Keesokan harinya, Wang Lin Sie dan Chin Hong di Sekolah Beladiri Samudera Naga, di jemput oleh seorang Murid Inti yang menerima perintah dari Leluhur Phang Cui Lin, agar keduanya diundang untuk segera menghadap para Leluhur Sekte Samudera Naga.
Baik Wang Lin Sie maupun Chin Hong sangat terkejut, mereka berdua disuruh segera menghadap ke para Leluhur Sekte Samudera Naga, ini adalah hal yang sangat jauh dari apa yang dapat mereka bayangkan, terlepas apakah mereka membuat kesalahan atau apapun itu, bahwa mereka dapat dikenal oleh seorang kultivator setingkat Raja Dewa, tingkat mereka sangat rendah disuruh menghadap ke pemimpin tertinggi di Sekte Samudera Naga adalah hal yang sangat luar biasa, bermimpi pun tidak, namun apa yang ada sekarang seperti kemewahan yang sangat menghebohkan jika kedua orang tua mereka mengetahui bahwa masing-masing dari mereka ternyata disuruh menghadap pada pemimpin tertinggi Sekte Samudera Naga kira-kira apa yang akan ditunjukkan oleh wajah mereka semua.
Dengan tubuh gemetar, kedua gadis remaja itu memasuki gedung yang sangat megah dan tinggi.
“Jangan takut, mendekatlah kalian berdua”, kata Phang Cui Lin.
Wang Lin Sie dan Chin Hong menundukkan wajah mereka, keduanya sempat melirik bahwa di hadapan mereka ada enam orang dewasa dan satu anak kecil berusia sekitar 3 tahunan, dan wajah mereka memiliki keagungan dan sedikit samar, seperti wajah para malaikat, terlihat putih bersih dan sangat cerah.
“Pelayan, panggil Chen Mey Wa di ruang kultivasinya!”, perintah Yap Kun Tek memerintah seorang pelayan yang berjaga di luar ruangan tempat para kultivator Raja Dewa berkumpul.
Segera pelayan yang mendapat perintah itu pergi untuk menjemput murid Phang Cui Lin di ruangannya.
“Kalian berdua tidak perlu lagi mengikuti ujian terakhir hari ini, kalian akan menjadi murid kami, suamiku sudah menyetujui hal ini, tapi kami perlu tahu apa pendapat kalian sendiri?” Kata Phang Cui Lin.
Chin Hong dan Wang Lin Sie sangat terkejut, mereka berdua tidak menyangka bahwa Leluhur Sekte Samudera Naga bermaksud mengangkat murid langsung, dan mereka berdua tahu bahwa yang ada di hadapan mereka adalah para kultivator setingkat Raja Dewa, tingkat yang jauh dari imajinasi yang pernah mereka bayangkan, jangankan mereka, bahkan para petinggi di Benua masing-masing tingkat kultivasi itu adalah tingkat khayalan semata.
“Aku Chin Hong mengucapkan terima kasih atas budi baik Leluhur karena kami dianggap berharga untuk diangkat sebagai Murid, hanya itu yang dapat ku ucapkan”, kata Chin Hong dengan tubuh gemetar karena saking gembira dan gugupnya.
“Aku Wang Lin Sie mengucapkan terima kasih atas budi baik Leluhur pada diriku”, kata Wang Lin Sie sambil dia mengikuti Chin Hong yang bersujud di hadapan para kultivator Raja Dewa itu.
“Chin Hong, apa hubunganmu dengan bocah remaja bernama Cun Ek?” Tanya Yap Ing.
Chin Hong terkejut lagi, kiranya para leluhur ini pun sudah tahu bahwa dia memiliki kedekatan dengan saudara Cun Ek, maka dia pun menjawab,
“kami mengenalnya saat keluarga kami menetap di Kerajaan Chong Yang, dan saudara Cun Ek adalah seorang anak yang luar biasa, ayahku yang pertama mengetahui bahwa saudara Cun Ek bukan sekedar bocah biasa, dan akupun dikenalkan oleh ayahku sendiri baru beberapa hari yang lalu”, jawab Chin Hong dengan jujur apa adanya.
“Apakah kau tahu jati diri sesungguhnya anak remaja yang bernama Cun Ek itu?” Tanya Yap Ing lagi.
“Saudara Cun Ek sangat tertutup, dia hanya bilang bahwa saudaranya hanya seorang bocah yang seumuran dengannya bernama Aliong, dimana Aliong itu lebih suka belajar menjadi juru masak”, jawab Chin Hong lagi.
“Kau akan kuambil sebagai murid, murid langsung dari kami suami istri di Kerajaan Chong Yang, apakah kau bersedia menjadi murid kami, bukan di Sekte Samudera Naga?”, tanya An Wu Hong.
“Sebuah kehormatan bagiku, jika guru berdua mau menerimaku sebagai murid”, jawab Chin Hong.
“Hanya ada satu syarat untuk menjadi muridku, ketaatan dan kesetiaan, selain kemampuan dan bakat, jika seandainya aku memerintahkan dirimu untuk memenuhi sebuah tugas yaitu untuk membunuh sahabatmu bernama Cun Ek, apakah kau bersedia?” Tanya Yap Ing lagi.
Chin Hong terkejut mendengarnya, dibalik kelembutan wajah Yap Ing tersimpan ketegasan yang mengerikan,
“Aku akan mengikuti perintah guru berdua, namun mana mungkin aku dapat melaksanakan perintah itu, karena tingkat kekuatan yang dimiliki oleh saudara Cun Ek sangat jauh di atasku, bahkan kudengar dari ayah, bahwa dirinya sendiri bukan tandingan dari saudara Cun Ek, lalu berikutnya aku pun heran bahwa saudara Cun Ek harus dibunuh tanpa alasan. Sebagai seorang kultivator, bertindak harus ada alasan dan dasarnya karena jika setiap kultivator bertindak seenaknya, maka dunia ini akan menjadi kacau, karena kekuatan digunakan hanya untuk menindas yang lemah dan pada sesuatu yang sifatnya remeh”, jawab Chin Hong mantap.
Yap Ing melirik ke arah suaminya An Wu Hong dan tersenyum,
“Aku hanya mengatakan seandainya, tapi aku puas dengan jawabanmu, dan ini putraku An Wu Song, aku akan membawamu segera sedangkan kawanmu akan mengikut saudaraku Phang Cui Lin”, kata Yap Ing lagi.
“Kakak Chin Hong, kau sekarang adalah kakakku, ayahku bernama An Wu Hong dan Ibuku bernama Yap Ing, jadi sekarang kita semua adalah satu keluarga, benarkan kakek Yap?” Kata An Wu Song sambil menghadap pada leluhurnya Yap Kun Tek, yang dibalas oleh Yap Lun Tek dengan menganggukan kepalanya.
Phang Cui Lin mengangkat wajahnya dan menatap pada Wang Lin Sie,
“Siapakah nama orang tuamu?” Tanya Phang Cui Lin pada Wang Lin Sie.
“Nama orang tuaku adalah Wang Jie dan Zhang Mey dari Benua Khui Ning”, jawab Wang Lin Sie.
Tidak lama kemudian muncullah Chen Mey Wa menghadap pada mereka semua,
“Kakak Mey Wa, apa kabar?” Kata An Wu Song, setelah melihat Chen Mey Wa yang sudah dikenalnya.
“Hormat pada guru berdua dan leluhur semua”, kata Chen Mey Wa dengan senyum gembira sambil matanya menatap ke arah An Wu Song sebagai jawaban atas pertanyaan anak itu padanya.
“Mey Wa, mulai sekarang sapa adik seperguruanmu, kau sekarang tidak sendiri lagi, kau akan berlatih bersama dengannya”, kafa Phang Cui Lin pada muridnya, Chen Mey Wa sedikit bingung, karena baru dia sadari bahwa ada dua gadis remaja di sampingnya yang sedari tadi dalam posisi bersujud pada gurunya, namun yang satunya menghadap pada Yap Ing dan An Wu Hong, dia pun tahu akhirnya bahwa yang disebut saudara seperguruannya adalah seorang gadis remaja yang terlihat lebih muda darinya, dia pun lalu berdiri di samping Wang Lin Sie dan melirik gadis remaja tersebut untuk melihat wajahnya.
“Jadi kau adalah anak dari klan Wang, salah satu anggota keluarga dari klan pemimpin Benua Khui Ning, apakah kau tahu siapa kami?” Tanya Phang Cui Lin lagi.
“Yang kutahu bahwa leluhur adalah pemimpin Sekte Samudera Naga”, jawab Wang Lin Sie dengan polos.
“Ha ha ha…, saudara Kun Tek, rupanya penduduk Benua Khui Ning tidak mengenal betul siapa Penguasa Benua sesungguhnya”, yang tertawa adalah Han Wo dan istrinya An Ling.
Mendengar gurauan yang dilontarkan oleh Han Wo, Yap Kun Tek hanya tersenyum lembut,
“Aku sendiripun tidak menganggap diriku sebagai Penguasa Benua Khui Ning, apalagi setelah aku memiliki istri, maka penguasa sesungguhnya adalah wanita di sebelahku ini” jawab Yap Kun Tek dengan senyum terkulum.
Percakapan itu menjadi perhatian bagi Chin Hong, Chen Mey Wa terlebih bagi Wang Lin Sie, mereka semua terkejut bahwa status yang dimiliki oleh orang-orang yang ada di hadapan mereka bertiga memiliki status yang luar biasa.
An Ling menyadari sesuatu, lalu dia pun mulai memaparkan kepada tiga murid itu, bahwa mereka semua saling berhubungan bahkan dengan kultivator penguasa Dunia ini yang sekarang menjadi topik pembicaraan di seluruh permukaan dunia ini yang disebut sebagai Han Long dan Kedua istrinya Coa Leng In dan Han Eng, bahkan An Ling mengatakan bahwa ibu kandung dari Coa Leng In yang disebut juga sebagai Penguasa Benua Merah, salah satu istri Han Long itu adalah Yap Ing, jadi An Wu Song yang masih berusia tiga tahunan ini adalah adik kandung dari istri Han Long.
Selain An Ling, Phang Cui Lin pun menerangkan bahwa Han Wo yang berdiri di hadapan mereka bertiga secara senioritas adalah kakak senior dari Han Long dan Han Eng di dalam klan keluarga Han dari kota Yang In.
Betapa terkejutnya Wang Lin Sie, Chin Hong dan Chen Mey Wa mendengar keterangan dari para tetua Raja Dewa ini, dengan hati berdebar-debar gembira, ketiga gadis remaja itu merasa bangga, karena mereka diangkat oleh sosok-sosok yang ternyata memiliki kedekatan hubungan dengan kultivator Puncak Dunia Sembilan Benua, bahkan diantaranya memiliki hubungan darah.
“Baiklah sekarang kalian bertiga sudah mengerti, untuk Chen Mey Wa dan Wang Lin Sie kalian tidak akan ada di Sekolah Beladiri Samudera Naga ini, tapi kalian berdua akan mengikuti kami ke Benua Khui Ning di Klan Yap yang merupakan rumah kami, sedangkan Chin Hong akan mengikuti saudaraku leluhur An Wu Hong dan istrinya di Istana Kerajaan Chong Yang, dan kuharap kau Chin Hong dapat menemani adikmu An Wu Song, satu hal lagi, aku tahu kalian berdua Chin Hong dan Chen Mey Wa berasal dari dua kerajaan yang saling bersaing di Benua Eng Hian, tapi disini kalian adalah keluarga”, kata Phang Cui Lin.
“Apakah ada hal lain yang ingin kalian sampaikan?” Kata Yap Kun Tek pada ketiga gadis remaja itu.
Chin Hong dan Wang Lin Sie maju ke depan, keduanya seperti akan menyampaikan sesuatu,
“Kalau seandainya diizinkan oleh Guru, apakah kami diperkenankan untuk kembali ke orang tua kami masing-masing untuk mempersiapkan segalanya dan memberitahukan kondisi kami”, kata Chin Hong sekalian mewakili Wang Lin Sie.
“Hm, itu pasti kami izinkan, juga katakan pada sahabat kalian Cun Ek bahwa kalian bersama dengan kami, bukan di Sekolah Beladiri Samudera Naga, Chen Mey Wa, dalam lima hari kita akan pindah dan meninggalkan Benua ini untuk kembali ke Benua Khui Ning”, kata Yap Kun Tek lagi.
An Wu Hong menghampiri Iparnya,
“Saudara Han Wo, apakah benar kau akan membiarkan gadis Han Sie yang berbakat itu dibiarkan di Sekolah Beladiri Samudera Naga?”, pertanyaan ini dilontarkan secara spontan oleh An Wu Hong, karena dia melihat bakat yang luar biasa yang ditunjukkan oleh Han Sie saat memimpin rekan-rekannya sehingga dapat melewati ujian kedua.
Han Wo hanya tersenyum, bersama istrinya dia mengedipkan mata,
“Melihat kalian telah menculik murid berbakat dari hasil ujian ini, aku pun bermaksud untuk mengambil secara khusus para gadis remaja itu, namun aku akan membiarkan dia memimpin rekan-rekannya, tadinya aku mau melarang dia mengikuti acara kegiatan ini, namun dia terlalu terobsesi oleh riwayat Han Eng yang memulainya dari tempat ini”, kata Han Wo.
“Kami memang telah memeriksa dan mengetahui kelebihan anak perempuan itu, sebetulnya bukan hanya dia tetapi anak yang bernama Tang Lie pun memiliki bakat yang baik, namun dia lebih suka dengan kawan-kawannya, dan pula kami juga terlalu repot jika saat ini harus mendidik dua orang sekaligus, makanya kami berdua sepakat hanya mau mengangkat gadis bernama Han Sie itu”, kata An Ling.
Mata Yap Kun Tek bergerak dengan lincah, dia seperti mendapatkan ide,
“Bagaimana dengan ini, bahwa setelah lima tahun dari sekarang kita akan mempertemukan para murid kita untuk berdebat, untuk saling menambah pengetahuan, karena kita adalah keluarga, maka hal ini dapat saling menguatkan kekerabatan di antara kita”, kata Yap Kun Tek.
“Aku setuju, dalam lima tahun murid-murid kita akan berdebat, dimanakah tempat pertemuan mereka nanti?”, kata An Ling.
“Bagaimana jika di Kerajaan Chong Yang?” Jawab Yap Ing.
“Sebaiknya hanya ada diantara kita saja , dan bukan menjadi tontonan umum karena perdebatan itu pun untuk saling bertukar ilmu dan menambah wawasan diantara murid-murid kita”, kata Phang Cui Lin.
“Bagaimana jika pertemuan itu kita lakukan di Hutan Kabut Putih? Kita akan meminta izin pada Leluhur Thian Sian Li, mungkin juga putra Han Long yang bernama Han Wi Liong dapat turut serta dan kita tahu sendiri bila keturunan Penguasa Benua Ketiga menjadi sumber peningkatan kekuatan kultivasi murid-murid kita atau mungkin juga Penguasa Ketiga berkenan membagikan tekniknya sehingga kita semua dapat meningkatkan kultivasi kita masing-masing”, kata Han Wo dan An Ling istrinya pun mengangguk setuju.
Setelah melalui sedikit percakapan tentang acara reuni berikutnya dari tiga pasang kultivator tingkat Raja Dewa, maka disepakati bahwa pertemuan mereka akan berlangsung dengan sekalian menguji para murid mereka dalam lima tahun kedepan di kedalaman Hutan kabut Putih di Benua Chong Yang.
Wang Lin Sie dan Chin Hong diberi izin untuk kembali kerumah mereka masing-masing, namun dalam perjalanan Chin Hong ingin menemui Cun Ek yang dia tahu berdiam di Gedung keluarga Wang, maka dari itu dia ingin menyertai Wang Lin Sie untuk sekedar memberitahu bahwa mereka berdua diterima sebagai murid oleh para kultivator tingkat Raja Dewa yaitu para Leluhur Sekte Samudera Naga.
Di Gedung klan keluarga Wang, terlihat Wang Jie dan Zhang Mei berada di ruang pertemuan para tetua klan Wang, pada hari pertama mereka menyertai putri mereka namun pada hari berikutnya, mereka mempercayakan pada Cun Ek untuk mengawal dan menyertai putri mereka, dan mereka kembali ke gedung Wang sambil menunggu kabar berikutnya.
Pada hari kedua ketika mereka berdua melihat bahwa Aliong dan Cun Ek kembali ke Gedung Wang, baik Wang Jie maupun istrinya Zhang Mei sangat heran,
“Apakah kalian berdua tidak ikut seleksi penerimaan Murid di Sekolah Beladiri Samudera Naga?, ataukah ujian itu terlalu sulit?”, kata Wang Jie melihat ke wajah Cun Ek.
“Aku hanya berniat mengawal adik Wang Lin Sie, aku tidak tertarik menjadi siswa di Sekolah tersebut”, jawab Cun Ek dengan tenang.
“Lalu bagaimana dengan dirimu Aliong?” Tanya Zhang Mei pada Aliong.
“Apalagi aku, aku tidak tertarik pada kekuatan kultivasi, tidak ada salahnya juga aku menjadi manusia biasa, aku hanya tertarik mengolah makanan menjadi sesuatu yang nikmat untuk disantap he he he…”, jawab Aliong sekenanya.
Kedua suami istri itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, bagi seluruh anak remaja seusia mereka adalah kebanggan besar dapat bergabung menjadi siswa di Sekolah Beladiri itu, namun bagi Cun Ek dan Aliong malah menolak untuk bergabung, padahal mereka melihat ketika Cun Ek dengan mudah menerobos masuk ke Gerbang Utama hanya dalam hitungan detik saja, sebagai syarat lolos pada ujian pertama, tapi apa mau dikata ternyata Cun Ek hanya ingin mengawal putri mereka dan memastikan bahwa putri mereka dapat lolos ujian tersebut, perhatian Cun Ek pada Wang Lin Sie putri mereka menjadi catatan penting bagi pasangan suami istri itu.
Maka dua hari berikutnya ketika Wang Jie dan Zhang Mei bersama tetua lainnya, sedang duduk di ruang pertemuan aula para tetua klan Wang, mendengar akan kedatangan putri mereka bersama seorang gadis remaja lainnya dari pengawal penjaga, mereka semua terkejut dan timbul prasangka bahwa putri mereka dinyatakan tidak lolos dan gagal pada ujian berikutnya.
Dengan wajah kecewa Zhang Mei sudah pasang wajah cemas dengan suaminya,
“Suamiku, rupanya nasib putri kita tidak sesuai harapan kita semua, ingat jangan kau tunjukkan wajah kecewamu pada putri kita”, kata Zhang Mei mengingatkan pada suaminya, yang hanya dijawab dengan anggukan lemah.
“Ayah, Ibu aku kembali”, kata Wang Lin Sie setelah masuk bersama dengan Chin Hong.
Wang Jie menyongsong kedatangan putri mereka dengan memasang wajah biasa,
“Bagaimana kabar putri ayah? Sudahlah kau tidak usah kecewa, mungkin ini juga takdirmu kau tidak bergabung dengan Sekolah Beladiri Samudera Naga”, kata Wang Jie menghibur putrinya.
Kedua gadis remaja ini terkejut, terutama Wang Lin Sie yang memandang wajah ayahnya dengan takjub,
“Darimana ayah tahu bahwa aku tidak diterima oleh Sekolah Beladiri Samudera Naga? Siapa yang telah menyampaikannya? Apakah begitu cepat berita kita tidak bergabung di Sekolah tersebut?” tanya Wang Lin Sie sambil kepalanya menengok pada Chin Hong.
“Dimana adanya saudara Cun Ek dan Aliong?”, tanya Chin Hong pada Wang Lin Sie.
“He he he… kami ada disini”, kata sebuah suara bocah lelaki yang baru masuk keruangan itu, dimana Cun Ek dan Aliong sudah mendengar kembalinya para sahabat mereka.
“Saudara Cun Ek dan Aliong, aku hanya mau bilang bahwa kami tidak jadi bergabung dengan Sekolah Beladiri Samudera Naga”, kata Chin Hong setelah melihat Cun Ek dan Aliong memasuki ruang aula tersebut.
“Putriku, anggap ini sebuah pengalaman berharga, tidak perlu kau larut dalam kekecewaan sehingga kau melupakan tujuan utamamu untuk tetap menjadi kuat dalam berkultivasi”, kata Zhang Mei yang juga para tetua di belakang mereka berdua memberikan persetujuan dengan manggut-manggut.
“Apa maksud ibu?” tanya Wang Lin Sie dengan wajah heran.
“Kau telah gagal pada ujian penerimaan calon siswa Sekolah Beladiri Samudera Naga, anggap itu pelajaran berharga”, kata Zhang Mei sambil menghampiri putrinya dan mengelus kepala Wang Lin Sie.
“Aku memang tidak mengikuti ujian terakhir, tapi itu pun bukan kehendak kami berdua”, kata Wang Lin Sie, sambil kepalanya melengos ingin menjelaskan lebih lanjut
“Jadi? kenapa kau pulang sementara yang lain masih mengikuti ujian ketiga hari ini”, kata Wang Jie.
“Tuan Wang, boleh aku menerangkan kenyataan yang sebenarnya?” Kata Chin Hong, dia menyadari ada kesalahpahaman yang terjadi.
Chin Hong dan Wang Lin Sie pun bercerita secara bergantian dan saling melengkapi, setelah diuraikan kondisi sebenarnya dari mulut dua gadis remaja tersebut, bukan hanya Wang Jie dan Zhang Mei yang mulutnya membentuk huruf O besar, tetapi semua tetua yang berada di ruangan tersebut, sedangkan Cun Ek hanya diam termenung, berbeda dengan Aliong, dia sebetulnya sudah tahu dari Nenek Sian.
Blllaaaarrrrr….!
Seperti ada ledakan yang menghempaskan semua dada orang yang merasakan tekanan kekecewaan dan yang berubah menjadi kegembiraan tiada tara, bahwa putri klan Wang dari Benua Khui Ning akan menjadi murid pribadi dari penguasa Benua Khui Ning, prestise ini adalah jauh dari bayangan setiap orang, khususnya bagi klan Keluarga Wang dan klan keluarga Zhang, dimana salah satu keturunan mereka akan menjadi pelindung karena mendapat dukungan dari kekuatan Penguasa Benua Khui Ning, seorang Kultivator tingkat Raja Dewa.