Sepuluh tahun sebelumnya di Benua Eng Hian, salah satu benua di Dunia Sembilan Benua, ada seorang wanita 30 tahunan yang berjalan dengan santai di jalan raya Kotaraja Buana Nirwana.
Seorang wanita yang berpakaian sederhana, menggunakan kain kasar seperti kebanyakan yang dipakai oleh kaum yang berdiam di pinggiran kotaraja, namun yang membuat istimewa adalah parasnya yang cantik yang ditutupi oleh selubung kain yang melingkari lehernya, jadi leher panjangnya yang putih bersih tersembunyi oleh kain tersebut.
Wanita itu adalah Mo Eng, seorang kultivator Raja Dewa ke-3, kultivator tingkat tinggi bahkan mungkin di Benua Eng Hian ini tidak ada lagi yang akan mengunggulinya, karena Raja dan para Panglimanya saja hanya berkisar sebagai kultivator Manusia Dewa ke-1 dan ke-2.
Dalam perantauannya, Mo Eng memasuki Benua Eng Hian ini tanpa tujuan, dia berpisah dengan putranya Han Cun Ek sewaktu masih di dusun ‘Angin Hutan’ Benua Chong Yang, dia hanya ingin menghindari para kultivator tingkat tinggi yang diduga berkeliaran di Benua Chong Yang, yang berkaitan dengan penerimaan murid baru untuk Sekolah Beladiri Samudera Naga.
Dari arah berlawanan lewat dua pria yang berjalan berdampingan dengan santai, dari penampilannya dapat dilihat bahwa salah satu dari dua orang itu adalah seorang pemuda 20 tahunan dan yang satu adalah pria 40 tahunan,
”Paman panglima, puluhan tahun lalu, kerajaan kita pernah menjalin komunikasi dengan penguasa Benua Merah dengan utusan yang menyebut dirinya Pangeran Kun, mengapa hubungan itu tidak dilanjutkan?” tanya pemuda tersebut dengan suara pelan bahkan sedikit berbisik.
”Putra Mahkota, sebenarnya adalah keuntungan bagi kerajaan kita dengan berakhirnya hubungan tersebut, karena kalau ditelusuri oleh pihak penguasa Benua Merah yang sekarang, maka kerajaan kita dengan mudah dihancurkan, bahkan klan Chin tidak lagi menjadi penguasa kerajaan ini, dahulu yang menyebut utusan Benua Merah adalah sosok yang sangat kejam dan berambisi, beritanya, sang utusan itu dibunuh oleh penguasa Benua Mewah yang sekarang, bahkan guru dari utusan itu yang sudah mencapai tingkat Kaisar Dewa terbunuh oleh suami penguasa Benua Merah yang sekarang”, kata pria setengah baya itu dengan memasang wajah cemas dan ketakutan.
”Jadi itu alasannya ayah tidak pernah mau memberitahukannya padaku, bahkan ayah menyebut mendiang Panglima Chin Ma Cun sebagai pengkhianat kerajaan, karena mendiang panglima Ma Cun yang memprakarsai hubungan dengan utusan itu”, kata pemuda tadi.
”Baginda Raja Chin Kuan harus bertindak cepat saat mendengar penguasa Benua Merah sebelumnya yakni Leluhur Kui Lok Mo dapat terbunuh oleh seorang kultivator dari Benua Chong Yang yang bernama Han Long”, kata pria setengah baya tersebut.
”Kini aku mengerti, mengapa paman Chin Chung memaksakan kehendaknya dengan meminta izin dari ayah agar adik Chin Hong dibawa ke kerajaan Chong Yang untuk menjadi siswa di Sekolah Beladiri Samudera Naga, karena kudengar bahwa para penguasa Benua Merah yang sekarang berasal dari sekolah tersebut”, kata pemuda tersebut yang merupakan putra Mahkota kerajaan Buana Nirwana dan juga kakak kandung dari Chin Hong.
Percakapan kedua orang itu menggunakan suara perlahan saja sambil berjalan dengan santai, tapi bagi Mo Eng, percakapan itu dapat terdengar sangat jelas, ada semburat merah di wajahnya, karena apa yang mereka bicarakan menyangkut dirinya beberapa tahun lalu, saat dia bersama putranya, mendiang Coa Kun dan adiknya Mo Cun dalam tugas sebagai perwakilan Kui Lok Mo dalam upaya penaklukan Benua Eng Hian (baca kisahnya pada Punch to the Heaven).
Bertahun-tahun sudah berlalu, tapi peristiwa di Benua Eng Hian ini masih diingat dengan jelas oleh para bangsawan kerajaan Buana Nirwana, dan ini semua membuat Mo Eng ingin menghindarinya, karena dia adalah salah satu tokoh yang mengambil peranan cukup penting akan kejadian tersebut, malah dia dikenal sebagai selir dari Kui Lok Mo.
”He he he…., tidak perlu kita jauh melangkah, ikan didepan kita ternyata menghampiri kita semua”, sebuah suara parau lelaki yang menggelegar, dan diikuti oleh kemunculan sosok pria yang tiba-tiba menghadang di depan pemuda dan pria paruh baya tersebut, diikuti oleh tiga orang temannya.
”Ha ha ha…! Benar katamu adik Tong, kita cukup menculik pemuda itu dan menekan Raja Chin Kuan agar mau menyerahkan kerajaannya tanpa pertempuran yang tidak berarti”, kata salah satu dari orang yang menghadang pemuda dan pria setengah baya itu sambil wajahnya menengok ke orang yang tertawa pertama.
”Siapa kalian? Dan apa kehendak kalian?” kata pemuda itu dengan marah.
”Menyerahlah Putra Mahkota Chin Hay, kami adalah kultivator Raja Dewa, apa yang kau andalkan jika kami membumihanguskan kerajaan kecil ini? Tuan kami adalah para kultivator tingkat tertinggi di Dunia ini, seharusnya kalian merasa bangga bahwa pimpinan kami berkenan menjalin hubungan dengan kalian para semut yang tidak berarti, dengan kau menyerah berarti kau menyelamatkan rakyat kalian”, kata seorang tua yang berdiri paling depan dari empat orang yang menghadang Putra Mahkota kerajaan Buana Nirwana.
Mendengar bahwa mereka semua adalah para kultivator Raja Dewa, membuat Pangeran Mahkota Chin Hay terkejut, baru utusan saja sudah menjadi kultivator tingkat tinggi, bagaimana dengan orang yang disebut pemimpin utusan ini, dan pula mengapa mereka harus berkunjung ke Benua Eng Hian, khususnya kerajaan Benua Nirwana.
”Apakah kalian dari bagian rombongan yang pernah mendatangi istana Kerajaan Buana Nirwana, para utusan dari Benua Huang San? Apakah kalian tidak mengerti akan penolakan baginda raja, kami hanya kerajaan kecil, kami takut akan tindakan dari penguasa Dunia Sembilan Benua”, kata pria setengah baya yang mendampingi Pangeran Chin Hay.
”Diam kau! Kami tidak peduli akan kekuatan Penguasa Dunia Sembilan Benua itu, dibandingkan dengan kekuatan pemimpin kami, kekuatan Penguasa Benua Sembilan Benua tidak berarti sama sekali”, hardik pria setengah baya yang rupanya pemimpin rombongan empat orang tadi.
”Kakak senior tidak perlu bicara lagi, kawan-kawan tangkap pemuda itu dan bunuh pria yang satunya”, kata orang yang pertama berbicara.
Empat orang itu serentak mengerahkan energi kultivasi milik mereka,
Doummmm…!
Doummmm…!
Doummmm…!
Doummmm…!
Empat letusan energi dari tubuh mereka meletus, kultivasi Raja Dewa ke-1 dan ke-2 menyebar dan energi itu segera menekan Pangeran Chin Hay yang hanya kultivasi Manusia Suci ke-9 Puncak dan pria setengah baya yang mendampinginya yang ternyata hanya Manusia Dewa Ke-1 Awal.
Sungguh sial nasib Pangeran Chin Hay dan Panglimanya menerima tekanan besar dari para kultivator Raja Dewa yang jauh di atas tingkat milik mereka, sekalipun kalau mereka mengerahkan pasukan tentara yang besar semua itu tidak berarti.
”Sungguh memalukan, kalian para kultivator Raja Dewa yang sedikit ini menekan yang lemah dan memaksakan kehendak kalian karena kalian merasa diri kalian adalah yang terkuat, aku akan melawan kalian semua”, kata sebuah suara merdu, dan suara itu muncul dari arah belakang kelompok empat orang yang merupakan utusan Benua Huang San. Berdiri sosok orang yang memakai gaun sederhana dari kain kasar seperti petani, wajahnya diselubungi oleh kain penutup kepala.
Serentak empat orang itu membalikan tubuh mereka, keempatnya merasakan tekanan lebih besar, sebuah energi kultivasi yang dirasakan oleh mereka sangat dahsyat.
”Rekan kultivator, urusan ini tidak ada hubungannya denganmu, menyingkirlah atau sebaiknya kau bergabung bersama kami, pimpinan kami akan memberikan kompensasi kepadamu”, kata pemimpin rombongan tersebut, dia membujuk Mo Eng yang menghalangi niat mereka karena Benua Huang San membutuhkan kultivator Raja Dewa sebanyak mungkin.
Namun Mo Eng yang sekarang telah berubah, dia tidak memiliki ambisi membuta lagi, dia harus membantu kerajaan Buana Nirwana yang jelas menolak bersekutu dengan Benua Huang San yang berniat merongrong kepemimpinan Han Long.
”Maaf aku tidak tertarik bergabung dengan kalian”, kata Mo Eng sambil dia mengerahkan energi kultivasinya dan,
Doummmm…!
Ledakan dahsyat bergema sangat kuat dari dalam tubuh Mo Eng, hal ini menimbulkan kecemasan dari empat orang yang tadi berniat melumpuhkan Pangeran Chin Hay dan membunuh panglima pengawalnya.
”Kawan-kawan bunuh orang itu!” kata pria pemimpin empat orang tersebut.
Maka udara di sekitar pertempuran itu pun berubah, angin dan tekanan udara seketika menjadi panas membara yang berasal dari tubuh Mo Eng sedangkan dari lawannya mengeluarkan energi dingin menggigil.
Terjadilah pertempuran dengan perubahan suhu udara yang mendadak, Mo Eng adalah seorang Kultivator yang dididik di Benua Merah oleh mendiang Kui Lok Mo yang mengandalkan energi Merah yang sangat panas, maka setiap gerakan yang dikeluarkannya mengandung energi panas yang dahsyat, setiap gerakan dari tangannya akan menghanguskan apapun yang bersentuhan dengan tangan tersebut.
Hanya beberapa jam saja, para pengeroyoknya sudah terdesak dan sering menghindari pertemuan langsung dari kaki dan tangan Mo Eng, mereka tidak tahan akan energi yang dikeluarkan dari tubuh Mo Eng, gerakan Mo Eng sangat lugas dan langsung, ciri dari teknik yang dikembangkan oleh Kui Lok Mo namun dibalik itu ada banyak perubahan gerakan yang secara tiba-tiba berubah arah dan hal inilah yang menambah kesulitan para pengeroyoknya untuk bertahan lebih lama, dan benar saja, dua diantara pengeroyoknya terhuyung jatuh, malah salah satu diantaranya sudah tidak bergerak lagi, karena tempurung kepalanya terbakar hingga mengeluarkan bau hangus yang menyengat.
Sang pemimpin empat orang itu memberi tanda pada rekan-rekannya, dan berkata melalui kontak jiwa,
”kita harus lari dan segera melapor pada atasan kita” katanya.
Mo Eng tersenyum sambil menggerakan tubuhnya dengan kecepatan kilat,
”Terlambat, kalian sudah bertemu dengan ku maka hanya kematian yang akan kalian temui”, kata Mo Eng, dia bisa mengetahui suara kontak jiwa pemimpin itu karena tingkat kultivasi milikinya jauh berada diatas sang pemimpin tersebut.
Setelah itu tersungkurlah dua sosok tubuh berikutnya menyusul rekannya yang sudah mati, lalu
Duaarrrr….!
Gerakan terakhir yang dikeluarkan oleh Mo Eng adalah sebuah teknik dari Guntur Pelangi milik mendiang Coa Kun yang sekarang telah dikuasai oleh Mo Eng pada tingkat sempurna hasil bimbingan Kui Lok Mo.
Tubuh sang pemimpin dan anak buahnya seketika terbakar dan ambruk secara berurutan.
Pangeran Chin Hay melongo dan menarik nafas lega, demikian juga pria yang mendampinginya, pengawal tersebut tidak larut dalam rasa terkejutnya, dia segera menghampiri Mo Eng dan bersujud,
”Aku Chow Cang Panglima tentara istana Kerajaan Buana Nirwana menghaturkan hormat dan rasa terima kasih atas pertolongan tuan atas keselamatan Pangeran Mahkota Chin Hay, kiranya tuan berkenan menerima anugerah dari Raja Chin Kuan”, katanya.
Mo Eng menarik nafas panjang,
”Aku akan melanjutkan perjalananku, aku hanya singgah saja, aku tidak mau merepotkan raja karena urusan sepele ini” katanya sambil dia membalikkan tubuhnya hendak pergi.
Pangeran Chin Hay termangu, dengan cepat dia berdiri dan menundukkan kepala,
”Tuan penolong, aku Pangeran Mahkota Chin Hay, aku sadar bahwa kerajaan kami sangat kecil dan tidak berharga jika harus memberi penghormatan pada tuan, seorang kultivator Raja Dewa, tapi bolehkah aku yang rendah ini mengetahui kemana tujuan tuan selanjutnya?” kata Pangeran tersebut.
”Langit adalah atapku dan tanah yang kupijak adalah lantai rumahku, kemanapun aku melangkah aku tidak tahu tujuannya, hanya kehendak kaki dan hatiku yang tahu”, kata Mo Eng.
”Tuan jika seandainya diizinkan, maukah tuan menjadi guru bagiku, seorang pemuda yang rendah tapi memiliki tekad untuk menjadi kuat agar kelak aku menjadi pemimpin rakyatku dan melindungi mereka”, tanya Pangeran Chin Hay.
”Apa artinya kekuatan, selama ini yang kutahu selalu ada orang yang lebih kuat dari diri kita, pangeran melihat aku dapat mengalahkan empat orang kultivator setingkat Raja Dewa, tapi tahukah pangeran, Kekuatan dibalik mereka yang kubunuh hari ini? Mungkin aku juga tidak berbeda dengan seekor semut di hadapan pemimpin mereka, jadi ketika aku terbunuh apakah pangeran akan beralih kesetiaan dan mengangkat guru pada pemimpin orang-orang yang terbunuh olehku karena dia lebih kuat?” kata Mo Eng dengan mata menatap tajam yang diselubungi oleh kerudung hitam di kepalanya.
”Mungkin perkataan tuan benar, tetapi niat mereka sebelumnya adalah salah, sehingga ayah menolak persekutuan itu, karena mereka tidak berniat melindungi rakyat kami, mereka hanya mengedepankan ambisi semata”, jawab Chin Hay.
”Ha ha ha…, Ambisi.., apakah pangeran tahu siapa diriku? Dulu aku adalah orang yang sangat berambisi, namun semua itu adalah masa lalu, dan waktu telah membuatku mengerti apa tanggung jawab kultivator yang sesungguhnya”, jawab Mo Eng sambil dia membuka kerudung yang menutupi seluruh kepala dan wajahnya.
Dihadapan Chin Hay dan Chow Cang muncullah wajah cantik seorang wanita yang matang,
”Aku Mo Eng, selir terkasih mendiang Kui Lok Mo kultivator Kaisar Dewa penguasa Benua Merah sebelumnya, apakah pangeran masih mau menerimaku?” kata Mo Eng dengan mata dingin menatap kedua pria tersebut.
Betapa terkejutnya dua pria itu, terutama Chow Cang yang pernah melihat wajah wanita tersebut, dia mengenal wajah wanita iblis ini yang pernah keluar masuk istana Buana Nirwana, wanita cantik dengan hati sekeras baja dan membunuh hanya untuk kultivasinya yang mengakibatkan banyak pemuda menjadi korbannya, kini berdiri di hadapan mereka.
Seketika lemaslah lutut keduanya dan bibir mereka terkatup rapat.
”Mo Eng, aku senang menemukanmu di Benua ini, kuserahkan tanggung jawab perlindungan benua ini kepadamu”, sebuah suara yang sangat merdu berkumandang di kepalanya, seketika Mo Eng terkejut mendengar suara di kepalanya, suara yang sangat ditakutinya, dia tahu bahwa itu adalah suara Penguasa Benua Ketiga Bu Ling Moy, dan biasanya Bu Ling Moy pasti didampingi oleh Han Long, sosok kultivator tertinggi penguasa Dunia Sembilan Benua.
”Kenapa aku harus menerima tanggung jawab ini?” tanya Mo Eng dengan wajah menengadah ke angkasa.
”Aku tahu kau sudah berubah, juga aku tahu bahwa sebagian besar warisan kakak seperguruanku mendiang Kui Lok Mo ada ditanganmu, pula selama ini kau tidak bisa menghindari pengawasan kami, apakah kau tahu bencana di masa depan bagi Dunia Sembilan Benua di masa depan? Untuk itulah aku mempercayakan perlindungan benua ini di tanganmu, aku yakin akan kemampuanmu”, kata Bu Ling Moy melalui kontak jiwa.
Sementara itu pangeran Chin Hay tetap berlutut bersama dengan Chow Cang dan menundukkan kepala, mereka tidak tahu kenapa tiba-tiba wanita bernama Mo Eng itu terdiam.
Setelah lama terdiam, Mo Eng mengarahkan wajahnya ke arah Pangeran Mahkota Chin Hay,
”Kalian berdua antarkan aku menghadap Raja kalian, ada hal penting yang harus disampaikan secara pribadi”, perintah Mo Eng, kini dia harus menanggalkan penyamarannya, percuma saja kesederhanaan yang dikenakannya, jadi selama ini dia tetap diperhatikan oleh Penguasa Dunia Sembilan Benua, dan pula dia memiliki tanggung jawab karena ada tugas yang dipercayakan pada dirinya dari penguasa Dunia Sembilan Benua.
Di Istana Kerajaan Buana Nirwana, Raja Chin Kuan yang sebelumnya didatangi oleh Bu Ling Moy, dimana didalam pertemuan pribadi tersebut, sang raja mendapat petunjuk untuk bersekutu dengan seluruh kekuatan Dunia Sembilan Benua yang berpusat di Benua Thian Agung dan juga mendapat perintah untuk menerima seseorang yang memiliki kekuatan untuk melindungi kerajaannya.
Dan Raja Chin Kuan saat ini telah mengumpulkan seluruh menteri dan panglimanya berkumpul di aula sidang.
Raja Chin Kuan adalah seorang pria paruh baya yang masih kokoh dan tegap,
”Perlu ku umumkan pada kalian semua, pertemuan ini ada hubungannya dengan perlindungan dari Benua Thian Agung terhadap kerajaan kita, beberapa hari lalu aku mendapat kehormatan di kunjungi boleh Penguasa Benua Ketiga dan aku pada dasarnya menyambut dengan gembira karena kekuatan milik kita tidak sebanding dengan kekuatan Benua Thian Agung tersebut, juga aku mendapat perintah untuk menyambut seseorang yang bertanggung jawab atas perlindungan benua ini dari serangan dari luar, aku belum mengerti akan ancaman yang akan muncul, namun berita ini kuperoleh dari penguasa Benua Ketiga, itu sebabnya yang membuatku menolak utusan dari Benua Huang San”, kata Raja Chin Kuan.
Mendengar keterangan raja mereka, berdengunglah semua suara yang tadi terdiam, mereka terkejut juga dengan berita itu, mereka tidak menyangka bahwa kerajaan ini didatangi oleh Penguasa Benua Ketiga, bahkan memberikan perlindungan dengan mengutus seseorang yang pasti seorang kultivator tingkat tinggi.
”Ayah aku menghadap”, seru Pangeran Mahkota Chin Hay yang didampingi oleh dua orang di belakangnya, yang bergegas masuk, sedangkan para pengawal istana berjumlah ratusan berdiri dalam keadaan siaga dengan senjata terhunus.
”Maharatu Mo Eng!!!”, teriakan para Menteri dan para panglima,
”Lindungi Raja!!!”
mereka bergegas melindungi Raja Chin Kun.
”Hmmmm…., apakah ini cara kalian menyambutku?” kata Mo Eng dengan nada dingin dan datar.
”Apa maksudmu wanita iblis! Apakah kau akan menghabisi kita semua? Ingat kami dalam perlindungan Penguasa Benua Ketiga, Ratu Bu Ling Moy”, kata salah satu Menteri Senior.
”Kalau aku mau, kalian sudah lama mati dan lenyap, kedatanganku justru menerima perintah dari penguasa Benua Ketiga, dan pula untuk apa aku harus menyelamatkan pangeran kalian dari serbuan orang-orang Benua Huang San, apakah kalian cukup sepadan untuk melawanku? Orang-orang bodoh”, gerutu Mo Eng.
Mendengar hal ini, Raja Chin Kuan menghampiri pangeran Chin Hay, dan pangeran menceritakan pengepungan dari empat orang kultivator Benua Huang San dan peranan Mo Eng yang akhirnya membunuh para kultivator Raja Dewa Benua Huang San yang mengepung dirinya tersebut.
Mendengar keterangan putranya, akhirnya Raja Chin Kuan memaklumi situasi.
Dan memang benar, jika Mo Eng ingin menghanguskan kerajaannya tidak perlu dia datang ke istananya, karena tingkat Raja Dewa adalah tingkat penguasa benua yang dengan mudah membunuh dirinya beserta dengan para pembantunya.
”Apakah kau datang atas perintah Penguasa Benua Ketiga?” tanya Raja untuk meyakinkan diri dan para pembantunya.
”Sebenarnya aku malas menerima tanggung jawab ini, namun bencana besar akan terjadi di masa depan, dan tugasku adalah membangun kekuatan, mulai sekarang setiap orang harus segera meningkatkan kekuatan pribadi masing-masing melalui latihan yang keras dan pahit, aku tidak mengerti politik, aku hanya bertanggung jawab terhadap peningkatan kekuatan melalui kultivasi, Penguasa Dunia Sembilan Benua akan memberikan teknik kultivasi dan teknik beladiri bagi kalian semua melalui diriku, apakah keteranganku memuaskan?” kata Mo Eng dengan wajah dingin dan nada datar seperti biasa, sehingga menutupi kecantikannya yang masih bisa mengguncang sebuah negara.
Raja Chin Kuan terhenyak, apalagi para Menteri dan para Panglima,
”Apakah ada cara dari Tetua Mo Eng?” tanya Raja lagi.
”Kumpulkan semua anak-anak berusia sekitar 10 tahun ke atas, tapi dengan syarat mereka memiliki tingkat kultivasi minimal Imajinasi Roh, umumkan ke seluruh Wilayah Kerajaan kalau perlu ke seluruh Benua. Dan siapkan sebuah lahan untuk dibangun pusat latihan.
Dan satu hal lagi, Penguasa Benua Ketiga tidak mengizinkan peperangan antar wilayah atau kerajaan di Benua Eng Hian ini, yang melanggar hukumannya adalah kehancuran dan kematian”, tegas Mo Eng dengan nada penuh wibawa, baru sekarang dia menyadari sebuah tanggung jawab yang besar, dan juga dia merasakan gemuruh di dadanya tatkala dia melihat barisan orang-orang yang mendengarkan dirinya berbicara dengan penuh perhatian tanpa terlihat kepura-puraan, sesuatu yang baru dia lihat dan rasakan.
Setelah mendengar rencana Mo Eng, raja mengumumkan perintah kerajaan dengan otoritas Penguasa Dunia Sembilan Benua di seluruh wilayah Benua Eng Hian, yang segera direspon oleh para pembantunya, melalui titah raja, Mo Eng diberi Gelar Guru Negara, tadinya Mo Eng menolak namun desakan muncul hampir dari semua pembantu raja terutama Pangeran Mahkota Chin Hay