Satu minggu telah berlalu sejak Nenek Sian dan kedua cucunya tinggal di Gedung keluarga Wang dari Benua Khui Ning dan mereka menjalani kehidupan yang wajar dimana Aliong yang tidak mau diam, dia selalu berlari ke dapur dan menjalani kehidupan sebagai pembantu juru masak di tempat itu, dengan begitu dia mulai mempelajari berbagai cara untuk mengolah setiap bahan makanan baik itu sayur-sayuran maupun bahan-bahan berbentuk daging dan ikan.
Pengetahuan Aliong bertambah, dia dapat kesempatan juga dari juru masak keluarga Wang ini untuk mempraktekkan pengetahuan memasaknya, sedangkan Cun Ek dengan permintaan dari Wang Lin Sie lebih banyak membimbing nona muda ini dalam pengetahuan kultivasi dan beberapa teknik beladiri, perlahan namun pasti pengetahuan dan pemahaman Teknik beladiri nona muda ini bertambah.
Tingkat kultivasi yang dimiliki Wang Lin Sie baru pada tingkat Imajinasi Roh ke-2 Awal, di bawah bimbingan Cun Ek, banyak hal yang perlu diperbaiki dan Wang Lin Sie pun mengalami peningkatan energi kultivasi miliknya, hal itu membawa perkembangan yang lebih baik bagi peningkatan Energi Kekuatan Kultivasi Wang Lin Sie yang dengan cermat memperhatikan apa yang telah diuraikan oleh sahabat barunya itu.
Namun ketenangan Wang Lin Sie terganggu, karena suatu kejadian yang terjadi di depan Gerbang Gedung Wang, dimana ada empat orang yang berdiri, dan memaksa masuk untuk menemui Bangsawan Wang untuk bertemu, salah satu dari empat orang ini adalah seorang bocah seumuran Cun Ek.
“Katakan pada tuan kalian, kami hendak menemuinya”, kata Tan Kui dengan memandang rendah sepasukan pengawal yang menghalangi pintu Gerbang Utama Gedung Wang.
Kepala Pengawal dengan wajah memerah, maju melangkah,
“Siapa Kalian? dan apa keperluan kalian menemui tuan kami? Karena kami sebelumnya belum menerima perintah untuk menyambut kalian sebagai tamu, apalagi kalian belum membuat janji”, kata kepala pengawal tersebut.
Tan Kui menjawab,
“Seminggu yang lalu, aku dengar bahwa kalian telah menerima seorang wanita tua dan dua orang bocah cucunya, kebetulan cucuku adalah kawan dari salah satu anak itu”, kata Tan Kui, sambil menyeringai.
Dia mendapatkan informasi, bahwa Cui Kun mendengar dari penyidiknya, bahwa ada anak yang dikenalnya yang sekarang tinggal di Gedung Wang, dia mengusulkan pada Jenderal Tan Kui, untuk mengacaukan tempat itu, karena dia yakin bahwa kekuatan yang berada di Gedung itu sangat lemah, dan dia sendiri menduga bahwa anak yang dikenalnya adalah Cun Ek yang memiliki kultivasi di bawahnya, dan tidak memiliki hubungan dengan para tokoh Benua Chong Yang, dan gerakan ini tidak akan mengambil perhatian dari para ahli Benua Chong Yang.
Tan Kui yang mendengar usulan ini, lalu mengkonfirmasi informasi ini pada para penyidiknya, setelah memastikan keamanan dan informasi yang lengkap, dia menyetujui usulan dari Cui Kun untuk merebut tempat tersebut.
“Sebutkan nama cucumu, biar aku melaporkan kepada tuanku, dan apakah benar anak di dalam itu mengenal cucumu?”, kata kepala Pengawal tersebut.
“Katakan saja aku Cui Kun, dan jika anak itu bernama Cun Ek dia pasti mengenalku”, kata Cui Kun dengan wajah tanpa ekspresi.
Kepala Pengawal itu berbalik masuk kedalam gedung, Meng Li, Cui Man Ek, Tan Kui dan Cui Kun melangkah maju hendak memasuki gerbang Gedung Wang,
“Tahan langkahmu! kalian belum diperkenankan masuk”, kata salah satu pengawal yang memagari gerbang utama Gedung Wang.
“Segala semut bertingkah di depanku, apakah kalian tidak menyayangkan nyawa kalian?”, kata Tan Kui sambil tetap melangkah maju, dengan senyum merendahkan pada barisan pasukan pengawal itu.
Pasukan pengawal itu merasakan tekanan yang menghimpit tubuh mereka semua, seringai kesakitan terbayang di setiap wajah pasukan tersebut,
“Apakah ini yang kalian mau?, he he he…, aku mau masuk ke gedung ini, siapa yang akan menahanku”, kata Tan Kui lagi sambil terkekeh-kekeh senang, baginya saat inilah dia merasa bebas, dia dapat memuaskan hasrat untuk mempertunjukkan kekuatan aslinya yang selama berada di Benua Chong Yang ini dia tahan, berbeda saat dia berada di Benua Barbar Kuno, apa yang dia inginkan dapat diperoleh dengan mudah, tapi di benua sekecil ini dia harus menahan diri, dan baginya ini adalah penyiksaan tersendiri.
“Para tamu yang terhormat, tahan langkah kalian”, kata sebuah suara yang keluar dari Gedung Wang, muncullah bamgsawan Wang Jie, dia melihat sosok pria paruh baya yang sudah mengunci kekuatan para pengawalnya, dia sudah menduga bahwa niat pria ini tidak baik.
“Akhirnya kau muncul, perkenalkan aku Cui Tan Kui, bersama anak, menantu dan cucuku ingin tinggal di tempat ini sama dengan dua orang bocah yang telah kau terima seminggu lalu”, kata Tan Kui dengan seenaknya.
“Tetua yang terhormat, kehendak apa itu? aku menerima mereka karena putriku yang memintanya, dan juga aku tidak mengenal kalian, aturan apa yang kau pakai?”, kata Wang Jie, dia melihat jajaran tetua klan Wang dengan istrinya ikut juga keluar, wajah mereka terlihat merah menahan marah.
“Ho ho ho…, itu aturanku, karena aku dapat mewujudkan keinginanku” Kata Tan Kui sambil menyeringai melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Zhang Mei.
“Tetua yang terhormat, apakah kau menghendaki tempat kami tanpa memperhitungkan akibatnya, dari manakah kalian berasal sehingga kalian menerapkan aturan yang seenaknya sendiri, aku tahu bahwa kami lemah, tapi ingatlah, ini adalah Benua Chong Yang, segala sesuatu yang terjadi di tempat ini menjadi perhatian bagi dua Benua lainnya, cepat atau lambat mereka akan tahu dan akan melakukan pembalasan”, kata Wang Jie, dia tahu bahwa kekuatan kultivasi yang dimiliki oleh pria setengah baya ini jauh di atasnya, tapi dia masih memiliki harapan jika sesuatu terjadi pada keluarganya, minimal ini menjadi perhatian juga oleh seorang pemuda yang pernah dikenalnya, Han Long.
“Ha ha ha…, jangan kau menakutiku dengan omong kosong itu, sebelum aku kemari, aku sudah tahu siapa kalian, bahkah kekuatan Penguasa Benua Khui Ning tidak berarti dihadapanku, terus kalian membicarakan Benua Thian Agung atau Benua Merah, kalian pikir, kalian memiliki kedekatan dengan mereka, ha ha ha… bodoh dan tolol, sekarang juga menyingkirlah kalian, dan biarkan wanita itu melayaniku”, kata Tan Kui sambil telunjuknya menunjuk pada Zhang Mei.
“Kanda Jie, lebih baik aku mati hari ini dari pada dia melecehkan diriku!”, teriak Zhang Mei pada suaminya setelah mendengar maksud asli dari orang yang bernama Cui Tan Kui.
Namun ucapan itu hanya sebatas bibir saja, bagi tingkat yang dimiliki oleh Tan Kui untuk segera melumpuhkan semua orang, hanya mengedipkan mata saja maka orang-orang yang sekian banyak ini akan mati atau lumpuh.
Demikian juga yang terjadi selanjutnya, bukan hanya Zhang Mei, semua orang tanpa kecuali tiba-tiba merasakan tekanan yang sangat dahsyat menghimpit tubuh mereka, rona wajah mereka langsung berubah warna dengan semua urat wajah muncul seperti akan meledakkan isi kepala semua orang.
Cui Kun, Meng Li dan Cui Man Ek hanya terdiam tanpa reaksi, mereka menunggu waktu yang tepat untuk bereaksi.
“Paman, bibi apa yang terjadi?”, seorang anak lelaki sebelas tahun muncul, saat semua orang diambang bahaya karena tekanan yang mereka terima, tapi Aliong berjalan-jalan seperti biasa, dia seperti tidak merasakan tekanan apapun, wajahnya tidak terlihat kesakitan, dengan berjalan normal dia menghampiri para tetua Klan Wang terutama pada Zhang Mei, tangannya menepuk tubuh Zhang Mei pada punggung kiri wanita itu dengan gerakan biasa, dan Zhang Mei seketika terbebas dari tekanan yang dikeluarkan oleh Tan Kui, Aliong pun menghampiri Wang Jie dan tangannya menggoyang-goyangkan ujung lengan Wang Jie, dan Wang Jie merasa terbebas dari tekanan yang melanda dirinya.
“Paman, siapa mereka?”, tanya Aliong lagi.
Wang Jie menarik nafas lega dan menjawab,
“Paman tidak tahu siapa mereka, apakah kau mengenal mereka?”, tanya Wang Jie pada Aliong dengan kening berkerut, dalam hatinya dia berpikir bahwa Aliong seperti tidak merasakan tekanan yang melanda semua orang dipihaknya, bahkan gerakan wajar anak ini membebaskan dirinya dari tekanan yang dikeluarkan oleh orang yang menyebutnya Cui Tan Kui.
“Siapa kau”, tanya Cui Kun pada Aliong.
“Siapa aku?, kau seumuran denganku, tapi kau membawa orang tua yang jahat, lihat! dia dengan seenaknya akan berbuat jahat pada keluarga sahabatku, kau akan tahu rasa bila saudaraku mengetahuinya, kau pasti dihukumnya”, kata Aliong dengan kening berkerut menghadap pada Cui Kun.
“Panggil saudaramu, aku akan membunuhnya”, kata Cui Kun, Aliong dengan terbelalak menatap Cui Kun.
“Membunuhnya? apakah otakmu ada di kepalamu atau di dengkulmu? justru dia yang akan menghajarmu, cepat kau pergi, saudaraku itu orangnya tidak sesabar diriku, dia akan memukulimu”, kata Aliong dengan wajah menunjukkan rasa kasihan pada Cui Kun.
“Aliong lari, pergilah bersama Lin Sie dan Cun Ek, tinggalkan tempat ini”, seru Zhang Mei dengan wajah cemas, dia mengkhawatirkan keselamatan putrinya, karena lawan jauh lebih kuat.
“Aliong ada apakah?”, sebuah suara bocah lelaki muncul diikuti suara anak perempuan,
“Ayah, ibu ada apa dengan kalian berdua?”, diikuti oleh kemunculan Cun Ek dengan Wang Lin Sie.
“Terlambat…, sungguh terlambat…, kau akan dipukuli oleh saudaraku…, dan kau orang tua…, nasibmu lebih sial lagi… “, kata Aliong dengan wajah sedih melihat pada Cui Tan Kui.
“Hey bocah, apa maksudmu?”, kata Tan Kui, dia sebenarnya sedikit terkejut, karena bocah ini berjalan seperti biasa, dengan persepsi jiwanya dia berusaha menyelidiki Aliong apakah dia seorang anak yang memiliki tingkat kultivasi tinggi, tapi dia tidak menemukan apa-apa.
“Semua orang sudah berkumpul, lebih mudah aku menguasai tempat ini ha ha ha…! Hugfh”, ucapan Tan Kui tercekat di tenggorokan, tertawanya berubah menjadi batuk darah, dia celingukan melihat ke segala arah, namun tidak menemukan orang yang dimaksud.
“Cui Kun rupanya kau, apakah kau bermaksud membunuhku, majulah”, kata Cun Ek pada Cui Kun dia tidak memperhatikan Tan Kui yang memuntahkan sedikit darah dari mulutnya, demikian juga Cui Kun yang langsung mengawasi kedatangan Cun Ek, di wajahnya jelas menganggap rendah Cun Ek.
Dua bocah ini langsung berhadapan,
Doummm….!!!
Doummm…!!!
Dua energi Kultivasi tingkat Manusia Dewa Langsung meletus dari tubuh dua bocah lelaki ini, tingkat yang sangat mengejutkan bagi para penghuni Gedung Wang tidak peduli status mereka, pelayan, pasukan pengawal, juga para Tetua Klan Wang.
Sedangkan Aliong langsung mundur,
“Saudaraku beri pukulan terbaik bagi bocah ini, dia bermaksud tidak baik”, kata Aliong pada Cun Ek, dia berdiri di samping Wang Lin Sie yang sedang dipeluk oleh ibunya dengan wajah khawatir
Heiyaaa…..!!!
Hemmm….!!!
Dug, Dugh, Dess…, Desss…!
Benturan pukulan langsung terdengar dari dua tangan kecil bocah belasan tahun, tapi ini cukup mengerikan bagi para kultivator setingkat Manusia Suci seperti yang dicapai oleh rata-rata para Tetua klan Wang.
Energi kekuatan berputar di sekitar arena, semua orang menonton pertempuran itu, tidak ada yang menoleh atau memperhatikan pada orang tua yang bernama Cui Tan Kui, dimana wajahnya telah memerah seperti kepiting rebus, di kepalanya terdengar sebuah suara wanita,
“Pentolan Benua Barbar Kuno berani mengusik Benua ini, kebodohan apa yang kau pikirkan, berani sekali kau menyentuh cucuku, suatu saat aku akan berkunjung pada Istana Kuno dan akan kuratakan istana itu, tapi akan kumulai dari dirimu”, kata Thian Sian Li, dan
Prrrraaaakkk…!
Kepala Cui Tan Kui retak dan nyawanya segera pergi ke alam lain.
Tubuhnya tetap tegak, namun kepalanya sudah terkulai dan menunduk.
Kejadian ini tidak diperhatikan oleh orang lain kecuali Aliong,
“Nenek, kenapa kau bunuh pria itu?”, tanya Han Wi Liong pada neneknya pada ruang di tempat lain di bagian belakang Gedung Wang melalui Kontak Jiwa.
“Pria ini terlalu jahat, dia ingin melecehkan istri bangsawan itu, bagiku itu sebuah kesalahan fatal yang tidak dapat dimaafkan, dan nenek sangat membenci seorang kultivator yang menindas yang lemah demi kepuasan pribadi semata apalagi demi kepuasan hasrat binatang seperti itu”, jawab Thian Sian Li yang membalasnya melalui Kontak jiwa juga.
Han Wi Liong sangat memahami sifat nenek Thian Sian Li dari keterangan ayahnya, sekali neneknya mengambil keputusan, sulit untuk merubahnya, karena di balik kelembutan sifat neneknya, ada kekerasan dan ketegasan seorang yang pernah memimpin Benua Thian Agung.
Sementara itu pertarungan antara Cui Kun dan Cun Ek masih berlangsung dengan seru dan seimbang, perlahan tapi pasti Cun Ek terlihat sedikit terengah pada pernafasannya, tingkat kultivasi Cui Kun lebih tinggi, namun tekad yang dimiliki oleh Cun Ek sekuat baja, dia pantang menyerah terus mengerahkan teknik bela dirinya yang terbaik.
Tiba-tiba perubahan terjadi, gerakan Cui Kun melambat dan nafasnya menjadi berat, ada hawa energi yang menyerangnya, tubuhnya menjadi terganggu ketika digerakan,
Plak! Plak! Plak!!!
Dugh…, Dugh…, Dess !!!
Aaahhhhkkkk…!!!
Tiga tamparan menerpa pada pipi Cui Kun ditambah dua pukulan yang mengarah perut dan dadanya serta satu tendangan pada sambungan lututnya membuat dia mengerang dan menjerit kesakitan, hal ini tidak ada yang menduga, kekuatan Cui Kun tadi berada diatas angin namun sekarang yang terkapar adalah dirinya, bukan Cun Ek.
Semua mata menatap dengan mata terbelalak, Cui Man Ek terpaku sedangkan Meng Li memburu tubuh putranya.
”Apa kubilang, sejak tadi kuperingatkan, saudaraku tidak sesabar diriku, akhirnya dia memukulmu, ayo cepat pergi kalian semua dan bawa mayat orang tua itu!”, kata Aliong.
MAYAT…!!!????
Semua orang terkejut ‘ada mayat!’, dan semua mata melihat telunjuk Aliong mengarah pada pria yang menyebut dirinya Cui Tan Kui.
Pria paruh baya itu berdiri dengan kaku tanpa bergerak,
Dengan wajah polos dan mata bersinar terang, Aliong menerangkan,
”Mungkin saking kagetnya dia mati mendadak, rupanya jantung dia tidak kuat menahan getaran kekuatan yang kalian miliki karena kalian para bocah melakukan pertempuran terlalu dekat dengan dirinya”, katanya.
Tubuh Cui Man Ek bergetar, menggigil ketakutan dia menengok kiri kanan mencari tahu di sekitarnya, jangan sampai dia menemukan wajah yang sudah dikenalnya, Mo Eng karena tingkat kekuatan yang dimiliki Mo Eng diatas diri dan istrinya, pandangannya sempat menjadi buram, ketakutan yang dahsyat mencengkram dirinya sangat kuat dan itu mengganggu jalan pikirannya,
“Aku pergi dulu, aku harus pergi!! kau urus saja anakmu, karena kutahu dia bukan putraku, Meng Li kau dengar!, aku tidak ingin mati konyol… ingat! aku tidak ingin mati konyol, terserah pada dirimu, aku tidak ingin kembali he he he…., Ha ha ha…, Aku konyol jika terus mengikuti kalian Ha ha ha…”, tawa seram Cui Man Ek bergema dan tidak lama kemudian dia meloncat ke udara, dengan tingkat yang sudah dicapainya selama ini, Tingkat Raja Dewa ke-1 Lanjutan sudah cukup membuat gerakan kilat tanpa dapat di cegah oleh yang lainnya, Cui Man Ek Menghilang dengan masih meninggalkan gema tawanya yang membuat semua orang bergidik ngeri.
Tinggallah Meng Li yang masih memeluk tubuh Cui Kun,
“Ibu apa maksud ayah?, apakah benar yang dikatakannya?”, kata Cui Kun sedikit berbisik pada telinga Meng Li.
Dengan berurai airmata, Meng Li menatap wajah putranya, dia bingung harus menjawab apa, Meng Li terdiam dan tidak segera menjawab pertanyaan putranya, tiba-tiba ada getaran suara di dalam kepalanya, seseorang melakukan kontak jiwa,
“Kau Meng Li, pergilah! aku mengenalmu, tapi jangan kau kembali ke Benua Barbar Kuno, hiduplah secara normal, mengingat perkenalanmu dengan Han Long, aku tidak akan membunuhmu”, kata sebuah suara wanita , Meng Li menggerakkan kepalanya berusaha mencari tahu arah suara itu, namun tidak ditemukannya.
“Anakku, aku akan mengobati cedera dirimu, kita akan pergi jauh, jangan lagi kita terlibat dengan urusan dunia kultivasi yang melelahkan dan menyakitkan ini”, kata Meng Li, dengan menggunakan persepsi jiwanya, tubuh Cui Kun terangkat sendiri, dan Meng Li berjalan dengan tenang melangkah keluar gerbang utama Gedung Wang.
Tubuh lemah Cui Kun yang melayang mengikuti di belakang tubuhnya, tidak ada yang mencegahnya, tidak ada yang berusaha menghalanginya, dan Meng Li pun pergi meninggalkan mayat Tan Kui, Jenderal Besar Benua Barbar Kuno yang sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-7 Lanjutan.
Berita ini kalau diketahui dunia luar sungguh tidak masuk akal, seorang kultivator Raja Dewa ke-7 Lanjutan, dapat terbunuh di tengah-tengah warga yang hanya memiliki tingkatan Manusia Suci di tempat yang sebenarnya dengan tingkat yang dimilikinya dapat menyapu bersih para penghuni tempat itu, tapi kenyataan berbicara lain, malah dia yang mati.
Mitos yang mengatakan bahwa Benua Chong Yang, tempat berdiamnya Naga Tersembunyi dan Harimau Berjongkok akan semakin menyebar, kemisteriusan adanya para tokoh ahli yang mengawasi dan melindungi Benua Chong Yang adalah benar, terbukti dengan matinya seorang kultivator tingkat tinggi , Tingkat Raja Dewa ke-7 Lanjutan mati dengan sia-sia.