”Adik Meng Wi, bagaimana peningkatan kultivasimu? Apakah ada kemajuan?” tanya Kang Houw di sebuah lapangan latihan tempat murid-murid klan Souw biasa berlatih, dia bertanya pada seorang dara remaja 13 tahunan yang rambutnya diikat ke atas seperti sanggulan para anak bangsawan tinggi sehingga memperlihatkan tengkuknya yang putih mulus.
Dara remaja cantik ini memutar badannya dan melihat ke arah seorang remaja lelaki yang memiliki wajah cukup tampan dengan bentuk rahang persegi, menggambarkan keteguhan dan kekerasan hati dalam perilakunya.
”Kakak Houw, belum ada peningkatan berarti, teknik beladiri yang diberikan oleh ayah ternyata sangat sulit dilatih dan dipraktekan, bagaimana dengan kemajuan kakak Houw sendiri?” tanya Souw Meng Wi.
Percakapan dua anak remaja ini adalah hal biasa dan murid-murid lainnya pun selalu menjauh jika Kang Houw sedang berbicara dengan Souw Meng Wi, karena di antara murid klan Souw, Kang Houw dikenal tidak suka jika dia sedang mendekati Souw Meng Wi ada murid atau orang lain yang hadir dan ikut nimbrung di antara mereka, sekalipun itu adalah para kakak senior klan Souw.
Bagi mereka keberadaan Kang Houw di klan mereka mewakili sebuah klan penguasa Dunia Putih juga, jadi kalau hati Kang Houw tersinggung itu mengakibatkan resiko bagi klan Souw juga.
Dengan tersenyum Kang Houw mengangkat dadanya, dengan ucapan keras dia berkata,
”Beberapa jurus dan gerakan dari Teknik peninggalan leluhurku berhasil kusempurnakan, walaupun tingkat kultivasi milikku belum mencapai tingkat yang seharusnya, namun kini aku merasakan kekuatan dalam diriku meningkat dengan pesat, bahkan aku berani bertanding dengan seorang kultivator tingkat Raja Dewa ke-4 Awal”, katanya dengan bangga.
”Kalau begitu aku ucapkan selamat pada kakak Houw, siapa lagi yang berani menantang kekuatan kakak Houw yang umurnya setingkat dengan kakak? Aku menebak tidak ada seorangpun di Benua Bintang ini yang cukup bodoh menantangmu kakak Houw”, kata Souw Meng Wi memuji dengan tulus, rupanya pujian inilah yang diharapkan oleh Kang Houw.
Sedangkan sebagian murid lainnya terutama para murid yang berusia sekitar 9 sampai 12 tahunan sedang duduk berkumpul dengan santai setelah mereka berlatih fisik yang keras, rata-rata tingkat kultivasi anak-anak ini masih di sekitar Manusia Suci sampai tingkat Manusia Dewa ke-1 Awal.
Mereka terlibat percakapan yang cukup seru, dan topik yang menghangat di kalangan anak-anak ini adalah adanya juru masak muda di dapur utama yang dapat menyajikan hidangan yang sangat lezat dan segar, dimana masakan ini sangat disukai oleh anak-anak yang masih ditingkat Manusia Suci ke bawah.
Topik ini sebenarnya tidak menarik bagi anak remaja yang sudah mencapai ranah Manusia Dewa namun keseruan cerita adik-adik juniornya yang menarik perhatian mereka.
”Tahukah kalian, pelayan Aliong itu ketika meraciknya, ternyata menggunakan bahan rahasia, diantaranya dia menggunakan sari darah naga nirwana, dan minyak mustika buah surga yang sangat langka sehingga masakannya sangat harum dan lezat”, kata seorang bocah.
”Darimana kau tahu informasi ini?” Kata yang lainnya dengan mata penasaran.
”Salah satu paman di dapur adalah adik dari ibuku, dia pernah membawa sisa makan hasil dari racikan pelayan Aliong itu, dan rasanya.... Leeeezzzzaaaat…!!!!” jawab anak itu sambil meleletkan lidahnya.
”Apakah begitu?, salah satu bibi dapur malah bilang kalau pelayan Aliong itu, kalau sudah berkonsentrasi dalam memasak dia suka bersemedi dahulu untuk menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pada kuali masakannya, sehingga sisa makanan yang terdahulu harus benar-benar dibersihkan, sehingga makanan baru benar-benar murni, dan racikan masakannya sangat nikmat dan lezat”, tambah bocah lainnya.
”Kalian semua hanya mendengar rahasia kulit luarnya saja, aku tahu rahasia yang paling dalam”, timpal seorang bocah gemuk yang dikenal gemar makan.
Serentak Semua bocah itu menatap dengan penasaran,
”Rahasia apa!!!?”
”He he he…., hanya aku yang tahu, itupun aku peroleh dengan memberikan barang berharga kepada paman kepala dapur”, jawabnya dengan angkuh.
”Katakan pada kami, maka kami akan mengganti kerugianmu”, kata yang lain.
”Serahkan dulu pil mustika peningkat kultivasi kalian, tidak perlu banyak, masing-masing menyerahkan dua butir saja, dan rahasia ini hanya kuberikan pada mereka yang sudah membayar”, jawab bocah gemuk tersebut.
Pil Mustika Peningkat Kultivasi, adalah pil ramuan yang sering juga dijadikan sebagai alat pembayaran, masing-masing anak di klan Souw akan menerima jatah 8 butir setiap bulan sebagai bahan kultivasi mereka hasil dari pekerjaan yang wajib mereka lakukan atau juga sebagai pembayaran dalam menjalankan misi ringan pada klan.
Maka masing-masing anak yang masih memiliki persediaan pil mustika peningkat kultivasi dan penasaran akan rahasia Aliong rela memberikan pil tersebut pada anak gemuk tadi, dan ternyata hampir semua anak dalam kelompok ini menyerahkan pil tersebut.
”Pelayan Aliong adalah pelayan khusus Bibi Tetua Ketiga, dia hanya bocah biasa tanpa kekuatan kultivasi, jika kalian ingin menikmati hasil masakannya, yang perlu kalian lakukan hanyalah menyediakan sebuah teknik tentang jiwa, atau apapun mengenai topik jiwa seseorang tidak peduli kategori apapun, dia akan menolak tentang teknik kultivasi atau teknik beladiri sekalipun teknik itu adalah kategori dewa kelas sempurna”, kata bocah gemuk itu dengan serius, dan rupanya segala ucapan yang diutarakan oleh bocah tersebut yang disuarakan cukup keras pada kawan-kawannya, menarik perhatian seluruh siswa yang sedang berlatih di arena tersebut, tidak terkecuali bagi Kang Houw dan Souw Meng Wi.
Souw Meng Wi pernah mendengar tentang juru masak muda di dapur klannya dari salah satu pelayan yang melayaninya, namun hal itu tidak dipedulikan, namun berita hasil karya masakannya sudah menyebar di sekitar para pelayan yang rata-rata hanya kultivator Manusia Suci, bahkan salah satu pelayannya mengatakan bahwa makanan yang diracik oleh pelayan bernama Aliong itu, layak sebagai hidangan kaum para dewa saking lezat dan nikmatnya.
Bagi Souw Meng Wi, segala makanan jasmani tidak menarik hatinya, dari lahir dia sudah mencapai Manusia Suci, dengan bakat serta kejeniusannya dia melewati fase itu hanya dalam waktu lima tahun saja, dengan kultivasi tingkat Manusia Dewa, orang tuanya hanya memfokuskan dirinya untuk berkultivasi secara keras dan sangat pahit, hingga akhirnya dalam usia belasan tahun saja dia sudah mencapai ranah Raja Dewa.
Topik pembicaraan yang di percakapkan dari anak-anak juniornya menarik perhatian dirinya, Souw Meng Wi juga heran bahwa bibinya yang merupakan salah satu kultivator tinggi, mau membawa seorang bocah remaja seusia dirinya ke dalam klan keluarga hanya untuk menyediakan hidangan bagi sang bibi tersebut, yang menurutnya adalah sia-sia.
Tadinya Souw Meng Wi berpikir bahwa tindakan bibinya hanya perbuatan iseng belaka, namun ternyata keahlian memasak dari pelayan bernama Aliong Itu menghebohkan para pelayan yang lain.
Kang Houw mengerutkan kening ketika perhatian gadis remaja cantik itu teralihkan oleh pergunjingan yang didengar di sekitar arena latihan, dia merasa tidak suka dan jengkel dengan apa yang didengarnya, dia selalu merasa bahwa kehadirannya harus menjadi pusat perhatian dari semua anak-anak yang berkumpul, tapi rupanya percakapan dari sebagian anak-anak junior ini mengganggu fokus perhatian anak-anak lain pada dirinya.
”Apa yang kalian bicarakan!? Seharusnya kalian giat berlatih bukan buang waktu percuma, kalau kalian sudah berlatih cepat kalian keluar dari arena latihan ini, suara kalian mengganggu mereka yang giat berkultivasi dan berlatih sangat keras”, hardik Kang Houw dengan suara keras.
Anak-anak yang tadi memperbincangkan tentang topik keahlian Aliong, seketika menutup mulut mereka, dengan ketakutan mereka satu persatu keluar dari lingkungan latihan itu, tapi mereka semua sepakat menuju dapur utama klan Souw.
”Kakak Houw, tidak perlu kau bersuara keras pada bocah-bocah itu, mereka masih anak-anak”, kata Souw Meng Wi, sambil tubuhnya memutar meninggalkan arena latihan menuju ke tempat tinggalnya yang berdekatan dengan lingkungan puri yang ditempati oleh Souw In, Nyonya Besar Ketiga.
Kang Houw hanya menatap kepergian Souw Meng Wi, hatinya masih panas dan kesal, dia pun pergi keluar arena latihan untuk menuju tempatnya yang merupakan puri bagi para tamu yang terletak dekat aula penerimaan para tamu klan
Han Wi Liong sedang berada di perpustakaan selama sepekan sejak kehebohan yang terjadi di arena latihan klan Souw, dia sedang membaca dengan lahap sebuah lempengan batu giok dengan persepsi jiwanya dimana lempengan batu giok itu berisi tentang informasi Teknik Jiwa tingkat tinggi, sebenarnya lempengan batu giok itu ditempatkan secara khusus di ruang perpustakaan dan hanya seorang petinggi klan yang boleh memasuki ruang khusus tersebut dengan tanda khusus pula, namun karena dia memegang token giok pemberian Souw In, maka dia diperbolehkan memasuki ruang khusus tersebut, dan juga para petugas perpustakaan sudah mengenal Aliong yang merupakan pelayan dapur tanpa kekuatan kultivasi sehingga kecurigaan mereka pada Aliong tidak begitu ketat, apalagi dia adalah pelayan Nyonya Besar Ketiga yang terkenal galak dan tegas dalam menjalankan aturan bagi anggota klan.
Sekalipun titik akupuntur kultivasi pada tubuh Han Wi Liong dikunci oleh Souw In, namun limpahan Aura Energi Putih sangat berlimpah di dunia ini, tetap saja ada letupan dalam tubuhnya yang menandakan kenaikan kultivasinya dan itu terjadi pada setiap bulannya.
Han Wi Liong sudah berada di Istana ini enam bulan lamanya, melalui berbagai macam buku dan lempengan batu giok tentang berbagai macam Teknik Jiwa dari segala kategori dan kelas, dia sedikit demi sedikit mulai menemukan rangkuman inti tentang teknik jiwa kebutuhannya.
Di ruang khusus perpustakaan klan Souw, ada 9 lempengan batu giok tentang Teknik Jiwa kategori Dewa kelas Sempurna, sedangkan yang sekarang berada ditangan Han Wi Liong adalah lempengan batu giok keenam yang sedang dibacanya.
”Aliong! Kau diperlukan oleh Nyonya Besar Ketiga sekarang”, teriak seorang wanita dari luar ruang perpustakaan.
Aliong mendengar suara Bibi Cin yang sudah dianggapnya sebagai kerabatnya, dia pun meletakkan kembali lempengan batu giok itu ke ruang khusus perpustakaan, lalu dia keluar bermaksud menemui Bibi Cin, dari arah luar masuk seorang pemuda remaja yang berwajah tegas memasuki ruang perpustakaan, keningnya berkerut melihat Aliong yang keluar dari ruang khusus perpustakaan tersebut.
”Sembarang pelayan berani memasuki ruang khusus perpustakaan, sungguh perbuatan lancang dan berdosa bagi klan. Siapa kau pelayan kecil?” kata Kang Houw dengan mata melotot pada Aliong.
”Aku Aliong, pelayan Nyonya Besar Ketiga”, jawab Han Wi Liong dengan wajah menatap langsung pada Kang Houw.
”Kurang ajar, seorang pelayan berani mengangkat wajah padaku, apa kau tahu siapa diriku?” kata Kang Houw dengan geram.
”Maaf, aku belum tahu”, jawab Han Wi Liong datar, sambil dirinya melanjutkan berjalan menuju keluar ruangan untuk menemui Bibi Cin.
”Hentikan langkahmu pelayan rendah, aku belum mengizinkan kamu pergi, nyawa kecilmu dapat hilang karena sikap kurang ajar dirimu”, bentak Kang Houw.
Tapi Han Wi Liong tidak memperdulikan kata-kata Kang Houw, dia malah berlari keluar ruangan perpustakaan itu dan menemui Bibi Cin yang sudah menunggunya.
”Bibi Cin, ayo kita segera pergi menemui Nyonya Besar Ketiga”, kata Aliong, sambil dia terus berlari meninggalkan Ngo Cin yang tercengang melihat punggung Aliong yang berlari sangat cepat.
Kang Houw melompat keluar dari perpustakaan mengejar Aliong, namun langkahnya terhenti karena diluar dia menemukan salah satu pelayan kepercayaan Nyonya Besar Ketiga, Ngo Cin yang menatap dirinya dengan alis mata berkerut.
”Apakah Pangeran Kang bermaksud mengejar pelayan yang baru keluar tadi? dia adalah pelayan kesayangan Nyonya yang baru, apa kau ada masalah dengannya?” tanya Ngo Cin sambil menatap tajam pada Kang Houw.
Souw In terkenal tidak suka pada perangai Kang Houw, dan Kang Houw pun tahu bahwa tabiat yang dikenal sebagai Nyonya Besar Ketiga ini sangat keras dan tegas pada para tamu di klan Souw, karena bagi Souw In para tamu yang tinggal di Klan Keluarga Souw dicurigai hanya berniat mencari keuntungan semata dengan mencuri berbagai teknik kultivasi dan teknik beladiri klan Souw semata yang terkenal memiliki kualitas yang lebih unggul dibandingkan klan keluarga lain.
”Apakah dengan menjadi pelayan tetua ketiga, menjadikan dirinya tidak menghormati diriku yang menjadi tamu terhormat dalam klan ini? Aku tadinya hanya berniat memberi pelajaran kecil saja, namun karena Bibi Cin sudah berada disini, sampaikan keberatan kepada Nyonya Besar Ketiga atas tindakan kurang ajar pelayan kecil itu padaku”, kata Kang Houw dengan wajah merah padam.
”Aku bukan pelayanmu dan kau hanya sekedar tamu disini, jika kau keberatan atas tindakan para pelayan disini, sebaiknya kau sampaikan sendiri”, jawab Ngo Cin sambil berlalu meninggalkan Kang Houw yang masih geram namun tidak membuat tindakan apapun.
Han Wi Liong sudah berada di puri tempat Souw In tinggal, dia segera melangkah masuk ke ruang utama dimana ruang kerja Nyonya Besar Ketiga berada.
Souw In melihat Aliong yang memasuki ruangannya, dia tersenyum melihat pelayan muda yang ditaksir berusia 14 tahunan itu, namun senyum itu diganti dengan wajah dingin tanpa emosi.
”Apa yang kau lakukan sehingga Pangeran Kang begitu kesal padamu?”, kata Souw In.
”Aku tidak tahu, dia tiba-tiba marah padaku, dari pada melayaninya dan akhirnya malah merugikan diriku, aku pergi meninggalkan dia”, kata Han Wi Liong dengan polos.
”Apakah kau tahu status dan kekuatan dirinya?” tanya Souw In.
”Yang kutahu dari para pelayan dia adalah kultivator Raja Dewa dan juga sahabat dari putri Souw, dibandingkan dengan dirinya maka aku akan dengan mudah dibunuhnya, demi hal itu maka aku lebih baik berlari meninggalkan masalah”, jawab Han Wi Liong.
Souw In menatap menyelidik wajah Han Wi Liong,
”Bagaimana kalau kau kuangkat sebagai murid klan? agar statusmu berubah, dan kau berhak mempelajari teknik kultivasi dan teknik beladiri klan Souw, juga namamu berubah menjadi Souw Liong sesuai dengan aturan klan.
Han Wi Liong terkejut dengan tawaran tiba-tiba dari Souw In, mulutnya membentuk huruf O, namun kemudian dia menggelengkan kepala dan berucap,
”terima kasih atas tawaran Nyonya Besar”, namun ucapan itu terhenti,
”Apa yang kau ucapkan!? Aku tidak suka segala macam gelar atau sebutan di depan namaku yang diucapkan olehmu, ingat namaku adalah Souw In dan bagimu, aku adalah kakak In”, kata Souw In memotong ucapan Han Wi Liong.
Han Wi Liong terkejut mendengarnya,
”Maaf kakak In, tapi bagaimana kalau di depan orang banyak atau di depan pelayan lainnya?” tanya Han Wi Liong dengan wajah bingung.
”Kau tidak perlu menyapaku di depan mereka, karena seorang pelayan tidak berhak berbicara di depan majikannya, namun jika hal itu terpaksa dan mendesak barulah kau memanggilku Nyonya”, kata Souw In sambil tersenyum dan senyum itu menambah kecantikan dari seorang wanita yang benar-benar dewasa dan matang.
Han Wi Liong melanjutkan perkataannya,
”Sebenarnya aku tidak peduli dengan status pada diriku dan juga aku kurang berbakat dalam melatih kultivasi apalagi berlatih teknik beladiri, aku lebih suka membaca dan itupun hanya bacaan yang mengandung topik tentang jiwa atau tekniknya”, katanya.
Souw In mendengar perkataan Han Wi Liong, dia semakin heran mendengar perkatan anak remaja ini, banyak anak berebutan ingin menjadi murid di klan Souw ini bahkan mereka sangat berharap diizinkan menggunakan marga ‘Souw’ di depan nama mereka sebagai bagian dari kenaikan derajat dari status yang mereka miliki.
tubuh Han Wi Liong termasuk tinggi di atas rata-rata anak seumurnya dan berisi, bahkan jika Souw In berdiri berdampingan dengan Han Wi Liong maka tingginya sudah melewati tubuh Souw In beberapa centimeter, wajah remaja ini tampan bahkan sangat tampan, dengan bentuk wajah bulat telur dan kulit putih bersih.
”Baiklah aku tidak akan memaksamu, aku memanggilmu seperti biasa untuk menyiapkan hidangan bagiku, namun hari ini, sediakan porsi tiga kali lipat, karena sebentar lagi aku akan menerima kedatangan kakak seperguruan dan keponakanku, mereka ingin merasakan hasil racikan masakanmu, rupanya keahlianmu sudah menyebar ke seluruh wilayah klan Souw dan membuat mereka berdua penasaran”, kata Souw In.
Han Wi Liong menganggukan kepala, sebenarnya tanpa diketahui oleh Souw In, Han Wi Liong mulai mempraktekan teknik jiwa barunya hasil dari rangkuman dari ribuan teknik jiwa yang berhasil dikumpulkannya selama ini, dan dia merasakan ada dua rombongan orang yang berjalan menuju puri tempat Souw In.
Dia pun bergegas ke dapur khusus yang berada di lingkungan puri tempat tinggal Souw In, dimana di dapur ini sudah tersedia berbagai bahan makanan istimewa yang sengaja dikumpulkan oleh Souw In lengkap dengan bumbunya.
Serombongan pelayan yang mendampingi seorang dara remaja memasuki gerbang utama puri tempat Souw In,
”Bibi In aku datang dan menagih janji bibi”, katanya dengan senyum manis pada Souw In yang menyambut dara remaja itu.
”Aku berjanji hanya padamu seorang dan ayahmu saja, mengapa kau membawa begitu banyak pelayan?” Kata Souw In dengan kening berkerut.
Souw Meng Wi tersenyum,
”Aku tidak berani menolak mereka, katanya mereka hanya ingin mencicipi sedikit saja, walaupun hanya sisa kuahnya”, katanya dengan mendekati Souw In dan merangkul dengan manja.
Souw Meng Wi memang terkenal baik hati terhadap para pelayan kepercayaannya, dibalik ketegasannya seperti Souw In.
”Aku tidak tahu apakah pelayan kecilku sanggup menambah porsi masakannya, Ngo Cin coba kau tanyakan pada Aliong, bersediakah dia menambah porsi masakannya untuk sepuluh orang?” kata Souw In memberi perintah pada Ngo Cin yang berdiri di belakangnya.
”Baik Nyonya”, kata Bibi Cin.