Hu Xie menyudahi santapannya, dia pun meninggalkan kursi yang didudukinya dan berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Wanita ini masih mempertahankan raut wajahnya yang dingin, sekalipun dalam hatinya menahan amukan samudra kemarahan yang membludak, dengan persepsi jiwanya dia mulai menandai jiwa Wang Lin Sie, agar mudah diketahui kemanapun bocah perempuan itu pergi.
Aliong dan Cun Ek pun langsung menyantap hidangan yang sudah tersedia, tanpa basa-basi lagi keduanya berebutan mengambil macam-macam masakan dan makanan yang terhidang memenuhi meja, dimana kelakuan dua bocah lelaki ini diperhatikan oleh Chin Hong dan Wang Lin Sie karena selera makan yang sangat mengejutkan.
“Makanan sebanyak ini, apakah kalian sanggup menghabiskannya?” tanya Chin Hong dan Wang Lin sie pada Aliong dan Cun Ek bersamaan.
“Hakhu shenahang, kahalau khaliahan tihidahak ambihil mahakanan hini (Aku senang, kalau kalian tidak ambil makanan ini)”, jawab Aliong.
“Apa katamu?”, tanya Chin Hong
“Habiskan dulu makanan di mulutmu!” kata Wang Lin Sie sambil menjumput sedikit makanan dan dimasukan ke mulut kecilnya.
“Teherserah kahalihan, haku haruhus mahakaan bahanyak (terserah kalian, aku harus makan banyak)”, jawab Cun Ek yang merebut makanan dari sumpit yang sudah siap masuk ke mulut Aliong.
Kedua bocah perempuan ini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, dan Chin Chung hanya tersenyum melihat nafsu makan dua bocah lelaki ini, yang ada di kepalanya berbeda dengan yang ada di benak Chin Hong dan Wang Lin Sie, dia semakin yakin dengan tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Cun Ek yang jauh di atasnya, namun dia tidak habis pikir dengan Aliong, karena anak ini tidak memiliki aura seorang bocah yang berkultivasi tapi anak tersebut dapat mengimbangi nafsu makan Cun Ek.
“Bocah Aliong ini seperti bocah pedesaan, mungkin dia berbakat makan besar saja, dia pasti memiliki tenaga luar yang sangat kuat, berbeda dengan bocah Cun Ek ini, dia sedang memanjakan lidahnya, karena seorang kultivator tidak memerlukan makanan jasmani sebesar ini, apalagi tingkat yang dimilikinya kemungkinan besar berada pada tingkat Manusia Dewa ke-1 atau lebih, sebesar apapun jumlah makanan yang memasuki perutnya akan segera ditelan dan menjadi energi yang kurang berarti bagi tubuhnya”, pikir Chin Chung.
Aliong tiba-tiba berhenti makan, dia menghela nafas dan menelan sisa makan di mulutnya,
“Aku kenyang, kau harus habiskan sisa makanan ini Cun Ek”, katanya pada Cun Ek.
“Terima kasih saudaraku, aku akan habiskan semuanya” kata Cun Ek dengan lahap dia menghabiskan sisa makanan tersebut.
Sebenarnya Aliong menghentikan seleranya karena ada suara di kepalanya, suara itu adalah suara Nenek Sian,
“Cucuku, kau harus waspada pada wanita yang barusan meninggalkan meja di ruangan tersebut”, kata Nenek Sian melalui kontak jiwa.
“Aku tahu nenek, aku akan kembali dengan jalan memutar”, balas Aliong melalui kontak jiwa juga.
Chin Chung melihat bahwa Aliong hanya seorang bocah biasa yang doyan makan besar, berbeda dengan Cun Ek yang membuktikan teorinya bahwa bocah itu dengan cepat menghabiskan sisa makanan itu dengan cepat dan tenang tanpa ada sisa makanan yang belepotan di mulutnya.
Aliong mengeluarkan kantong langit yang menggantung di dadanya, dan beberapa koin emas siap dikeluarkannya, namun Chin Chung menahannya walau sedikit terheran bahwa bocah pedesaan ini memiliki kantong langit yang biasanya dimiliki oleh para kultivator tingkat menengah ke atas, karena harga kantong langit itu sangat mahal bahkan harga itu bisa membeli sebuah hunian yang sangat nyaman di Kerajaan Chong Yang Ini.
Setelah membereskan pembayaran makanan yang disantap oleh semuanya, Chin Chung bermaksud mengajak ketiga bocah itu ke tempatnya,
“Apakah kalian sudi menerima undangan putri kami untuk berkunjung dan singgah ke tempat kami?” tanya Chin Chung pada ketiganya.
“Paman sangat baik, bahkan kami menikmati keramahan paman dan saudari Chin Hong, tapi kami harus segera kembali ke Gedung Wang”, kata Wang Lin Sie.
Namun respon berbeda ditunjukkan Aliong,
“Oh, kami dengan senang hati memenuhi undangan paman”, kata Aliong dengan mata penuh harap pada dua sahabatnya.
Cun Ek yang melihat tatapan penuh harap dari saudara angkatnya, mengedipkan mata pada Wang Lin Sie, dan bocah perempuan itu hanya menatap bingung.
“Ha ha ha…, kalau begitu dengan senang hati kami menerima kalian bertiga, ayo putriku, ajak mereka bertiga ke tempat kita”, kata Chin Chung Lagi.
Dan mereka pun lalu keluar dari rumah makan tersebut dimana di depan rumah makan itu sudah berjejer beberapa pengawal penjaga, lengkap dengan sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda kilin angin yang amat besar.
Beberapa penjaga yang pernah melihat sosok bocah Cun Ek sedikit terkejut melihat tuan mereka berjalan beriringan dengan bocah yang pernah menghentikan iringan kereta tersebut, namun mereka tidak berucap sepatah katapun, karena mereka sudah tahu bahwa bocah Cun Ek ini bukan sembarang bocah biasa.
Kereta itu pun berlalu meninggalkan rumah makan tersebut menuju kediaman keluarga bangsawan kerajaan Buana Nirwana, dan kepergian rombongan ini tidak terlepas dari tatapan mata seorang wanita yang menatap dengan tajam ke arah rombongan tersebut.
Hu Xie terus mengikuti perjalanan kereta bangsawan kerajaan Buana Nirwana, di kepalanya sudah tersusun rencana untuk menyergap penghuni kereta tersebut, namun dia masih bersikap hati-hati, persepsi jiwanya melingkupi seluruh Kerajaan Chong Yang dengan Waspada agar dia tidak perlu bentrok dengan Kultivator yang melindungi klan keluarga Wang yang konon memiliki hubungan dengan kultivator yang sanggup membunuh tingkat Raja Dewa ke-7 dengan mudah.
Hu Xie dengan tatapan tajam mengawasi pergerakan kereta tersebut, namun tiba-tiba wajahnya berubah pucat, wajahnya kebiruan menahan sesak yang tak tertahankan.
Di kepalanya bergaung sebuah suara,
“Berani kau berulah di Benua ini, jangankan dirimu, bahkan seluruh Benua Barbar kuno tidak akan sanggup menanggung resiko yang kau akibatkan, aku mengampunimu sekarang, salah satu orangmu yang mati hanya sebagai peringatan saja, kembalilah! Nanti aku berkunjung ke benua mu”, kata suara seorang wanita di kepalanya.
Hu Xie sudah bertindak sangat hati-hati, namun ternyata keberadaannya sudah terdeteksi sedemikian rupa, dia maklum sekarang bahwa Benua Chong Yang bukan lagi Benua seperti dulu, banyak kultivator tingkat tinggi yang bersembunyi di benua ini, yang menandakan sebuah kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh oleh kekuatan Benua Barbar Kuno, dia harus kembali secepatnya, harga penyelidikan ke benua ini mahal dengan terbunuhnya salah satu jenderal besar yang merupakan salah satu pilar kekuatan Benuanya, juga kehilangan beberapa anggota lainnya.
Tekanan pada diri Hu Xie mereda, setelah dirasakan tekanan itu menghilang, dia mengerahkan energi kultivasinya dan berucap,
“Aku akan mengingat keramahan anda, aku tidak tahu siapa kultivator terhormat ini, aku akan kembali, aku akan menantikan kunjungan anda ke tempat kami dan menunjukkan keramahan kami juga” kata Hu Xie dengan wajah merah padam, mengerahkan segenap kekuatannya ke angkasa sehingga menimbulkan gema suara yang membahana ke seluruh Kerajaaan Chong Yang dan dia pun menghilang dengan cepat.
Suara Hu Xie yang bergema sangat keras dan sangat mengejutkan penghuni Kerajaan Chong Yang, menimbulkan kehebohan tersendiri, khususnya menjadi perhatian para kultivator di kerajaan tersebut.
Pada Istana Kerajaan Chong Yang, suara itu bergaung dan menjadi perhatian kultivator tingkat Raja Dewa, diantaranya Han Wo dan istrinya An Ling yang sedang berkunjung pada kakak iparnya An Wu Hong yang didampingi oleh Yap Ing dan leluhur Yap Kun Tek di dalam aula istana bersama Raja Duan Leng.
“Saudara Penasehat, siapakah kultivator itu?” tanya Raja Duan Leng pada Han Wo.
Baik Han Wo maupun istrinya saling melirik dengan yang lainnya,
“Aku tidak tahu siapa kultivator itu, tapi tingkat yang dimilikinya jauh diatas kami semua” kata Han Wo dengan berkerut kening.
Yap Kun Tek pun menatap dengan heran,
“Kenapa kultivator setingkat itu berkeliaran di Benua ini?, apalagi dalam kerajaan Chong Yang ini”, katanya sambil menatap lainnya.
An Wu Hong melirik pada istrinya lalu bergeser melihat lainnya seraya berucap,
“Mungkin maksud tokoh tersebut adalah leluhur Thian Sian Li, bukankah beliau juga berdiam di Benua Chong Yang ini, aku hanya mengemukakan pendapatku, artinya beliau telah menunjukkan kekuatannya pada seorang kultivator yang akan merongrong sesuatu di Benua ini, khususnya kerajaan Chong Yang kita” katanya.
Yap Ing menganggukan kepalanya, dia setuju atas pendapat dari suaminya, dia juga maklum kalau kekuatan kultivasi yang dimiliki oleh Leluhur Thian Sian Li sangat jauh berada di atas mereka yang hadir di ruangan ini.
Wajah terkejut Yap Kun Tek terpampang, dia baru sadar bahwa diantara mereka, orang yang bernama Thian Sian Li ini adalah kultivator di atas Raja Dewa, jika demikian maka pemuda bernama Han Long tidak jauh dan berada di sini juga.
Raja Duan Leng pun demikian, dia terkejut dengan wajah menjadi pucat, Kerajaannya sekarang menjadi perhatian para Kultivator tingkat tinggi, ada kecemasan mengingat kalau seandainya tempat ini menjadi ajang pertempuran bagi para kultivator seperti itu, maka wilayahnya hanya akan menjadi debu dan kerajaannya akan lenyap dari dunia ini.
Yap Ing melirik pada leluhurnya Yap Kun Tek dan berkata,
”Dulu saat Han Long masih anak remaja, Leluhur Thian Sian Li selalu berada di dekatnya, apakah sekarang Han Long masih ada di sekitar kita?, dia sudah memiliki istri sekarang”, kata Yap Ing berusaha menganalisa situasi.
Han Wo menatap iparnya An Wu Hong dan ucapnya,
”Apakah kau masih ingat akan hari dimana Han Long menyatakan isi hatinya pada dua wanita sekaligus dan sekarang menjadi istrinya, ada seorang bocah yang merupakan putra Han Long dari Penguasa Benua Ketiga Bu Ling Moy?” tanyanya.
”Apa kau maksudkan putra tersebut kini berpetualang dengan leluhur Thian Sian Li?” kata An Wu Hong.
Yang menjawab malah adiknya An Ling,
”Kakak, ada kemungkinan, anak itu sekarang berkeliaran di benua ini, mungkin ada di kerajaan kita, karena saat ini Sekte Samudera Naga sedang merekrut murid-murid berbakat”, jawabnya seraya wajah An Ling menatap bergantian pada yang lain juga.
Yap Kun Tek matanya berbinar-binar, dulu dia teringat saat Han Long masih anak remaja, dan dia bermaksud ingin menjadikan Han Long kala itu sebagai muridnya, tapi Han Long menolaknya.
”Kupikir, jika putra Han Long ingin menjadi murid di Sekte Samudera Naga, kemungkinan itu sangat tipis, apalagi anak itu keturunan naga dan harimau, mana mau dia bergabung dengan sekte sekecil ini, hal itu tidak sebanding dengan bakat yang dimilikinya”, kata Yap Kun Tek.
Yap Ing menganggukkan kepalanya,
”Aku berpendapat, jika saja anak itu mau menjadi murid salah satu diantara kita maka dengan sendirinya kita yang akan menjadi bangga, status kita akan terkenal di seluruh Dunia Sembilan Benua ini, tetapi itu hal yang sangat mustahil, apalagi sekte Samudera Naga ” katanya.
Han Wo berkata,
”Tapi bisa saja, karena ketika kita ada di benua Thian Agung saat Han Long meminta kesediaan Han Eng dan Coa Leng In menjadi istrinya, anak itu tidak memiliki kultivasi apapun, karena aku pernah mendeteksi diri anak itu saat kemunculannya melalui persepsi jiwaku”, sambil Han Wo melihat pada istrinya An Ling.
”Benar, aku pun melakukan yang sama, anak itu seperti anak biasa, tidak ada keistimewaan pada dirinya, hanya anak yang tampan dan ceria”, tambah An Ling.
”Saudara Han Wo, harus diingat bahwa anak seperti keturunan Benua Ketiga adalah anak yang memiliki keistimewaan tersendiri, tingkat kekuatan milik Han Long dan istrinya sangat jauh diatas kita semua, mungkin saja itu disembunyikan oleh orang tuanya dengan teknik yang sangat tinggi milik mereka”, jawab Yap Kun Tek.
”Segala kemungkinan bisa saja terjadi, yang jelas bahwa Kerajaan Chong Yang menerima kebaikan akan perlindungan dari leluhur sekelas ibu Thian Sian Li, dan ini pun menurutku berhubungan dengan kegiatan penerimaan murid berbakat pada Sekte Samudera Naga, bisa saja anak itu ingin melihat keramaian acara tersebut seperti yang dilakukan oleh ayahnya waktu masih anak remaja, aku berharap para kultivator setingkat Raja Dewa turut ambil bagian dalam mengawasi acara ini, terbukti adanya kultivator tingkat Raja Dewa tingkat tinggi yang ingin mengganggu di daerahku, namun dapat diusir atas kemurahan Leluhur Thian Sian Li, jadi kecurigaanku adalah, adanya sekelompok lawan yang ingin mengganggu Benua ini dan berkaitan dengan kekuatan yang sangat besar, mungkin bermaksud menantang kekuatan asli yang memiliki hubungan dengan kita seperti kekuatan dari Benua Thian Agung”, kata Raja Duan Leng.
Pandangan yang jauh dari seorang Raja Duan Leng menggugah yang lainnya, baik An Wu Hong dan An Ling menjadi kagum akan cara berpikir kakak tertua mereka, mereka berdua sangat setuju akan pendapat ini, cara berpikir seorang negarawan sangat berbeda dengan mereka yang berfokus pada kekuatan kultivasi semata, hal-hal sebesar itu tidak terbesit sedikitpun di benak mereka.
Yap Kun Tek dan Yap Ing pun sedikit terperangah akan ucapan Raja Duan Leng, fokus mereka berdua berpusat pada kekuatan seorang anak berbakat, namun melupakan inti masalah yang dapat terlihat oleh seorang raja penguasa wilayah dimana gangguan asli dari seorang kultivator tingkat tinggi sebenarnya menyangkut banyak hal.
Akhirnya pertemuan itu berlanjut dengan membahas secara teknis akan mengawasi jalannya acara seleksi penerimaan siswa pada Sekolah Beladiri Samudera Naga, dimana pada intinya mereka semua akan terlibat dalam pengawasan untuk melindungi kepentingan Kerajaan Chong Yang dan Sekte Samudera Naga, dan yang utama, jangan sampai menerima seseorang yang malah menjadi penyusup demi kepentingan lawan.
Suara Hu Xie yang bergema di seluruh Kerajaan Chong Yang, terdengar juga sampai ke komplek hunian Bangsawan Chin Chung, dimana Aliong, Cun Ek dan Wang Lin Sie saat itu menjadi tamu.
“Kakak Cun Ek, siapakah wanita itu?, kekuatan yang ditunjukkannya sangat kuat”, tanya Wang Lin Sie.
Cun Ek melihat ke arah Aliong yang sangat acuh pada gema suara tersebut,
“Aku tidak tahu siapa dia?, tapi untuk apa keberadaan kultivator itu di benua ini? apakah ada kaitannya dengan seleksi penerimaan siswa pada Sekolah Beladiri Samudera Naga?” Katanya.
Aliong malah menggeleng-gelengkan kepalanya,
“Kita masih anak-anak, untuk memusingkan hal-hal seperti itu, saudari Chin Hong apakah di tempatmu ada seorang juru masak yang baik?, aku ingin belajar memasak” tanya Aliong pada Chin Hong yang bertindak sebagai tuan rumah.
Dengan wajah heran, Chin Hong menatap pada Aliong lalu bergeser pada Cun Ek dan Wang Lin Sie,
“Apa kau ingin belajar masak?, apakah kau tidak tertarik pada kultivasi?” Tanya Chin Hong pada Aliong.
Aliong hanya menggelengkan kepalanya, Cun Ek dan Wang Lin Sie pun menerangkan pada sahabat mereka yang baru bahwa Aliong hanya tertarik pada ilmu memasak dan menghasilkan masakan terlezat.
Chin Hong lalu membawa Aliong ke Dapur utama di komplek hunian Kerajaan Buana Nirwana, dengan gembira Aliong melihat bahwa dapur ini sangat luas dengan juru masak yang jumlahnya dua kali lipat dari yang dimiliki oleh klan Keluarga Wang di Wang.
Setelah memperkenalkan Aliong pada semua orang di dapur Kerajaan Buana Nirwana, Chin Hong membawa Chun Ek dan Wang Lin Sie ke taman belakang dimana terdapat tanah rerumputan yang cukup luas yang datar dan rata.
“Bagaimana kalau kita berlatih disini, saudari Lin Sie, sekalian kita dapat menukar pengetahuan kita akan teknik Beladiri dan Teknik Kultivasi” kata Chin Hong.
“Kalau untuk pengetahuan teknik beladiri dan teknik kultivasi yang paling pantas adalah kakak Cun Ek, aku pun banyak belajar darinya”, jawab Wang Lin Sie sambil matanya mengarah pada Cun Ek.
“Aku bersedia membantu kalian berdua untuk menambah pengetahuan kalian akan teknik beladiri dan teknik kultivasi, apalagi kalian berharap dapat diterima di sekolah beladiri Samudera Naga, tetapi peningkatan terbaik tergantung dari persepsi kalian masing-masing”, kata Cun Ek pada mereka berdua yang dibalas oleh anggukan kepala keduanya.
Maka dimulailah petunjuk Cun Ek pada kedua anak remaja perempuan itu, apa yang di buat oleh Cun Ek tidak terlepas dari pengawasan Chin Chung, hati bangsawan ini sangat gembira bahwa putrinya dapat menjalin persahabatan dengan seorang anak remaja berbakat seperti Cun Ek.
Chin Chung sedikit berkerut keningnya ketika mengetahui bahwa Aliong ternyata hanya seorang anak biasa yang memiliki kegemaran akan ilmu memasak saja, hatinya kecewa, bahwa Aliong tidak sesuai dengan ekspetasinya, namun dia terhibur juga bahwa Cun Ek mau mengajari putrinya akan teknik beladiri maupun teknik kultivasi walaupun hanya beberapa jam saja, karena besok, akan dimulai seleksi penerimaan siswa Sekolah Beladiri Samudera Naga.