“Ha ha ha…, adik In akupun tidak dapat menolak para tetua lain yang ingin serta untuk menikmati hidangan istimewa dari pelayan juru masak di tempatmu, untuk itu aku minta maaf”, sebuah suara parau dan berat bergema di ruangan itu dan diikuti dengan kemunculan sepuluh orang dalam ruangan tersebut.
“Kakak dan para tetua, bagaimana aku harus mengatakannya? Aku akan memberitahukan pada pelayan kecilku dahulu, Ngo Cin coba kau tanyakan pada Aliong tentang perubahan porsi hidangan ini, apakah dia bersedia?” Kata Souw In pada Ngo Cin lagi.
Tanpa bertanya lagi, Ngo Cin segera pergi ke dapur tempat Han Wi Liong, tidak lama kemudian dia muncul kembali di ruangan itu dan berkata,
“Tidak ada masalah, tapi dia memerlukan tenaga bantuan, dia bilang para pelayan yang berada di ruangan ini dapat membantunya”, kata Ngo Cin melaporkan hasilnya pada Souw In.
“Bagaimana keponakan Meng Wi, apakah kau mau memberikan perintah pada para pelayanmu untuk membantu pelayan kecilku?” Kata Souw In pada Souw Mwng Wi.
“Jangankan mereka, aku pun bersedia membantunya”, jawab Souw Meng Wi sambil tangannya memberi gerakan pada sembilan pelayan yang mengikutinya untuk berjalan ke arah Ngo Cin untuk diantar ke dapur tempat Han Wi Liong bekerja.
Ngo Cin membawa Souw Meng Wi dan para pelayannya ke dapur tempat Han Wi Liong sedang meramu dan meracik bahan makanan istimewa yang telah dikumpulkan oleh Souw In sendiri.
Han Wi Liong sedang asyik bekerja, dia melihat serombongan pelayan yang memasuki dapur tempat dia bekerja, tanpa membalikkan tubuh dia berkata pada orang tersebut,
“Kau, kerjakan dan bersihkan daging ini, jangan gunakan kekuatan energi kultivasimu karena akan merusak aroma daging tersebut, gunakan pisau ini!” Kata Han Wi Liong pada orang yang pertama kali memasuki dapur tersebut.
Souw Meng Wi melihat daging merah besar yang masih diselimuti oleh bulu-bulu lebat dan tebal di atas meja yang ditunjuk oleh Han Wi Liong, terlihat daging itu masih bergetar dan bergerak seperti hidup, wajah cantik dara remaja itu seketika menunjukkan raut wajah geli dan jijik.
Para pelayan yang mengiringi Souw Meng Wi menatap marah pada Han Wi Liong, namun ketika mereka hendak mencaci maki, Souw Meng Wi memberi tanda di mulutnya agar mereka tidak bersuara.
Dengan rasa jijik, Souw Meng Wi menyentuh daging tersebut sambil memegang sebuah pisau kecil pada tangan yang lain, dengan jari-jari gemetar dia membersihkan bulu-bulu lebat disekitar kulit yang masih menempel pada daging tersebut.
Sambil tetap fokus pada tungku masakannya, Han Wi Liong mengeluarkan perintah pada sekumpulan pelayan, ada yang membersihkan bumbu, mencuci perkakas dan hal lainnya, dimana semua itu harus dilakukan tanpa pengerahan tenaga energi kultivasi karena akan merusak aroma dan kualitas masakan hasil racikannya.
Ngo Cin masuk ke dapur itu, dia melihat bahwa Souw Meng Wi dengan susah payah membersihkan hamparan potongan daging binatang mistik yang besar dan banyak, peluh Souw Meng Wi mulai mengucur dari keningnya, karena tenaga yang dikeluarkan hanya tenaga manusia biasa dan itu semua sangat melelahkan.
Dengan susah payah dia bekerja, sekalipun nafasnya terengah-engah tapi dia tidak mengeluh, sekitar satu jam kemudian pekerjaan itu dapat diselesaikannya.
Ngo Cin mendekati Aliong,
“Aliong, apakah kau tidak salah memberikan pekerjaan yang terlalu berat bagi putri Souw, sedangkan pelayannya hanya mengerjakan pekerjaan ringan?” Tanya Ngo Cin.
Han Wi Liong terkejut mendengar seruan Bibi Cin ini,
“Apa? Aku tidak tahu kalau dia adalah Putri Souw, kan yang kuminta adalah bantuan para pelayan, kenapa juga dia masuk ke dapur ini?” Kata Han Wi Liong, dia membalikkan badannya dan menghampiri ke arah Souw Meng Wi, dalam keadaan berdiri Han Wi Liong merangkapkan kedua tangannya di dada dan menundukan kepalanya,
“Putri Souw maafkan kesalahanku, aku tidak melihat kalau putri sendiri berkenan hadir ke dapur yang kotor dan panas ini”, katanya.
Souw Meng Wi menatap seorang remaja lelaki yang sangat tampan, kalau orang tidak tahu mungkin penampilan Aliong ini jika tidak mengenakan pakaian pelayan akan dianggap sebagai putra bangsawan tinggi.
“Untuk apa kau meminta maaf, pekerjaan itu pun sudah selesai kulaksanakan, lagipula aku juga bersalah karena tidak berterus terang padamu ketika aku masuk ke dapur ini”, kata Souw Meng Wi dengan mata menatap tajam pada Han Wi Liong, dia melihat ketulusan ucapan remaja lelaki ini.
Sebenarnya, Han Wi Liong tahu tentang identitas dari remaja wanita di depannya sejak dia memasuki puri tempat Souw In ini, dengan persepsi jiwa miliknya dia merasakan aura seorang kultivator Raja Dewa yang memasuki tempat dia bekerja, dia sengaja melakukannya untuk melihat kualitas mental seorang yang menyandang status sebagai putri sebuah klan keluarga ternama di Dunia Putih ini.
Dan hasil temuannya Han Wi Liong cukup kagum akan watak dan karakter Souw Meng Wi yang sangat bertolak belakang dengan kawan karibnya Pangeran Kang Houw.
Setelah tiga jam berlalu, seluruh masakan itu sudah siap dihidangkan, baik Souw Meng Wi ataupun pelayan lainnya tidak berani mencicipi makanan tersebut, tanpa izin dari Aliong dan hal ini sangat ditekankan oleh Ngo Cin.
“Saatnya semua hidangan ini kita bawa ke meja perjamuan, bagi para pelayan sebaiknya kalian tetap disini saja, sehingga kalian dapat dengan bebas menikmati makanan ini dibandingkan di ruang jamuan dimana mata para petinggi klan akan mengawasi kalian semua, tapi itu semua terserah kalian”, kata Aliong.
Souw Meng Wi berucap,
“Kalau begitu bawa setengah hasil masakan itu ke ruang jamuan, setengahnya tinggalkan disini dan atur meja-meja di sini agar kita semua dapat makan bersama” katanya.
“Apakah tuan putri akan makan disini bersama dengan kita para pelayan?” Tanya Ngo Cin pada Souw Meng Wi.
“Apakah aku tidak memiliki hak seperti kalian untuk menikmati makanan istimewa ini?, aku juga turut bekerja”, protes Souw Meng Wi sambil matanya menatap pada Han Wi Liong.
“Bukan itu maksud bibi Cin, kami hanya para pelayan rendah, apalagi aku hanya pelayan kecil, aku merasa terhormat jika putri Souw berkenan menikmati hasil masakanku, tapi tempat ini sungguh tidak layak”, kata Aliong dengan menundukkan kepalanya.
“Hi hi hi…,memang bau tempat ini sangat tidak enak, apalagi banyak tumpukan sampah bekas bahan-bahan yang tidak terolah, bagaimana kalau kita semua memindahkan meja yang bersih ke taman terdekat dan makan di udara terbuka, dan itu akan menambah kenikmatan lain”, kata Souw Meng Wi, dan usulan ini ternyata diterima oleh Aliong dan pelayan lainnya.
Setelah itu mereka segera menjalankan apa yang sudah diputuskan bersama, dimana sebagian masakan sengaja ditinggalkan di dapur dan sebagian dibawa ke ruang jamuan di puri tempat tinggal Souw In.
Aroma hidangan yang dibawa ke dalam ruang jamuan sangat menggoda dan mengganggu percakapan para tetua yang sengaja datang di ruang tersebut, Souw In melihat rombongan yang masuk itu, dia tidak melihat keponakannya memasuki ruang jamuan tersebut, dia hanya melihat Ngo Cin yang memimpin rombongan pelayan itu mengatur meja jamuan bagi para tetua dan kepala klan keluarga Souw.
“Ngo Cin, dimana keponakanku?” Tanya Souw In pada pelayannya setengah berbisik.
“Nyonya Besar, sang putri memutuskan untuk bergabung dengan kami para pelayan di taman belakang sebelah dapur, katanya dia ingin bebas menikmati hidangan Aliong itu”, lapor Ngo Cin.
Souw In hanya terdiam, wajahnya tidak menceritakan apapun tapi hatinya berucap,
“Apakah dia benar-benar berkata seperti itu?, jika benar, aku tidak menyangka bahwa keponakanku itu betul-betul mewarisi watak ibunya yang sangat rendah hati, sayang dia harus mati muda dengan penasaran”, kata Souw In dalam hatinya.
”Akhirnya waktu untuk menikmati hidangan di puri mu ini sudah tiba, adik In jika kau izinkan, bolehkah kami menggunakan keahlian pelayan kecilmu itu untuk ditempatkan di dapur utama demi menjamu para tamu terhormat klan?, aku sangat berharap permintaan kecil ini tidak mengganggumu”, kata Souw Ceng sebagai kepala klan.
”Aku sebenarnya tidak keberatan, tetapi aku sendiri tidak bisa memutuskan, kita sebagai kultivator sebenarnya tidak memerlukan makanan jasmani apapun, dan keahlian pelayan kecilku sebenarnya tidak begitu kita perlukan sebagai klan keluarga ternama di Benua Bintang bahkan di seluruh Dunia Putih ini, hanya saja watak pelayan kecilku terlalu aneh, dia hanya seorang bocah remaja biasa, namun jika dia tidak berkenan terhadap suatu perintah dariku, dia memilih mati”, jawab Souw In.
”Apakah dia seperti itu?, keberanian apa yang dimiliki oleh anak remaja itu?, apakah dia benar-benar seorang bocah biasa?” tanya seorang tetua sambil mengunyah makanan di mulutnya dengan mata setengah terpejam.
”Apakah adik In sudah mengetahui latar belakang bocah itu?” tanya Souw Ceng yang juga menikmati hidangan yang sudah tersedia, dalam hatinya ada kenangan masa kecilnya, masa dimana dia hanya seorang anak yang lemah dan tidak berdaya.
”Aku tidak peduli dengan latar belakangnya, tapi apakah kakak tahu keistimewaan hidangan makanan hasil racikannya? Dan menurutku apa yang kakak dan para tetua rasakan tidak jauh berbeda dengan apa yang kunikmati saat pertama kali aku mencicipinya”, kata Souw In sambil menjumput sebuah potongan daging dan membawa pada mulutnya dengan bibir yang merekah.
Souw Ceng dan para tetua lainnya menganggukan kepala dengan mata setengah terpejam, sebagai kultivator yang sudah mencapai rata-rata tingkat Mahadewa, mereka semua merasakan sebuah memori yang sudah lama hilang, memori sebagai manusia biasa, atau seorang kultivator lemah yang tidak berdaya atas tindakan para kultivator yang lebih kuat.
Sementara itu di taman belakang, para pelayan Souw Meng Wi, berpesta pora dengan hidangan makanan yang tersedia cukup banyak, tadinya mereka merasa kesal dengan tindakan Han Wi Liong pada majikan mereka putri Souw, kini rasa makanan yang diracik oleh keahlian pelayan Aliong itu menebus dan melenyapkan rasa benci pada pelayan kecil tersebut, apalagi sekarang Aliong telah mengganti pakaiannya dengan baju pelayan yang bersih, sehingga kini di udara terbuka, sosok Han Wi Liong terlihat sangat tampan dengan tubuh berkulit putih bersih dan bibir di wajah yang selalu tersenyum.
Makanan ini memang sangat lezat dan nikmat, termasuk dengan Souw Meng Wi yang tanpa disadari matanya setengah terpejam menikmati setiap gigitan makanan di mulutnya, dia merasakan sesuatu di masa kecilnya yang rapuh, dia teringat akan sentuhan tangan lembut ibunya yang sudah lama meninggal dunia.
Souw Meng Wi sudah melupakan rasa itu, matanya berkaca-kaca, dia berusaha menahan gejolak hatinya dan bertahan karena kini dia adalah seorang kultivator Raja Dewa, dia harus bertahan dengan kekuatan kultivasinya dan memperkuat jiwanya, sekarang matanya terbuka, inilah hal terpenting bagi seorang kultivator yaitu memperkuat pondasi jiwa agar tubuhnya menjadi kuat, ini pula yang menjadi alasan oleh bibinya dengan memberikan hak istimewa pada seorang pelayan kecil seperti Aliong, karena hasil racikan masakan Aliong, seorang kultivator akan selalu teringat akan kelemahannya dan berusaha untuk selalu berkultivasi mengatasi kelemahan tersebut.
Sedangkan dampak bagi para pelayan pun terlihat, mereka menikmati makanan ini dengan penuh perasaan dan merasakan bahwa mereka teringat akan hidup mereka untuk selalu terus berusaha dan berjuang agar kelak mereka mencapai status yang lebih baik di masa depan.
”Aliong, hasil masakan sangat nikmat, aroma makanan mu sangat menggugah selera, selama ini kupikir setelah memasuki tingkat Raja Dewa aku tidak memerlukan makanan jasmani, namun ternyata aku salah setelah menikmati masakanmu, justru makanan darimu, aku harus selalu menjadi kuat dan terus berkultivasi, maukah kau menjadi temanku?” kata Souw Meng Wi menatap Han Wi Long.
”Aku merasa terhormat dengan menjadi temanmu, tapi apakah itu layak? Terutama bagi tuan Putri Souw, apa kata orang jika mereka melihat atau mendengar berteman dengan orang rendahan seperti diriku, seorang pelayan kecil?” kata Han Wi Liong.
”Bagaimana kalau kamu pindah ke tempatku dan jadi pelayan pribadiku, apakah itu baik?” kata Souw Meng Wi.
Kini Han Wi Liong mengerti akan maksud sesungguhnya dari dara remaja tersebut, namun dia juga sudah membuat perjanjian dengan Souw In,
”Maaf tuan putri, kalau hal itu aku tidak dapat memutuskannya karena itu melibatkan keputusan Nyonya Besar Ketiga, tuan putri harus mendapatkan persetujuannya”, kata Han Wi Liong.
Ngo Cin yang berada diantara mereka mengangguk puas atas perkataan Aliong,
”Tuan Putri sebaiknya anda meminta izin pada Nyonya Besar Ketiga, karena Aliong dibawa kemari oleh dirinya”, katanya.
Souw Meng Wi tersenyum pada Aliong dan Ngo Cin dan menganggukkan kepalanya, dia memahami satu hal, dibalik kesederhanaan yang ditampilkan oleh Aliong ada suatu hal yang membuat dirinya makin penasaran, jangan-jangan pelayan ini adalah anak tidak sahnya yang selama ini disembunyikan oleh bibinya dan sekarang diselundupkan dalam puri miliknya.
Setelah percakapan diantara mereka, Han Wi Liong mengundurkan diri untuk menuju ke tempat tinggalnya, dia diberikan sebuah ruangan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari puri tempat tinggal Souw In, namun dia segera berbelok arah dan kembali ke perpustakaan, dia berharap tidak bertemu dengan Kang Houw di tempat itu, dan rupanya pemuda itu tidak jadi memasuki ruang perpustakaan tersebut.
Han Wi Liong ingin segera membaca buku di perpustakaan, dimana masih ada tiga lempengan batu giok yang belum dibacanya, dia ingin segera menemukan sebuah teknik jiwa bagi dirinya dengan usahanya sendiri, dia ingin menciptakan sendiri sebuah teknik jiwa yang khusus bagi dirinya.
Han Wi Liong sudah membaca ribuan teknik Jiwa, dan dia melihat serta menemukan teknik jiwa itu memiliki keunggulan maupun kelemahan masing-masing.
Jadi Inilah kesempatan dia menemukan sebuah teknik ciptaannya sendiri, suatu teknik khusus bagi dirinya yang memiliki konstitusi tubuh istimewa.
Souw Meng Wi menghadap pada bibinya, dia belum mengutarakan maksudnya karena dia melihat bahwa ayahnya juga masih berada di tempat bibinya, dan diapun tahu bahwa ayahnya meminta kesediaan bibinya agar Aliong bekerja di gedung utama klan namun rupanya oleh sang bibi malah dilemparkan menunggu keputusan dari Aliong sendiri dan hal ini menambah kecurigaan Souw Meng Wi, bahwa pelayan Aliong itu bukan sekedar pelayan biasa tapi memiliki hubungan khusus dengan bibinya.
Apa yang diduga oleh Souw Meng Wi rupanya menjadi dugaan para tetua lainnya, dan akhirnya mereka tidak perlu menanyakan pada Aliong lagi, karena hal itu pasti akan membuat Souw In menjadi serba salah dan membuat hubungan yang kurang baik dimasa depan diantara para tetua klan.
Sedangkan Han Wi Liong sudah berada kembali di perpustakaan pada ruang khusus dimana terdapat sembilan lempengan batu giok yang berisi catatan tentang teknik jiwa kategori Dewa kelas Sempurna
Tiga diantara lempengan batu giok itu belum dibacanya, dia hanya perlu menemukan intisari dari teknik jiwa tersebut.
Waktu berlalu dengan cepat, tiga bulan berlalu dan Han Wi Liong telah selesai membaca seluruh teknik jiwa yang disimpan secara khusus dalam bentuk sembilan lempengan batu giok.
Sekarang Han Wi Liong lebih banyak berada di ruangannya yang sengaja oleh Souw In berada tidak jauh dari manor atau purinya, sesekali Souw In akan memerintahkan Han Wi Liong membuatkan makanan yang menjadi kesukaannya namun tidak sesering seperti bulan-bulan pertama.
Di dalam ruangannya, Han Wi Liong berusaha menyempurnakan hasil ciptaan teknik jiwanya yang berhasil dia rangkum dari ribuan teknik jiwa yang berhasil dikumpulkan dalam otaknya, dengan teliti dan hati-hati dia mulai merangkai sebuah teknik jiwa dan semua itu dia catat pada sebuah lempengan batu giok, maka berkumpullah sebuah teknik jiwa yang belum diberikan nama.
Ada sembilan tingkatan dari teknik jiwa tersebut dan masing-masing bagian terpecah sebanyak delapan belas tahapan, dan bagian tahapan ini telah diberi nama sesuai dengan aturan pernafasan, gerakan anggota tubuh tertentu hingga titik fokus pada mata yang berpusat pada otak sehingga pembuluh darah penghubung dapat dilatih dengan pencapaian kondisi tertentu.
Han Wi Liong terus tenggelam dalam upaya menciptakan teknik jiwa secepat mungkin, dia mengkhawatirkan kondisi jiwanya yang terus digempur oleh aliran energi kultivasi dalam dirinya yang terus meningkat sekalipun telah dikunci di setiap titik akupuntur tubuhnya oleh Souw In.
Kerja keras dan keuletan serta kecerdasannya yang diatas rata-rata membuahkan hasil, sedikit demi sedikit dia mulai berlatih teknik jiwa hasil ciptaannya sendiri, Han Wi Liong mulai merasakan manfaatnya, kepala dan matanya menjadi lebih terang dan terasa lebih kuat, rasa sakit yang selalu datang di kedua matanya serta lubang telinganya mulai berkurang, melihat hasil ini dia makin bersemangat berlatih, padahal dia baru mencapai tingkat kesatu dari sembilan tingkatan teknik jiwa ciptaannya.
Tiga bulan berikutnya berlalu, Han Wi Liong telah menguasai dua tingkatan dari teknik jiwa ciptaannya, semua itu dilakukan tanpa mengenal waktu lagi, karena jika dia tidak berlatih maka beban di kepalanya semakin bertambah seiring dengan peningkatan energi kultivasinya karena lingkungan Aura Energi Putih yang sangat tebal dan murni di Dunia Putih.