Dua titik cahaya melintas di angkasa Dunia Sembilan Benua, bersinar bagai komet hanya titik yang kecil dibandingkan oleh ekor bintang yang melesat, dua titik cahaya itu adalah dua sosok tubuh manusia.
Mereka adalah Han Long dan istrinya Bu Ling Moy, penguasa Benua Ketiga.
Sepasang suami istri ini melintas dalam rangka mengawasi seluruh pergerakan Dunia Sembilan Benua, namun pekerjaan ini terganggu karena ada seruan di jiwa mereka tatkala Thian Sian Li, ibu kandung Han Long mengatakan bahwa, Han Wi Liong ada yang menculiknya, karuan saja Han Long dan Bu Ling Moy terkejut.
Ada orang yang bertindak dibawah pengawasan dari ibunya, Thian Sian Li.
Hanya ada satu alasan, bahwa si penculik memiliki tingkat kekuatan yang lebih tinggi dari Thian Sian Li.
“Suamiku, apakah kita akan langsung mendatangi Benua Barbar Kuno, dan bertemu ibu di sana?” Tanya Bu Ling Moy.
“Aku sudah mengontak bagian jiwaku di Benua Merah, aku harus mempersiapkan diri dengan kekuatan penuh, nanti di atas Benua Barbar Kuno kita akan bertemu dengannya”, jawab Han Long.
Di Benua Merah di Istana Merah, ada tiga orang berkumpul bersama dua anak kecil yang dipangku oleh masing-masing wanita yang mendampingi seorang pria, mereka adalah keluarga Han Long.
“Istri-istriku, kita harus segera bersiap untuk menemui jati diri Han Long di atas Benua Barbar Kuno”, kata Han Long.
“Suamiku, apakah anak-anak akan dibawa serta?” Tanya Coa Leng In sambil matanya menatap pada Han Eng.
“Suamiku, aku berpikir, biarkan anak-anak bersamaku, kau dan saudari Coa Leng In yang akan pergi, aku akan menjaga dan menunggu di Benua Merah saja”, kata Han Eng.
“Kupikir juga demikian, agar ada seseorang di Benua Merah untuk berjaga kalau pihak yang menculik putra kita bermaksud mengacau di Benua Merah, dan kita dapat mengetahui kalau orang tersebut memiliki rencana lain”, kata Han Long menyetujui maksud Han Eng.
Coa Leng In merenung sebentar, tingkat kultivasi miliknya dibawah satu tingkat milik Han Eng, dia sekarang adalah seorang kultivator Kaisar Dewa Awal sedangkan Han Eng adalah Kaisar Dewa Lanjutan, sedangkan kultivasi Han Long yang mereka tahu adalah Kaisar Dewa Puncak Sempurna.
Coa Leng In hendak menyanggah usul Han Eng, namun tidak jadi karena terlihat sorot mata Han Eng padanya,
“Kakak Leng In jangan khawatir akan putramu Han Wi Kong, dia juga putraku, dan aku sangat menyayanginya, dia akan selalu bersama dengan putriku”, kata Han Eng sambil datang dan memeluk madunya dengan perasaan sayang.
“Baiklah kalau begitu, hal ini sudah diputuskan, akupun akan melakukan yang sama adik Eng, aku sangat menyayangi putrimu Han Chen Ing, aku menitip putraku Wi Kong padamu, mudah-mudahan kita dapat menyelesaikan dan menemukan penculik itu secepatnya”, kata Coa Leng In.
Han Long menghampiri kedua istrinya Han Eng dan Coa Leng In dan memeluk mereka berdua, dia juga menghampiri dua anak lelaki dan perempuan yang berusia sekitar dua tahunan, Han Wi Kong dan Han Chen Ing, mengangkat dua anak di kedua tangannya satu di kiri dan yang lelaki di tangan kanannya, sambil berucap,
“Kalian berdua jangan nakal, kalian harus menuruti apa kata-kata ibu kalian”, kata Han Long pada kedua bocah itu.
“Ayah, aku ingin ikut bersama ayah dan ibu”, kata Han Chen Ing dengan tatapan mata menggemaskan.
Sedangkan Han Chen Kong malah bergelayut manja di pelukan Han Eng,
“Aku ingin dengan ibu saja”, kata Han Chen Kong sambil memeluk erat leher Han Eng, takut dipisahkan oleh Han Long.
Melihat hal ini, Coa Leng In berkerut kening,
“Kong er, aku ibumu, kenapa kau malah memeluk ibu Eng?”, tanya Coa Leng In.
“Ibu akan pergi dengan ayah, jadi aku harus bersama dengan ibu Eng untuk melindunginya”, jawab Han Chen Kong dengan mata polos.
Betapa bahagianya Han Eng mendengar ucapan bocah lelaki kecil ini, dia memeluk dengan mesra anak lelaki itu, dari awal lahir memang Han Chen Kong turut disusui olehnya demikian juga dengan Han Chen Ing yang juga suka disusui oleh Coa Leng In, jadi bagi kedua anak ini, baik Han Eng maupun Coa Leng In adalah ibu mereka berdua dan lagi jarak lahir mereka berdua hanya dalam hitungan jam saja dimana kelahiran Han Chen Ing lebih tua sekitar empat saja.
Han Long menatap putrinya,
“Putriku kau temani ibu Eng bersama saudaramu, karena ayah dan ibu Leng In harus menemukan kakak kalian, Wi Liong, nanti kita akan berkumpul bersama disini”, kata Han Long membujuk Han Chen Ing.
Melihat tatapan mata teguh dari putrinya, Coa Leng In memeluk Han Chen Ing,
“Benar kata ayahmu, ibu akan menjemput dan membawa kakak kalian, kakak Wi Liong, kau tunggu saja disini”, bujuk Coa Leng In pada putri kandung Han Eng itu.
Setelah mendengar bujukan Coa Leng In, Han Chen Ing mau menurutinya.
Hal ini bukan saja baru terjadi, masing-masing putra dan putri mereka sering kali mengadu pada ibu susu jika terjadi perselisihan kecil yang terjadi diantara anak-anak itu.
Dan Han Long sebagai ayah mereka membiarkan hal itu, karena baginya ini adalah ikatan batin yang sangat kuat dan menghindarkan dari kecemburuan masing-masing dari istrinya.
Maka setelah segala sesuatu dipersiapkan, Han Long bersama dengan Coa Leng In melangkah keluar dari Istana Merah dan
SPLASH…..!!!
Keduanya menghilang berteleportasi.
Di atas angkasa Benua Barbar Kuno, empat bayangan tubuh manusia muncul, dan kemudian Tubuh sejati Han Long dan jiwanya bersatu, sehingga tubuh Han Long berpijar sangat kuat ketika terjadi penyatuan tubuh tersebut.
“Istri-istriku mari kita temui ibu”, kata Han Long sambil tangannya terpentang lebar dan menarik pinggang ramping Coa Leng In dan Bu Ling Moy dalam dekapannya, lalu ketiga sosok tubuh itu menghilang.
Istana Kuno tempat Pemimpin Utama Zhao Wang Min beserta dengan para pembantunya saat ini sedang berkumpul, seperti biasa Zhao Wang Min diapit oleh Hu Xie dan Zhao Kwan, Tetua ke-3 dan Tetua ke-2, sedangkan lima Jenderal besar ada di hadapan mereka ďengan para pembantunya masing-masing, sehingga ada sekitar tiga puluhan orang yang berkumpul di aula pertemuan para petinggi penguasa Benua Barbar Kuno itu.
“Apa yang terjadi baru-baru ini? Seseorang cepat berikan informasi, mengapa kita harus kehilangan beberapa orang kita bahkan di Benua milik kita sendiri, apakah kekuatan kita begitu lemah sehingga orang lain dapat berbuat seenaknya di tempat kita?” Kata Zhao Wang Min dengan wajah gusar dan muka merah padam.
“Kami sudah menyelidiki peristiwa kematian anggota kita di rumah makan itu, banyak saksi mengatakan bahwa hal ini dilakukan oleh seorang wanita bahkan wanita itu pun membawa seorang yang tidak memiliki kekuatan kultivasi, seorang bocah lelaki yang menjadi juru masak di rumah makan tersebut”, jawab seorang Jendral Besar.
“Lapor Pemimpin Utama, bocah lelaki ini dapat mengolah segala jenis masakan yang paling enak hanya dengan bahan-bahan daging dari berbagai binatang mistik, ada kemungkinan wanita tersebut ingin memiliki sepenuhnya agar bocah ini menjadi juru masak di tempatnya”, jawab seorang Jendral Besar lainnya.
Zhao Wang Min sesaat tidak berucap, namun Hu Xie yang berkata,
“Apakah sudah diketahui jati diri asli bocah itu? Menurutku, kunci utama peristiwa ini ada pada bocah lelaki yang menjadi juru masak di tempat tersebut karena pada usia semuda itu dia menjadi daya tarik rumah makan tersebut selama lebih dari dua tahun, dan kudengar tindakan dari orang kita dipicu dari penolakan bocah itu yang mengalihkan pesanan orang kita pada orang lain, jadi jika bocah tersebut mampu melawan kehendak orang kita, maka latar belakang bocah itu tidak sesederhana yang kita bayangkan”, kata Hu Xie yang menggugah pemikiran semua orang termasuk Zhao Wang Min.
Zhao Kwan pun bereaksi,
“Apakah saudari Hu Xie mengacu pada peristiwa yang menimpa dirimu di Benua Chong Yang, karena dalam ceritamu pada kita semua, ada dua sosok bocah yang membuatmu akhirnya berhadapan dengan seorang kultivator kuat?” Kata Zhao Kwan.
Mendengar ulasan Zhao Kwan, Zhao Wang Min sedikit terkesiap, dia pun tadinya akan membahas sosok bocah lelaki itu, namun kini dibuka oleh pembantunya tetua ke-2 Zhao Kwan.
“Bagi kalian semua, segera mencari tahu asal usul bocah tersebut! Juga kalian para Jendral Besar tingkatkan kewaspadaan, kemungkinan kita akan kedatangan para tamu yang tidak kita kehendaki, selanjutnya bagaimana penyelidikan yang berhubungan dengan rencana kita untuk membalas kematian saudara kita Hu Sheng?” Kata Zhao Wang Min.
Seorang jendral Besar maju,
“Pemimpin Utama, kami para Jenderal tadinya ingin memulai dari Benua Thian Agung, karena akar masalah adalah turut campurnya para kultivator dari Benua Thian Agung” katanya.
“Apa rencana kalian?” Tanya Zhao Wang Min.
“Membunuh para kultiivator tersebut”, kata seorang Jenderal yang dari tadi hanya diam.
Wajahnya bengis dan kejam, dia memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan mendiang Hu Sheng dan berhutang budi karena dirinya mencapai jabatan sekarang ini adalah berkat Hu Sheng.
“Baik, utus dua orang jenderal Besar dan dipimpin oleh Tetua ke-2, ingat! Pembalasan ini harus terlaksana dengan diam dan rahasia”, kata Zhao Wang Min.
Di atas angkasa benua Barbar Kuno, empat sosok tubuh terbang melayang, tiga diantaranya adalah para wanita cantik yang dapat mengguncang sebuah negara, dan Han Long ada diantara mereka.
“Long er, aku tidak menyangka bahwa seseorang berani membawa cucuku dalam pengawasan diriku, aku menduga bahwa tingkat kultivasi milik orang itu berada di atasku”, kata Thian Sian Li.
Bu Ling Moy saat ini berwajah pucat, putra semata wayangnya hilang di bawah pengawasan ibu mertuanya seorang kultivator Kaisar Suci yang Sempurna, dan ternyata sang penculik memiliki tingkat kultivasi di atas ibu mertuanya ini.
“Ibu mertua, apakah ada kaitannya orang ini dengan para penguasa di Benua Barbar Kuno? Jika itu sampai terjadi aku akan menghanguskan Benua ini!”, kata Bu Ling Moy dengan wajah merah padam.
“Dinda Moy tenangkan dirimu, kupikir tidak sesederhana itu, aku sudah memindai benua ini, dan aku menangkap pembicaraan para pemimpin Benua Barbar Kuno, mereka pun kehilangan para pengikutnya, yang aneh adalah, kejadian itu terjadi di sebuah rumah makan, apa yang dikerjakan Wi Liong di tempat tersebut, apakah dia kelaparan? Sampai memerlukan makan dan minum, bukankah anak kita seorang kultivator Manusia Dewa”, kata Han Long pada istrinya Bu Ling Moy.
“Kanda Long apa yang kau maksudkan dengan putramu Wi Liong? Apakah kau sendiri tidak dapat memastikan tingkat kultivasi putra kandungmu? Sampai kau menebak bahwa Wi Liong memerlukan makan dan minum seperti manusia biasa?” tanya Coa Leng In kebingungan dengan perkataan suaminya sendiri.
Thian Sian Li menarik nafas panjang,
“Harus kuberitahukan pada kalian semua, ada keanehan pada putra kalian Han Wi Liong, dia sebenarnya tidak mau berkultivasi sebagaimana diri kita, dia berusaha menjadi manusia biasa, baginya berkultivasi tidak penting, dari pengakuannya padaku, cucuku itu memiliki tingkat kultivasi yang tidak lazim seperti kita, bahkan dia berusaha menahan laju kenaikan kultivasinya, yang dia butuhkan bukan teknik kultivasi, tapi teknik jiwa yang sangat kuat”, jelas Thian Sian Li.
Baik Bu Ling Moy, Han Long dan Coa Leng In terkejut mendengar keterangan dari ibu mereka, Thian Sian Li.
Ini adalah hal baru, dimana seorang bocah malah tidak mau berkultivasi, sementara sebagian besar orang akan berusaha keras agar dapat berlatih dan memiliki teknik kultivasi sehingga mencapai keabadian.
“Apa maksud ibu?” Tanya Han Long.
Thian Sian Li menatap putranya,
“Justru aku yang bertanya padamu, apakah dari kecil kau melihat dia berlatih kultivasi?, bukankah dulu waktu di Danau Merah Misterius dia sudah aneh bagi kita semua, dengan menunjukkan setiap kelemahan teknik yang kita miliki, bahkan kita semua dapat dikalahkan ketika dia masih bocah sepuluh tahunan”, tanya balik Thian Sian Li pada putranya.
Han Long dan Bu Ling Moy tersentak, bukan hanya di Danau Merah Misterius, bahkan dari kecil putra mereka menolak berlatih kultivasi atau mempelajari teknik beladiri, namun Han Wi Liong dapat mengalahkan ayah dan ibunya dengan catatan mereka menggunakan tingkat kultivasi yang sama dengan Han Wi Liong kecil, yang saat itu hanya kultivator Manusia Dewa tingkat rendah, sebetulnya kenaikan tingkat Han Wi Liong berjalan sangat cepat tanpa terlihat kalau putra mereka itu berlatih teknik kultivasi tertentu.
Coa Leng In yang melihat wajah Han Long dan Bu Ling Moy menjadi penasaran,
“Apakah putra Wi Liong demikian spesial? apa maksud ucapan ibu Sian Li?” Tanya Coa Leng In menatap suami dan madunya.
“Akupun tidak dapat menjelaskan keanehan pada tubuh putraku Wi Liong, dari kecil dia tidak suka mempelajari kekuatan teknik apapun, bahkan aku pernah dikalahkan oleh putraku itu, bahkan Dinda Moy dapat mengalahkan aku setelah menerima petunjuk dari Han Wi Liong, tapi sebenarnya dia tidak pernah berkultivasi untuk meningkatkan kekuatan tubuhnya, namun teknik beladiri dan kultivasi apapun akan ditemukan kelemahannya oleh penglihatan mata putraku itu”, kata Han Long pada Coa Leng dan Bu Ling Moy hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui ucapan Han Long.
Thian Sian Li tersenyum,
“Yang tidak kalian tahu adalah cucuku Han Wi Liong membutuhkan teknik jiwa yang sangat sempurna, kondisi tubuhnya adalah anugerah bagi dambaan para kultivator namun jika dia dibiarkan berkultivasi maka jiwanya tidak akan kuat menahan beban kekuatan kultivasinya, jiwanya bisa hancur, kekuatan kultivasinya meningkat sesuai seperti nafas udara yang dia hirup, itulah alasan mengapa dia tidak mau berkultivasi sebelum dia mendapatkan teknik jiwa tersebut”, katanya.
Mendengar itu, Coa Leng In menarik nafas panjang dengan mata masih menyatakan keheranan, Bu Ling Moy dan Han Long pun tidak jauh berbeda.
Dulu Han Long harus keluar dari Benua Kelahirannya karena masalah konstitusi tubuhnya, kini putranya memiliki konstitusi tubuh yang lebih istimewa, masalahnya, dari mana Han Wi Liong mendapatkan Teknik Jiwa tersebut?, teknik jiwa kedua orang tuanya sudah termasuk Teknik Kategori Dewa kelas Sempurna, namun ini tidak cukup bagi putranya.
Setelah membahas tentang keunikan konstitusi tubuh Han Wi Liong, mereka mendiskusikan sosok kultivator yang menculik cucu atau putra mereka.
Dari hasil pemindaian Benua Barbar Kuno, maka dapat ditentukan bahwa pihak Benua inipun sedang mencari sosok kultivator yang membuat onar di rumah makan itu, dari mulut Thian Sian Li, Suami istri Han Long tersenyum bahwa putra mereka memilih jadi juru masak, dan menjadi terkenal karena racikan masakannya sangat enak dan digemari oleh semua orang, jadi ada dugaan kemungkinan bahwa Han Wi Liong diculik karena ilmu masakannya bukan karena keistimewaan tubuhnya, karena tidak ada seorangpun tahu kecuali Thian Sian Li seorang.
Namun demikian, ke empat orang ini tetap mengawasi tindakan para penghuni Benua Barbar Kuno, apalagi tadi ada hubungannya dengan tindakan mereka untuk menyusup ke Benua Thian Agung, dimana Benua ini ada ikatan emosional dengan mereka semua.
Ada sekelompok orang yang keluar dari Benua Barbar Kuno melalui teleportasi antar benua, ketika empat orang di atas angkasa Benua itu sedang berdiskusi.
Mereka berjumlah lima orang dimana salah satunya adalah Zhao Kwan yang menjadi pimpinan dari regu kecil ini, misi mereka adalah Benua Thian Agung.
Beruntung Zhao Kwan dan kawan-kawannya lolos dari pengamatan empat kultivator di atas tingkat Kaisar Suci, sehingga mereka dengan mudah dapat lolos dan menghilang dari Benua Barbar Kuno.
Siapakah kultivator wanita yang dengan seenaknya membunuh orang-orang Benua Barbar Kuno dan membawa Han Wi Liong?
Tingkat kultivasi yang dimiliki wanita itu memang berada jauh di atas Thian Sian Li, karena dia adalah kultivator Mahadewa tingkat 3 dari Dunia Putih, dunia dimensi lain dari Dunia Sembilan Benua atau Dunia Merah Biru.
Wanita itu membawa Han Wi Liong kembali ke Dunia Putih melalui saluran teleportasi Antar Dunia yang posisinya sangat rahasia, dan rupanya posisi teleportasi itu terletak di Benua kesembilan dari Dunia Sembilan Benua yakni Benua Zheng Wang, Benua yang selama ini tidak menarik perhatian para kultivator Dunia Sembilan Benua, alasannya di benua ini yang ada hanya kegersangan karena di benua ini pernah terjadi malapetaka yang sangat hebat dan membinasakan semua penghuninya, baik tumbuhan maupun hewan terlebih lagi manusia.
Walaupun sebelumnya di benua ini pernah berdiri beberapa kerajaan yang sangat hebat dan kuat dimana penghuni rakyat biasa saja sudah mencapai kultivasi Manusia Dewa, dan barisan kultivator Kaisar Dewa berjumlah ratusan bahkan ribuan, namun perang di antara mereka mengakibatkan kemusnahan massal bagi seluruh penghuninya.