Souw In adalah nama wanita itu, seorang kultivator Mahadewa tingkat tiga dari Dunia Putih, dimensi yang berbeda dari Dunia Sembilan Benua.
Dia datang memasuki Dimensi Dunia Sembilan Benua sebetulnya hanya iseng belaka, dia seorang wanita yang di dunia asalnya adalah kultivator tingkat menengah.
Sebelumnya dia mendengar bahwa beberapa ribu tahun lalu ada empat orang yang memasuki Benua Sembilan Benua ini melalui dimensi dari Dunia Putih untuk meningkatkan kultivasinya, dan yang memimpin rombongan tersebut adalah kakak seperguruannya yang bernama Souw Kang.
Rasa penasaran Souw In sangat besar untuk menemukan kakak seperguruannya, yang dirumorkan bahwa kakak seperguruannya itu terpaksa melarikan diri ke dimensi dunia lain dari Dunia Putih dalam keadaan terluka karena pertempuran yang dilakukan melawan musuh dari klan keluarga lain yakni klan Chow di Dimensi Dunia Putih.
Han Wi Liong yang dibawa oleh Souw In hanya diam saja tatkala Souw In dengan tenang menjinjing tubuhnya seperti membawa keranjang barang biasa.
“Sebelum kita pergi dari dunia yang tipis energi ini, aku ingin kau membuat makanan untukku, aku sudah menyediakan bahan-bahannya”, kata Souw In memerintah Han Wi Liong sambil melemparkan tubuh anak remaja itu ke tanah dan mengeluarkan bahan makanan berupa daging segar lengkap dengan rempah-rempahnya dari kantong langit di pinggangnya yang ramping
Han Wi Liong berguling-guling ketika tubuhnya dilemparkan sedemikian rupa, tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Masih untung bagimu, aku tidak membunuh dirimu, cepat kau berdiri!” perintah Souw In dengan mata menatap tajam pada Han Wi Liong.
Han Wi Liong tidak bergerak sedikitpun, dia tahu bahwa tubuhnya terkunci dan dia tidak dapat mengerahkan kekuatan kultivasinya, namun ini adalah satu hal yang paling diinginkannya, sebenarnya peningkatan kekuatan kultivasinya bergerak secara otomatis makanya dia sendiri tidak tahu apa tingkat kultivasi miliknya, yang dirasakan oleh Han Wi Liong bahwa setiap pekan ada letupan dalam tubuhnya yang menandakan bahwa dirinya memiliki peningkatan kekuatan kultivasi secara otomatis, diapun sebenarnya ragu kalau dirinya masih pada tingkat Manusia Dewa, dan ini adalah masalah terbesar yang menjadi kekhawatirannya, kekuatan jiwanya semakin terganggu dan melemah karena beban kekuatan energi kultivasinya selalu bertambah dengan sendirinya, makanya dengan tindakan Souw In yang mengunci kekuatan kultivasi nya, justru membuat Han Wi Liong menarik nafas lega, namun tidak ditunjukkan di hadapan wanita yang berpenampilan muda dan cantik ini.
“Apakah kau mau melawanku, aku akan menambah penderitaanmu dengan menambah beberapa kuncian di setiap titik akupuntur mu sehingga kekuatan energi kultivasi mu semakin melemah dan kau hanya bisa bergerak dengan tenaga manusia biasa”, ancam Souw In.
Han Wi Liong membesarkan dua bola matanya tanda marah, semua ini sengaja dilakukan agar wanita di depannya benar-benar mengunci seluruh aliran energi kultivasinya agar kekuatan jiwanya tidak terlalu menahan beban berlebih dari kekuatan energi kultivasi tubuhnya, sehingga dia tidak merasakan sakit dikepalanya.
Souw In menghampiri Han Wi Liong, dia mengarahkan ujung jari telunjuknya ke tubuh bocah remaja itu, jari itu bergerak dengan cepat dan beberapa titik akupuntur di tubuh Han Wi Liong berbunyi, Souw In ingin melihat dan mendengar keluhan dari anak ini, serta memohon agar kuncian di titik akupuntur tubuhnya dibebaskan, namun yang diharapkan oleh Souw In hanya senyum mengejek dari Han Wi Liong.
Han Wi Liong berpura-pura marah dengan menggertakan kedua giginya,
“Apakah kau puas? dasar wanita tidak tahu diri, percuma saja dengan tingkat kekuatanmu, kau hanya dapat menindas yang lemah dari dirimu”, kata Han Wi Liong, walaupun ada sedikit rasa sakit pada tubuhnya, namun dia bersyukur bahwa beban di kepalanya menjadi ringan dan tatapan matanya menjadi lebih terang dari sebelumnya, karena limpahan energi dari tubuhnya yang bermuara ke kepalanya jauh berkurang.
Ada keheranan pada wajah Souw In, biasanya setiap orang yang terkunci titik akupuntur kultivasinya akan sangat menderita, dan wajahnya akan memerah seperti kepiting rebus, namun anak remaja lelaki di depannya hanya menyeringai kesakitan sebentar dan selanjutnya wajah putih bersih itu menatap dia dengan tenang tanpa merasakan penderitaan lebih lanjut.
Souw In membuat gerakan jemarinya seperti cakar elang,
“Kalau kau tidak menuruti perintahku, percuma saja kau kubawa, sebaiknya kau kubunuh”, ancam Souw In kembali.
Melihat gerakan ini, Han Wi Liong bergerak berdiri dan berjalan pada tumpukan bahan-bahan makanan yang diperintahkan oleh Souw In untuk diolah menjadi masakan.
“Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu, tapi ingat aku tidak mau diperlakukan secara kasar, kau hanya perlu meminta dengan lembut tanpa ancaman, kalau tidak aku akan memilih mati saja”, kata Han Wi Liong.
Dengan tersenyum, Souw In mengangguk setuju, dalam hatinya dia memuji akan mental remaja ini, anak ini memiliki kekuatan dalam dirinya yaitu keberanian yang jarang ditemukan pada anak remaja lainnya.
Butuh beberapa jam bagi Han Wi Liong untuk memenuhi permintaan Souw In, terkadang Han Wi Liong meminta agar Souw In membuatkan api dari kekuatannya, dan itu adalah pekerjaan yang mudah saja bagi Souw In.
Sebenarnya untuk para kultivator yang sudah mencapai ranah Manusia Dewa tidak membutuhkan makanan jasmani seperti cita rasa masakan yang disajikan oleh Han Wi Liong apalagi bagi Souw In yang tingkatnya lebih jauh dan lebih tinggi, namun terkadang para kultivator itu akan selalu kembali pada ingatan masa lalu ketika mereka belum sekuat sekarang ini, demikian juga yang terjadi pada Souw In yang sudah mencapai tingkat Mahadewa sekalipun, cita rasa yang disajikan oleh Han Wi Liong mengingatkan dirinya akan masa dimana dia masih seorang kultivator tingkat biasa saja.
Dimasa perjuangan untuk berusaha menjadi kuat, dimana dia masih diejek oleh orang-orang yang lebih kuat baik fisik maupun mereka yang memiliki kekuatan materi, dan Souw In teringat untuk melawan semua itu.
Ketika lidahnya menikmati setiap gigitan dari makanan yang dikunyahnya dengan lezat, dan apa yang disajikan oleh racikan dari tangan Han Wi Liong, sangat pas untuk menggambarkan kesulitan dan perjuangannya di masa lalu, inilah yang membuatnya untuk membawa Han Wi Liong ke Dunia Putih, bagi Souw In keahlian anak remaja ini sangat berguna dalam hidupnya untuk senantiasa mengingatkan bahwa kekuatan dalam dirinya masih perlu ditingkatkan, karena di Dunia Putih kekuatan dirinya tidak berarti banyak.
Setelah menikmati hidangan yang disediakan oleh Han Wi Liong, Souw In berkata,
“Bocah, siapa namamu? Apakah kau hanya seorang diri saja didunia ini?” Tanyanya.
Han Wi Liong menatap wajah cantik wanita itu,
“Aku Aliong, aku tidak tahu nama keluargaku karena jika kau tahu sekalipun, aku khawatir kau akan membunuh mereka, kalau kau ingin membawaku, bawa saja diriku ini, kalau kau ingin aku jadi pelayanmu mintalah dengan sopan tapi jika kau bertindak kasar padaku, lebih baik kau bunuh saja diriku”, kata Han Wi Liong dengan berani.
Souw In menganggukan kepalanya, dalam hatinya dia takjub akan perkataan anak ini, dia menyadari bahwa latar belakang anak bernama Aliong ini tidak sesederhana penampilannya, usia bocah ini ditaksir belum mencapai lima belas tahun dan kekuatan energi kultivasinya biasa saja tapi sudah memiliki keahlian memasak super, ini adalah keistimewaan lain yang sangat jarang dia temui sepanjang hidup ribuan tahun yang dia jalani.
“Baiklah Aliong, mulai sekarang kau jadi pelayanku, tugas utamamu adalah menyiapkan hidangan lezat bagiku, namaku Souw In dari Dunia Putih, ingat hanya Souw In jangan ditambahkan dengan dengan gelar apapun di depan namaku, tapi bagimu kau dapat memanggilku kakak In”, kata Souw In.
Han Wi Liong dalam hatinya sedikit terkejut dan heran karena Dunia Putih adalah tempat asal ibunya Bu Ling Moy, bahkan ibunya pernah berkata akan membawanya kembali ke dunia itu, namun portal menuju ke Dunia tersebut sudah hancur ketika ibunya datang ke dunia yang sekarang melalui Lembah Tengkorak di Benua Thian Agung, Han Wi Liong pun menyadari usia sebenarnya dari wanita di depannya, dalam hatinya dia tersenyum kalau wanita itu ingin tetap dianggap muda dengan menyebut ‘kakak’.
Kini melalui ucapan Souw In, Han Wi Liong tahu ada portal lain yang menuju ke dunia tempat asal ibunya tersebut, dan diperkirakan portal itu berada di benua dimana dia berada sekarang ini.
“Kakak In, aku hanya pelayanmu sekarang, ada satu permintaanku dalam mengikutimu, beri aku sedikit kebebasan, aku memiliki kegemaran lain, yakni membaca tentang apapun kecuali tentang teknik kultivasi apalagi teknik beladiri di tempatmu, dan kurasa hal itu tidak akan merepotkanmu dengan kekuatan yang kau miliki dalam mengawasiku, karena aku hanya manusia biasa tanpa kekuatan kultivasi” kata Han Wi Liong.
Souw In mengerutkan keningnya, memang bagi dirinya untuk mengatasi anak remaja biasa seperti Aliong mudah dilakukan, dengan pikirannya saja dapat membunuh anak ini, namun jika kebebasan yang diminta oleh anak ini mengakibatkan para kultivator lain merebutnya maka akan ada masalah rumit apalagi di tempatnya masih banyak kultivator tingkat Mahadewa diatasnya.
“Kau harus berjanji setia padaku jika itu permintaanmu, buatlah sumpah demi hidupmu, bahkan aku akan memberikan semua bacaan untukmu, di tempatku ada perpustakaan yang cukup besar dan lengkap bahkan segala teknik kultivasi tidak terhitung banyaknya demikian juga teknik beladiri, juga kalau kau beruntung kau akan menemukan sesuatu yang cukup meningkatkan kekuatanmu berkali-kali”, kata Souw In.
“Aku tidak membutuhkan teknik kultivasi dan teknik beladiri, bahkan jika kau memberikannya secara gratis padaku, aku tidak akan mempelajarinya, selama hidupku, aku bosan melihat para kultivator yang dengan kekuatannya menindas yang lemah, aku lebih suka dengan bacaan yang menenangkan jiwa dan memelihara kekuatan jiwa, buat apa menjadi kuat kalau jiwanya lemah dan rapuh? Seperti halnya dirimu yang menculik diriku, ya kan?” Kata Han Wi Liong menyindir Souw In.
Souw In melotot dan menatap tajam pada Aliong,
“Jangan kau kurang ajar! Cepat kau bersumpah setia padaku”, kata Souw In.
Han Wi Liong memahami maksud Souw In, diapun melakukan ritual janji setia dihadapan wanita itu, dengan catatan bahwa kesetiaan dirinya dan kebebasan yang diberikan wanita itu, tidak ada upaya Souw In membahayakan nyawa Aliong dan Aliong hanya akan mengikuti wanita tersebut sampai Souw In memberikan kebebasan mutlak untuk melepaskannya.
Setelah ritual itu, Souw In membawa Han Wi Liong menuju sebuah gurun yang gersang dan panas, ada sebuah bukit padang pasir yang tinggi, dengan menggerakkan tangannya,
Splaaassss…
Souw In menyibakkan gundukan pasir tersebut, maka muncullah sebuah lubang goa yang dapat dimasuki lima orang sekaligus, dengan tenang keduanya memasuki goa itu.
Di dalam goa, Han Wi Liong mendapatkan sebuah ruangan yang cukup luas dan cukup terang karena beberapa sinar matahari yang masuk melalui pantulan dari berbagai batu kristal, seperti sebuah aula dengan hamparan altar yang berukuran sekitar dua puluh meteran berbentuk lingkaran dengan tebal lempengan altar itu sekitar dua meter.
Souw In menggerakan telunjuknya sebagai perintah pada Han Wi Liong untuk mengikutinya berdiri di pusat altar, dia mengambil beberapa batu kristal dari kantong langitnya, dan meletakan batu-batuan itu pada titik-titik tertentu, setelah dia lihat bahwa letak batu-batu itu sesuai dengan formasi yang diinginkan, Souw In duduk bersila sementara Han Wi Liong disuruh berdiri tidak jauh darinya, tangan Souw In mengangkat ke atas seperti menengadah ke langit, maka terjadilah perubahan udara diiringi dengan berkesiuran angin dari segala arah.
Han Wi Liong merasakan penglihatannya buram lalu di hadapannya menjadi berwarna-warni dan,
Spĺas….!!!
Kedua tubuh manusia di atas altar itu menghilang, dan deru angin yang tadi berseliweran sebelumnya berhenti dan tempat itu kembali sunyi.
Benua Thian Agung termasuk benua yang sangat besar di Dunia Sembilan Benua, benua ini dipimpin oleh sebuah Dewan yang terdiri dari beberapa kultivator setingkat Raja Dewa ke-8 keatas, ada beberapa kultivator yang sudah mencapai tingkat Kaisar Suci.
Saat ini Thian Kong Jie leluhur dari Thian Sian Li ditemani oleh wanita cantik Sie In Hong, sudah beberapa tahun ini mereka hidup bersama, Thian Kong Jie masih dipercaya sebagai pemimpin Dewan Keadilan Tertinggi yang mengawasi dinamika Benua Thian Agung.
Saat ini keduanya sedang berada di dalam istana menara pencakar langit milik Thian Kong Jie, karena menara tempat Sie In Hong ditempati oleh buyutnya, Han Chen Tiong dan istrinya An In Mey, pasangan yang sebenarnya memiliki tingkat kultivasi tertinggi diantara anggota Dewan Keadilan Tertinggi karena An In Mey saja sudah mencapai tingkat Kaisar Suci Awal sedangkan Han Chen Tiong mencapai tingkat Kaisar Dewa Awal.
“Dinda Hong, apakah kau merasakan kegelisahan akhir-akhir ini, aku merasakan sesuatu yang tidak begitu baik, mudah-mudahan ini hanya perasaanku saja”, kata Thian Kong Jie.
Sie In Hong menatap wajah suaminya, sekalipun mereka berdua sudah berusia ratusan tahun namun karena tingkat kultivasi milik mereka sudah menginjak ranah Raja Dewa ke-8 tingkat transenden dimana usia tidak mempengaruhi penampilan mereka berdua, maka penampilan mereka seperti pasangan suami istri 30 tahunan.
“Kanda Jie, akupun merasakan hal yang sama, hatiku gelisah dalam beberapa hari terakhir ini, kita harus mempersiapkan yang terbaik”, nawab Sie In Hong dan,
Braaaakkk…!!!
Jendela raksasa di menara itu hancur berkeping-keping.
“Ha ha ha…, kami salut akan kepekaan kalian, pasangan suami istri penguasa benua Thian Agung”, sebuah suara yang muncul dari sebuah jendela di menara, disertai dengan kemunculan sebanyak lima orang pria yang menerobos masuk dan menghancurkan bilah jendela itu seperti sehelai kertas tipis.
“Siapa kalian? Dan apa mau kalian?” Tanya Sie In Hong.
“Tidak perlu kalian mengetahui siapa kami, yang jelas hari ini adalah mimpi terburuk kalian, karena kalian memiliki hubungan dan berdekatan dengan musuh kami”, jawab Zhao Kwan yang diikuti oleh tawa anggota kelompoknya.
Serang!!!
Doum…!
Doum…!
Blaarrr….!!!
Blaarrr….!!!
Berbagai letusan energi kultivasi dari kelompok kultivator Benua Barbar Kuno segera meletus, mereka mengelilingi pasangan suami istri itu, terutama sasaran mereka adalah Sie In Hong yang memang terlemah dari keduanya, Sie In Hong adalah kultivator Raja Dewa ke-8 Awal, sedangkan Thian Kong Jie Raja Dewa ke-8 Puncak.
Melihat situasi itu maka keduanya dengan cepat mengerahkan kekuatan kultivasi, maka meletuslah energi kultivasi dari tubuh Sie In Hong dan Thian Kong Jie.
Sebenarnya, para pengeroyok itu hanyalah para kultivator ke-6 dan ke-7, namun Zhao Kwan pemimpin kelompok ini tingkat kekuatannya sama dan sebanding dengan kekuatan Thian Kong Jie, maka Zhao Kwan dengan percaya diri dengan dibantu salah satu Jendral Besar dengan tingkat kultivasi Raja Dewa ke-6, mengeroyok Thian Kong Jie, sedangkan Sie In Hong dikeroyok oleh dua Orang Raja Dewa ke-7 dan satu orang Raja Dewa ke-6.
Baik Thian Kong Jie maupun Sie In Hong merasakan tekanan energi di sekitar ruang pertempuran ini, disini terlihat bahwa teknik beladiri yang dikeluarkan para pengeroyoknya sedikit unggul dan jumlah mereka cukup merepotkan.
Buk…
Deeeessshhh….
Plaaaakkkk….
Pukulan dan tangkisan saling beradu, Thian Kong Jie sangat mencemaskan kondisi istrinya, inilah yang diharapkan Zhao Kwan dan kawan-kawannya, bahwa Thian Kong Jie akan terpecah konsentrasinya dan membuat dia tidak dapat mengeluarkan kekuatan sejatinya.
Aarrrrgggghhh…..!!!
Konsentrasi Thian Kong Jie dibuyarkan oleh erangan yang dikeluarkan mulut istrinya, dua buah pukulan mengenai punggung dan rusuk kanan Sie In Hong yang dilepaskan oleh para pengeroyoknya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Zhao Kwan, dengan kekuatan energi penuh di tangan kanannya, Zhao Kwan mendaratkan pukulan ke arah dada Thian Kong Jie,
Buk… Dessss…..!!!
Thian Kong Jie terhuyung, ada cairan manis yang keluar dari mulutnya,
Blesh!
Sebuah ujung tombak menembus dada hingga muncul di punggung Thian Kong Jie yang dihujamkan oleh pembantu Zhao Kwan yang memanfaatkan gerakan terhuyung Thian Kong Jie saat pukulan Zhao Kwan mendarat di tubuhnya.
Tiiiiddddaaaaaakkkk…..!!!!
“Kanda Jie…..”
Jerit Sie In Hong, sambil tubuhnya meloncat untuk menangkap tubuh suaminya, namun gerakan itu dihadang oleh tiga orang lawannya bahkan salah satu lawannya menggerakan sebuah golok panjang di tangannya dan,
Kraaaakkkk…..!
Sabetan golok itu menebas kaki kiri Sie In Hong sebatas lutut, maka dalam ruangan itu berceceran darah di lantai, dan Sie In Hong pun ambruk tanpa keseimbangan.
“Ha ha ha…, nyawa kalian berada ditangan kami”, kata Zhao Kwan dengan menyeringai bengis dan mendatangi tubuh Thian Kong Jie.
“Mau bunuh, maka bunuhlah, kami tidak takut akan kematian”, jawab Sie In Hong dengan mata menatap tajam pada pengeroyoknya.
Ucapan Sie In Hong direspon oleh pembantu Zhao Kwan yang turut mengeroyok Thian Kong Jie,
“He he he…, soal bunuh adalah mudah, Tetua Kwan bagaimana kalau aku menikmati tubuh wanita itu dulu sebelum membunuhnya”, kata seorang Jendral Besar yang memiliki tingkat kultivasi Raja Dewa ke-6 Puncak itu.
Plakkk…!!!
Bukan jawaban yang ditunggu oleh kultivator Raja Dewa itu, tapi sebuah tamparan keras ke arah kepalanya, dan dia pun terhuyung dan memuntahkan darah dari mulutnya.
“Goblok…., tolol…, kau bilang apa?, sekali lagi kau sebut namaku kubunuh kau!” Kata Zhao Kwan pada Jendral tersebut.
“Maaf…, maafkan kecerobohanku”, ucap Jendral Besar itu.
Braaaakkkk….!!!!
“Matilah…!!!” Teriak Thian Kong Jie secara tiba-tiba menyerang Zhao Kwan dengan sisa kekuatan terakhirnya.
Zhao Kwan terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari lawannya, untuk menghindar saat itu tidak mungkin, maka dia menarik tubuh bawahannya yang saat itu sedang menunduk untuk mohon ampun atas tindakannya, dijadikan tameng pelindung dari serangan Thian Kong Jie maka,
Blaaarrrrr…..!
Tubuh Jendral besar itu berubah menjadi serbuk kehitaman yang hangus, sedangkan Thian Kong Jie terhempas ke belakang karena kejutan dari energinya sendiri ditambah dengan energi yang dikeluarkan secara reflek dari Zhao Kwan yang berlindung dibalik tubuh bawahannya sendiri.
“Kurang ajar! Kalian semua bunuh kedua orang ini, cepat sebelum anggota dewan lainnya menyadari keributan ini”, kata Zhao Kwan memerintah kelompoknya yang tinggal 3 orang itu.
Sie In Hong sudah pasrah, dia tidak peduli lagi bahaya pukulan dan serangan musuh-musuhnya, dengan menyeret tubuhnya dia berusaha menghampiri tubuh suaminya yang sudah tidak bergerak.
“Kakek Kong Jie, aku dan ayah datang berkunjung”, sebuah suara anak kecil bergema dari bawah menara.
“Celaka, lariiiii…..!!!” Perintah Zhao Kwan.
“Tinggalkan tempat ini, cepat…!!!” Perintahnya lagi dan,
Passssshhhhh
Passssshhh
Passssshh
Secara berurutan para pengeroyok Thian Kong Jie dan Sie In Hong berteleportasi dan menghilang dari ruangan itu.