Di dalam ruang Gedung Penampung para calon siswa Sekolah Beladiri Samudera Naga, yang sebelumnya hanya berisi Chin Hong saja, dan tidak lama kemudian muncul rombongan Han Sie dari Kota Yang In, namun jumlah Kelompok Han Sie ini berkurang setengahnya, hanya ada tujuh anak remaja yang lolos terdiri dari tiga gadis remaja dan empat remaja pria, diantaranya masih terlihat Han Sie, Cui Meng dan Tang Lie yang merupakan anak-anak berbakat dari kota Yang In.
Ke tujuh bocah remaja ini, terlihat sangat pucat namun ada senyum di bibir mereka, sebagai tanda kepuasan bahwa mereka dapat melalui ujian ini dengan baik,
”Mari kita beristirahat dan memulihkan tenaga kita, jangan terlena dengan keberhasilan sesaat, masih ada perjuangan lainnya”, kata Han Sie pada anggota kelompoknya.
”Saudari Han Sie, kami pikir kita kelompok pertama yang berhasil lolos pada ujian ini, tapi lihatlah di sudut ruangan itu, ada seorang perempuan yang sedang berkultivasi”, kata Tang Lie pada Han Sie.
Han Sie dan yang lainnya mengarahkan mata mereka pada sudut ruangan yang ditunjukkan oleh Tang Lie, mereka pun terkejut bahwa kelompok mereka pada kenyataannya bukanlah yang pertama lolos ujian tahap kedua ini.
”Dengan demikian, kita harus tahu bahwa sekalipun kita dididik langsung oleh ketua klan Han, yakni Leluhur Han Wo seorang kultivator Raja Dewa, ternyata bukan hanya itu saja untuk dapat dianggap terbaik, kemampuan dan bakat tidak cukup untuk menjadi yang terbaik, lihat saja gadis remaja yang tidak kita kenal itu, kita harus ikut bersaing dengan seseorang seperti itu”, kata Han Sie mengingatkan pada teman-temannya karena selama ini dia sadari bahwa kelompoknya terlalu memandang rendah pada pihak lain.
“Kami mengerti saudari Han Sie, kita semua harus selalu meningkatkan kemampuan kita sampai batas-batas diluar kemampuan kita sendiri hingga kelak kita menjadi yang terbaik dan terkuat dan tidak memalukan sebagai warga dari kota yang sama dari para pahlawan yang berasal dari kota Yang In”, jawab Cui Meng dengan mata berapi-api.
Berikutnya bermunculan pula para peserta yang dinyatakan telah lolos di babak ujian kedua termasuk didalamnya ada Wang Lin Sie yang menghampiri Chin Hong,
“Saudari Chin Hong, ternyata kau sudah ada disini, aku hampir tersesat di ruang Ilusi Manipulasi itu, untung saja aku mengingat petunjuk yang sudah diberikan oleh saudara Cun Ek”, kata Wang Lin Sie.
“Apa yang kau temui di ruang itu, apakah sama dengan pengalaman yang kuhadapi?” tanya Chin Hong.
Wang Lin Sie lalu menceritakan pengalamannya, yang ternyata berbeda dengan yang dialami oleh Chin Hong, dimana dia ditempatkan di sebuah hutan yang sangat gelap dan bertarung dengan sejumlah binatang Mistik yang jumlahnya dia tidak ingat sampai akhirnya dia kelelahan, ketika dia pasrah dan mau menyerah dia lalu bersila untuk berkultivasi menenangkan dirinya sedangkan serombongan binatang mistik yang ganas bersiap menyerang dirinya, dia bertekad menghadapi kematian dengan mata terbuka, namun terdengar sebuah suara yang menyatakan dirinya lolos, dan Wang Lin Sie pun dapat bergabung dengan Chin Hong.
Chin Hong mengerutkan keningnya, dia memiliki kesimpulan sendiri bahwa ujian ini ternyata adalah menguji kekuatan mental setiap peserta sebagai seorang kultivator, bahwa kekuatan tidak hanya dibangun atas dasar kemampuan saja, seorang kultivator memerlukan kecerdikan seperti dirinya yang membujuk pria liar itu, dan tekad yang kuat dengan keberanian menghadapi maut di depan mata.
Sebanyak kurang lebih seribu peserta dinyatakan lolos dan diberikan waktu beristirahat selama sehari di ruang itu untuk berkultivasi dan dilanjutkan dalam babak ujian ketiga yang akan mereka hadapi keesokan harinya.
“Kemana saudara Cun Ek? Apakah dia tidak mengikuti ujian kedua ini?” tanya Wang Lin Sie pada Chin Hong sahabatnya.
“Baginya ujian ini seperti berjalan-jalan di halaman belakang saja, tapi aku juga heran mengapa dia tidak muncul bersama kita di ruang ini? Apakah dia tidak mengikuti ujian kedua ini?” kata Chin Hong.
“Maaf, apakah kami boleh mengenal kalian berdua, aku datang dari Kota Yang In”, kata sebuah suara yang ternyata adalah Han Sie yang datang menghampiri Wang Lin Sie dan Chin Hong bersama kelompoknya.
Chin Hong yang seusia dengan Han Sie menengok pada kelompok Han Sie, dia melirik pada Wang Lin Sie lalu berkata,
“Aku Chin Hong dari Benua Eng Hian dan kawanku Wang Lin Sie dari Benua Khui Ning, senang mengenal kalian semua”, jawab Chin Hong datar.
“Oh, apakah kalian berasal dari kota yang sama dengan pahlawan dunia ini, kultivator Han Long dan Han Eng?” Tanya Wang Lin Sie.
Han Sie yang mendengar pertanyaan dari Wang Lin Sie tersenyum lebar dan menjawab,
“Benar, aku bahkan satu klan dengan para pahlawan itu, aku bernama Han Sie”, jawabnya dengan bangga.
“Bahkan kami yang bukan dari klan Han pun dilatih dan dididik oleh Ketua Klan Han yang bernama Leluhur Han Wo dan istrinya Leluhur An Ling, mereka berdua adalah teman akrab sekaligus sahabat dari Leluhur Han Long dan istrinya leluhur Han Eng”, kata Cui Meng yang disetujui oleh anggota kelompok lainnya yang bersama dengan mereka.
“Sungguh suatu kebanggan mengenal kalian semua”, kata Wang Lin Sie tersenyum.
Kelompok Han Sie bercakap-cakap dengan Chin Hong dan Wang Lin Sie, sedangkan di tempat lain, Jajaran kultivator Raja Dewa dengan persepsi jiwa mereka tetap mengawasi para peserta yang berhasil lolos pada babak ujian kedua ini.
Phang Cui Lin bersama suaminya Yap Kun Tek, tetap memperhatikan interaksi yang dilakukan oleh Wang Lin Sie dan Chin Hong, ada kerutan di kening Phang Cui Lin, karena dia tidak melihat Cun Ek di ruangan tersebut.
“Kemana anak itu?”, katanya seperti bergumam pada dirinya sendiri, Phang Cui Lin melihat kearah suaminya Yap Kun Tek, dan direspon oleh suaminya,
“Kemungkinan dia hanya mengantar kedua sahabat gadis remaja itu”, jawab Yap Kun Tek.
“Aku harus waspada terhadap anak itu, sekalipun leluhur Thian Sian Li menjamin bahwa anak itu tidak akan berulah di tempat ini, tapi ibunya terkenal sangat kejam dan jahat”, kata Phang Cui Lin.
“Walau bagaimana, anak itu masih keturunan klan Han”, kata Han Wo disebelah An Ling.
“Tapi untuk keamanan acara ini, jangan sampai kita lengah, karena ambisi ibu anak itu pernah membuat Benua Chong Yang dalam situasi yang kacau seluruhnya”, kata Yap Ing yang turut berkomentar di sebelah An Wu Hong.
“Ibu, siapa yang dimaksud dengan ibu?” Tanya An Wu Song pada ibunya Yap Ing.
Yap Ing menoleh ke putranya,
“Dulu ibu pernah mengenal seorang wanita yang ternyata berakhir dengan permusuhan, wanita yang ibu maksud bernama Mo Eng, dia memiliki kekuatan yang seimbang dengan ibu, dan sekarang putranya ada di sekitar Sekte Samudera Naga”, jawab Yap Ing pada Putranya, An Wu Song.
“Oooohhhh….”, respon bocah tiga tahun itu seolah-olah memahami, An Wu Hong tersenyum lembut dengan tingkah putranya itu.
Sedangkan saat itu Cun Ek yang masih berdiri di pelataran halaman Sekolah terlihat seperti mengerahkan persepsi jiwanya dengan kekuatan penuh, dia berharap dapat melihat kondisi yang dialami oleh kedua sahabatnya, dan dia menarik nafas lega setelah mengetahui bahwa kedua sahabat wanitanya telah memasuki sebuah gedung peristirahatan yang cukup besar dan berdiri dengan megah di dalam komplek Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Cun Ek melangkah menuju ke gerbang utama bermaksud keluar dari komplek sekolah Beladiri Samudera Naga, untuk menemui Aliong saudara angkatnya.
“Apa yang kau lakukan!? Mengapa kau berbalik arah?”, tanya suara yang mengelegar dari arah Gerbang Utama tersebut.
Cun Ek melihat barisan murid sekolah Beladiri Samudera Naga yang berjajar dengan rapi di pintu Gerbang utama, Cun Ek melihat bahwa para pemuda ini ada dua belas orang dan rata-rata tingkat kultivasi yang mereka miliki adalah tingkat Insan Raja ke-1.
“Aku mau keluar menemui saudaraku”, jawab Cun Ek.
“Apakah kau terlalu lemah atau terlalu pengecut untuk menghadapi ujian kedua?” Kata salah satu pemuda itu.
Cun Ek melirik pada orang yang berkata tadi,
“Aku hanya mengantarkan sahabat-sahabatku dan memastikan mereka dapat lolos ke ujian berikutnya”, kata Cun Ek dengan tenang dan polos.
Salah satu pemuda yang terlihat seperti pemimpin dalam kelompok itu, maju menghalangi langkah Cun Ek, tubuhnya tinggi sehingga tinggi tubuh Cun Ek hanya seleher pemuda tersebut,
“Apakah kau anggap ujian ini sebagai permainan belaka? kau harus berbalik arah dan menyelesaikan ujian kedua itu, karena tidak seorangpun yang melangkah keluar tanpa menyelesaikan ujian berikutnya, hanya ada satu kesimpulan pada acara kegiatan ini, gagal dalam ujian atau melanjutkan ujian berikutnya, tidak seorang pun diizinkan meninggalkan ujian ini tanpa mencobanya”, kata pemuda itu.
“Kalau aku tidak ingin mencoba dan ingin pergi, apa yang akan terjadi padaku?”, tanya Cun Ek dengan tenang.
“Maka kau harus kami tangkap, karena kami mencurigai kau hanya penyusup yang ingin mengacaukan acara penerimaan calon siswa di sekolah terhormat ini”, jawab pemuda tersebut.
“Apakah seserius ini? kalau begitu, coba kau tangkap diriku”, kata Cun Ek tersenyum tipis.
“Hm, kau yang berkata demikian, Heeeeyyaaaaaa…..!!!” kata pemuda itu lalu dia mengerahkan sedikit energinya, dia berpikir bocah remaja ini harus diberikan pelajaran sedikit, karena terlalu meremehkan kekuatan Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Dengan mudah Cun Ek menghindari terkaman pemuda itu dengan sedikit merubah posisi kakinya, dan terjangan pemuda itu menangkap angin di sebelah tubuh Cun Ek, dan Cun Ek menampar pelan pada bahu kanan pemuda itu, maka yang dirasakan pemuda itu adalah seperti dihantam oleh batu sebesar gunung yang menabrak tubuh bagian kanannya sehingga membuat dia terbanting dan berguling-guling.
Anggota kelompok lainnya secara serentak mengurung Cun Ek dari segala arah, mereka terkejut bahwa bocah remaja ini dapat menghindari terjangan dari kakak senior mereka dengan mudah, bahkan terlihat bahwa bocah ini tidak mengerahkan tenaga sedikitpun.
“Aku ingatkan pada kalian semua, aku hanya ingin keluar dari lingkungan ini, kalau kalian memaksaku maka kalian akan menerima resiko terluka”, kata Cun Ek dengan tenang menatap satu per satu pada para pengepungnya.
“Kawan-kawan jangan biarkan dia lolos, beri pelajaran yang keras pada bocah itu!” Seru pemuda yang tadi berguling-guling yang menyerang pertama.
Heyaaa…..!
Heyaaa…..!
Heyaaa…..!
Heyaaa…..!
Doum….!!!!
Doum….!!!!
Doum….!!!!
Berbagai teriakan bergaung dengan keras di sekitar area gerbang dengan diikuti oleh letusan energi kultivasi dari para murid Sekolah Beladiri Samudera Naga yang mengelilingi posisi berdiri Cun Ek, sementara dengan tenang Cun Ek tidak mengeluarkan energi kultivasinya, malah dia tersenyum tipis di wajahnya, kalau melihat posisi Cun Ek yang dikepung oleh barisan Pemuda penjaga Gerbang, terlihat betapa kecilnya tubuh Cun Ek dibandingkan dengan para pengepungnya.
Maka terjadilah penyerangan yang terlihat tidak seimbang itu, namun berikutnya, setiap tubuh yang menerjang atau menerkam terhadap Cun Ek, banyak yang tersungkur dengan wajah yang menggesek permukaan tanah keras atau terpental dengan jarak sekitar sepuluh meteran.
Cun Ek masih membatasi energinya, agar tidak meninggalkan luka serius pada murid-murid ini, karena hal ini terlalu remeh untuk dipersoalkan, dia pun pada dasarnya tidak ingin bermusuhan atau menambah musuh.
“Kawan-kawan tangkap penyusup itu!!!” kata pemuda yang merupakan pemimpin dari regu penjaga Gerbang Utama yang berteriak pada regu lainnya.
Maka halaman pelataran Sekolah itu dipenuhi oleh para murid dari segala penjuru yang melihat bahwa ada keributan di tempat tersebut, tadinya area itu dipenuhi oleh para calon murid yang mau mengikuti ujian tahap kedua sekarang malah dipenuhi oleh murid-murid asli Sekolah Beladiri Samudera Naga dari hampir semua status murid, entah itu Murid Luar, Murid Dalam bahkan ada yang berstatus Murid Inti, dimana keberadaan murid ini adalah dididik langsung oleh para Tetua Tertinggi Sekte Samudera Naga.
Cun Ek mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka bahwa perkembangan masalah ini jadi besar, tadinya dia hanya memberikan pelajaran ringan pada kelompok pengepungnya dan membiarkan dia meninggalkan area ini dan bertemu dengan Aliong.
“Beri jalan pada Kepala Sekolah!” Sebuah teriakan yang sangat keras terdengar, maka kumpulan pengepung Cun Ek menyibak memberikan jalan pada seorang pria paruh baya dan dibelakang pria paruh baya ini diikuti oleh dua orang pria yang sedikit lebih tua.
Wang Shen melangkah bersama dengan para tetua Sekolah Beladiri Samudera Naga.
“Hormat pada Kepala Sekolah!” Kata seseorang yang merupakan murid senior.
Cun Ek tetap diam tidak bereaksi, dia dengan tenang melihat kedatangan Wang Shen dan dua tetua Sekolah Beladiri Samudera Naga.
“Apa yang terjadi sehingga semua murid bermunculan?” Tanya Wang Shen.
“Lapor Kepala Sekolah, anak ini bermaksud meninggalkan ujian tahap kedua, kami berusaha menahannya karena dikhawatirkan dia hanya menyusup dan mengacaukan di tempat kita ini”, jawab pemuda yang tadi menjadi pemimpin pengepungan pada Cun Ek, wajahnya terlihat lebam dan sedikit darah keluar dari bibirnya.
“Oh begitu, apakah benar? Apa alasanmu sehingga kau tidak mau melanjutkan ujian tahap kedua ini?” Tanya Wang Shen pada Cun Ek.
“Dari awal aku tidak tertarik menjadi siswa di sekolah ini, aku hanya mengantar kedua sahabatku yang mau mengikuti ujian ini”, jawab Cun Ek.
“Sombong, kau anggap ujian penerimaan calon siswa dapat kau anggap enteng, sehingga kau seenaknya berbuat seperti itu” kata Kim Teng yang merupakan Tetua dari Murid Luar pendamping Wang Shen, dia sendiri adalah kultivator tingkat Insan Raja ke-4.
“Bocah, apakah kau memang sama sekali tidak berminat pada Sekolah Beladiri Samudera Naga kami, mengapa kau mengikuti ujian pertama dan melewati Gerbang Utama? karena ini adalah penghinaan bagi kami semua”, kata Penatua yang satunya lagi, pendamping Wang Shen, seorang kultivator tingkat Insan Raja ke-5 Puncak.
“Aku minta maaf jika aku menyinggung para Tetua, terutama pada anda Kepala Sekolah, namun demikian bukan maksudku berbuat seperti itu, aku hanya ingin kembali ke saudaraku yang berada di luar gerbang utama ini, apa yang harus kulakukan agar dapat menyelesaikan persoalan ini? terus terang kalau harus mengganti dengan sejumlah koin emas aku tidak punya” jawab Cun Ek dengan sikap merendah, jika Cun Ek mau mengandalkan kekuatan energi kultivasinya, dengan amat mudah dia dapat mengatasi masalah ini, namun masalahnya akan semakin melebar, dia teringat bahwa saudaranya dan Nenek Sian akan ikut terlibat, ini yang tidak diinginkannya.
“Kau harus menyelesaikan ujian tahap kedua, dan menyelesaikan semua ujian”, jawab Kepala Sekolah Wang Shen.
“Maaf Kepala Sekolah, bukan bermaksud merendahkan institusi Sekolah ini, namun aku harus mengatakan bahwa aku tidak tertarik menjadi siswa di sekolah ini, dan aku harus pergi menemui saudaraku yang masih menungguku di luar gerbang ini” jawab Cun Ek dengan ringan.
“Siapa namamu bocah? Dan siapa nama temanmu?” Tanya Wang Shen.
“Aku Cun Ek, temanku bernama Aliong”, jawab Cun Ek berkerut kening, dia bingung mengapa Kepala Sekolah ini malah bertanya namanya dan Aliong? Namun dia diam saja.
“Kau! bawa masuk seorang bocah yang menunggu di luar gerbang”, perintah Wang Shen pada pemuda yang memimpin pengepungan pada Cun Ek, dan pemuda itu pun pergi, bermaksud membawa masuk Aliong.
Terdengar dari dalam gerbang suara pemuda itu yang berteriak,
“Bocah lelaki yang bernama Aliong dipersilahkan masuk” teriak pemuda itu.
Sedangkan Aliong yang berada di luar gerbang tidak segera menyahut, dia saat ini berada di tengah-tengah ribuan calon siswa yang gagal ujian pada tahap ke-1 dan ke-2, teriakan pemuda itu menjadi pusat perhatian bagi semua calon siswa yang gagal,
“Aku Aliong!”
“Bukan dia, aku Aliong!”
“Aku Aliong, kalian siapa? Akulah Aliong yang dimaksud kakak senior itu”.
Panggilan terhadap bocah lelaki bernama Aliong menimbulkan kehebohan sendiri, ribuan anak mengaku bernama Aliong, hampir rata-rata mereka berharap bahwa nama itu dinyatakan berhasil melewati ujian, apalagi tidak disebutkan spesifikasi tertentu tentang bocah lelaki yang dimaksud.
Wang Shen yang mendengar kegaduhan tersebut, hanya dapat menggelengkan kepala, demikian juga semua orang yang masih berada di balik gerbang utama di area pelataran Sekolah Beladiri Samudera Naga.
“Dasar bodoh, melakukan tugas sederhana itu saja tidak bisa, catat nama pemuda itu, saudara Diaken Kim”, perintah Wang Shen dengan semburat wajah memerah.
“Bocah Cun Ek, apakah ada ciri tertentu dari penampilan saudaramu itu?” Tanya Wang Shen pada Cun Ek.
“Apa tujuan Kepala Sekolah dengan memanggil saudaraku, sekali lagi ku tekankan bahwa aku harus keluar dari tempat ini”, kata Cun Ek mulai marah, dia merasa bahwa orang didepannya mau menggunakan kelemahan saudaranya untuk menekan dirinya.
“Tenanglah kau bocah, aku hanya berlaku baik, aku bermaksud mengangkat diri dan saudaramu menjadi murid inti di Sekolah ini tanpa ujian itu, dan kau langsung menjadi muridku, bagaimana?” Kata Wang Shen dengan senyum bijaksana.
Mendengar pernyataan itu semua siswa terkejut, bocah ini ternyata akan langsung diangkat Murid Inti oleh Kepala Sekolah mereka, ini merupakan karunia yang sangat tinggi dan teramat mewah.
Hanya saja bagi Cun Ek, tindakan ini terlalu konyol, sedari tadi melalui persepsi jiwanya, dia telah mengetahui tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Kepala Sekolah tersebut yang hanya tingkat Insan Raja ke-8 Puncak, dibandingkan dirinya, walaupun dia masih berusia sangat muda namun dia sudah mencapai tingkat Manusia Dewa ke-4 Lanjutan yang sangat jauh dan berada di atas pria di hadapannya tersebut.
“Aku sangat berterima kasih atas tawaran anda Kepala Sekolah, namun aku tidak tertarik apalagi saudaraku itu, dia tidak menyukai untuk mempelajari kekuatan kultivasi”, jawab Cun Ek.
“Sombong, kau bocah sangat sombong sekali, Kepala Sekolah bermaksud baik namun kau tidak menghargainya sama sekali”, seru Diaken Kim Teng.
Tidak hanya para tetua yang mendampingi Kepala Sekolah Wang Shen, semua siswa dengan berbagai status melongo mendengar penolakan Cun Ek dan segera berubah menjadi kemarahan, karena ini adalah penghinaan yang terang-terangan dari seorang bocah berumur sekitar 10 atau 11 tahunan.