Di sebelah utara Istana Kerajaan Chong Yang, masih terletak di dalam benteng perbatasan wilayah Kotaraja Chong Yang, terdapat sebuah wilayah yang tidak terlalu ramai, dan tempat ini biasa dihuni para kultivator yang tidak memiliki sekte atau para kultivator bebas tanpa afiliasi, dan tempat ini dikenal dengan nama Mìmì huāyuán atau Taman rahasia, tidak peduli ras iblis atau ras manusia, kultivator atau manusia biasa, mereka akan mendatangi tempat ini dengan satu alasan, membeli atau menjual informasi rahasia.
Semua informasi tentang Dunia Sembilan Benua diperjualbelikan disini, siapapun yang memiliki kebutuhan akan informasi apapun, maka semua dapat diperoleh dengan catatan biaya penukar informasi seperti harta atau informasi lainnya yang sebanding atau senilai.
Ada sebuah keluarga yang baru muncul, namun dalam waktu beberapa bulan keluarga ini sudah terkenal sebagai pembeli informasi yang berani membeli atau menukar informasi dengan harga yang sangat mahal, keluarga ini disebut keluarga Cui.
Ada seorang anak lelaki yang selalu berada di gerbang depan tempat kediaman keluarga Cui, dia bernama Cui Kun.
Apapun yang dimiliki oleh setiap orang yang membawa tentang teknik Beladiri atau teknik kultivasi dia akan membeli dengan harga yang sangat mahal, tapi jika itu sekedar informasi yang tidak terkait dengan teknik beladiri maka dia akan memanggil kakek Cui.
Telah beredar bahwa Sekte Samudera Naga akan melakukan kompetisi penerimaan calon siswa bagi Sekolah Beladiri Samudera Naga, dengan syarat setiap siswa berusia tidak lebih dari 15 tahun dengan kultivasi minimal sudah mencapai Imajinasi Roh, informasi tidak begitu penting karena semua orang sudah mengetahuinya namun berita itu mendapat perhatian besar bagi Keluarga Cui tersebut.
Cui Kun memasuki sebuah gedung dalam komplek perumahan milik keluarganya, di sana sudah menunggu dua orang pria dan wanita yang disapa dengan nama Nenek Hu dan Kakek Cui.
“Lapor Tetua! informasi penerimaan murid Sekolah Beladiri Sekte Samudera Naga akan berlangsung empat bulan ke depan, apa rencana kita selanjutnya, apakah aku langsung menuju ke Kotaraja Chong Yang dengan membawa orang tuaku?”, tanya Cui Kun.
Nenek Hu merespon,
“Cui Kun, persiapkan dirimu, kau akan berangkat dalam tiga hari, kau akan pergi bersama Jenderal Tan Kui bersama dengan kedua orang tuanmu, ingat jangan kau membuat ulah di sana atau memancing keributan yang tidak perlu, aku tahu tingkat kultivasi milikmu dapat menundukkan para tetua Sekte tersebut, namun bahaya mengintai, karena di balik mereka ada kekuatan yang lebih besar, jauh diluar imajinasimu, gunakan akal bukan hanya kekuatan, karena ada rencana lebih besar dari yang kau rencanakan secara pribadi”, katanya.
“Aku mengerti, kalau demikian aku mengundurkan diri”, kata Cui Kun, dia adalah anak sebelas tahunan yang sangat cerdik, sebenarnya dia sangat membenci para orang tua di depannya, namun dia tidak berani menunjukkannya, karena dia lebih lemah kalau harus menghadapi para tetua tingkatan Raja Dewa ke-8 dan ke-7 seperti Nenek Hu Xie dan Jenderal Tan Kui.
Setelah kepergian Cui Kun, jenderal Tan Kui berkata,
“Tetua Hu, aku sangat mencurigai bocah kecil itu, walaupun dia hanya tingkat Manusia Dewa ke-5 Awal, namun sinar matanya melambangkan kecerdikan yang luar biasa”, kata Tan Kui.
“Kau tidak perlu cemas, aku sudah menerima kabar dari Pemimpin Utama, bahwa anak ini kemungkinan besar memiliki agenda tersendiri, dibandingkan dengan kedua orang tuanya yang memiliki tingkat Raja Dewa ke-1, tapi yang lebih berbahaya justru anak itu, kau harus menggunakan akalmu, ingat cari kelemahannya”, kata Nenek Hu Xie yang ternyata mereka semua adalah utusan dari Benua Barbar Kuno, yang menyusup ke Benua Chong Yang untuk melancarkan rencana besar mereka memberi pukulan telak sebagai pembalasan pada pembunuhan Tetua Hu Sheng kakak Kandung nenek Hu Xie.
Jenderal Tan Kui adalah salah satu dari Enam Jenderal Besar dari Benua Barbar Kuno, kali ini dia menjalankan misi untuk menyusup ke Benua Chong Yang dan membangun kekuatan disana untuk membentuk pasukan penghancur dari dalam, dia akan memulai di tempat ini dengan merekrut para kultivator bebas.
Pagi hari saat matahari menyinari permukaan dunia ini, pada keramaian kotaraja Chong Yang, dimana-mana tertempel selebaran yang memberitakan tentang perekrutan calon Murid Sekolah Beladiri Samudera Naga, banyak anak-anak yang berusia dibawah lima belas tahunan yang berkeliaran di jalan-jalan raya kotaraja tersebut, rata-rata mereka didampingi oleh orang-orang yang lebih dewasa atau beberapa pengawal yang membuktikan bahwa anak-anak ini adalah anak-anak bangsawan tinggi sebuah kerajaan atau negara.
Seorang anak perempuan sembilan tahunan berjalan dengan diapit oleh kedua orang tuanya,
“Lin Sie, ingat jangan kau ulangi kecerobohan seperti tempo hari! di tempat seperti ini banyak berkeliaran para kultivator yang memiliki tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan kekuatan benua dari mana kita berasal, tujuan kami membawamu hanya untuk memperluas wawasanmu”, kata pria itu yang bernama Wang Jie.
“Aku mengerti ayah, tapi aku heran apa tingkat kultivasi bocah yang demikian lusuh itu? Sehingga aku tidak menduga bahwa kekuatan miliknya sehebat itu ayah”,
kata Wang Lin Sie matanya yang jernih menatap ayahnya.
“Dunia ini sangat luas, kekuatan adalah segalanya, tapi untuk menjadi kuat tidak hanya bakat saja yang diperlukan, kesempatan dan keberuntungan adalah faktor yang paling menentukan, namun dibalik kekuatan besar selalu diiringi dengan tanggung jawab yang lebih besar, anak yang kau hadapi itu kemungkinan besar akan melakukan hal-hal besar, sebaiknya kau menjalin hubungan dengan bakat-bakat seperti itu bukan membuat perselisihan apalagi watak anak itu ibu lihat tidak kejam”, kata ibu gadis kecil itu yang bernama Zhang Mei, mengingatkan putrinya.
Wang Lin Sie menganggukan kepalanya, sehingga dua kuncir rambut di kanan dan kirinya bergerak dengan lucu.
Dari arah berlawanan dengan mereka berjalan dengan mantap dan teratur empat orang, salah satu orang itu adalah bocah lelaki yang ditaksir berusia belasan tahun, ketika berpapasan dengan keluarga Wang, keempat orang itu hanya menoleh sebentar tapi terus melangkah meninggalkan keluarga kecil Wang, hal ini menarik perhatian gadis kecil Wang Lin Sie,
“Ayah apakah intuisimu mengatakan bahwa mereka berempat para kultivator tingkat tinggi?”, kata gadis itu menatap ayahnya,
“Tanya ibumu, dia yang lebih sensitif dibandingkan ayahmu”, kata Wang Jie sambil matanya melirik pada istrinya.
“Ssttt…, Lin Sie diamlah, aku takut pertanyaanmu malah menyinggung mereka”, kata ibunya Zhang Mei.
Keluarga kecil itu terus melangkah, menjauhi tempat tadi, sebenarnya pertanyaan Wang Lin Sie terdengar juga oleh empat orang yang baru melewati mereka, bocah lelaki itu membalikkan badan, dia ingin menegaskan pendengarannya, dan dia melihat seorang anak perempuan yang cantik, tidak ada perubahan pada raut wajah bocah itu, tatapan matanya tetap dingin, namun di hatinya berucap seribu bahasa dia ingin mengatakan bahwa ‘aku kultivator Manusia Dewa ke-5, aku berharap kalian akan mengetahuinya kelak’.
Pada jalan Raya yang dilewati oleh keluarga Wang, dari arah berlawanan lewat juga kelompok Nenek Sian dengan Aliong dan Cun Ek, seperti biasa kedua bocah itu berjalan dengan langkah ringan, pada punggung Cun Ek terdapat sebuah kantong kain yang amat besar dan terlihat berat namun Cun Ek dapat berjalan dengan langkah ringan tanpa beban.
“He he he…, kita kembali lagi ke pasar, mudah-mudahan kita dapat uang banyak lagi dan kita bisa makan kenyang lagi, hemmm…, aku langsung lapar lagi… padahal hari masih pagi, tapi masakan bibi Sin kurang enak bila dibandingkan dengan Rumah Makan Selera Raja”, kata Aliong pada Cun Ek.
“Nanti kita akan makan di tempat itu lagi, benar kan nek?”, tanya Cun Ek pada Nenek Sian.
“Ya, uang kita masih cukup untuk makan masakan lezat di tempat itu, tapi sekarang kita jual dulu hasil pertanian kita ke pasar”, kata Nenek Sian.
“Salam tetua, aku yang rendah keluarga Wang menghaturkan hormat”, suara itu dari arah depan nenek Sian, nenek Sian terkejut melihat di depannya telah berdiri tiga orang dengan diantaranya seorang anak perempuan sembilan tahunan.
“Oh, Tuan dan Nyonya bangsawan, kami tidak patut menerima penghormatan ini, kami hanya petani belaka, apa yang kalian lakukan aku menjadi malu”, kata Nenek Sian dengan kepala celingukan melihat sekitarnya, demikian juga Aliong tapi Cun Ek menatap dengan tenang pada Wang Jie dan Zhang Mei yang membungkukkan badannya ke arah mereka.
“Maafkan kelancangan kami, tempo hari kami tidak menjaga putri kami yang bertindak ceroboh, kami bermaksud mengundang tetua ke tempat kami dan menerima perjamuan kami sebagai tanda permintaan maaf kami sekeluarga”, kata Wang Jie lagi.
“Tapi kami mau ke pasar menjual hasil tani kami, dan sepagi ini adalah waktu terbaik kami menjualnya”, kata Nenek Sian Lagi.
“Nyonya, biar kami membeli seluruh hasil tani kalian, dengan begitu engkau tidak perlu ke pasar lagi”, kata Zhang Mei memberi alasan.
“Nek, bagaimana dengan pelanggan kita?, mungkin mereka sudah menunggu”, kata Aliong dengan acuh.
“Baiklah, aku hampir bertindak ceroboh, bagaimana dengan ini, aku akan menanti kalian di tempatku setelah kalian menjual hasil tani kalian, berapapun sisanya biar kami yang membeli dan kalian bertiga dapat beristirahat di tempat kami, mohon dipertimbangkan”, kata Wang Jie lagi.
Tanpa basa-basi lagi Nenek Sian menyetujui usul itu, dia hanya melirik pada Cun Ek, dan anak itu hanya tersenyum mengangguk.
Sekitar tengah hari, rombongan nenek Sian telah berdiri di sebuah rumah yang cukup kokoh dengan bertuliskan Kediaman Keluarga Wang dari Benua Khui Ning.
Thian Sian Li atau nenek Sian sebetulnya sudah tahu siapa keluarga Wang dari Benua Khui Ning ini, sewaktu masih bersama putranya Han Long, dalam hatinya dia sudah bisa menebak bahwa keluarga ini sebetulnya tertarik pada cucunya Cun Ek yang memiliki tingkat kultivasi Manusia Dewa ke-4 Lanjutan.
Tiga orang yang berpakaian sangat sederhana ini diterima dengan penghormatan yang luar biasa di gedung yang cukup kokoh tersebut, para pelayan dan petugas sebetulnya keheranan dengan perlakuan yang harus mereka perbuat pada sekelompok orang yang sangat sederhana, tapi berbeda dengan beberapa anggota pasukan yang pernah bentrok dengan Cun Ek, ada rasa takut menghinggapi wajah mereka, dan setelah dikonfirmasi oleh orang-orang yang belum mengenal Cun Ek, mereka pun berubah menjadi lebih patuh, tapi itu hanya ditujukan pada Cun Ek semata, mereka menganggap biasa pada Nenek Sian apalagi pada Aliong yang terlihat kumal dan mulutnya cerewet.
“Terima kasih atas kedatangan Tetua”, kata Wang Jie mewakili para tetua klan Wang yang telah hadir di ruang pertemuan itu.
“Maaf Tuan, aku hanya seorang nenek biasa, jangan membuatku lebih malu lagi”, kata nenek Sian dia lalu berlutut pada Wang Jie dan para tetua lainnya yang memang duduk dalam satu kelompok.
Wang Jie lalu berdiri, dia dengan cepat menghampiri Nenek Sian,
“Aku tahu nenek, tapi kau memiliki cucu yang luar biasa, bolehkah aku tahu siapa kalian bertiga”, kata Wang Jie lagi.
“kami hanya para petani yang berdiam di luar gerbang selatan Kotaraja Chong Yang ini, aku beserta dengan cucuku hanyalah para petani, tapi cucuku yang bernama Cun Ek memang memiliki keistimewaannya sendiri, dia menjadi cucuku belum lama ini, aku berterus terang ini agar jangan menimbulkan kesalahpahaman di masa depan, berat bagiku menerima perlakuan seperti ini, kurasa sebaiknya aku pulang bersama cucuku Aliong, tapi kalau Cun Ek terserah pada dirinya”, kata Nenek Sian jujur.
“Tidak bisa nenek, aku akan selalu mengikutimu”, kata Cun Ek dengan tegas.
“Sekali kita menjadi saudara, selamanya adalah saudara”, kata Aliong
“Maafkan nenek, aku tidak berusaha mengabaikanmu, kau adalah cucuku, apapun yang terjadi, tetapi perlakuan hari ini adalah untukmu, aku tidak berani menerimanya”, kata nenek Sian lagi sambil matanya menatap lembut pada Cun Ek, yang sedang mengerutkan keningnya.
“Ibu, mengapa kita tidak menyiapkan tempat tinggal bagi mereka bertiga, dengan demikian aku memiliki kawan, apalagi kakak Cun Ek memiliki tingkat kultivasi yang lebih baik dari kita semua”, kata Wang Lin Sie setengah berbisik ke ibunya, tapi suara kecil itu dapat ditangkap oleh pendengaran Cun Ek.
Zhang Mei mengerti maksud putrinya, dia ingin memiliki teman selama di Wilayah kerajaan Chong Yang ini.
Zhang Mei berdiri dan menghampiri Nenek Sian,
“Nyonya, bolehkah nyonya dan cucu-cucumu tinggal di tempat kami, putriku ingin menjadi sahabat atau kawan dengan cucumu”, kata Zhang Mei.
Sebelum Nenek Sian menjawab, sebuah suara bergema di kepalanya,
“Nek, seru juga petualangan ini, terima saja”, ada suara pada jiwa Thian Sian Li, suara itu milik Han Wi Liong.
“Apakah kau bermaksud pindah ke tempat ini?” kata Nenek Sian pada cucunya.
“Mungkin kita akan mengalami suasana baru”, kata Han Wi Liong lagi.
Nenek Sian melirik pada cucu-cucunya, dia terdiam sesaat, tidak segera menjawab tawaran dari Zhang Mei.
“Aku menyerahkan pada cucuku, bagaimana pendapatmu Cun Ek?”, kata nenek Sian pada Cun Ek.
“Aku setuju”, yang menjawab adalah Aliong dengan tersenyum lebar, di matanya bergerak dengan lincah, Cun Ek hanya melongo saja namun di memahami satu hal, di tempat ini Aliong akan mendapatkan makan terenak, tidak seperti di tempat tinggal mereka bertiga, dia pun tersenyum dan mengangguk.
Aliong bersujud pada Wang Jie dan Zhang Mei,
“Aku menawarkan diriku untuk bekerja disini sebagai pelayan”, kata aliong dengan suara polos.
“Demikian juga aku, wanita tua ini hanya mengandalkan pada tenaga cucuku, namun sekali waktu aku harus menengok tempat tinggalku di selatan mohon izinkan aku untuk dapat meninggalkan tempat ini hanya untuk melihat tempat tinggalku”, kata Nenek Sian.
“Baiklah jika itu kehendak kalian bertiga, kalian Cun Ek dan Aliong tidak perlu jadi pelayan kami, aku hanya berharap kalian berdua menjadi sahabat dari putriku dan melindunginya, karena pekerjaan pelayan sudah ada yang mengerjakannya”, jawab Wang Jie dengan senyum cerah menatap pada dua bocah lelaki itu terutama pada Cun Ek.
Setelah itu diaturlah tempat tinggal Nenek Sian dengan kedua cucu lelakinya, mereka bertiga menginginkan menjadi satu kelompok, terutama ini adalah permintaan Cun Ek yang tidak mau berjauhan dengan Aliong, dia sangat ,mempercayai saudaranya itu yang dikenalnya sangat polos, dia pun bermaksud menjaga saudaranya dari perlakuan berbeda dari para pelayan di Gedung yang cukup besar dan luas itu.
Nenek Sian hendak Kembali ke tempat tinggalnya, karena ada beberapa barang yang hendak diambilnya, beberapa barang pribadi, baru besok dia akan kembali.
Hal itu langsung disetujui oleh Wang Jie karena melihat Cun Ek dibelakang Nenek tersebut, Aliong dengan acuh malah meminta Wang Lin Sie untuk menunjukkan tempat tinggalnya yang baru dengan semangat, kelihatannya dia tidak peduli akan tatakrama di gedung keluarga Wang tersebut, namun jika seseorang memperhatikan tatapan matanya ada kilatan yang tersembunyi di balik sorot matanya yang polos dan bersahaja ini.
“Sekarang aku menjadi adik kalian berdua, kenalkan aku bernama Wang Lin Sie, tapi sekarang panggil aku Adik Sie atau Lin Sie saja, dan kalian siapa?”, tanya Wang Lin Sie dengan lincah.
“Aku Cun Ek, karena aku lebih tua kau memanggilku kakak Cun Ek, dan dia tidak suka dipanggil dengan nama apapun selain Aliong, jangan tambah kata apapun, aku juga tidak tahu siapa yang lebih tua diantara kami, maka aku juga suka memanggilnya Aliong”, kata Cun Ek.
“Benar, jangan memanggilku kakak atau apapun cukup Aliong, mulai sekarang kita menjadi saudara, aku hanya memiliki tekad dan niat untuk bekerja keras, kalau soal bela diri sebaiknya kau bertanya pada Cun Ek saja, jangan padaku, aku tidak mengerti”, kata Aliong.
“Mari kutunjukkan tempat tinggal kalian, tempat itu sangat baik karena ada taman tempat kita nanti sering berkumpul, aku tinggal dalam satu bangunan dengan orang tuaku, dan bamgunan kita berdekatan.
Apakah kalian berdua memiliki maksud untuk menjadi murid di Sekolah Beladiri Sekte Samudera Naga?”, tanya Wang Lin Sie pada keduanya, namun keduanya hanya menggelengkan kepala.
“Mengapa? Apakah kalian tidak tertarik sama sekali?”, tanyanya lagi.
Cun Ek melirik Aliong,
“Tadinya aku bermaksud hal yang sama denganmu, tapi kemudian pendirianku berubah setelah melihat saudaraku ini, aku tidak tertarik memasuki sekte manapun, orang bilang kekuatan adalah segalanya, dan dapat mewujudkan segala keinginan kita, tapi yang kualami adalah dengan kekuatan yang kita miliki malah menambah persoalan, bahkan banyak menciptakan musuh yang tidak kita harapkan”, kata Cun Ek.
Aliong menarik nafas panjang, dia melirik Cun Ek, rupanya dia telah mempengaruhi saudara angkatnya ini, tapi bukan salah dia jika dia memiliki pendiriannya sekarang ini, dia hanya menjalani kehidupan sebagai orang biasa, tapi rupanya, apa yang dilakukan memberi dampak pada saudara angkatnya ini,
“Aku hanya manusia yang ingin merasakan hidup ini seadanya tanpa harus menjadi kuat atau yang orang bilang mengarahkan diri menjadi ‘Manusia Abadi’, dan menurutku menjadi manusia dengan segala tantangan dan penderitaannya tidak ada yang salah, malah aku menjadi kuat secara mental dan jiwa, aku bosan melihat orang bertarung hanya ingin menunjukkan kelebihannya, namun intinya hanya untuk menindas yang lemah, padahal di dunia ini, jika tidak ada yang disebut yang lemah, apakah dunia ini menjadi lebih baik?, masing-masing orang diciptakan dengan bagiannya masing-masing agar dunia ini berkembang lebih baik”, katanya dengan dada terangkat seakan dia telah berbicara sebagai orang bijak.
Cun Ek dan Wang Lin Sie melongo, mendengar perkataan dari bocah lelaki yang sama dengan mereka, tapi ucapannya sangat dalam dan penuh makna,
“Aaahh…, kalian mengapa menatapku seperti itu? ucapanku barusan itu semua yang sempat kubaca dari sebuah selebaran, aku sendiri tidak tahu artinya he he he…”, kata Aliong meninggalkan Wang Lin Sie dan Cun Ek dengan santai menuju ruangannya yang telah diperuntukkan dirinya sendiri.