Pagi hari ini, Sekolah Beladiri Samudera Naga kembali ramai, di depan gerbang Sekolah tersebut telah dipenuhi oleh puluhan ribu anak-anak remaja yang berusia sekitar sembilan hingga belasan tahun yang memiliki rata-rata kultivasi di tingkat Kekuatan Jiwa hingga tingkat Imajinasi Roh.
Berbeda pada lima tahun sebelumnya, tingkat kultivasi Kekuatan Daging sudah tidak dapat masuk atau menjadi kandidat di sekolah ini, karena mengingat bahwa tidak hanya anak-anak remaja di Benua Chong Yang saja yang berminat memasuki tahapan seleksi ke sekolah ini namun melibatkan juga para anak-anak berbakat dari benua lainnya, khususnya dari Benua Khui Ning maupun Benua Eng Hian.
Dimuka gerbang Sekolah Beladiri Samudera Naga berjajar dengan rapi barisan anak murid yang memiliki status Murid luar yang rata-rata telah memiliki tingkat Kultivasi Imajinasi Roh ke-1 hingga ke-3 Awal, dengan wajah serius mereka semua menatap pada wajah anak-anak remaja yang juga menatap pada mereka semua.
Status murid Luar Sekolah Beladiri Samudera Naga adalah status yang membanggakan, bagaimana tidak, Sekolah ini telah melahirkan kultivator yang sekarang dikenal sebagai kultivator Penguasa Dunia Sembilan Benua ini, dan memang sangat jarang bahwa menjadi status Murid luar tapi memiliki tingkat kultivasi yang mencapai tingkat Imajinasi Roh ke-1 Awal, karena tingkatan ini kalau di sekolah beladiri lainnya sudah dianggap sebagai Murid Dalam bahkan ada yang memegang status Murid Inti, artinya di sekolah Beladiri Samudera Naga, memiliki kualitas tersendiri yang lebih unggul dibandingkan Sekolah Beladiri lainnya.
Diantara sekian banyak anak remaja yang akan mengikuti seleksi penerimaan murid Sekolah Beladiri Samudera Naga, ada sekelompok anak remaja yang terdiri dari empat orang, yaitu Kelompok Aliong dan Cun Ek yang mendampingi Wang Lin Sie dan Chin Hong.
Aliong dan Cun Ek hanya menemani kedua anak remaja perempuan yang menjadi sahabat mereka, mereka berdua tidak bermaksud untuk mengikuti seleksi tersebut, sedangkan di tempat lain ada sekelompok anak remaja yang dulu sempat bertemu dengan Cun Ek yaitu anak remaja dari kota Yang In, dimana Han Sie terlihat memimpin sekelompok anak remaja lainnya, dia mendapat tugas dari leluhurnya sebagai pemimpin anak-anak berbakat dari kota Yang In yang berjumlah dua belas orang anak dari berbagai klan Keluarga kota Yang In.
Cui Meng dan Tang Lie terlihat mendampingi Han Sie, mereka adalah sekelompok anak remaja berusia sebelas hingga empat belas tahunan, semenjak Han Wo dan An Ling istrinya menjadi penasehat Raja Chong Yang dan mereka berdua memilih tinggal di Kota Yang In, pamor kota kecil tersebut naik ke permukaan sebagai salah satu kota ternama di Benua Chong Yang, dan hal ini adalah kebanggan tersendiri bagi anak-anak yang berasal dari kota Yang In.
Dapat dimaklumi bila Han Sie dan kawan-kawannya memandang rendah pada kelompok lainnya, karena kelompok anak yang dipimpinnya memiliki tingkat terendah dalam kultivasi pada tingkat Imajinasi Roh ke-1 Awal, sedangkan yang tertinggi pada tingkat Imajinasi Roh ke-2 Lanjutan milik Han Sie, sedangkan Cui Meng dan Tang Lie pada tingkat Imajinasi Roh ke-1 Lanjutan dan Puncak.
Wajah anak remaja perempuan Han Sie berubah, karena di seberangnya dia melihat Cun Ek dan Aliong yang sedang bersama dua anak remaja perempuan yang terlihat berpakaian bangsawan tinggi, apalagi ketika dia melihat ke arah Chin Hong yang memakai hiasan tusuk konde dengan rambut yang digelung ke atas ciri khas wanita kerajaan atau semacam putri raja.
“Cui Meng, Tang Lie! Kemarilah, lihat di arah seberang, kita harus hati-hati pada mereka berempat”, kata Han Sie pada kawan-kawannya.
“Saudari Han Sie, apa yang kau cemaskan terhadap mereka, sekalipun salah satu bocah itu adalah seorang yang berhasil menghentikan laju seekor kuda kilin angin dan berhasil melemparkan penunggangnya, kemungkinan terbesar karena faktor keberuntungan anak tersebut, aku tidak melihat keistimewaan mereka, kita adalah anak-anak Kota Yang In, kota yang melahirkan penguasa dunia ini”, kata Tang Lie dengan bangga dan dada terangkat.
Cui Meng sangat setuju dengan ucapan kawannya ini, dan mereka semua tahu bahwa Kepala Klan Han yang sekarang bernama Han Wo dan istrinya yang memiliki tingkat kultivasi Raja Dewa, ada di Kerajaan Chong Yang juga.
Han Sie hanya terdiam, dia pun tahu bahwa apa yang diucapkan oleh Tang Lie adalah benar, tetapi sesuai arahan dari para Tetua klan Han, waspada pada setiap kondisi adalah penting, sekalipun kepala Klan Han berada di Kerajaan Chong Yang ini.
Namun demikian saat memperhatikan Cun Ek dan Aliong, memang tidak ada unsur istimewanya, apalagi kalau mereka berdua akan berbuat jahat pada kelompoknya, namun yang menjadi perhatian dari Han Sie adalah kekuatan di belakang Cun Ek tersebut, apakah tingkat kultivasi yang dimiliki Cun Ek masih berminat masuk menjadi murid di Sekolah Beladiri Samudera Naga ini, tapi jika apa yang dikatakan oleh Tang Lie bahwa pertunjukkan kekuatan oleh Cun Ek saat menghentikan laju kuda kilin angin hanya kebetulan belaka, maka apa yang dikhawatirkan oleh dirinya tidak berdasar.
“Baiklah, aku hanya mengatakan sebaiknya kita waspada, ternyata saingan kita tidak mudah karena seleksi kali ini adalah yang tersulit untuk memasuki sekolah beladiri ini, kudengar ada tiga tahapan dalam seleksi ini yang lebih sulit karena perancang ujian kali ini melibatkan tingkat leluhur Phang Cui Lin sendiri”, kata Han Sie lagi.
Ketika Cui Meng hendak mengatakan sesuatu, terdengar suara dari arah gerbang Sekolah Beladiri Samudera Naga,
“Para calon murid Sekolah Beladiri Samudera Naga dipersilahkan masuk melewati Gerbang Sekolah, barangsiapa dapat melewati gerbang kurang dari tiga jam, anggap hal itu telah lulus pada tahap pertama”, kata suara itu yang dikeluarkan oleh Hwa San, kepala sekolah Beladiri Samudera Naga.
Mendengar hal itu, semua anak-anak remaja ini langsung melangkah memasuki gerbang Sekolah, namun kelompok kota Yang In, terlihat tenang, mereka lalu berkultivasi dan menyiapkan kekuatan kultivasi mereka agar energi masing-masing dapat dikeluarkan karena mereka tahu bahwa melewati Gerbang tersebut tidak semudah yang diucapkan, pasti membutuhkan kekuatan.
Cun Ek memberi nasehat pada Chin Hong dan Wang Lin Sie,
“Tenangkan jiwa kalian, atur nafas dan kerahkan energi kultivasi kalian pada puncaknya, juga kerahkan teknik jiwa kalian dan lihatlah ke depan, maka kalian akan melihat sesuatu dan kalian akan melewati gerbang itu” katanya.
Wang Lin Sie sudah mempercayai apapun yang diucapkan oleh Cun Ek, maka dia segera mengikuti petunjuk Cun Ek, melihat Wang Lin Sie melakukan sikap kultivasi, Chin Hong lalu mengikutinya, sedangkan Aliong memisahkan diri dan menemukan sebuah pohon yang cukup rindang, dia menghindari sinar matahari pagi dan berteduh di bawahnya.
Dan tidak lama kemudian pada pandangan Wang Lin Sie dan Chin Hong, ternyata di wilayah sekitar Gerbang terdapat semacam uap yang melingkupi seluruh gerbang dengan energi berwarna merah bercampur warna lainnya yang mengaburkan pandangan orang tapi ada lorong yang terbuka yang akan mengantarkan ke arah gerbang di sebelah dalam.
Apa yang dilakukan oleh kelompok Cun Ek, diperhatikan oleh Han Sie dari kelompok kota Yang In, yang menjadi pusat perhatiannya adalah tindakan Wang Lin Sie dan Chin Hong, dia mengerti bahwa kultivasi dengan memusatkan kekuatan pada persepsi jiwa adalah cara melewati Gerbang Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Aliong berteduh di bawah sebuah pohon, dia merebahkan badannya, tidak lama kemudian dia seperti tertidur,
“Cucuku, apakah kau berminat menjadi siswa di Sekolah ini?” Tanya Thian Sian Li melalui kontak jiwa.
“Nenek juga tahu kalau aku tidak berminat pada segala teknik kultivasi atau teknik beladiri, apalagi mengikatkan diri pada sebuah sekte, aku ingin memuaskan diriku berpetualang menjadi bocah manusia biasa, tingkatku sendiri tidak ku ketahui, mungkin aku harus lebih banyak menguatkan jiwaku, karena segala teknik beladiri maupun teknik kultivasi dengan sekali aku melihatnya, dapat dilatih dengan sempurna, bahkan teknik milik ayah saja masih kutemukan kelemahannya”, jawab Han Wi Liong pada neneknya Thian Sian Li.
“Apa kau maksudkan selama ini kau mencari semacam teknik yang dapat menguatkan jiwamu?” Tanya kembali Thian Sian Li yang saat itu masih berada di bagian belakang gedung keluarga Wang, yang jaraknya dari Sekolah Beladiri Samudera Naga beberapa kilometer.
“Benar nek, aku harus menemukan teknik jiwa yang sempurna, karena teknik yang diwariskan oleh ayah dan ibu masih kulihat kelemahannya, ini semua harus menjadi pondasi dari konstitusi tubuh milikku, aku merasa kekuatanku beranjak naik dengan sendirinya sesuai dengan aku bernafas, menurut ayah dan ibu aku memiliki tiga energi pokok dalam diriku”, jawab Han Wi Liong lagi, terdengar jawaban ini seperti keluhan.
Dengan intuisi yang dimiliki oleh Thian Sian Li, cucunya ini memiliki persoalan sendiri, bukan tentang kekuatan diri yang dibangun oleh Teknik Beladiri atau Teknik Kultivasi, tapi kebutuhannya akan penguatan akan jiwanya.
Disini Thian Sian Li mengerti bahwa tubuh cucunya memiliki keistimewaan lain, yaitu sehebat apapun sebuah teknik beladiri atau Teknik Kultivasi yang dimiliki seseorang jika jiwa pemiliknya sangat lemah adalah percuma, ini juga yang membuat jalan pikiran cucunya hanya ingin menjadi bocah manusia biasa tanpa kekuatan, karena pondasi jiwanya masih lemah padahal dia sudah melatih teknik jiwa milik ayah dan ibunya namun tingkat yang dilatih tersebut masih kurang bagi konstitusi tubuhnya.
Masalah ini adalah hal baru bagi kultivator sekelas Thian Sian Li yang sudah mencapai tingkat Kaisar Suci Puncak, tinggal satu langkah lagi dia menjadi seorang kultivator tingkat Kaisar Dewa.
Ungkapan yang diutarakan cucunya menjawab sebagian teka-teki yang melingkupi motivasi hidup dari cucunya, rupanya sang cucu berhasil menyimpulkan sendiri kekurangan dalam dirinya, tapi apakah ini benar? Karena ungkapan ini dikemukakan oleh seorang anak remaja berumur sebelas atau dua belas tahun, anak yang belum matang secara pikiran dan fisik, namun demikian hal ini diungkapkan oleh anak yang memiliki konstitusi tubuh itu sendiri.
“Cucuku, apakah sebaiknya kita keluar dari benua ini dan memasuki benua lain? mungkin kalau berjodoh kau akan menemukan teknik jiwa tersebut”, tanya Thian Sian Li lagi.
“Benar nek, rencanaku kita akan meninggalkan benua ini, untuk Cun Ek kita serahkan pada dirinya sendiri, apakah dia tetap bersama kita atau mau kemana, terserah pilihannya, namun rencanaku akan kumulai setelah kupastikan sahabat-sahabatku menjalani ujian seleksi di Sekolah Beladiri Samudera Naga ini”, jawab Han Wi Liong.
“Kalau mereka mau, aku akan mengontak salah satu muridku yang sekarang sebagai pemimpin Sekte Samudera Naga, kau ingat akan bibi Phang Cui Lin yang menikah dengan paman Yap Kun Tek, mereka akan kupanggil untuk menerima langsung sahabat-sahabatmu”, usul Thian Sian Li.
“Biarkan mereka melalui ujian ini, karena ini yang terbaik bagi mereka, tingkat Chin Hong adalah Imajinasi Roh ke-3 Lanjutan, dan tingkat Wang Lin Sie adalah Imajinasi Roh ke-2 Awal, proses ini adalah yang terbaik, tapi mungkin juga mereka akan tumbuh lebih baik jika menjadi murid langsung dari bibi Phang dan Paman Yap”, kata Han Wi Liong
“Baiklah kalau itu maumu, aku akan menyiapkan segalanya, agar nanti kita langsung berangkat meninggalkan benua ini” kata Thian Sian Li.
Han Wi Liong atau Aliong menguap di bawah pohon rindang itu, lalu beranjak berdiri menghampiri Cun Ek yang sedang mengawasi Wang Lin Sie dan Chin Hong yang berjalan dengan langkah mantap menuju gerbang Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Langkah kedua anak remaja perempuan itu seperti berputar-putar, tidak langsung mengarah ke gerbang yang sebenarnya berjarak hanya puluhan meter saja, dan tangan keduanya seperti melakukan sebuah teknik beladiri karena gerakan yang mereka tunjukkan seperti menghadapi musuh yang sangat kuat, terkadang juga mengeluarkan pukulan dengan energi yang sangat kuat dan anehnya jika mereka menemukan peserta lain yang menghalangi langkah mereka, maka gerakan yang mereka lakukan hanya sebuah dorongan dan peserta tersebut hanya terhempas tanpa meninggalkan luka.
Cun Ek berkonsentrasi pada langkah kedua sahabat perempuannya, rupanya dia mengerahkan persepsi jiwanya untuk memberi arahan langsung pada keduanya.
Tindakan Cun Ek ini rupanya diperhatikan oleh beberapa orang petinggi Sekte Samudera Naga, melalui persepsi jiwanya, Phang Cui Lin dan Yap Kun Tek mengawasi proses seleksi ini, dan pasangan Han Wo serta An Ling pun ikut mengawasi, tidak lupa An Wu Hong dan Yap Ing mengawasi pula sambil memegang putra mereka yang masih berusia dua atau tiga tahun di dalam markas Sekte Samudera Naga.
“Kanda Kun Tek, aku seperti mengenal bocah lelaki di gerbang sekolah beladiri itu”, kata Phang Cui Lin pada Yap Kun Tek suaminya.
“Ya aku pun seperti pernah melihat bocah ini”, balas Yap Kun Tek.
Han Wo bereaksi dan mengarahkan persepsi jiwanya pada bocah yang dimaksud oleh Phang Cui Lin dan Yap Kun Tek,
“Ya akupun tidak asing dengan bocah ini, tapi dimana aku pernah melihatnya?” Katanya.
“Bukankah anak itu yang kita temui di Benua Merah, saat itu anak itu bersama wanita yang bernama Mo Eng”, kata An Ling yang duduk di samping Han Wo, suaminya.
Mendengar nama Mo Eng, Yap Ing memusatkan persepsi jiwanya, seketika keningnya berkerut sangat dalam, mulutnya yang manis, langsung mengerucut runcing,
“Apakah wanita iblis itu ada disekitar Sekte? Aku mencurigai bahwa wanita itu akan berulah di sini, karena bocah ini adalah putranya dengan mendiang Han Ek”, kata Yap Ing.
Mendengar hal itu, Han Wo menjadi lebih serius,
“Apakah ini yang dimaksud gangguan yang akan muncul?, tapi wajah anak ini terlihat tulus membantu dua gadis remaja itu, lihat bocah di sebelahnya! Dia hanya seorang anak biasa saja”, kata Han Wo lagi.
“Kita harus waspada, mungkin ini berhubungan dengan kultivator tingkat tinggi yang dua hari lalu kita dengar suaranya”, kata An Wu Hong.
Mereka seketika berubah menjadi tegang, karena musuh yang kuat ternyata ada disekitar mereka.
Tiba-tiba Phang Cui Lin terdiam dan memberi tanda pada suaminya Yap Kun Tek untuk berdiam diri,
“Kalian tenang saja, aku yang mengusir kultivator wanita yang kalian dengar suaranya, ada permintaanku khusus padamu Phang Cui Lin, dua gadis remaja yang diawasi oleh putra Mo Eng itu memiliki bakat yang baik, apakah kau tertarik untuk merekrutnya? Yang satu bernama Wang Lin Sie, putri dari kawan anakku Han Long, dan yang lainnya bernama Chin Hong dari kerajaan Buana Nirwana dari benua Eng Hian dan memiliki tingkat Imajinasi Roh ke-3 Lanjutan”, kata sebuah suara yang bergaung di kepala Phang Cui Lin, dan Phang Cui Lin segera mengenal suara bekas tuannya ini.
“Saudara-saudaraku, aku akan merekrut dua gadis remaja itu, leluhur Thian Sian Li yang meminta, kita tidak perlu mencurigai anak lelaki yang mengawasi dua bocah wanita itu, karena bocah lelaki putra Mo Eng, dalam pengawasan Leluhur Thian Sian Li”, kata Phang Cui Lin pada semua orang yang hadir di ruangan tersebut.
Yap Ing yang mendengar ucapan Phang Cui Lin, menarik nafas panjang,
“Apakah maksud saudari Phang, kalau leluhur Thian Sian Li turut mengawasi ujian ini, aku sedikit lega, tapi kita harus waspada juga akan keberadaan kultivator di belakang anak itu, mungkin bukan hanya ibunya saja yang mengawasi anak itu tapi ada kultivator tingkat tinggi lainnya”, kata Yap Ing.
“Ibu, siapakah yang dimaksud dengan Leluhur Thian Sian Li?” Suara bocah kecil di sebelah Yap Ing bertanya.
“Song er, nanti akan ibu ceritakan pada lain kesempatan, karena ini adalah petualangan ibu sehingga ibu berjodoh dengan ayahmu”, kata Yap Ing sambil mengelus kepala putranya yang bernama An Wu Song pemberian nama dari Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin.
Sementara itu Cun Ek tanpa disadari oleh dirinya bahwa banyak pasang mata yang mengawasi melalui persepsi jiwa dari para kultivator tingkat Raja Dewa, dengan konsentrasi penuh, Cun Ek terus mengawasi kedua sahabatnya dan memastikan mereka berdua untuk memasuki gerbang Sekolah Beladiri Samudera Naga.
“Cun Ek, tidak perlu kau pedulikan kedua sahabat perempuan itu, mereka memiliki bakat yang baik, aku yakin mereka akan lolos ujian ini, dan menjadi murid di sekolah beladiri ini”, kata Aliong yang berjalan menghampiri Cun Ek.
“Aliong, bagaimana kau tahu?, yang kau tahu hanya makanan saja”, jawab Cun Ek.
“Perasaanku yang tahu, dan biasanya selalu tepat, lihat mereka berdua sudah masuk gerbang, apakah kau akan menyusulnya? Aku akan pulang ke tempat nenek Sian”, kata Aliong.
“Aku akan mendampingi mereka berdua dan memastikan bahwa keduanya akan lulus sampai ujian ini berakhir, kalau kau akan pulang, salam pada nenek Sian, mungkin aku akan kembali setelah semuanya selesai” kata Cun Ek.
“Baiklah kalau begitu, aku pergi”, kata Aliong pada Cun Ek, yang dibalas oleh Cun Ek dengan anggukan kepalanya.