Setelah keterangan dua gadis remaja itu, beberapa jam kemudian, Chin Hong pamit ke keluarga Wang, dia akan pulang untuk menemui ayahnya, dengan ditemani oleh Cun Ek dan Aliong, mereka bertiga sampai juga di Benteng Keluarga bangsawan Kerajaan Benua Nirwana, dan selanjutnya Aliong dan Cun Ek pun kembali ke Gedung Wang.
Setelah berlalu lima hari sejak kedatangan Wang Lin Sie dan Chin Hong di gedung keluarga klan Wang, Nenek Sian mengutarakan maksudnya, bahwa dia akan pergi membawa cucu-cucunya yaitu Aliong dan Cun Ek, dengan alasan bahwa putri Klan Wang yaitu Wang Lin Sie sudah tidak berada di Gedung Wang, dan sudah mengikuti guru barunya ke Benua Khui Ning sehari sebelumnya.
Wang Jie dan Zhang Mei berusaha menahan Nenek Sian dan cucu-cucunya, namun mereka bertiga bersikeras untuk meninggalkan gedung tersebut, apalagi nenek Sian beralasan, dia yang biasanya ke ladang jadi merasa keenakan di tempat itu, sehingga tidak memiliki kegiatan lain yang menggerakkan tubuh tuanya.
Melihat sikap kukuh dari Nenek Sian dan cucu-cucunya, Wang Jie dan Zhang Mei hanya bisa merelakan kepergian mereka bertiga, setelah memberi bekal bagi Nenek Sian dan cucu-cucunya yaitu masing-masing sekantong Koin Emas yang segera disimpan oleh Aliong pada kantong langitnya, tapi bagian Cun Ek langsung diberikan pada saudara angkatnya.
“Cun Ek, kita berpisah sekarang , aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi, tapi dalam lima tahun kami akan kembali ke tempat semula, di luar benteng Kerajaan Chong Yang ini”, kata Aliong.
“Sebenarnya aku kan mencari ibuku, mudah-mudahan dalam lima tahun kita dapat bertemu kembali”, kata Cun Ek.
“Cucuku, ingat jadilah engkau seperti dirimu sendiri, kau memiliki kekuatan, di balik kekuatanmu ada tanggung jawab yang harus kau kerjakan, suka atau tidak suka harus kau jalani, nenek hanya berharap kelebihanmu dapat bermanfaat bagi orang lain”, kata Nenek Sian sambil menatap wajah Cun Ek dengan lembut.
Mata Cun Ek berkaca-kaca, baru sekarang dia merasakan kasih sayang dari orang tua yang melebihi kasih sayang dari orang tuanya sendiri,
“Nenek Sian, sampai kapanpun kau adalah nenekku, mungkin di masa depan aku akan menjadi pelindungmu, namun kekuatanku masih lemah, karena kutahu bahwa dunia ini tidak sesempit yang kutahu, dunia ini sangat luas dan banyak kekuatan yang selalu mengganggu orang yang lemah, aku bertekad, kekuatan yang kumiliki adalah menjadi pelindung bagi yang membutuhkan diriku”, kata Cun Ek sambil bersujud melakukan bakti pada orang yang dianggap sebagai orang tuanya.
Nenek Sian tergerak hatinya dan mengelus kepala Cun Ek dengan kasih sayang, Nenek Sian atau Thian Sian Li sudah tahu siapa sesungguhnya Cun Ek ini, seorang anak yang dilahirkan ke dunia ini ditengah-tengah kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang terdekatnya, namun hal itu telah berlalu, biarlah Cun Ek yang sekarang memulai perjalanan hidupnya dengan cara pandangnya yang baru.
Perpisahan Cun Ek dan nenek Sian terjadi di sebuah persimpangan jalan di luar benteng Kerajaan Chong Yang, Cun Ek melanjutkan perjalanannya seorang diri sebagai Bocah lelaki sebelas tahunan dengan tingkat kultivasi Manusia Dewa ke-4 Lanjutan, dan di benua ini siapa yang menyangka bahwa bocah lelaki ini telah memiliki tingkat kultivasi setinggi itu.
Aliong dan Nenek Sian bergerak ke arah Stasiun Teleportasi Antar Benua yang terletak di sebelah barat Kerajaan Chong Yang, tujuan mereka adalah ke Benua Barbar Kuno, dalam rangka penyelidikan mengapa orang-orang dari benua itu menyusup dan akan membuat kekacauan di Benua terpencil dan kecil seperti pada Benua Chong Yang.
Fisik Nenek Sian berubah, demikian juga Aliong, pakaian keduanya berubah menjadi seorang kultivator berusia empat puluh tahunan dengan rambut Thian Sian Li di sanggul tinggi dan Aliong menjadi seorang anak remaja lelaki yang bermuka bersih seperti layaknya putra bangsawan rendah.
Oleh Thian Sian Li, penampilan Han Wi Liong terutama wajahnya menjadi putih bersih, berbeda ketika di Kerajaan Chong Yang dimana wajahnya sedikit gelap, dan Aliong menggunakan namanya menjadi Wi Long dan Thian Sian Li menjadi Bibi Li.
Waktu bergulir dengan cepat, dua tahun sudah berlalu sejak terjadi Ujian Penerimaan Calon Siswa Sekolah Beladiri Samudera Naga di Kerajaan Chong Yang, dan selama itu di Benua Barbar Kuno, Wi Long dan Bibi Li telah menetap dan menjadi penduduk di Benua tersebut dengan memilih tempat di sebuah gua yang merupakan tempat tinggal yang umum bagi keluarga yang memiliki kekayaan sedikit, namun tidak dianggap melarat.
Bibi Li dikenal sebagai ahli pengobatan dan memiliki pengetahuan tentang obat-obatan herbal, sementara Wi Long dikenal sebagai juru masak yang membantu sebuah rumah makan yang berdiri di sebuah pohon raksasa, dengan cita rasa masakan yang sangat lezat.
Dimana kelezatan masakannya dapat mengolah macam-macam hewan mistik menjadi hidangan yang lezat.
“Pelayan, cepat hidangkan menu spesial kalian, aku sudah lapar, aku ingin memanjakan lidahku, jangan lupa anggur yang terbaiknya, cepat!”, kata seorang Pria yang terlihat berwajah seram dengan mata merah menyeramkan.
“Baik Tuan, kami segera menghidangkan pesanan tuan”, kata pelayan itu yang segera berlari ke dapur.
“Bocah Wi Long, mana pesanan dari meja tamu nomor lima, konsumen itu sudah kelaparan”, jawab pelayan itu menghampiri Wi Long yang masih sibuk masak.
“Sabar, sedikit waktu lagi semua akan selesai, kecuali dia ingin makan masakan mentah”, jawab Wi Long.
Pelayan tersebut tidak berani keluar menemui tamu konsumen tadi, walaupun Wi Long hanya sekedar bocah remaja, tapi hasil masakannya banyak yang menunggu, kalau dia tidak sabar, ada kemungkinan dia akan menghadapi kemarahan para tamu dengan tangan kosong karena Wi Long tidak mau masak pesanan tamu tersebut.
Sebenarnya Wi Long mengetahui bahwa setelah dia menjadi juru masak di rumah makan ini, dia memiliki otoritas sendiri, karena hasil racikan masakannya banyak yang menggemari, dia sengaja berakting angkuh di rumah makan ini, apalagi terhadap seorang pelayan.
Saat itu rumah makan tersebut sangat ramai, hasil racikan masakan dari Wi Long menjadi terkenal setelah setahun berlalu, juru masak remaja kecil disematkan pada Wi Long, bahkan saking terkenalnya masakan Wi Long, rumah makan ini pun mendapat julukan ‘Rumah Makan Wi Long’.
“Pelayan mana pesananku? Mengapa begitu lama? Perutku sudah tidak tahan, cepatlah!” Ujar pria itu tidak sabar, sedangkan pelayan yang tadi menghampiri Wi Long sudah ketakutan menghadapi tamu tersebut.
Wi Long melirik pelayan tadi,
“Tenanglah, aku sendiri yang akan mengantarkan pesanannya, jangan kau cemas, nah akhirnya selesai juga”, kata Wi Long pada pelayan tadi.
Wi Long membawa pesanan pria tersebut dengan langkah tenang, sambil berjalan menghampiri meja tamu cerewet tadi, Wi Long tersenyum.lebar,
“Silahkan tuan, pesanan anda sudah tersedia” kata Wi Long.
“Mengapa begitu lama, aku komplain atas pelayanan rumah makan ini”, jawab tamu itu memasang wajah marah dan raut kecewa.
Wi Long tetap tersenyum,
“Apakah tuan tidak jadi dan membatalkan pesanan tuan?” Tanya Wi Long.
“Aku akan mencicipi masakan itu”, kata tamu tersebut.
“Lalu apa maksud tuan mau komplain? Kalau begitu aku akan menarik kembali makanan ini”, kata Wi Long dan segera dia memindahkan makanan yang tadi terhidang di meja tamu tersebut dan dipindahkan ke meja tamu lainnya yang rupanya memesan menu makanan yang sama dengan pesanan tamu tersebut, sang tamu tidak diberi kesempatan untuk mencicipi masakan Wi Long,
“Eh eh, apa yang kau lakukan, itu pesananku” kata tamu tersebut yang menghalangi tindakan Wi Long dalam memindahkan hidangan ke meja tamu lainnya.
Namun Wi Long tidak menghiraukannya, dia malah menatap tamu tersebut,
“Kalau kau mau komplain, aku persilahkan kau sampaikan keluhanmu pada pemilik rumah makan ini, itu artinya anda telah membatalkan pesanan anda, juga kau telah menghabiskan waktuku yang sangat berharga, lihat para pelanggan yang lain, akibat ulahmu, aku harus keluar sendiri mengantarkan makanan ini pada para tamu, karena pelayan yang seharusnya melayanimu sekarang tidak mau keluar untuk melayanimu akibat ulahmu sendiri”, kata Wi Long tetap tenang.
Sedangkan tamu yang tadi sudah tidak sabar dan membentak-bentak pelayan, kini wajahnya memerah, kemarahan sudah tergambar di wajahnya yang sangat bengis itu.
“Kau anak kecil berani berulah denganku, apakah kau tidak tahu siapa diriku?” Kata tamu tersebut.
Wi Long dengan mata polos menatap tamu tersebut dan menggelengkan kepala sebagai isyarat dia tidak tahu jati diri tamu tersebut.
“Hm…, aku adalah salah satu komandan pengawal dari Istana Kuno, kau anak kecil berani menentangku, bahkan pemilik rumah makan inipun tidak dapat melindungi dirimu”, kata tamu itu.
Wi Long hanya menatap bingung,
“Kau bilang akan komplain, maka dari itu makanan itu aku berikan pada tamu yang lain, karena untuk apa aku harus melayanimu, toh pada akhirnya kau akan protes juga dengan pelayanan kami, dari pada makanan ini menjadi sia-sia makanya ku alihkan pada tamu lain”, jawab Wi Long lagi.
Para tamu yang mendengar perdebatan antara tamu berwajah bengis dengan Wi Long, membenarkan tindakan Wi Long,
Bahkan ada dari para tamu yang berteriak agar orang itu segera pergi keluar, karena Wi Long yang seharusnya memasak pesanan mereka harus meladeni protes tamu tersebut.
Mendengar seruan dari sekian banyak orang yang menghardik dirinya, membuat tamu bengis itu makin merah saja mukanya, dia pun segera keluar di bawah pandangan semua tamu yang masih antri menunggu masakan dari Wi Long, dan Wi Long pun dengan cepat masuk dapur untuk segera memasak makanan bagi para tamu yang masih menunggu dengan sabar akan masakannya.
Kejadian ini tidak terlepas dari pengawasan Bibi Li yang sebenarnya berjarak sekitar beberapa kilometer saja, Thian Sian Li selalu menjaga cucu kesayangannya, dengan persepsi jiwanya, dia mengikuti pergerakan tamu berwajah bengis itu.
Jika dia mau maka tamu tersebut langsung mati hanya dengan kekuatan jiwa yang dimilikinya.
Orang yang berwajah bengis itu memang memiliki posisi sebagai bawahan salah satu jenderal besar dari enam Jenderal Besar Pemimpin Utama Benua Barbar Kuno, dia bernama Hu Tong.
Dengan menahan amarah di hatinya, Hu Tong pergi dari rumah makan tersebut, tujuannya ternyata adalah ke tempat komandannya, yaitu salah satu yang disebut Jenderal Besar atau disebut juga Jenderal Kui.
Jenderal Kui memiliki kedekatan dengan mendiang jenderal Tan Kui, yang dibunuh oleh Thian Sian Li di Benua Chong Yang, kedekatan itu bahkan sampai dianggap bagaikan saudara kandung, jadi Jenderal Kui sangat marah melihat bahwa sahabatnya telah tiada, ingin rasanya dia menerjang seorang diri dengan mendatangi Benua Chong Yang dan membabat habis semua orang di benua tersebut, namun perintah darì Sang Pemimpin Utama bagaikan perintah Raja yang harus diikuti, maka dia mengajukan dirinya untuk mencari para pelayan yang hilang tersebut.
Hu Tong segera masuk ke markas divisi jenderal Kui, dia menemui beberapa teman-temanya dan mengutarakan keluhannya atas kejadian di rumah makan tersebut, dan kawan-kawannya yang saat itu sedang di markas dan berjumlah sekitar belasan orang ikut marah, beramai-ramai mereka akan ke rumah makan tersebut dan memberi pelajaran pada seorang lelaki remaja bernama Wi Long.
Kelompok Hu Tong lalu bergerak menuju Rumah Makan di mana Wi Long bekerja dan tidak butuh waktu lama kelompok ini sudah mengepung rumah makan tersebut.
“Semua tamu di rumah makan segera keluàr, jika kalian membantah perintah ini jangan salahkan kami jika kalian akan mati bersama reruntuhan tempat ini”, teriak Hu Tong dengan bersuara keras.
Mendengar seruan Hu Tong, para tamu yang sedang makan terkejut, dan para pelayan sudah menggigil ketakutan karena mereka sudah menduga bahwa tamu bengis itu membuktikan ancamannya.
Ada seorang wanita 30 tahunan di antara para tamu yang terlihat tenang, dia menikmati hidangan masakan Wi Long secara perlahan-lahan bahkan seperti sedang menikmati hidangan yang sepertinya sangat istimewa.
Wanita itu lama kelamaan seperti terganggu oleh teriakan Hu Tong yang dilontarkan berulang kali, dibarengi pula oleh teriakan kawan-kawannya, kening wanita itu berkerut, mulutnya meruncing,
“Segala nyamuk berdengung mengganggu seleraku, maka kalian semua harus mati”, gumam wanita itu, dan tidak lama kemudian seruan Hu Tong dan kawan-kawannya tidak terdengar lag, para tamu rumah makan itu pun melanjutkan menikmati masakan Wi Long termasuk wanita tersebut.
Sedangkan di bagian luar rumah makan itu ada sekitar belasan mayat yang berserakan, mulut berdarah dan mata yang hanya terlihat pupil berwarna putihnya saja, kondisi kematian kelompok Hu Tong sama semua, mereka seperti dihancurkan dari bagian dalam tubuh masing-masing, para pelayan rumah makan ini yang mengetahui bahwa pasukan yang dibawa oleh tamu berwajah bengis tersebut telah mati semuanya, segera berlari masuk ke ruang yang lebih dalam untuk melaporkan kejadian itu pada pemilik Rumah makan, dan tindakan mereka dicurigai oleh tamu-tamu yang lain.
MEREKA SEMUA MATI!!!
PASUKAN JENDERALl BESAR KUI MATI!!!
Berbagai teriakan heboh lalu berkumandang di sekitar area mayat-mayat yang berserakan tersebut, sedangkan wanita 30 tahunan yang memiliki corak dan gaya pakaian yang kurang umum itu hanya tersenyum tipis, dia tetap menikmati makanan hasil racikan Wi Long,
“Sudah ratusan tahun aku tidak memanjakan lidahku, bahkan aku sendiri lupa kapan aku memanjakan perutku dengan hidangan selezat ini, benar kata orang bahwa juru masak di tempat ini ternyata sangat ahli mengolah segala macam daging binatang mistik”, ucapnya seperti pada dirinya sendiri.
“Kalau begitu, aku harus membawa juru masak itu bersamaku”, gumamnya lagi.
Di dapur rumah makan itu, Wi Long sedang melakukan.kontak jiwa dengan neneknya,
“Nek, peristiwa ini akan memancing masalah besar”, kata Wi Long.
“Cucuku, waspada terhadap wanita itu, aku tidak menduga akan tingkat kultivasinya, kekuatannya berada di atas nenek”, kata Bibi Li atau Thian Sian Li.
“Nenek Sian Li, aku mohon padamu, apapun yang terjadi pada diriku, jangan nenek ikut campur, kekuatan miliknya jauh melebihi kekuatan ibu, aku tahu bahwa kekuatan ini tidak seperti berasal dari dunia kita, namun satu hal yang kumiliki untuk mengatasi kultivator kuat ini, aku menduga dia sangat menyukai hasil masakanku, kekuatan kita adalah rasa masakan dariku, kurasa aku akan mengendalikan dia dengan masakanku”, kata Han Wi Liong pada neneknya, dia sangat khawatir jika Thian Sian Li turun tangan, karena kekuatan wanita 30 tahunan ini sangat tinggi, melalui persepsi jiwa Thian Sian Li dan Han Wi Liong sendiri, tingkat kultivasi wanita itu melebihi tingkat Bu Ling Moy, Penguasa Benua Ketiga ibu kandung Ham Wi Liong sendiri, mungkin kekuatannya sebanding dengan ayahnya Han Long itupun dengan catatan dua jiwa Han Long bersatu.
Thian Sian Li sendiri pun memaklumi peringatan cucunya, dia sudah tahu kejeniusan cucunya dalam mengatasi setiap masalah, namun dia adalah neneknya mana mungkin dia membiarkan cucunya menghadapi masalah yang demikian berat seorang diri.
Wanita 30 tahunan itu berdiri, lalu dengan langkah gemulai dia menghampiri pelayan,
“Aku ingin bertemu dengan juru masak yang sudah menyediakan hidangan untukku”, katanya, dan pelayan itu pun sedikit terbengong karena ternyata wanita ini memiliki postur tubuh yang sangat cantik dan menggiurkan bagi kaum lelaki dewasa.
Bibir wanita itu memiliki bentuk yang menarik dengan ketebalan sedang berwarna merah jambu, hidung kecil mancung dan berbulu mata lentik, dada yang terangkat dengan pinggang ramping dan otot pinggul membulat serta sepasang kaki panjang yang menopang keindahan bentuk wanita yang sempurna.
“Cepat kau panggil juru masak itu, atau kau mau mengalami nasib yang sama dengan orang-orang yang berkoar-koar tadi”, kata wanita itu.
Pelayan itu pun sadar bahwa barisan pengawal yang berteriak-teriak tadi dibunuh oleh wanita di depannya, dengan segera ia berlari mencari Wi Long.
Tidak berapa lama dari dapur keluar Wi Long mendatangi wanita tersebut.
“Hi hi hi…, aku menyukaimu, ternyata kau cukup tampan bocah, mulai sekarang kau bersamaku, hi hi hi…” suara wanita itu bergema di sekitarnya dan
Jleb…!
Splassss…!!!
Wanita itu dan Wi Long menghilang di tempat tersebut, berteleportasi entah kemana.
Betapa terkejutnya semua tamu yang hadir di ruangan itu, terlebih Thian Sian Li yang sudah mengawasi pergerakan wanita itu melalui persepsi jiwanya, sekarang di dalam pengawasannya, cucu tersayang diculik oleh seorang wanita yang tidak diketahui nama dan asal-usulnya.
“Celaka, cucuku telah dibawa oleh wanita itu, apa yang harus kulakukan”, gumam Thian Sian Li dihatinya.
Dengan hati sedih Thian Sian Li tidak menduga akan kejadian tersebut, ia pun lalu menghilang dari tempatnya, berteleportasi langsung menuju Istana Kuno, berusaha mencari keterangan tentang sosok wanita tersebut, kalau perlu dia bersiap menghancurkan istana kuno jika berani membuat cucunya terluka.