Apa yang terjadi di Benua Eng Hian terjadi juga di Benua Khui Ning dan Benua Chong Yang.
Penanggung jawab pembangun kekuatan Benua Khui Ning dipegang oleh suami istri Yap Kun Tek dan Phang Cui Lin bersama dengan muridnya Chen Mey Wa, mereka memilih tempat di sebuah wilayah yang dikelola oleh klan keluarga Yap dan menyebut daerah itu Lembah Beladiri Khui Ning.
Sedangkan Benua Chong Yang ditangani oleh An Wu Hong bersama dengan Yap Ing, dan pasangan ini pun dibantu pula oleh Han Wo dan An Ling yang bermarkas di Sekte Samudera Naga.
Perubahan besar-besaran terjadi di setiap benua pada Dunia Merah Biru atau disebut juga Dunia Sembilan Benua, terlihat yang paling mencolok adalah kegiatan di wilayah Benua Ketiga.
Ratusan ribu kultivator berkumpul di Istana Inti Es, tempat Ratu Penguasa Benua Ketiga Bu Ling Moy tinggal, terlihat bahwa para kultivator yang sudah berada di tingkat Raja Dewa berkumpul di halaman dalam Istana Inti Es yang merupakan sebuah lapangan yang amat luas, mereka menunggu kehadiran Ratu Penguasa mereka.
Kondisi kekuatan Benua Ketiga sebenarnya memiliki kekuatan puluhan bahkan ratusan kali lipat dari benua lainnya di Dunia Sembilan Benua, karena jumlah kultivator Raja Dewa dibawah komando Bu Ling Moy sangat jauh melebihi jumlah kultivator di benua lainnya, dimana kalau dihitung secara mata telanjang jumlah kultivator Raja Dewa di Benua lainnya dapat dihitung dengan jari, maka di Benua Ketiga para kultivator Raja Dewa ada sekitar ratusan, belum lagi jumlah kultivator Manusia Dewa yang jumlahnya ribuan.
Inilah alasan Bu Ling Moy sebagai Penguasa Benua Ketiga selalu mengawasi benuanya dan tidak sembarang orang memasuki wilayahnya, agar kekuatan sesungguhnya dari Benua nya tidak diketahui oleh pihak lain, khususnya kekuatan yang diwaspadai dari Dimensi Dunia Lain.
Pasangan Bu Ling Moy dan Han Long beserta para pembantunya keluar dari Istana Inti Es dan menuju alun-alun pertemuan para kultivator Benua Ketiga.
Di antara rombongan tersebut berjalan secara sejajar dibelakang Han Long adalah para kultivator Kaisar Dewa yaitu Coa Leng In, Han Eng dan Thian Sian Li, para wanita perkasa yang selama setahun terakhir telah menembus tingkat kultivasi kekuatan tersebut.
”Rakyat Benua Ketiga! Hari ini aku sengaja mengumpulkan kalian semua dengan maksud memperkenalkan keluargaku, juga mengumumkan bahwa mulai hari ini, Benua Ketiga akan menjadi kekuatan garda terdepan atas perjuangan demi perlindungan Dunia Sembilan Benua”, kata Bu Ling Moy, suaranya lembut namun menggelegar di telinga semua kultivator yang hadir di lapangan tersebut.
Bagi para kultivator yang melihat rombongan penguasa mereka atau mereka yang baru pertama kali melihat Bu Ling Moy, ada kesan hormat dan segan.
Wajah Bu Ling Moy dan rombongannya terlihat cerah dan bercahaya yang menandakan kekuatan kultivasi di atas mereka semua.
Kini akhirnya mereka tahu bahwa para pembantu Penguasa Benua Ketiga atau dikenal sebagai Penguasa Dunia Sembilan Benua memiliki kultivasi terendah pada tingkat Raja Dewa ke-3 dan di atasnya dan jumlahnya mencapai ratusan kultivator, sedangkan yang berdiri pada barisan kedua rombongan Bu Ling Moy adalah para Kultivator tingkat tinggi diatas para kultivator Raja Dewa.
Selama ini, para penguasa wilayah di Benua Ketiga yang rata-rata pada tingkat Raja Dewa Ke-2, hanya mengenal para pembantu Penguasa Benua Ketiga yang bernama Cang Min dan Giok Eng, tokoh elit yang suka berkunjung ke wilayah mereka masing-masing.
Biasanya, Cang Min atau Giok Eng yang juga suka mereka sebut penguasa ke-1 dan ke-2, suka membawa seorang anak remaja yang dikenal sebagai Pangeran Putra Mahkota Han Wi Liong, namun sekarang sang anak remaja ini tidak terlihat pada rombongan tersebut.
”Dalam beberapa tahun ke depan, Dunia kita akan menghadapi kekuatan yang sangat besar yang munculnya dari luar dimensi dunia kita, dan aku bermaksud membentuk pasukan istimewa di istanaku.
Untuk itu aku memerlukan kesediaan kalian untuk mau mengabdi dan berdiri bersama-sama melindungi Dunia Sembilan Benua serta ikut dalam perjuangan ini dengan meningkatkan kekuatan masing-masing bersamaku”, kata Bu Ling Moy sambil wajahnya berkeliling menatap warganya.
”Kami siap Maharatu !” suara bergemuruh menyambut ucapan Bu Ling Moy.
Bagi mereka para kultivator, adalah sebuah kehormatan dan kebanggan bila dapat dididik secara langsung dalam meningkatkan tingkat kultivasi mereka dibawah pengawasan langsung Ratu Penguasa Benua Ketiga ini, karena sekarang mereka melihat para penghuni atau pelayan yang berada dan bekerja di Istana Inti Es, memiliki kekuatan diatas mereka semua.
Setelah mengutarakan maksudnya dan memperkenalkan anggota rombongan pada rakyatnya dengan status yang dimiliki oleh Han Long, Thian Sian Li, Han Eng dan Coa Leng In, maka Bu Ling Moy dan rombongan kembali ke istana nya setelah membubarkan pertemuan tersebut.
Sebelumnya, Bu Ling Moy telah berjanji pada rakyatnya, akan mewujudkan rencana tersebut dalam waktu dekat untuk membentuk Pasukan Istimewa.
Di dalam aula istana Inti Es, Han Long dan keluarganya menyusun rencana,
”Kanda Long, apa rencana berikutnya?” tanya Bu Ling Moy.
”Tugaskan pembantumu Cang Min untuk membantu Mo Eng di benua Eng Hian untuk menyusun kekuatan di sana, dan tugaskan Giok Eng untuk sementara ditempatkan di Benua Merah dalam melindungi anak-anakku, karena kita semua akan mengawasi pergerakan dunia ini”, kata Han Long.
Hang Eng dan Coa Leng In menatap wajah suami mereka,
”Kanda Long, mengapa anak-anak kami harus dilindungi oleh Giok Eng? Biarkan salah satu antara aku atau kakak Leng In yang mengawasi Benua Merah dan melindungi anak-anak”, kata Han Eng.
”Aku setuju pendapat adik Eng”, kata Coa Leng In.
”Dinda Eng dan dinda Leng In, putraku Han Wi Liong dari kecil diasuh oleh Giok Eng, wanita itu sangat menyayangi Wi Liong demikian juga aku sangat percaya padanya, putra kita akan aman bersama dengan Giok Eng”, kata Han Long.
Thian Sian Li menatap kedua menantunya,
”Anak-anakku, aku percaya pada penilaian putraku Han Long, karena kalian berdua untuk saat ini berbagi tugas bersama suami kalian untuk terlibat dalam pengawasan Dunia Sembilan Benua”, katanya.
Bu Ling Moy pun angkat bicara,
”Benar kata ibu Mertua, kalian saudari Eng dan Saudari Leng In lebih dibutuhkan untuk mendampingi suami kita dalam mewaspadai kedatangan pihak asing yang kurasa memiliki kekuatan di atas kita semua, dan kita semua harus bekerja sama, aku dan kanda Han Long telah menciptakan sebuah teknik beladiri yang kiranya dapat kita latih untuk mempertahankan keberadaan Dunia miliki kita ini”, katanya.
Setelah mendengar perkataan Bu Ling Moy, Han Emg dan Coa Leng In mengerti akan maksud suami mereka akan pengaturan tersebut, mereka pun akhirnya setuju, maka selanjutnya dipanggillah Cang Min dan Giok Eng.
Cang Min adalah kultivator tingkat Raja Dewa ke-9 Awal, dengan senang hati dia menerima tugas ini, yang selama hidupnya dihabiskan di Benua Ketiga tersebut, maka dengan penugasan keluar Benua ini adalah suatu kesempatan dirinya dapat melihat secara langsung akan Benua lain, dia juga diharuskan membawa beberapa catatan teknik beladiri dan teknik kultivasi tingkat tinggi ke benua tersebut untuk diberikan kepada Mo Eng untuk memperkuat dan meningkatkan kultivator di benua tersebut.
Demikian juga dengan Giok Eng, dia mendapat tugas ke Benua Merah dimana dia harus melindungi Istana Merah terutama melindungi dan menjaga terhadap Han Wi Kong dan Han Chen Ing, para putra Han Long sementara orang tua mereka berlatih teknik beladiri terbaru.
Waktu sepuluh tahun berlalu dengan cepat, dalam waktu ini terjadi perubahan besar-besaran terhadap beberapa benua di Dunia Sembilan Benua, maka muncullah nama-nama pasukan di beberapa benua tersebut sebagai kekuatan baru atau pasukan kekuatan yang terdiri dari anggota para kultivator tertinggi benua tersebut.
Nama Angkatan Samudera Naga mulai dikenal di Dunia Sembilan Benua, dimana pasukan ini memiliki para kultivator Manusia Dewa yang berjumlah ribuan anggota yang sebelumnya tingkat kultivasi Manusia Dewa adalah hanya sebatas pencapaian khayalan bagi penghuni Benua Chong Yang.
Juga ada nama Laskar Khui Ning yang juga memiliki anggota para kultivator Manusia Dewa yang berjumlah 5 divisi pasukan dimana masing-masing divisi ini memiliki jumlah anggota mencapai ribuan kultivator tingkat Manusia Dewa ke-1 sampai ke-4.
Dan terakhir ada nama Pasukan Benua Eng Hian yang memiliki 4 divisi pasukan dengan anggota kultivator setingkat Manusia Dewa ke-1 hingga ke-4 dimana kepala divisi dipimpin oleh kultivator tingkat Raja Dewa
Namun nama-nama ini terlalu suram jika dibandingkan dengan kekuatan yang muncul dari Benua Thian Agung dan Benua Merah karena ada kekuatan pasukan yang anggotanya wajib berada pada tingkat kultivasi Raja Dewa, dan nama pasukan dari dua benua inipun mengudara di Dunia Sembilan Benua dengan sebutan Laskar Merah dan Pasukan Keadilan Thian Agung.
Sedangkan perubahan drastis terjadi di Benua Barbar kuno, hal ini terjadi sepuluh tahun sebelumnya, setelah mendengar keterangan dari Sie In Hong atas penyerbuan yang dilakukan oleh para kultivator Benua Barbar kuno atas perintah Pemimpin Utama Zhao Wang Min yang mengakibatkan luka parah pada pasangan Sie In Hong dan Thian Kong Jie, Han Long bersama dengan para istri dan ibunya langsung mendatangi benua tersebut dan menghancurkan Istana Kuno.
Dengan para wanita yang mendampinginya, Han Long memberikan pukulan telak pada penguasa Benua tersebut dan Zhao Wang Min sendiri terluka amat parah oleh Han Long sedangkan Zhao Kwan dibunuh oleh Bu Ling Moy dan para pembantunya yang lain diobrak-abrik oleh kekuatan Thian Sian Li dan para menantunya.
Kekuatan Istana Kuno yang selama ini cukup menakutkan bagi benua lain langsung hancur, dan para jenderal besar dan beberapa anggota yang setia pada Pemimpin Utama Zhao Wang Min melarikan diri melalui teleportasi yang entah berujung dimana.
Ada kekuatan lain yang sebenarnya masih tersembunyi di Dunia Sembilan Benua, yaitu kekuatan yang berasal dari benua yang tertutup dan misterius, dimana Benua Ketiga yang selalu menutup diri dari hiruk pikuk Dunia Sembilan Benua dan para penghuni Dunia Sembilan Benua hanya mendengar sepak terjang dari Penguasa Benua Ketiga saja, dengan seorang diri, kekuatan ratu ini sudah cukup mengatasi kekuatan setiap Benua lainnya.
Hal ini memang sengaja dilakukan oleh Han Long dan keluarganya, karena Han Long dan Bu Ling Moy masih mewaspadai kekuatan dari Benua Huang San dan Benua Zheng Wang yang diduga memiliki portal teleportasi antar dimensi Dunia lain di dua benua tersebut.
Apa yang diduga oleh Han Long memang beralasan, karena di Benua Huang San ada kesibukan yang tidak seperti biasanya, hal ini berhubungan dengan kemunculan kekuatan pasukan di benua-benua pada Dimensi Dunia Sembilan Benua.
Dua tokoh utama di Benua Huang San yakni Han Cui Keng dan Han Cui Beng terlihat keluar dari ruang kultivasi mereka masing-masing dan sekarang berada di ruang pertemuan para elit pimpinan benua tersebut.
”Apa perkembangan terakhir pada Dunia ini?”, tanya Han Cui Keng pada para pembantunya yang sebelumnya adalah para muridnya di Dunia Dewa Surga asal klan Han.
Seorang pria yang berpakaian putih dan dijuluki Malaikat Putih adalah salah satu murid yang dibawa oleh Han Cui Keng menjawab,
”Guru, banyak kekuatan setiap benua muncul atau baru terbentuk, mereka bertugas sebagai pelindung di benua masing-masing”, katanya sambil menjelaskan nama-nama pasukan di benua masing-masing pada Han Cui Keng dan Han Cui Beng.
”Apa yang dikatakan oleh kakak Pek adalah benar, aku pun mendengar berita tersebut bahkan kekuatan dari benua Thian Agung dan Benua Merah seperti akan mengalahkan pasukan yang kita bangun di benua kita”, kata wanita yang berpakaian serba merah dan dikenal sebagai murid terkasih Han Cui Beng dengan julukan Dewi Selendang Merah yang berkaitan dengan senjata yang digunakannya seorang kultivator Kaisar Suci.
Han Cui Beng menatap murid yang disayanginya,
”Ang Sian, bagaimana peningkatan kultivasimu?”, tanyanya.
”Baik guru, semua teori yang guru berikan sudah dikuasai dengan baik olehku bahkan dalam setahun terakhir ini, kekuatan energi kultivasiku meningkat secara tajam”, jawab Ang Sian.
”Guru, kenapa hanya kakak Ang saja yang ditanya, aku juga akan memberikan keterangan”, kata seorang wanita yang berpakaian serba hitam dengan wajah tidak kalah cantiknya dengan kakaknya yang berpakaian merah, dia dijuluki Dewi Maut dan bernama Hek Lian.
”Ha ha ha…, adik Cui Beng kau beruntung memiliki dua murid cantik, jangan kau bertindak tidak adil, uhugh…uhugh…”, suara batuk tertahan dari Han Cui Keng menghentikan godaan pada juniornya.
”Kakak belum selesaikah pengobatan mu?” tanya Han Cui Beng melalui kontak jiwa agar tidak didengar oleh para murid.
”Pukulan wanita keparat itu melukai dada dan sumber kekuatanku”, jawab Han Cui Keng melalui kontak jiwa juga.
Yang dimaksud dengan wanita yang melukai Han Cui Keng adalah Han Cui Eng, tokoh penguasa dimensi Dunia Dewa Surga yang mencapai tingkat kultivasi Mahadewa tingkat 7, seperti diketahui keluarga Han Cui Eng dibuang oleh para tetua Klan Han ke Dunia Sembilan Benua dan hanya tersisa Han Cui Eng sendiri, sehingga wanita ini kembali memasuki dimensi Dunia Dewa Surga dan membalas dendam kepada para tetua klan Han tapi dua tetua Klan Han yaitu Han Cui Keng dan Han Cui Beng lolos dari pembalasan Han Cui Eng dengan membawa luka yang sangat parah.
Dalam pelariannya, kini Han Cui Keng dan Han Cui Beng menguasai Benua Huang San bersama kelompok yang dibawanya dan membangun kekuatan besar di benua tersebut untuk kelak membalas perlakuan Han Cui Eng, namun sekalipun kekuatan dunia Sembilan Benua tidak berarti banyak bagi mereka berdua, kegiatan membangun kekuatan itu tidak berani secara terbuka karena kecemasan dan ketakutan mereka berdua atas sosok kekuatan Han Cui Eng dimana Han Cui Eng sendiri menjadi seorang kultivator tingkat yang sekarang ini, konon berasal dari dimensi Dunia Sembilan Benua, dan rahasia ini yang berusaha mereka gali dan belum ditemukan.
Dewi Maut yang berpakaian serba hitam angkat bicara,
”Guru berdua, belasan tahun lalu kami bertiga membawa dua orang yaitu seorang anak dan ibunya, kami bermaksud agar guru berdua dapat memanfaatkan tubuh keduanya, bagaimana kondisi mereka sekarang?” tanyanya.
Han Cui Keng menatap murid adiknya ini, lalu dia menatap penuh perhatian pada Dewi Maut,
”Apakah kau cemburu pada wanita itu, Hek Lian? Ha ha ha…, tadinya aku ingin memanfaatkan tubuh molek wanita muda tersebut dengan menyedot inti energi tubuhnya namun ditengah jalan aku berubah pikiran malah aku menyukai pemberian kalian bertiga sehingga aku tidak kesepian saat berkultivasi, dan wanita itu pun memiliki sedikit bakat dalam kultivasi yang mengutamakan kultivasi ganda” katanya.
”Dan sebagai ucapan terima kasihku pada kalian bertiga, aku akan memberikan sebuah teknik kultivasi atas hadiah kalian padaku, terimalah!” katanya lagi, sambil melemparkan tiga buah lempengan batu giok yang berisi teknik beladiri dan kultivasi, yang dengan cepat diterima oleh ketiga muridnya dengan wajah gembira, namun Hek Lian masih memasang wajah cemberut, dia tahu bahwa kakak seperguruan dari gurunya ini memiliki teknik yang lebih unggul dibandingkan yang dimiliki oleh gurunya sendiri, dia berulang kali merayu tetua ini, bahkan sampai menawarkan tubuhnya, namun tetua ini tetap menolaknya dan sekarang yang mendapatkan kasih sayang dari Han Cui Keng justru pada wanita yang tadinya akan dikorbankan.
Wanita yang dimaksud adalah Meng Li, sosok wanita yang dibawa oleh murid-murid dua orang ini dari Benua Chong Yang belasan tahun lalu, dan seperti takdir yang tidak dapat diprediksi ujungnya, Meng Li yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Meng Li yang dahulu, tadinya Meng Li akan dikorbankan untuk kepentingan Han Cui Keng dalam mengobati lukanya namun tujuan itu berubah ketika Meng Li pada ujung proses penyedotan intisari energi tubuhnya menunjukkan perlawanan yang kuat dan berbalik malah menyedot kekuatan intisari energi kekuatan Han Cui Keng karena proses ini melalui teknik kultivasi Ganda dan teknik yang dimiliki oleh Meng Li justru berbalik malah menguntungkan Meng Li sendiri yang memang membangun kekuatan kultivasi sedari muda melalui teknik yang benar-benar telah dikuasainya.
Dan Han Cui Keng yang memang sedang terluka malah menikmati kultivasi ganda bersama Meng Li, kenikmatan yang ditawarkan Meng Li padanya malah merubah tujuan semula, dan Han Cui Keng malah mendorong kekuatan energinya untuk peningkatan kultivasi Meng Li sehingga luka pada diri Han Cui Keng tidak menunjukan perbaikan secara nyata malah memperburuk luka tersebut, namun karena luka itu tertutupi oleh ‘kenikmatan’ maka bagi Han Cui Keng, itu adalah hal yang sepadan.