebebasannya diawasi oleh ayah atau ibunya, dengan pengerahan energi kultivasi, maka dengan sendirinya akan memberitahu kepada ayah dan ibunya dimana posisi diri dan neneknya, sedangkan niat berpetualang bersama dengan neneknya itu, Han Wi Liong akan menjalani kehidupan manusia yang lemah dan secara alami akan mengatasi semua masalah yang menghadang dalam hidup mereka.
”Putraku, apa tingkat kultivasi yang kau miliki?”, tanya Bu Ling Moy lembut.
”Tingkat kultivasi?, aku tidak tahu ibu, apa tingkatku”, jawab Han Wi Liong.
”Apakah kau tadi menggunakan energi kultivasi terkuatmu, sewaktu melawan kami bertiga?”, tanya Han Long serius,
”Aku hanya mengerahkan beberapa bagian saja ayah, lihat aku berkeringat tapi nafasku biasa saja”, jawab Han Wi Liong polos.
Han Long, Bu Ling Moy dan Thian Sian Li saling menatap, diantara mereka terjadi kontak jiwa sedari tadi, mereka sudah mengerahkan energi kultivasi pada tingkat yang setara dengan energi kultivasi Tingkat Manusia Dewa ke-6, tapi Han Wi Liong hanya mengerahkan beberapa bagian, jadi tingkat yang dimiliki putra mereka ada kemungkinan di atas tingkat Manusia Dewa ke-7 ke atas.
”Cucuku, mulai sekarang kau bertanggung jawab terhadap nenek, ingat kau tidak boleh meninggalkan nenekmu begitu saja, karena nenek manusia tua dan lemah”, kata Thian Sian Li yang lalu berubah menjadi seorang wanita enam puluh tahunan dengan kelopak mata yang sedikit menghitam.
”Nenek itu terlalu tua, nenekku cantik, perubahan itu berlebihan, jangan setua itu nenek”, protes Han Wi Liong pada Thian Sian Li, yang direspon oleh Han Long dan Bu Ling Moy dengan tawa berderai.