Dari puluhan ribu peserta calon siswa Sekolah Beladiri Samudera Naga yang berhasil menembus ke Gerbang Utama hanya tersisa sekitar dua ribuan saja, termasuk di dalamnya adalah Wang Lin Sie dan Chin Hong.
Rombongan dari Han Sie pun terlihat berhasil memasuki gerbang tersebut, dia juga didampingi oleh sekitar sepuluh orang yang dinyatakan berhasil menembus gerbang tersebut.
Di lain tempat di dalam gedung sekte Samudera Naga, para petinggi Sekte beserta dengan para kultivator Raja Dewa lainnya tetap mengawasi proses ujian ini, terlebih bagi Phang Cui Lin yang mengamati sosok Wang Lin Sie dan Chin Hong dimana kedua gadis remaja itu selalu didampingi oleh Cun Ek yang tidak membutuhkan waktu lama sudah menembus dan tiba di gerbang utama Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Cun Ek dengan santai menghampiri kedua sahabatnya,
“Saudari berdua, saatnya kita melihat ujian kedua” kata Cun Ek pada Wang Lin Sie dan Chin Hong.
“Dimana Aliong? Apakah dia tidak lolos?” Tanya Wang Lin Sie.
“Dia ada di luar, dia sedang berteduh dibawah pohon rindang”, jawab Cun Ek datar.
“Apakah dia tidak bermaksud mengikuti ujian ini?” Tanya Chin Hong.
“Mana mau dan mana bisa, dia hanya seorang bocah biasa” jawab Wang Lin Sie.
“Saudara Cun Ek, mengapa kau mau mengikatkan diri dengan bocah manusia biasa seperti Aliong itu? Apalagi sampai mengikat persaudaraan, bukankah itu hanya menjadi bebanmu saja”, tanya Chin Hong lagi dengan wajah heran.
Cun Ek sedikit terkejut dengan pertanyaan gadis remaja ini, dia tidak menyangka bahwa gadis bangsawan itu mau peduli terhadap dirinya, karena pertanyaan ini dapat dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadapnya, seorang bocah lelaki yang tidak memiliki siapapun di dunia ini kecuali seorang ibu itu pun tidak berani kembali ke tanah kelahirannya sendiri, dan Cun Ek menarik nafas panjang lalu berkata,
“Aku tidak memiliki saudara lagi, aku hanya sebatang kara di dunia ini dan Aliong adalah saudara terbaik yang kumiliki, bahkan aku sangat menyayangi termasuk dengan neneknya, mereka memberikan kasih sayang yang tulus kepadaku”, jawab Cun Ek.
Dua gadis remaja itu hanya manggut-manggut saja, bagi mereka berdua tidak akan pernah memahami akan isi hati Cun Ek, dimana Cun Ek telah mengalami masa sulit yang jarang sekali dialami oleh bocah lelaki biasa, sejak lahir, dia sudah mengalami kekejaman dunia kultivasi yang mengakibatkan cara pandangnya melebihi cara pandang anak lelaki pada umumnya.
Terdengar sebuah suara yang bergema di setiap telinga para calon siswa,
“Untuk calon siswa yang berhasil melewati Gerbang Utama, dipersilahkan memasuki ruang gedung yang ada di hadapan kalian dan didalam ruangan silahkan kalian memilih pintu masuk yang sudah disediakan”, kata sebuah suara yang bergema di hadapan para calon siswa, di hadapan mereka semua berdiri sebuah bangunan yang memiliki pintu yang besar dengan tinggi sekitar dua belas meteran dan lebar sekitar empat meteran yang terdiri dari dua bilah daun pintu.
Maka berduyun-duyun para peserta menghampiri pintu tersebut, sedangkan Cun Ek menahan kedua sahabatnya,
“Bersabar, biarkan yang lain mendekati pintu tersebut”, kata Cun Ek pada Chin Hong dan Wang Lin Sie.
Dengan patuh keduanya menghentikan langkah kaki mereka, terlihatlah beberapa kelompok peserta yang berusaha membuka pintu raksasa tersebut menggunakan kekuatan fisik dan kultivasi mereka masing-masing, namun pintu raksasa itu tidak bergerak, bahkan ada yang menyarankan bergerak secara berkelompok dan menyatukan kekuatan mereka, kelompok pertama berusaha dengan kekuatan mereka membuka pintu tersebut, bahkan ada yang mencoba dengan kekuatannya untuk memecahkan pintu tersebut yang terlihat terbuat seperti dari bahan kayu biasa, namun pintu itu tidak pecah bahkan bergoyang pun tidak, secara berkelompok mereka bergiliran setiap kelompok membuka pintu tersebut tapi tidak ada yang berhasil.
Kelompok remaja dari Kota Yang In yang dipimpin oleh Han Sie lalu maju, dia berucap,
“Kerahkan kekuatan jiwa kalian, atur nafas dan pejamkan mata!” Perintah Han Sie pada kelompoknya bersuara pelan setengah berbisik, dengan patuh mereka semua mengikuti instruksi dari Han Sie, dan selanjutnya Han Sie melangkah ke arah pintu tersebut dan berjalan seperti biasa tanpa membuka matanya, dan selanjutnya bersama kelompok yang dipimpinnya berjalan masuk melewati pintu kayu tersebut yang terbuka secara otomatis dengan sendirinya.
Kelompok remaja Kota Yang In pun dengan segera masuk dan pintu itu menutup kembali, hal ini menimbulkan keterkejutan bagi peserta yang lainnya.
Tidak semua peserta yang lolos adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih, banyak peserta yang lolos dari gerbang utama adalah calon murid perorangan dan beberapa diantara mereka kebingungan melihat kelompok Han Sie yang dapat membuka pintu tersebut.
“Apakah kami harus membentuk kelompok? Agar pintu itu terbuka” pertanyaan di hati mereka yang lolos secara perorangan tersebut.
Cun Ek membisikkan di telinga Wang Lin Sie dan Chin Hong,
“Kerahkan kekuatan jiwa kalian, salurkan pernapasan dengan teratur lalu kita melangkah ke pintu tersebut”, kata Cun Ek pada para sahabatnya.
Maka berjalanlah ketiga orang tersebut dengan melangkah secara sejajar, Cun Ek dengan Wang Lin Sie dan Chin Hong kearah pintu raksasa dan pintu pun terbuka secara otomatis, ketika Cun Ek dan kedua sahabatnya menghampiri pintu itu dan mereka semua masuk dan pintu menutup kembali seperti semula.
Banyak para peserta yang belum berhasil berusaha menganalisa kejadian tersebut, beberapa diantaranya dengan mudah mengerti apa yang harus dilakukan namun banyak juga yang masih belum mengerti karena tindakan dua kelompok yang berhasil masuk pintu itu tidak memperlihatkan tindakan mereka secara terbuka, dan tidak semua peserta memiliki kekuatan persepsi jiwa atau penguasaan Teknik Beladiri kekuatan jiwa yang tinggi, jadi hal itu adalah pekerjaan yang sangat sulit dilakukan.
Sedangkan kelompok Han Sie dan kelompok Cun Ek yang ada di dalam ruangan, melihat dihadapan mereka terdapat ribuan pintu dengan berbagai ukuran dengan macam-macam warna, yang terkecil berukuran satu meter kali satu meter dan yang terbesar seukuran empat meter kali sepuluh meteran.
“Dari sini kita akan berpisah, kalian boleh memilih pintu yang menurut kalian suka, dan kurasa pintu-pintu ini merupakan ujian yang kedua, aku sendiri tidak tahu ada apa di balik pintu-pintu itu”, kata Han Sie pada anggota di kelompoknya.
Demikian juga Cun Ek memberi petunjuk pada kedua sahabatnya,
“Ingat, waspada dan jangan lengah, kemungkinan di balik pintu-pintu itu adalah ujian kekuatan kultivasi dari masing-masing diri kita, kekuatan jiwa dan kekuatan beladiri yang kita miliki harus selaras agar kita selalu waspada”, kata Cun Ek lagi.
Sebenarnya pintu-pintu ini adalah pintu teleportasi, dimana mereka akan dikirim ke sebuah tempat dan selanjutnya para peserta akan menghadapi beberapa lawan dalam bentuk binatang mistik atau seorang manusia yang memiliki tingkat kultivasi satu tingkat di bawah kekuatan tingkat kultivasi masing-masing peserta tapi dalam jumlah banyak, dalam hal ini untuk menguji tekad dan kemampuan mereka dalam bertahan hidup terhadap serangan yang menguji batas kekuatan masing-masing peserta calon siswa.
Cun Ek tidak segera memilih pintu yang tersedia di depannya dia hanya mendampingi kedua sahabatnya, dia hanya ingin memastikan bahwa para sahabatnya dapat melalui ujian ini, dan dia mempersilahkan kedua sahabat wanitanya untuk memilih, maka Chin Hong memilih pintu yang berwarna merah muda dan Wang Lin Sie memilih pintu yang berwarna hijau dengan ukuran yang hampir mirip, yaitu pintu berukuran 1 meter kali 2 meter bagi keduanya.
Di hadapan Chin Hong terbentang sebuah padang luas yang ditumbuhi bermacam-macam tanaman bunga aneka warna yang sangat indah di matanya, dan padang tersebut itu mengeluarkan bau yang sangat harum semerbak, dengan wajah gembira Chin Hong melihat keindahan yang dia lihat di hadapannya, namun kemudian dia menyadari ada sesuatu yang salah, bau harum itu bukan untuk dihirup, karena dia merasa kepalanya menjadi pusing, dia lalu mengerahkan kekuatan kultivasi miliknya,
Doummmm….!!!!
Ada letupan dalam tubuhnya dan meletus, tubuh Chin Hong bergetar berusaha mempertahankan kesadarannya, namun bau harum itu sudah mempengaruhi pikirannya, sedikit demi sedikit pandangan matanya menjadi buram, dan Chin Hong berusaha dengan keras agar dia tetap sadar, sekarang dia tahu bahwa di balik keindahan dimatanya adalah sesuatu yang berbahaya, Chin Hong pun lalu mengerahkan kekuatan jiwanya, dengan persepsi jiwanya dia sedikit terbantu, kesadaran dirinya dapat bertahan bahkan lambat namun pasti dia dapat melihat dengan jelas bahwa di hadapannya ternyata sebuah padang rumput dengan berbagai mayat binatang mistik yang berserakan, ternyata bau ini dihasilkan oleh aroma bangkai binatang mistik yang mengeluarkan asap berwarna ungu, indera penciumannya termanipulasi oleh indra penglihatannya.
Disinilah akhirnya Chin Hong mengerti penyebab dari serangan uap beracun yang dihasilkan dari mayat ribuan binatang Mistik yang telah mati itu.
Chin Hong lalu mengambil sikap berkultivasi, dengan gigih dan pantang menyerah dia mengerahkan segenap kekuatan kultivasinya dengan tidak lupa dia mengerahkan pula kekuatan jiwanya. dan hal ini berlangsung beberapa jam, sedikit demi sedikit dia dapat mengatasi gangguan yang menyebabkan kesadarannya hampir hilang.
Kondisi Chin Hong berkultivasi berlangsung seharian, setelah dirasakan bahwa kesadarannya telah pulih Chin Hong mengatur pernafasannya,
“Hm…, tak kusangka ujian seperti ini, apa yang terjadi jika aku tidak waspada? Benar apa yang dikatakan oleh saudara Cun Ek, bahwa kita harus selalu waspada, tidak semua yang terlihat indah dimata ternyata dibaliknya adalah jebakan yang mematikan”, pikir Chin Hong dalam benaknya.
“Ha ha ha….! Tidak kusangka aku menemukan makan lezat, seorang wanita kecil seperti ini, betapa renyah tulang-tulangnya, dan itu berarti sangat lembut dagingnya”, sebuah suara yang dikeluarkan oleh seorang pria tinggi besar yang penampilannya sangat menyeramkan, karena wajah orang tersebut ditutupi oleh rambut yang tumbuh secara liar di wajahnya, hanya sorot mata dan hidung saja yang terlihat yang menandakan bahwa dia adalah sosok manusia. rambutnya gimbal seperti tidak pernah dicuci dan menjuntai menutupi sampai ke perut orang tersebut yang hanya menggunakan sepotong kulit binatang yang menutupi bagian sensitifnya saja.
Chin Hong sangat terkejut melihat wujud manusia ini,
“Siapa Kau? Apakah kau manusia?” Bentak Chin Hong sambil menguatkan dirinya sendiri, karena penampilan orang ini mengguncang jiwanya dan memang sangat menakutkan.
“Siapa aku? aku sendiripun tidak tahu siapa diriku, aku lapar…., sangat lapar… ha ha ha…! dan kau adalah makananku” jawab pria itu dengan mata yang berputar-putar dan melirik ke segala arah.
“Apakah kau sangat lapar?, bagaimana jika aku membantumu mencari makanan yang jumlahnya melebihi dari sekedar engkau melahap diriku hingga kau kenyang dan sebagai balasannya kau melepaskan diriku?” Kata Chin Hong membujuk orang tersebut.
“Membantuku? bagaimana caranya? semua binatang disini sudah kubunuh menjadi makananku, dan aku masih sangat lapar”, kata pria tinggi besar tersebut.
“Aku memiliki cara agar kau dapat makan dan menjadi kenyang, bahkan aku akan mengajarkan agar kau dapat makanan yang terlezat yang belum pernah kau rasakan”, bujuk Chin Hong lagi.
“Ha ha ha … aku suka, kalau kau menipuku belum terlambat bagiku untuk membunuhmu”, kata pria itu lagi.
Chin Hong lalu menghampiri sebuah mayat binatang mistik yang terlihat masih segar, dia mengambil pisaunya yang selama ini ada di pinggangnya, dengan mengerahkan kekuatan energi kultivasinya sedikit, dengan cepat dia memotong-motong mayat binatang mistik itu menjadi beberapa bagian dan membersihkannya dengan cara membuang kulit tebal pada binatang tersebut sehingga yang tersisa adalah bagian daging yang berwarna kemerahan lalu mengumpulkan di sebuah tempat, dia lalu mengambil garam dan rempah-rempah yang selalu dibawanya pada kantong langit yang selalu diikatkan di pinggangnya juga, dan membasuh daging segar tersebut, sambil berkata,
“Kumpulkan kayu-kayu kering itu”, kata Chin Hong memberi perintah pada pria tersebut, dengan cepat pria itu mengumpulkan kayu-kayu yang memang berserakan di sekitarnya, setelah itu, Chin Hong memanggil pria itu,
“Kemarilah, dan lihatlah bagaimana caraku membuat hidangan yang akan kau gunakan untuk memuaskan rasa lapar mu itu’, kata Chin Hong, sambil dia menunjukkan cara melumuri daging segar binatang mistik tersebut dengan garam yang disertai juga rempah-rempah bumbu yang selalu memperlengkapi para kultivator perantau.
“Gunakan tenagamu, dan hasilkan api pada tumpukan kayu kering yang sudah kau kumpulkan tadi”, kata Chin Hong, dan pria itu melihat Chin Hong dengan mata mendelik dia masih belum mengerti apa hubungan daging segar itu dengan kayu yang ada di hadapannya, baginya melihat daging yang sudah dibersihkan oleh Chin Hong saja sudah menggerakkan rasa laparnya sangat hebat,
“Aku Lapar, berikan makanan itu, Cepat!”, katanya.
“Sabar, aku akan memberikan makan terlezat yang belum pernah kau rasakan, ingat perjanjian kita”, kata Chin Hong dengan menguatkan diri dan berkata dengan mantap walau dalam hatinya dia merasa ngeri akan sosok pria tersebut.
Mengingat bahwa dia sudah memberikan janjinya pada Chin Hong dia pun lalu mengerahkan energi kultivasinya, maka meluncurlah seberkas sinar pada tumpukan kayu-kayu kering itu dan membakarnya, sedangkan Chin Hong mengambil potongan-potongan daging yang sudah dilumuri rempah-rempah bumbu masak dan menusuk secara memanjang pada sebuah potongan daging yang cukup besar. lalu meletakkan di pinggir api yang membakar tumpukan kayu kering tersebut.
“Sekarang kau harus sabar menunggu, ingat kesabaran adalah kunci untuk mendapatkan yang terbaik, demikian juga untuk rasa laparmu itu, kau akan terpuaskan dengan kelezatan makanan yang akan kau santap, ingat bersabarlah!” kata Chin Hong.
Pria itu sebetulnya sudah tidak sabar, namun Chin Hong dengan tegas mengatakan bahwa ada perjanjian dimana dia akan dipuaskan rasa laparnya itu, dan pria itu pun mau menunggu.
Beberapa jam berikutnya, terciumlah aroma daging bakar yang sangat menggugah selera,
“Hmmm…, sedaaaapppp…., sungguh sedaaappp…” pria menyeramkan Itu semakin tidak sabar saat menghirup aroma daging tersebut.
Chin Hong lalu mengambil potongan daging yang lain dan meletakkan di sekitar api yang masih menyala, dia tidak membiarkan orang itu menyentuh daging yang sudah matang terpanggang, karena jumlah daging yang dibersihkan oleh Chin Hong sebetulnya sangat banyak, karena mayat binatang mistik yang berserakkan itu sangat banyak, bahkan ukuran binatang mistik yang terbunuh berukuran rata-rata tiga kali ukuran Kuda kilin angin, dengan demikian jumlah daging yang akan diasap berjumlah sangat banyak dan dapat tahan beberapa hari.
“Sekarang kau boleh mengambil potongan daging yang pertama ku angkat tadi, dan aku ingin tahu pendapatmu”, kata Chin Hong pada Pria itu.
Dengan cepat pria itu mengambil sepotong daging yang baru matang yang sudah dibumbui dan digarami, lalu menggigitnya dengan gigitan besar, saat lidahnya mengecap rasa daging itu, matanya terpejam seperti menikmati daging bakar binatang mistik yang baru dibunuhnya tersebut, dia sebelumnya sudah pernah makan daging binatang tersebut namun dalam keadaan mentah, dan dia merasa tidak enak, lalu dia mencari binatang mistik lainnya maka tempat itu segera dipenuhi oleh macam-macam mayat binatang mistik yang dibunuhnya, namun dia hanya menggigit sedikit daging binatang yang dibunuhnya, makanya dia sangat kelaparan karena rasa daging mentah itu sangat tidak enak di lidahnya berbeda setelah daging itu dibakar oleh Chin Hong dan dibumbui, rasanya sangat berbeda dan sangat lezat, benar-benar menggugah selera makannya.
“Sangat lezat…, sangat nikmat…, aku harus menghabiskan daging yang lainnya”, kata Pria Itu dengan tatapan mata yang menandakan penuh kenikmatan.
Chin Hong membiarkan pria menyeramkan itu untuk memuaskan rasa laparnya, dia sengaja membersihkan semua mayat binatang mistik yang berserakan itu menjadi potongan-potongan daging yang ditumpuk sangat banyak, dan semuanya sudah diberi bumbu dan garam, sebetulnya daging itu berubah menjadi daging asap yang dapat bertahan beberapa hari untuk memenuhi rasa lapar orang tersebut.
“Aku sudah memenuhi kewajibanku dari perjanjian diantara kita, dan aku sudah menunjukkan cara agar kau tidak kelaparan lagi, juga aku sudah menyiapkan makananmu yang akan kau makan setiap hari, bahkan aku menunjukkan cara agar kelak kau akan menikmati makanan yang terlezat, saatnya kau membiarkan aku pergi”, kata Chin Hong lagi.
Pria itu terdiam sejenak dan berhenti mengunyah makanannya,
“Baiklah, kau boleh pergi” kata Pria itu.
Tiba-tiba dalam pandangan mata Chin Hong seketika berubah buram, kini yang ada di hadapannya adalah sebuah ruangan yang sangat luas, lalu terdengarlah sebuah ucapan yang bergaung di telinganya,
“Gadis kecil kau lulus, kau yang pertama keluar dari Ruang Ilusi Manipulasi kau tunggu rekan-rekanmu yang lain, berkultivasilah dan beristirahatlah”, kata suara itu.
Chin Hong menyadari bahwa dirinya sekarang berada pada sebuah ruangan luas seperti aula pertemuan dengan dinding yang sangat tinggi, dia lalu mengatur nafasnya dan berkultivasi seperti yang diperintahkan oleh suara tersebut.