Menara kediaman pemimpin Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung dipenuhi oleh kerabat dan para petinggi anggota dewan, dan Sie In Hong berada di ruangan nya dengan ditemani oleh putrinya Sie In Lei, serta cucu menantunya An In Mey dan Bu Mey Ling.
Para wanita perkasa ini hanya menemani Sie In Hong tanpa bertanya, karena Sie In Hong sendiri sedang terguncang hatinya dengan bencana yang dialami oleh diri dan suaminya.
Kakinya masih dalam kondisi terputus di sebelah kiri, rupanya senjata yang digunakan oleh pengeroyoknya bukan senjata biasa, karena luka yang ditimbulkan bekas senjata itu tidak mudah disembuhkan.
Bagi para kultivator tingkat Manusia Dewa ke atas adalah lumrah dan biasa jika terjadi pemenggalan anggota tubuh asal jangan bagian leher atau kepala dan mereka dapat menumbuhkannya, namun jika senjata yang digunakan oleh lawan termasuk senjata pusaka dengan tingkat yang tinggi, maka resiko kehilangan anggota tubuh itu juga cukup tinggi bahkan bisa untuk selamanya.
Thian Kong Jie terluka sangat parah, sampai saat ini dia masih belum sadarkan diri, dan Sie In Hong menemani tubuh suaminya itu.
“Leluhur Kong Jie, kami datang terlambat”, suara yang mantap dan penuh tekanan muncul di angkasa menara Thian Kong Jie, diikuti oleh empat bayangan tubuh manusia yang dengan cepat meluncur ke arah jendela besar menara yang hancur akibat perkelahian dan tidak lama kemudian Thian Sian Li dan Han Long beserta dua istrinya Coa Leng In dan Bu Ling Moy muncul dalam ruangan tersebut.
“Long er, kau datang juga”, seru Han Chen Yang.
“Kakak Long apa kabar?” Seru Han Chen Tiong dengan istrinya An In Mey.
Segala ucapan bersahutan dari setiap orang yang hadir dan mengenali sosok-sosok ini.
“Ayah, adik Tiong aku baik-baik saja, bagaimana dengan kalian semua?” Jawab Han Long.
Wajah Han Long dan Bu Ling Moy bersinar lebih cerah dibandingkan dengan lainnya, terutama wajah Han Long, terlihat pemuda itu seperti wajah dewa suci yang cerah tanpa cacat, bukti kekuatan kultivasinya sangat tinggi, dan tebakan para tamu serta kerabat yang hadir di ruangan itu bahwa tingkat kultivasi Han Long sudah di atas tingkat Kaisar Dewa yang sebenarnya tingkatan yang hanya dimiliki oleh beberapa orang saja, dan mereka belum tahu apa tingkatan di atas Kaisar Dewa seperti yang dimiliki oleh Han Long.
“Paman Long, menurut ayah dan ibu kau adalah penguasa Dunia ini, benarkah?” Sebuah suara anak kecil berusia sekitar enam tahunan menghampiri Han Long dengan ragu-ragu.
“Oh, siapa namamu nak?” Kata Han Long berjongkok melihat bocah lelaki tersebut.
“Dia putraku, Han Bu”, jawab Han Chen Tiong yang didampingi istrinya An In Mey.
“Han Bu, berarti kau keponakanku, dan ini nenekmu, nenek Sian Li, serta ini bibi Moy dan bibi Leng In, menjadi penguasa dunia adalah tanggung jawab yang besar, julukan itu pun sebenarnya omong kosong belaka, buktinya aku tidak dapat melindungi keluargaku, nenek In Hong dan Leluhur Kong Jie malah menderita”, jawab Han Long seperti mengeluh.
”Paman Long jika diizinkan olehmu, bolehkah aku belajar darimu? Aku ingin mengenal benua lain, aku jenuh berada di Lembah Tengkorak” tanya Han Bu.
”Mungkin tidak sekarang ini, karena kami jarang berada di tempat kami, juga ada masalah mendesak yang mungkin akan melibatkan semua orang, bagaimana jika engkau telah mencapai usia sepuluh tahun maka kau akan bergabung ke Benua Merah sekaligus kau akan mengenal sepupumu yang lain”, kata Coa Leng In tersenyum melihat keponakannya ini.
”Han Bu, jangan lancang! Kau harus mendapat izin ibumu dan aku, nanti setelah kau berusia sepuluh tahun kami akan berkunjung ke Benua Merah”, kata Han Chen Tiong sambil mendekati putranya.
Percakapan itu menarik perhatian semua orang, mereka yang memiliki hubungan dengan Han Long yang di bilang seorang kultivator tertinggi di Dunia Sembilan Benua ini, namun kedekatan hubungan ini tidak dapat menghindari musuh dari pihak lain, masih juga ada pihak yang ingin mencelakai terbukti dengan bencana yang dialami oleh Sie In Hong dan Thian Kong Jie yang merupakan kakek buyut Han Long.
“Long er, dimana cucu-cucuku, mengapa tidak kau bawa sekalian? Dan cucu tertuaku Wi Liong, tentu sekarang dia sudah remaja”, tanya Han Chen Tiong mengerutkan keningnya.
Secara serempak baik Bu Ling Moy, Coa Leng In dan Thian Sian Li menghela nafas panjang, ada guratan penasaran di wajah ketiga wanita yang datang bersamaan dengan Han Long itu dan reaksi ini menarik perhatian para kerabat lainnya.
“Apakah ada sesuatu yang sudah terjadi?” Gumam An In Mey yang selalu peka terhadap situasi.
“Adik In Mey, kepekaan mu dalam menilai situasi sangat akurat, kedatanganku juga sebetulnya selain berkunjung kepada leluhur dan kerabat semuanya, juga memberikan sebuah informasi bahwa kita harus waspada, di masa depan, musuh kita tidak hanya dari benua ini saja, tapi bisa muncul dari dimensi dunia lain, namun aku masih belum tahu pihak mana yang membuat gerakan gangguan terhadap ketenangan dunia kita”, jawab Han Long.
“Kemungkinan juga, apa yang dialami oleh Leluhur di Benua Thian Agung adalah gerakan kecil mereka yang berusaha mengikis kekuatan kita”, tambah Bu Ling Moy sebagai Penguasa Benua Ketiga menguatkan dugaan ucapan suaminya.
“Jika itu yang harus kita hadapi di masa depan, maka kita wajib meningkatkan kekuatan semua orang, apakah ada solusi dari penguasa Dunia Sembilan Benua?” Tanya Wang Kok Han salah satu anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung pada Han Long.
Han Long menatap Wang Kok Han lalu menggelengkan kepala,
“Terlalu sulit untuk meningkatkan kekuatan semua orang dalam waktu singkat, apalagi kekuatan dari dimensi dunia asing di luar dunia kita memiliki kekuatan yang rata-rata di atasku, jadi kekuatan di atas Kaisar Dewa adalah tingkatan Mahadewa, dan kelas Kultivasi Mahadewa terbagi dalam beberapa tingkatan lagi, puncak kultivasi dari Mahadewa pun masih belum ku ketahui puncaknya”, kata Han Long dimana Bu Ling Moy menguatkan kata-kata suaminya dengan menganggukan kepala.
Baik Han Chen Yang dan para tamu yang hadir terdiam, hal baru yang didengar sangat menghentak isi pikiran mereka semua.
“Kupikir tingkatan Kaisar Dewa adalah puncak gunung es yang tidak dapat ku jangkau, bahkan kini ada lagi tingkatan dengan sebutan tingkat Mahadewa, itu artinya kita semua seperti katak di dasar sumur, Han Long apakah tingkat kultivasimu sekarang ini?” Tanya Han Chen Yang pada putranya.
Bu Ling Moy menatap seluruh wajah para tamu dan kerabat yang hadir, dia menjawab pertanyaan ayah mertuanya mewakili Han Long,
“Suamiku kemungkinan adalah kultivator Mahadewa tingkat ke-2, sedangkan aku adalah kultivator Mahadewa tingkat ke-1, tapi kekuatan kami tidak ada artinya dibandingkan dengan kekuatan yang ada di dimensi dunia lain.
Perlu kuberitahu pada kalian, aku berasal dari dimensi Dunia Putih bersama dengan mendiang kakak Thian Han Ong dan Kui Lok Mo, dan guruku yang membawa kami ke dimensi ini sebenarnya dalam kondisi terluka parah oleh musuh sewaktu kami masih di Dunia Putih, pada saat itu guruku adalah kultivator Mahadewa tingkat ke-4.
Dapatkah kalian bayangkan jika musuh guruku memasuki dimensi dunia kita?” Kata Bu Ling Moy.
Keterangan ini membuat semua orang terperangah, ternyata ada kekuatan lain yang tingkatnya jauh melebihi para kultivator dari Dunia Sembilan Benua ini.
“Tapi apa perlunya mereka mendatangi dimensi dunia kita?” Tanya Bu Tek Ong yang juga salah satu anggota Dewan Keadilan Tertinggi Benua Thian Agung, yang juga murid dari Bu Ling Moy.
“Dunia kita tidak sesederhana yang kalian pikirkan, apakah kalian pernah menjelajahi benua lain di dunia kita?, cucuku diculik oleh seorang yang memiliki tingkat Mahadewa dibawah pengawasanku, itu artinya ada portal dimensi dunia lain, dimana mereka dapat keluar dan masuk dengan bebas dan selama ini mungkin juga mereka mengawasi kita semua”, kata Thian Sian Li.
Bu Ling Moy mengangkat wajahnya, ada raut kesedihan,
“Dimensi tempat aku masuk ke dunia ini sudah hancur di Lembah Tengkorak.
Dunia Sembilan Benua memiliki tiga energi kultivasi yang jarang dimiliki dimensi dunia lainnya, dan dunia yang kita tempati memiliki nama lain di dimensi duniaku dahulu yaitu Dunia Merah Biru, itulah daya tarik dunia kita sehingga dunia kita ini sering dijadikan ajang latihan untuk meningkatkan kekuatan generasi muda dari dimensi lain, aku dan suamiku sudah berkeliling ke setiap benua untuk menemukan portal lain yang menembus dimensi dunia lain namun sampai sekarang hasilnya nihil, ada kemungkinan beberapa benua di dunia kita telah dijadikan pos-pos pendaratan dari dimensi dunia lain, seperti Benua Huang San dan Benua Zheng Wang”, kata Bu Ling Moy.
Han Long maju selangkah dan berkata,
“Benua Zheng Wang pernah ku periksa, benua yang tandus dan gersang, sebenarnya aku hanya mencurigai bahwa portal itu ada disana.
Sedangkan benua Huang San adalah benua yang tidak dapat kumasuki, benua inilah sumber kecurigaanku, kupikir hanya kultivator Mahadewa yang dapat mencegah dan menahanku untuk memasuki benua tersebut”, kata Han Long.
Mendengar perkataan Han Long, semua kerabat dan para tamu lainnya bergidik, setingkat Han Long masih bisa terhalang memasuki salah satu benua di Dunia Sembilan Benua, mereka hanya bisa terdiam.
Pertemuan itu pun dilanjutkan dengan saling menyapa sambil menunggu kekuatan jiwa Sie In Hong pulih untuk mendapatkan keterangan, baru mereka akan mengatur rencana pembalasan.
Sementara itu, pada dimensi yang berbeda dari Dunia Sembilan Benua, Han Wi Liong tersadar dari pingsannya, dia mendapati dirinya pada sebuah ruangan yang dindingnya berwarna putih semuanya, ada warna lain yaitu kain alas tempat dimana Han Wi Liong terbaring tadi berwarna merah dan biru.
”Dimana ini?” gumam Han Wi Liong dalam hati.
Sesosok wanita setengah baya muncul dalam penglihatan Han Wi Liong,
”Kau Aliong sudah sadar kembali, cepat bersihkan dirimu, dan segera melapor pada kepala jaga, kalau tidak kamu akan mendapatkan hukuman dari Tuan Putri Souw”, kata wanita itu dengan nada dan mimik wajah datar.
Han Wi Liong mengucek matanya, dia menatap wanita setengah baya itu,
”Dimanakah aku berada? Tempat apakah ini?” tanyanya dengan wajah kebingungan.
Wanita itu menatap anak remaja tersebut, ada raut kelembutan pada wajah wanita itu,
”Kau berada di istana Kabut Putih, disini adalah pusat kekuatan Benua Putih, kau beruntung dibawa oleh Nyonya Besar ke tempat ini, ingat jaga kelakuanmu karena disini nyawamu tidak ada artinya apalagi jika Tuan Putri Souw dan Pangeran Muda Kang tidak menyukaimu”, kata wanita tersebut.
Han Wi Liong mendengarkan ucapan itu,
”Sebenarnya aku juga tidak suka disini, karena aku diculik dari tempatku”.
”Ssssttt…., jangan kau ucapkan dari mana asalmu, jika para bangsawan tidak bertanya jangan kau bicara asal tempatmu, kita semua sebenarnya beruntung berada di tempat ini dan mendapat perlindungan dari mereka”, kata wanita itu.
Wanita itu menerangkan pada Han Wi Liong bahwa dia bernama Ngo Cin atau biasa dipanggil bibi Cin, dia adalah pelayan yang dipercaya oleh Souw In yang dipanggil Nyonya Besar Ketiga, dan yang dimaksud dengan Tuan Putri Souw adalah keponakan Souw In, yang merupakan putri Tunggal dari Kepala Istana Klan Souw yang bernama Souw Thian sedangkan yang disebut dengan Pangeran Kang adalah putra pejabat salah satu anggota Dewan Penguasa Dunia Putih yang diterima di Istana itu untuk mememani Putri Souw yang masih remaja.
Nama Pangeran Kang adalah Kang Houw seorang kultivator Raja Dewa ke-3 Lanjutan, dan berusia sekitar 16 tahunan, dan Putri Souw bernama Souw Meng Wi berusia sekitar 13 tahunan dengan tingkat kultivasi Raja Dewa ke-2 Akhir.
Kedua anak remaja ini sangat terkenal karena bakat dan kecerdasannya dalam berkultivasi bukan hanya sebatas Benua Bintang dimana istana ini berdiri bahkan seluruh Dunia Putih mengetahui kejeniusan dua anak remaja ini, karena rata-rata tingkat kultivasi seusia mereka di Dunia Putih tingkat pencapaiannya sekitar tingkat Manusia Dewa dan yang tertinggi adalah Raja Dewa ke-1 Awal.
Han Wi Liong hanya menyimak semua ucapan Bibi Cin, sedangkan Bibi Cin memperhatikan wajah tampan Han Wi Liong, dia agak kecewa bahwa raut wajah anak remaja ini datar saja ketika membicarakan tingkat kultivasi Souw Meng Wi, tidak ada rasa takjub atau keheranan pada wajah Han Wi Liong, akhirnya Bibi Cin menganggap bahwa anak yang dikenal bernama Aliong itu hanya bocah biasa tanpa kekuatan kultivasi.
”Aliong, persiapkan dirimu, dari Nyonya Besar Ketiga kau ditempatkan di dapur Klan Souw dan tugasmu mempersiapkan hidangan bagi Nyonya Besar Ketiga”, kata Ngo Cin.
”Bibi, aku tidak memiliki kerabat dan keluarga ditempat ini, apakah baik-baik saja jika aku menganggap dirimu sebagai bibiku sendiri, dan pula aku diberi kebebasan oleh Nyonya Besar Ketiga untuk memasuki perpustakaan di wilayah Istana ini karena aku banyak menghabiskan waktu dengan membaca”, kata Han Wi Liong.
”Oh ya, ini adalah token giok dari Nyonya Besar Ketiga untuk dirimu yang dapat kau tunjukkan ketika memasuki perpustakaan di istana ini, aku juga senang memiliki keponakan setampan dirimu”, kata Bibi Cin.
Han Wi Liong menerima token giok tersebut, token berwarna hijau terang dengan ukiran sebuah kipas dan selendang yang membelit gagang kipas tersebut, ukuran token itu sebesar setengah telapak tangannya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Han Wi Liong beranjak dari tempatnya untuk membersihkan diri, lalu dia mengganti pakaiannya dan menggunakan pakaian yang diberikan oleh Bibi Cin, dimana pakaian itu adalah pakaian seragam bagian dapur.
Setelah perkenalan itu, Han Wi Liong Lebih akrab dengan Ngo Cin, sesekali dia bertemu dengam Souw In di purinya, itupun jika dia dipanggil oleh Nyonya Besar Ketiga ini, ternyata sebutan itu adalah menyangkut status Souw In sebagai Tetua ketiga dalam klan Souw, sedangkan yang menjabat sebagai Kepala klan sekaligus anggota Dewan Pengawas Dunia Putih adalah kakak seperguruannya dengan marga yang sama bernama Souw Ceng.
Dulu di istana itu ada orang yang bernama Souw Kang yang merupakan kakak kandung dari Souw In dan merupakan Kepala Klan di istana tersebut, namun suatu peristiwa terjadi ketika pertempuran antara klan di Dunia Putih, dimana lawan Souw Kang berhasil melukai dirinya, dan Souw Kang sendiri setelah itu tidak pernah kembali ke klannya dan menghilang dengan membawa tiga orang muridnya.
Atas usulan para tetua, jabatan kepala klan harus ada yang menjabat, maka keputusan itu diserahkan pada Souw Ceng yang merupakan adik seperguruan Souw Kang, sedangkan jabatan Tetua Kedua di biarkan kosong yang seharusnya dipegang oleh Souw In, namun Souw In tetap pada keputusannya dia ingin sebagai tetua ketiga dimana bertanggung jawab terhadap urusan rumah tangga dan urusan dalam klan saja, karena Tetua Kedua memiliki wewenang yang berbeda dengan jabatan Tetua Ketiga, dimana bisnis keluarga ada di tangan Tetua Kedua, jadi Souw Ceng merangkap jabatan sebagai Tetua Kedua sekaligus sebagai kepala klan juga.
Hari-hari yang dilalui oleh Han Wi Liong biasa saja bagi orang-orang di sekitar Istana Klan Souw, selain bertugas sebagai juru masak di dapur dia terlihat sering memasuki perpustakaan klan Souw.
Hasil racikan masakan Han Wi Liong mulai dikenal, selain lezat juga membawa aroma yang menyegarkan, keahlian Han Wi Liong mulai dibicarakan di antara para pelayan lain yang jumlahnya mencapai ratusan, dan sesekali mereka meminta Aliong memasak bagi mereka, namun dengan cerdik Aliong meminta imbalan, yaitu sebuah buku atau lempengan batu giok untuk dibaca atau ilmu tentang jiwa, karena dia tahu bahwa para pelayan yang berada di sini diduga dari berbagai latar belakang, dia ingin menemukan sebuah ilmu tentang Teknik Jiwa, tidak perlu sempurna dia ingin merangkum temuannya dan menemukan kesimpulannya sendiri tentang Teknik Jiwa yang merupakan kebutuhannya.
Mempelajari teknik kultivasi atau teknik beladiri bagi Han Wi Liong adalah sia-sia, dia memiliki kejeniusan diluar batas manusia super jenius lainnya, hanya dengan sekilas membaca atau melihat gerakan seseorang, dia sudah dapat menemukan kelemahan teknik dari sebuah ilmu tentang kultivasi dan teknik beladiri tersebut.
Han Wi Liong merasa beruntung dengan keputusan Souw In yang mengunci seluruh titik akupuntur pada tubuhnya, karena di dimensi Dunia Putih, jumlah energi Aura Energi Putih sangat tebal dan berlimpah berkali-kali lipat dibandingkan dengan jumlah energi di Benua Ketiga di Dunia Sembilan Benua dan Aura Energi Putih ini sangat murni dan lebih padat.
Jika tidak ada kuncian dari Souw In, maka Han Wi Liong akan menjadi gila karena serbuan Aura Energi Putih yang segera menerobos setiap pori-pori kulit tubuhnya dan menghantam isi kepalanya, jadi dia harus menemukan cara melatih dan meredam isi kepalanya untuk lebih kuat dengan menenangkan dirinya dan menyibukkan diri dengan kegiatan diluar kultivasi dan bertindak sebagai remaja yang tidak memiliki kekuatan kultivasi, sebagai remaja manusia biasa.