Di luar Gerbang Utama Sekolah Beladiri Samudera Naga, muncul kekacauan lain dimana hampir semua calon siswa yang gagal melewati ujian pertama dan kedua, mengaku dirinya bernama Aliong, dan Aliong sendiri tidak peduli akan hal itu, karena yang memiliki nama seperti dirinya pasti banyak karena nama itu adalah nama yang umum digunakan oleh setiap orang.
Wajah pucat dialami oleh pemuda yang memiliki status Murid Luar itu, karena dialah yang berteriak sehingga memunculkan masalah baru, dia menyesal tidak bertanya pada bocah Cun Ek tentang ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh bocah lelaki yang dimaksud tersebut, sekarang dia sadar bahwa Kepala Sekolah Wang Shen akan marah dan memberikan sanksi pada dirinya dan kejengkelan itu akhirnya dia timpakan pada Cun Ek.
“Sungguh sial diriku hari ini, para tetua akan memberikan hukuman kepada diriku, lihat saja kau bocah Cun Ek, aku akan memberikan pelajaran yang tidak akan kau lupakan sepanjang hidupmu”, katanya dalam hati.
Pemuda itu pun berteriak lagi,
“Bocah Aliong, kau dipanggil oleh saudaramu Cun Ek, harap maju”, katanya.
Aliong yang mendengar nama Cun Ek terkejut, dia akhirnya tahu bahwa teriakan itu ditujukan untuk dirinya,
“Aku Aliong, Cun Ek adalah saudaraku!!!” Teriak Aliong, namun demikian masih ada seratusan anak-anak remaja lelaki yang mengaku memiliki saudara bernama Cun Ek.
“Baiklah, yang memiliki saudara bernama Cun Ek, sebutkan ciri-ciri saudaramu itu”, kata pemuda tersebut pada seratusan anak remaja lelaki yang memiliki saudara bernama Cun Ek.
Satu persatu anak remaja lelaki itu menyebutkan ciri-ciri yang dimaksud dengan Cun Ek termasuk Aliong.
Tersisa sepuluh anak remaja lelaki yang memiliki kemiripan dengan Cun Ek termasuk Aliong.
“Jika ada diantara kalian yang hanya sekedar mengaku saja akan mendapat sanksi dari pihak Sekolah Beladiri Samudera Naga”, kata Pemuda itu, maka mereka yang benar-benar memiliki saudara bernama Cun Ek tersisa tiga anak termasuk Aliong.
“Baiklah kalian bertiga dipersilahkan masuk, ingat jika kalian bukan orang yang dimaksud maka kalian akan menerima sanksi”, kata pemuda itu sambil membuka gerbang utama, tetapi begitu pintu gerbang belum terbuka sepenuhnya, Cun Ek keluar dengan sendirinya.
“Saudaraku Aliong, ayo kita pulang ke tempat Nenek Sian”, kata Cun Ek menghampiri Aliong lalu dia merangkul bahu Aliong dan pergi meninggalkan tempat itu setelah Aliong menganggukkan kepala, dan meninggalkan pemuda tersebut dengan mulut menganga lebar, dia sangat terkejut dengan perubahan situasi.
Pemuda itu menengok ke belakang, terlihat sesama murid Sekolah Beladiri Samudera Naga masih dalam posisi mengepung dimana Cun Ek tadi berdiri, namun terlihat wajah mereka seperti meringis bagai menahan beban yang sangat berat dipunggung, pemuda itu pun menengok ke arah posisi berdiri Kepala Sekolah Wang Shen dan para Tetua pendamping, ketiga orang tersebut bermuka sangat merah dengan nafas tersengal-sengal, wajah Kepala Sekolah terlihat sangat mengkhawatirkan, mukanya menatap dengan tidak percaya.
“Sekelompok manusia bodoh”, ucapan ini lembut saja, namun itu membebaskan tekanan yang melanda kelompok Kepala Sekolah Wang Shen dan para murid lainnya.
“Ampun Leluhur Phang, kami bertindak ceroboh”, kata Kepala Sekolah Wang Shen dan para Tetua lainnya yang lalu bersujud ke arah dimana Phang Cui Lin dan para kultivator tingkat Raja Dewa berada.
“Tindakanmu sangat menggelikan, kalau anak itu mau, kalian semua sudah menjadi mayat berserakan di pelataran Sekolah Beladiri ini, dan yang paling lucu adalah seorang kultivator tingkat Insan Raja ke-8 menghendaki untuk mengangkat murid seorang bocah tingkat kultivasi Manusia Dewa ke-4”, suara ini hanya bergaung di telinga Wang Shen saja dan dua tetua pendampingnya.
Betapa terkejutnya Wang Shen dan para tetua pendampingnya mendengar suara Leluhur Phang Cui Lin, betapa dirinya bertindak begitu bodoh, pantasan dia berusaha dengan melalui persepsi jiwanya untuk mengetahui tingkat kultivasi yang dimiliki oleh Cun Ek, namun dia tidak dapat mengetahuinya, rupanya tingkat bocah itu sangat jauh di atasnya, maka sewajarnya bocah itu menolak menjadi muridnya, karena dialah yang bodoh dan lemah di depan bocah super jenius itu.
Dengan malu dan gelisah, Wang Shen memberikan perintah untuk membubarkan kumpulan para murid tersebut,
“Bubar, ingat jangan kalian membuat persoalan di kemudian hari, semuanya kembali ke pos masing-masing”, perintah Wang Shen pada semua murid, dan segera diikuti oleh para murid tersebut, walaupun mereka semua tidak mengerti mengapa para tetua hanya berdiam diri saja saat bocah Cun Ek itu pergi meninggalkan area pelataran Sekolah Beladiri Samudera Naga.
“Para Tetua, kita akan berkunjung ke gedung utama Sekte, kita akan meminta pendapat para Leluhur”, kata Wang Shen lagi pada dua pendampingnya.
Di dalam Gedung Utama Sekte Samudera Naga, para kultivator Raja Dewa sedang duduk melingkari sebuah meja, mereka adalah Phang Cui Lin, Yap Kun Tek, An Wu Hong, Yap Ing bersama putranya An Wu Song, Han Wo dan An Ling.
Mereka semua menggunakan kekuatan persepsi jiwa masing-masing dan mengetahui peristiwa yang berlangsung tadi, di area pelataran Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Tidak lama kemudian, Wang Shen dan dua tetua pendampingnya meminta menghadap.
“Biarkan dia masuk”, kata Phang Cui Lin pada orang yang menyampaikan maksud dari Wang Shen.
Dan kemudian masuklah Wang Shen yang didampingi oleh dua tetua Sekolah Beladiri Samudera Naga.
“Aku yang bodoh Wang Shen menghadap pada Leluhur Phang, kiranya kami dapat menerima hukuman karena tindakan ceroboh yang kami lakukan”, kata Wang Shen sambil bersujud yang diikuti oleh tetua pendampingnya yang berdiri di kiri dan kanannya.
“Sudahlah kalian berdiri, mungkin ini menjadi pengalaman yang berarti, sepintas banyak orang yang akan melakukan tindakan yang sama sepertimu, aku pun dapat tahu karena tingkatku melebihi bocah itu, yang perlu kalian ketahui, di luar Benua Chong Yang ini, tingkat kultivasi bocah tersebut banyak berkeliaran, bahkan mungkin kalian akan heran bahwa tingkat yang kalian miliki, harus mengakui kekuatan kultivasi dari seorang bayi yang baru lahir di Benua Thian Agung, karena bayi disana terlahir dengan tingkat kultivasi Manusia Suci”, kata Phang Cui Lin dengan tenang.
“Terima kasih Leluhur Phang, kalau demikian aku akan menyelidiki para sahabatnya yang berhasil pada ujian kedua, dengan demikian akan menghindari kesalahpahaman yang terjadi untuk sekedar menjaga hubungan baik”, kata Wang Shen lagi.
“Tidak perlu kau lakukan, mereka akan menjadi murid kami langsung”, kata Phang Cui Lin mencegah perbuatan Wang Shen karena ditakutkan akan menyinggung tuannya Thian Sian Li.
Wang Shen menarik nafas panjang, entah merasa lega atau malah menjadi gundah gulana, dia pun meminta untuk mengundurkan diri dan meninggalkan ruangan para kultivator Raja Dewa tersebut, Phang Cui Lin pun mengizinkan ketiganya pergi.
Sepeninggalnya Wang Shen dan dua tetua Sekolah Beladiri Samudera Naga tersebut, terdengar suara Yap Ing memecahkan kesunyian ruangan tersebut,
“Bagaimana pendapat kalian semua tentang bocah tersebut? Apakah kalian tahu siapa yang dimaksud dengan saudaranya itu?” Tanyanya.
“Aku mempercayai tuanku Leluhur Thian Sian Li, karena bocah itu bersama dengan beliau, kemungkinan ibu bocah itu tidak berada di Benua ini, karena Leluhur tidak akan bertindak ceroboh, pasti dia sudah memastikan bahwa wanita Mo Eng itu tidak ada disekitarnya, sedangkan bocah lainnya yang dimaksud sebagai saudara bocah itu, kupikir tadinya dia adalah putra Han Long, tapi tidak kulihat kemiripan diantara mereka, bahkan anak itu seperti bocah dusun biasa tanpa kultivasi”, kata Phang Cui Lin.
“Apakah yang kamu maksudkan adalah anak bernama Han Wi Liong, putra dari Han Long itu?” Tanya Han Wo pada Phang Cui Lin, dia pun berusaha mendeteksi yang disebut saudara oleh Cun Ek ketika dia menyebutkannya di pelataran Sekolah Beladiri Samudera Naga, namun dia pun kecewa, karena bocah yang disebut Aliong itu sangat berbeda, baik fisik dan wajahnya dari Han Wi Liong yang dikenalnya ketika masih di Benua Thian Agung.
“Ya, akupun melihat dan merasakan, bocah Aliong ini sangat berbeda dari putra Han Long yang sebenarnya”, kata Yap Kun Tek yang disetujui oleh Yap Ing.
“Lalu bagaimana dengan dua sahabat gadis bocah itu?” Tanya An Ling.
Baik Yap Kun Tek maupun Phang Cui Lin sudah sepakat bahwa mereka berdua akan mengangkat murid langsung pada Wang Lin Sie dan Chin Hong.
“Kami akan mengangkat keduanya menjadi murid kami”, kata Yap Kun Tek.
“Leluhur, aku tertarik pada salah satu gadis remaja itu, sekalian untuk menemani putraku di Kerajaan Chong Yang”, kata Yap Ing lagi
“Apakah kau tertarik menjadikan salah satu dari mereka menjadi muridmu? kalau hanya sekedar menjadi pelayan untuk putramu aku tidak setuju, karena ini berhubungan dengan Leluhur Thian Sian Li”, kata Yap Kun Tek khawatir, takutnya Yap Ing hanya sekedar mencari pengasuh bagi An Wu Song putranya.
“Saudara Kun Tek, tidak mungkin gadis remaja berbakat itu jadi pelayan kami, apalagi ini diamanatkan oleh ibu dari Han Long kawan kita semua, hilangkan kecemasanmu, kalau hanya sekedar pelayan, kakakku adalah seorang raja dapat menyiapkan ratusan pelayan bagi kami”, kata An Wu Hong tersenyum.
Yap Ing pun menegaskan pada Leluhurnya bahwa mana mungkin dia akan bertindak segila itu, dia tertarik pada Chin Hong yang dengan cepat melewati ujian kedua, terlihat sekali bahwa Chin Hong selain berbakat tetapi memiliki kecerdasan lain, yaitu hatinya yang tidak mudah emosi, menyikapi setiap masalah dengan tenang tanpa terburu-buru.
Maka setelah diputuskan demikian, para kultivator Raja Dewa di Sekte Samudera Naga dapat menarik nafas lega sejenak, Chin Hong akan ditarik ke Istana Chong Yang dan menjadi murid suami istri An Wu Hong dan Yap Ing, sedangkan Wang Lin Sie akan ikut pada Phang Cui Lin dan Yap Kun Tek sekaligus sebagai teman bagi murid mereka Chen Mey Wa yang saat ini sedang berkultivasi tertutup.
Aliong dan Cun Ek berjalan menyusuri jalan raya di Kotaraja Chong Yang menuju ke gedung keluarga Wang dari Benua Khui Ning.
“Cun Ek, aku bermaksud pergi keluar dari gedung keluarga Wang, apakah kau bermaksud untuk bersama dengan keluarga Wang atau ikut denganku bersama Nenek Sian”, kata Aliong pada Cun Ek.
“Oh, aku pun tadinya bermaksud pamit darimu dan Nenek Sian, karena aku memiliki tujuan lain”, jawab Cun Ek sambil melihat pada wajah Aliong.
Aliong tetap berwajah datar, karena dia sudah menduga sebelumnya bahwa Cun Ek pasti akan meninggalkan dirinya.
“Artinya sekarang ini kau akan berpamit pada nenekku dan keluarga Tuan Wang?” Tanya Aliong pada Cun Ek.
“Tidak perlu terburu-buru, aku akan pamit bersamamu, setelah di jalan baru aku akan memisahkan diri darimu dan Nenek Sian, dan kalau hari ini kita pamit, kasihan pada Tuan Wang dan Istrinya, aku akan pamit saat sahabat kita Wang Lin Sie telah dinyatakan lulus semua tahapan ujian dan memiliki status sebagai siswa Sekolah Beladiri Samudera Naga, karena ada sedikit kekhawatiranku, aku telah menyebabkan insiden di Pelataran Sekolah tersebut tadi”, jawab Cun Ek.
“Baiklah, aku pun setuju, kita akan pamit setelah sahabat kita dinyatakan sebagai siswa di sekolah itu”, kata Aliong sambil tersenyum, demikian juga dengan Cun Ek yang selalu memandang Aliong sebagai saudaranya yang berhati polos apa adanya.
Pada Benua Hu Zhao atau Benua Barbar Kuno, Hu Xie yang kembali dari Benua Chong Yang terlihat murung dan seperti menahan amarah di hatinya, dia merasa jengkel bahwa ternyata kekuatan yang dimilikinya sangat lemah, padahal tadinya dia berniat akan menguasai seluruh Benua Chong Yang dan membangun pasukannya sendiri di Benua terpencil itu, namun siapa sangka bahwa dirinya yang sudah mencapai tingkat Raja Dewa ke-8 Awal, pada kenyataannya dapat diusir dengan mudah oleh seorang kultivator yang entah siapa namanya dan apa tingkat kultivasinya, inilah yang membuat dirinya sangat penasaran dan membuat kejengkelan di hatinya membludak sehingga membuat dirinya sangat marah, namun pada siapa kemarahan itu harus dilampiaskan.
Dengan cepat Hu Xie berteleportasi menuju pusat markas Pemimpin Utama Zhao Wang Min, dia akan melaporkan segalanya serta kehilangan semua orang yang tadinya pergi mengiring dia.
Zhao Wang Min sedang duduk di kursi raksasanya saat dia mendengar bahwa Tetua ke-3, Wanita bernama Hu Xie telah kembali, dan meminta untuk menemuinya serta melaporkan hasil penyelidikannya.
“Pemimpin Utama Benua, aku datang melaporkan hasil penyelidikan ku, namun berbagai kendala menghadang pekerjaanku, aku mohon maaf atas kelemahan diriku ini”, kata Hu Xie dengan menundukkan wajahnya sangat dalam, selain malu dia sangat takut terhadap Zhao Wang Min.
“Hmmm…, aku melihatmu hanya seorang diri saja, ceritakan padaku secara lengkap, jangan berusaha kau tutupi, karena sekali kau membohongiku kau tahu resikonya”, kata Zhao Wang Min dengan nada datar dan berwajah dingin, dia sudah menduga sesuatu yang diluar perkiraannya terjadi pada kelompok anggotanya yang menyusup di Benua Chong Yang yang terpencil itu.
Hu Xie pun dengan diawali suara yang terbata-bata mulai menceritakan dengan sedetail mungkin, dari mengutus wakilnya Jendral Besar Tan Kui, sampai mendengar berita kematian seorang kultivator Raja Dewa di depan sebuah gerbang klan keluarga Wang, klan keluarga yang tidak berarti dari Benua Khui Ning, dan ternyata kultivator Raja Dewa itu dipastikan adalah Jenderal Besar Tan Kui, salah satu dari enam jendral besar pendamping Pemimpin Utama Benua Barbar Kuno.
Dan Hu Xie menceritakan niatnya untuk membasmi habis seluruh orang yang mengakibatkan terbunuhnya jendral Tan Kui, namun sebelum rencana itu berjalan, dia hampir mati oleh seorang Kultivator yang bersembunyi di Benua Chong Yang, dan kemungkinan kultivator itu setingkat atau lebih dari Pemimpin Utama Benua Barbar Kuno, Zhao Wang Min, bahkan kultivator tersebut akan datang berkunjung ke Benua Barbar kuno untuk menemui Zhao Wang Min.
Berkerut kening Zhao Wang Min setelah mendengar laporan dari Hu Xie, salah satu orang kepercayaannya, dan Hu Xie adalah Tetua ke-3, dia terlalu meremehkan kekuatan Benua Chong Yang.
Adalah benar dan bukan rumor belaka bahwa di Benua kecil terpencil itu, banyak Naga tersembunyi dan Harimau berjongkok, terbukti salah satu pembantunya seorang kultivator Raja Dewa ke-7, mati sia-sia di benua tersebut, yang sebenarnya tingkat itu sudah dianggap sebagai penguasa Benua seluas dua hingga tiga kali Benua Chong Yang.
“Panggil semua orang, kita perlu membicarakan rencana selanjutnya”, perintah Zhao Wang Min.
Sekitar satu jam kemudian ruangan itu sudah dihadiri oleh para kultivator tingkat tinggi Benua Barbar Kuno, lima kultivator Raja Dewa ke-6 dan ke-7, yang menyebut diri mereka Jenderal Besar serta jajaran elit para kultivator Raja Dewa ke-5 dan dibawahnya yang merupakan para penguasa sebuah wilayah di Benua Barbar Kuno dan jumlah mereka ada sekitar dua puluhan orang.
Zhao Kwan dan Hu Xie pada posisi duduk di kiri dan kanan Zhao Wang Min, terdengar suara Zhao Wang Min,
“Baiklah, harap perhatikan, aku memanggil semua orang dikarenakan bahwa rencana semula untuk membalas kematian saudara kita yaitu penatua Hu Sheng tidak sesuai rencana, bahkan menimbulkan kerugian karena kematian salah satu jendral ku, Tan Kui, dan lebih parahnya, kita juga dipermalukan dengan kehilangan para budak-budak yang seharusnya ini pekerjaan sangat mudah, maka perlu ditegaskan agar kejadian ini tidak berulang, sekalipun kau Hu Xie adalah pembantuku yang sangat kupercaya tapi misi yang kau jalankan gagal bahkan menderita kerugian yang sangat besar, maka setelah pertemuan ini kau diasingkan dengan lama waktu yang akan ditentukan kemudian”, kata Zhao Wang Min dengan melirik sebelah kirinya, Hu Xie hanya bisa menundukkan kepala, ternyata hukuman pertama dari pemimpin utama ini adalah mempermalukannya di depan semua orang dengan mengumumkan kegagalan dirinya dalam menjalankan misi.
“Selanjutnya aku memerlukan dua kelompok terdiri dari masing-masing 5 hingga 6 orang untuk mencari budak-budak sialan, dan kelompok lainnya untuk menyusup ke Benua Chong Yang”, kata Zhao Wang Min lagi.
“Pemimpin Utama, aku memberi saran, sekalipun aku sudah berbuat kesalahan dalam menjalankan misi, namun aku mengingatkan saja bahwa untuk satu kelompok yang menyusup ke Benua Chong Yang harus memperhatikan sesuatu, karena kultivator yang telah membunuh Jendral Besar Tan Kui akan berkunjung ke Benua kita, apakah itu tindakan bijaksana jika kita memecah kekuatan kita ketika seorang kultivator yang kuat akan mendatangi benua kita”, kata Hu Xie mengingatkan Zhao Wang Min.
Dan ucapan inipun menjadi perhatian semua orang yang hadir,
“Apakah maksudmu, kelompok yang bertugas menyusup ke Benua Chong Yang sebaiknya tidak diperlukan?” Respon Zhao Wang Min.
“Maaf Pemimpin Utama, aku tidak bermaksud mencela rencanamu, tapi sekedar mengingatkan akan bahaya yang akan menghampiri kita”, kata Hu Xie lagi.
Zhao Kwan berkata,
“Pemimpin Utama, sebaiknya kita harus memperhatikan seluruh detail rencana, karena jika Benua kita kekurangan kekuatan, karena sebagian orang kita tidak berada di markas kita, itu terlalu beresiko dan berbahaya karena akan mengancam rumah kita sendiri”, katanya.
Zhao Wang Min merenung, apa yang dikatakan para pembantunya adalah benar, dia terlalu emosi karena mendengar kegagalan misi yang dijalankan oleh Hu Xie dan dirinya tidak berpikir lebih matang.
“Baiklah, aku memerlukan tiga orang untuk mencari para budak yang hilang itu, terutama bocah kecil yang menjadi muridku, karena rupanya aku curiga bocah itu telah mencuri catatan teknikku” kata Zhao Wang Min.
Lalu ditunjuklah sebuah tim yang terdiri dari tiga orang saja yang bertugas mencari Cui Kun dan kedua orang tuanya, ternyata diduga kalau Cui Kun telah mencuri sebuah buku tentang teknik beladiri dan teknik kultivasi milik Zhao Wang Min, dimana buku itu sangat berharga untuk menyempurnakan teknik latihan yang sedang dilatih oleh Sang Pemimpin Utama Benua Barbar Kuno.
Dan selanjutnya Hu Xie menerima keputusan Zhao Wang Min untuk menjalani hukuman pengasingan di sebuah tempat yang sebenarnya mirip neraka, karena ada bagian wilayah di Benua Barbar Kuno yang memiliki kondisi istimewa karena area tersebut merupakan siksaan bagi anggota atau penduduk Barbar Kuno yang melakukan pelanggaran dari aturan atau perintah penguasa benua.
Keistimewaan tempat tersebut sebenarnya adalah adanya perubahan cuaca dan suhu yang sangat ekstrim dan perubahan itu berlangsung tidak terduga, karena kalau suhu dingin dapat membekukan semua hal yang ada di tempat itu, demikian juga bila panas, maka semua akan menjadi gosong atau berpijar seperti bara api, makanya oleh penduduk Barbar Kuno, tempat itu dikenal sebagai Pulau Neraka